14 Nov 2009 09:36
(This post was last modified: 14 Nov 2009 10:31 by DoD.)
#3
Akurat dan Obyektif
Kata sifat
Kata cantik, tampan, indah dan semacamnya mengandung pandangan subyektif. Kita harus berhati-hati dalam menggunakannya. Seseorang yang cantik menurut kita belum tentu cantik menurut pandangan orang lain.
Superlatif
Kita perlu berhati-hati dalam menggunakan ungkapan superlatif.
"Delegasi Indonesia dipimpin oleh seorang diplomat berpengalaman" bisa dipakai untuk menyebutkan seorang diplomat yang sudah sering mengikuti perundingan internasional.
Tetapi kalimat yang menyatakan: "Delegasi Indonesia dipimpin oleh seorang diplomat yang paling berpengalaman", belum tentu akurat karena kita belum pernah mengukur apakah tidak ada orang yang lebih berpengalaman dari dia.
Tetapi, kata 'paling bisa dipakai secara akurat misalnya dalam kalimat: "Pengusaha A memiliki tanah pertanian paling luas di Purwodadi. Menurut kantor agraria, A memiliki 100.000 hektar dari 120.000 hektar sawah di desa ini. Sisanya adalah milik warga lain."
Akurasi yang membahayakan
Kadang-kadang kita memiliki informasi yang sangat akurat sampai terinci atau mendetail.
Dalam situasi seperti itu, kita perlu mempertimbangkan apakah rincian itu ada gunanya bagi pendengar. Kalau tidak berguna, tak perlu dicantumkan.
Ada juga rincian yang dapat membayakan jiwa pihak-pihak lain. Misalnya, kalimat: "Walikota X hadir di gedung pengadilan dengan mengendarai mobil dinas dengan nomor polisi AB 1234 CD."
Wartawan yang menulis kalimat tersebut mungkin ingin menunjukkan bahwa laporan yang ia tulis sangat lengkap.
Tetapi informasi penting seperti ini bisa dimanfaatkan oleh orang atau kelompok tertentu yang ingin mencelakai walikota.
Prinsip yang sama berlaku untuk alamat seseorang. Misalnya kita membaca kalimat seperti: "Badu yang sedang diperiksa polisi dalam kasus penganiayaan pembantu memiliki rumah di Jl. Rasamala Nomor 4B."
Orang yang mencurigai Badu bisa melempari rumahnya dengan batu padahal si Badu belum tentu bersalah. Mungkin saja dia diperiksa sebagai saksi.
Penyebutan sumber
Sumber berita juga penting untuk menunjukkan bobot dan keakuratan informasi. Misalnya: "Angka kemiskinan dunia naik 20 persen" jelas kurang lengkap meski selintas terdengar tidak ada masalah.
Akan lebih baik bila ditulis misalnya "PBB mengumumkan angka kemiskinan dunia naik 20 persen."
Contoh lain: "Meskipun demikian, kata polisi, indikasi berpindahnya jaringan Noordin Muhammad Top tak bisa diabaikan." Penyebutan 'kata polisi' di sini memperkuat akurasi laporan bahwa ini bukan penafsiran.
Selain berusaha untuk akurat, obyektif dan tidak memihak, laporan kita juga harus mencerminkan sikap independen’
Ketika menulis berita kita tidak mewakili kepentingan politik tertentu. Tidak menyiarkan pendapatnya sendiri mengenai persoalan politik maupun hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan umum.
Menghindari kata yang merujuk pada kepemilikan atau keberpihakan terhadap lembaga atau negara tertentu.
Sikap independen itu juga harus tercermin dalam wawancara mengenai suatu konflik atau pertikaian. Misalnya, kita mungkin bertanya kepada seorang menteri: "Apa yang akan dilakukan pemerintah Indonesia untuk menanggapi tindakan Malaysia...?"
Wartawan tidak menempatkan diri sebagai bagian dari berita atau bagian dari konflik. Jadi pertanyaanny tidak berbunyi: "Apa yang kita lakukan untuk menanggapi tindakan Malaysia...?" ……. (disarikan dari panduan jurnalistik BBC)