Current time: 20 Apr 2014, 10:22 Hello There, Guest! LoginRegister
ForumBebas.com / Forbidden / Global Faith and Tolerance / Nuansa Islami / Keramat !!!



REPLY 
 
Thread Rating:
  • 39 Votes - 2.79 Average


  
Cak Moes
10 Nov 2009 06:15    #1

Letda

Ada orang bertanya apakah keramat itu sama dengan sihir atau sama dengan mukjizat, adan apapula perbedaan di antaranya. Perbedaan antara keramat dan dengan sihir adalah sihir itu terjadi dikalangan orang-orang fasik, orang-orang zindik dan orang-orang kafir yang tidak percaya dengan Allah SWT. Keramat terjadi pada orang-orang yang percaya pada Allah dan sungguh-sungguh mengerjakan syariat-Nya dan dengan mujahadah yang kuat sehingga sampai pada derajat wali.

Perbedaan antara keramat dengan mukjizat bahwa keramat itu terjadi pada wali-wali Allah yang tidak menyatakan dirinya sebagai Nabi atau Rasul. Mukjizat terjadi pada Nabi-Nabi dan Rasul Allah sebagai pembuktian atas kebenaran kenabian dan kerasulannya. Karena itu mukjizat wajib dinampakkan untuk keperluan dakwah dan dakwah dengan pembuktian mukjizat itu adalah akurat, sangat dibutuhkan.

Kemudian ada juga yang bertanya apakah seorang wali di mesti menzahirkan (menampakkan) kekeramatannya?

Seorang wali tidak wajib menzahirkan kekeramatannya, sebab ketentuan-ketentuan syariat agama telah tetap sesuai dengan yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul Allah SWT. Oleh sebab itu menzahirkan atau menyembunyikan kekeramatan boleh-boleh saja.

Akan tetap dikalangan para syekh sufi terdapat dua pendapat dalam masalah ini. Pendapat Pertama mengatakan sebaiknya para wali menyembunyikan kekeramatannya, sebab tidak ada kebutuhan dakwah untuk menampakkannya dan bisa juga menimbulkan fitnah atau ria yang bisa merusak kesucian rohani si wali itu sendiri. Para wali yang berpendapat demikian merasa takut kalau-kalau kekeramatan yang dia peroleh merupakan istidraj atau pemanjaan, karena kebencian, yang akan menjerumuskan sang wali. Yang berpendapat dengan pendapat pertama ini antara lain imam Abu Bakar bin Abu Fura.

Syekh Abu Yazid Al Bisthami mengatakan bahwa wali-wali Allah adalah pengantin-pengantin-Nya. Karena itu tak seorang pun boleh melihat para pengantin itu kecuali keluarganya. Mereka ditabiri dalam ruang khusus di hadirat-Nya oleh keakraban. Artinya seorang wali akan menampakkan kewaliannya kepada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah untuk mendapatkan rahmat dan karunia Allah yang tersalur lewat sang Wali dan tentu saja dalam hal ini yang paling bisa merasakannya adalah para murid sang Wali Allah.

Abu Bakar Saydalani menuturkan, suatu ketika aku berulang kali memperbaiki batu nisan makam Abu Bakat At Tamasani dan mengukir namanya pada nisan itu. Setiap aku selesai memperbaikinya, batu nisan itu digali dan dicuri orang dan akhirnya aku bertanya kepada Abu ‘Ali ad-Daqqaq tentang hal ini. Dia menjelaskan bahwa syekh itu lebih suka tidak dikenal orang di dunia ini. Karena itu tidak suka juga dengan batu nisan yang berarti mempromosikan kenangan kepadanya. Hal ini serupa dengan Syekh Bahauddin Naqsyabandi yang melarang menulis tentang riwayat hidup dan fatwa-fatwanya.
signature
[align=right][size=medium][font=Verdana][color=#9400D3][b]" FRiENdsHip DonT cost A Thing "[/b][/color][/font][/size][/align]
banner
Cak Moes
10 Nov 2009 06:17    #2

Letda

Rabi’atul Adawiyah tidak mengizinkan orang lain masuk ke dalam kamar khalwatnya, karena beliau tidak ingin orang lain menceritakan tentang keadaannya seperti memperoleh emas di bawah tikar shalat atau menanak nasi dengan tidak memakai api. Demikian diceritakan oleh Zulfah kemenakan Rabi’atul Adawiyah.

Pendapat Kedua mengatakan boleh seorang wali itu menzahirkan kekeramatannya, apabila kalau dirasakan hal itu perlu untuk kepentingan dakwah dan tentunya kekeramatan yang dinampakkan oleh wali tersebut tidak menimbulkan takabur dan ria. Abu Usman mengatakan bahwa: “Seorang wali mungkin termasyur kemana-mana, namun dia tidak akan tergoda oleh kemasyurannya itu”.

Prof. Dr. H. S. S. Kadirun Yahya mengatakan, pada zaman sekarang ini dirasakan perlu pada suatu saat menampakkan kekeramatan itu dalam rangka menangkis tuduhan atau pendapat bahwa agama itu adalah khayalan belaka dan tak dapat dibuktikan. Seorang wali tentu saja bisa membuktikan bahwa agama itu bukan hanya berisi dogma-dogma yang harus dipatuhi secara mutlak akan tetapi agama juga mengandung energi Maha Dahsyat kalau disalurkan dengan teknik yang tepat oleh sang Ahli (Wali Allah) maka akan muncul keajaiban-keajaiban diluar kemapuan manusia yang kemudian orang menyebutnya sebagai Keramat.

Seorang wali yang dikenal memiliki kekeramatan pun terkadang tidak merasa dia dirinya punya kemampuan hebat dan tetap bersikap seperti manusia biasa seperti yang pernah saya sampaikan dalam tulisan Anak Muda, Di dunia ini Tidak ada manusia yang keramat!

Guru saya mengatakan bahwa kekeramatan yang paling hebat dan sering kali tidak disadari oleh para murid adalah hilangnya syetan dalam dada sang murid dengan masuknya unsur-unsur ke-Tuhanan berupa Nur ‘Ala Nurin. Bukankah makna hakiki dari Keramat itu adalah kemulyaan dan tentu saja kemulyaan yang utama apabila dalam diri kita telah ber-Tajjali Allah. Dengan demikian dalam diri kita telah ada sesuatu yang sangat berharga dan dicari oleh manusia diseluruh muka bumi yaitu SANG MAHA KERAMAT, wallahu’alam!
signature
[align=right][size=medium][font=Verdana][color=#9400D3][b]" FRiENdsHip DonT cost A Thing "[/b][/color][/font][/size][/align]
banner
5551272
10 Nov 2009 06:52    #3

Mayjen

Makasih penjelasannya,, walaupun bahasanya terlalu tinggi untuk orang awam seperti saya ini.... Wink

Kalau tadi wali Allah disebut 'pengantin' sehingga 'kekeramatannya' hanya boleh diperlihatkan kepada keluarganya, karena tidak ada kewajiban untuk menyampaikan dakwah,, lalu Ilmu Allah yang dinisbahkan untuk mereka apakah hanya diperuntukkan bagi konsumsi pribadi atau maksimal sampai batas keluarganya saja?

Yang kedua,
Bagi kebanyakan orang awam,, hal ghaib yang dianggap keramat itu sulit dibedakan,, sehingga jatuhnya bisa menjerumuskan kedalam kesyirikan....

misal, ( ma'af ini agak lari sedikit dari konteks threadnya ) :

Berziarah ke maqam nabi Muhammad, maupun maqam para wali seperti wali songo....
Kita berziarah sejatinya untuk mendo'akan beliau beliau ini karena telah berjihad menyebarkan ilmu Islam kepada umat, sehingga hari ini kita bisa mereguk kebahagiaan dalam beriman didalam agama Islam,, tapi malah banyak yang ngalap berkah dari maqam maqam tersebut...

Mencium hajar aswad ...
Kesucian ibadah haji sering ternodai oleh orang orang yang berjejal dan sedikit berbaku hantam, hanya untuk bisa mencium batu yang pernah dicium oleh Rasullullah... padahal tidak menambah nilai daripada ibadah haji itu sendiri , karena tidak termasuk wajib hukumnya bukan?

Thawaf ...
Sejatinya, orang yang melaksanakan ibadah haji seharusnya melepaskan semua atribut duniawinya,, mau dia jendral atau tukang loak, semuanya sama dimata Allah, dan yang membedakan hanyalah kualitas keimanannya.... tapi, ternyata dipusat yang mana umat islam menghadap pada saat shalat, ketertiban thawaf ternyata hanya sebatas mimpi....
Memang, tidak semua orang bisa ke Baitullah setiap tahun... udah bisa berkunjung kesana sekali sekalinya seumur hidup juga sudah alhamdulillah.....
Tapi, bukan berarti semua orang harus berupaya memegang kiswah ka'bah hanya untuk merasakan sensasinya khan? itu juga tidak termasuk wajib... akibatnya banyak wanita dan anak anak sampai terjepit jepit diantara arus jama'ah yang luar biasa banyaknya.. kadang saya bingung... apakah wudhu saya batal atau nggak ya kalau begini?

Ya, itu sedikit curhatan saya.... sebaiknya bagi yang mengerti benar makna 'keramat' bisa menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti bagi orang awam, sehingga mereka tidak terjebak didalam 'kebodohan' karena kenaifan dan ketidaktahuan...

Karena keimanan yang besar tanpa ilmu yang cukup, bisa menggelincirkan manusia kedalam jeratan syaitan yang memang ditugaskan menggoda manusia hingga akhir zaman... Wink


signature
berdamai dengan Heart ............ Handshake
banner
Cak Moes
10 Nov 2009 07:56    #4

Letda

(10 Nov 2009 06:52)5551272 Wrote:
 
Makasih penjelasannya,, walaupun bahasanya terlalu tinggi untuk orang awam seperti saya ini.... Wink

Kalau tadi wali Allah disebut 'pengantin' sehingga 'kekeramatannya' hanya boleh diperlihatkan kepada keluarganya, karena tidak ada kewajiban untuk menyampaikan dakwah,, lalu Ilmu Allah yang dinisbahkan untuk mereka apakah hanya diperuntukkan bagi konsumsi pribadi atau maksimal sampai batas keluarganya saja?

Yang kedua,
Bagi kebanyakan orang awam,, hal ghaib yang dianggap keramat itu sulit dibedakan,, sehingga jatuhnya bisa menjerumuskan kedalam kesyirikan....

misal, ( ma'af ini agak lari sedikit dari konteks threadnya ) :

Berziarah ke maqam nabi Muhammad, maupun maqam para wali seperti wali songo....
Kita berziarah sejatinya untuk mendo'akan beliau beliau ini karena telah berjihad menyebarkan ilmu Islam kepada umat, sehingga hari ini kita bisa mereguk kebahagiaan dalam beriman didalam agama Islam,, tapi malah banyak yang ngalap berkah dari maqam maqam tersebut...

Mencium hajar aswad ...
Kesucian ibadah haji sering ternodai oleh orang orang yang berjejal dan sedikit berbaku hantam, hanya untuk bisa mencium batu yang pernah dicium oleh Rasullullah... padahal tidak menambah nilai daripada ibadah haji itu sendiri , karena tidak termasuk wajib hukumnya bukan?

Thawaf ...
Sejatinya, orang yang melaksanakan ibadah haji seharusnya melepaskan semua atribut duniawinya,, mau dia jendral atau tukang loak, semuanya sama dimata Allah, dan yang membedakan hanyalah kualitas keimanannya.... tapi, ternyata dipusat yang mana umat islam menghadap pada saat shalat, ketertiban thawaf ternyata hanya sebatas mimpi....
Memang, tidak semua orang bisa ke Baitullah setiap tahun... udah bisa berkunjung kesana sekali sekalinya seumur hidup juga sudah alhamdulillah.....
Tapi, bukan berarti semua orang harus berupaya memegang kiswah ka'bah hanya untuk merasakan sensasinya khan? itu juga tidak termasuk wajib... akibatnya banyak wanita dan anak anak sampai terjepit jepit diantara arus jama'ah yang luar biasa banyaknya.. kadang saya bingung... apakah wudhu saya batal atau nggak ya kalau begini?

Ya, itu sedikit curhatan saya.... sebaiknya bagi yang mengerti benar makna 'keramat' bisa menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti bagi orang awam, sehingga mereka tidak terjebak didalam 'kebodohan' karena kenaifan dan ketidaktahuan...

Karena keimanan yang besar tanpa ilmu yang cukup, bisa menggelincirkan manusia kedalam jeratan syaitan yang memang ditugaskan menggoda manusia hingga akhir zaman... Wink



WowBig Grin saya dikasih PR nih ceritanya, baik segera saya kerjakan Shy
signature
[align=right][size=medium][font=Verdana][color=#9400D3][b]" FRiENdsHip DonT cost A Thing "[/b][/color][/font][/size][/align]
banner
novalnd
11 Nov 2009 08:40    #5

Brigjen

(10 Nov 2009 06:17)Cak Moes Wrote:
 
[color=#483D8B][font=Verdana][align=justify]Rabi’atul Adawiyah tidak mengizinkan orang lain masuk ke dalam kamar khalwatnya, karena beliau tidak ingin orang lain menceritakan tentang keadaannya seperti memperoleh emas di bawah tikar shalat atau menanak nasi dengan tidak memakai api. Demikian diceritakan oleh Zulfah kemenakan Rabi’atul Adawiyah.

ndin Rabi'ah al Adawi makannya roti Sob, kapan beliau makan nasi? Mungkin redaksinya yg keliru. Yang ana tau dari hikayat, beliau selalu mengeluh roti yg disimpannya selama bertahun-tahun selalu hangat bagai baru keluar dari oven. Jangan nyentuh apalagi memakannya, beliau malah bilang dia bakal memakan roti itu kalau sudah tidak hangat lagi selayaknya roti biasa. Alasannya, mau barokah, keramat atau apa, beliau khawatir kalau hal itu dapat memalingkan perhatiannya dari Allah SWT.

Realitas Ilahiah yg diemban para wali merupakan sesuatu yg rahasia, kalau di release ke publik bukan rahasia lagi namanya Blah
signature
Daftar [url=https://www.cimbclicks.co.id/ib-cimbniaga/Login.html]Internet Banking CIMB[/url] [b]bila berkenan masukin di kolom refferal CN007268[/b] Blah
banner
Cak Moes
17 Nov 2009 06:48    #6

Letda

(11 Nov 2009 08:40)novalnd Wrote:
 
(10 Nov 2009 06:17)Cak Moes Wrote:
 
[align=justify]Rabi’atul Adawiyah tidak mengizinkan orang lain masuk ke dalam kamar khalwatnya, karena beliau tidak ingin orang lain menceritakan tentang keadaannya seperti memperoleh emas di bawah tikar shalat atau menanak nasi dengan tidak memakai api. Demikian diceritakan oleh Zulfah kemenakan Rabi’atul Adawiyah.

ndin Rabi'ah al Adawi makannya roti Sob, kapan beliau makan nasi? Mungkin redaksinya yg keliru. Yang ana tau dari hikayat, beliau selalu mengeluh roti yg disimpannya selama bertahun-tahun selalu hangat bagai baru keluar dari oven. Jangan nyentuh apalagi memakannya, beliau malah bilang dia bakal memakan roti itu kalau sudah tidak hangat lagi selayaknya roti biasa. Alasannya, mau barokah, keramat atau apa, beliau khawatir kalau hal itu dapat memalingkan perhatiannya dari Allah SWT.

Realitas Ilahiah yg diemban para wali merupakan sesuatu yg rahasia, kalau di release ke publik bukan rahasia lagi namanya Blah

[font=Verdana][color=#483D8B]Belum tentu. Jika dalam suatu keadaan tertentu, hal tersebut boleh dilakukan tentu dengan ijin Allah Shy
signature
[align=right][size=medium][font=Verdana][color=#9400D3][b]" FRiENdsHip DonT cost A Thing "[/b][/color][/font][/size][/align]
banner
mastermime
17 Nov 2009 07:04    #7

Jendral

cm nanya doank nih....

nabi sulaiman bisa sihir ga sih??
signature
[size=large][align=center]truth is the agreement of knowledge with its object
[color=#FFA500]If no one agreed with your theory, then it's not true
[/size][/color]

[/align]
banner
wong_edhan
17 Nov 2009 12:01    #8

Gembel Jalanan

(17 Nov 2009 07:04)mastermime Wrote:
 
cm nanya doank nih....

nabi sulaiman bisa sihir ga sih??

Jawbanya simple yaitu: Kun Fayakun....
banner
5551272
17 Nov 2009 18:37    #9

Mayjen

(10 Nov 2009 07:56)Cak Moes Wrote:
 
(10 Nov 2009 06:52)5551272 Wrote:
 
Makasih penjelasannya,, walaupun bahasanya terlalu tinggi untuk orang awam seperti saya ini.... Wink

Kalau tadi wali Allah disebut 'pengantin' sehingga 'kekeramatannya' hanya boleh diperlihatkan kepada keluarganya, karena tidak ada kewajiban untuk menyampaikan dakwah,, lalu Ilmu Allah yang dinisbahkan untuk mereka apakah hanya diperuntukkan bagi konsumsi pribadi atau maksimal sampai batas keluarganya saja?

Yang kedua,
Bagi kebanyakan orang awam,, hal ghaib yang dianggap keramat itu sulit dibedakan,, sehingga jatuhnya bisa menjerumuskan kedalam kesyirikan....

misal, ( ma'af ini agak lari sedikit dari konteks threadnya ) :

Berziarah ke maqam nabi Muhammad, maupun maqam para wali seperti wali songo....
Kita berziarah sejatinya untuk mendo'akan beliau beliau ini karena telah berjihad menyebarkan ilmu Islam kepada umat, sehingga hari ini kita bisa mereguk kebahagiaan dalam beriman didalam agama Islam,, tapi malah banyak yang ngalap berkah dari maqam maqam tersebut...

Mencium hajar aswad ...
Kesucian ibadah haji sering ternodai oleh orang orang yang berjejal dan sedikit berbaku hantam, hanya untuk bisa mencium batu yang pernah dicium oleh Rasullullah... padahal tidak menambah nilai daripada ibadah haji itu sendiri , karena tidak termasuk wajib hukumnya bukan?

Thawaf ...
Sejatinya, orang yang melaksanakan ibadah haji seharusnya melepaskan semua atribut duniawinya,, mau dia jendral atau tukang loak, semuanya sama dimata Allah, dan yang membedakan hanyalah kualitas keimanannya.... tapi, ternyata dipusat yang mana umat islam menghadap pada saat shalat, ketertiban thawaf ternyata hanya sebatas mimpi....
Memang, tidak semua orang bisa ke Baitullah setiap tahun... udah bisa berkunjung kesana sekali sekalinya seumur hidup juga sudah alhamdulillah.....
Tapi, bukan berarti semua orang harus berupaya memegang kiswah ka'bah hanya untuk merasakan sensasinya khan? itu juga tidak termasuk wajib... akibatnya banyak wanita dan anak anak sampai terjepit jepit diantara arus jama'ah yang luar biasa banyaknya.. kadang saya bingung... apakah wudhu saya batal atau nggak ya kalau begini?

Ya, itu sedikit curhatan saya.... sebaiknya bagi yang mengerti benar makna 'keramat' bisa menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti bagi orang awam, sehingga mereka tidak terjebak didalam 'kebodohan' karena kenaifan dan ketidaktahuan...

Karena keimanan yang besar tanpa ilmu yang cukup, bisa menggelincirkan manusia kedalam jeratan syaitan yang memang ditugaskan menggoda manusia hingga akhir zaman... Wink



WowBig Grin saya dikasih PR nih ceritanya, baik segera saya kerjakan Shy

mana nih laporan pr nya.... Wait
signature
berdamai dengan Heart ............ Handshake
banner
Cak Moes
18 Nov 2009 21:11    #10

Letda

(17 Nov 2009 18:37)5551272 Wrote:
 
(10 Nov 2009 07:56)Cak Moes Wrote:
 
(10 Nov 2009 06:52)5551272 Wrote:
 
Makasih penjelasannya,, walaupun bahasanya terlalu tinggi untuk orang awam seperti saya ini.... Wink

Kalau tadi wali Allah disebut 'pengantin' sehingga 'kekeramatannya' hanya boleh diperlihatkan kepada keluarganya, karena tidak ada kewajiban untuk menyampaikan dakwah,, lalu Ilmu Allah yang dinisbahkan untuk mereka apakah hanya diperuntukkan bagi konsumsi pribadi atau maksimal sampai batas keluarganya saja?

Yang kedua,
Bagi kebanyakan orang awam,, hal ghaib yang dianggap keramat itu sulit dibedakan,, sehingga jatuhnya bisa menjerumuskan kedalam kesyirikan....

misal, ( ma'af ini agak lari sedikit dari konteks threadnya ) :

Berziarah ke maqam nabi Muhammad, maupun maqam para wali seperti wali songo....
Kita berziarah sejatinya untuk mendo'akan beliau beliau ini karena telah berjihad menyebarkan ilmu Islam kepada umat, sehingga hari ini kita bisa mereguk kebahagiaan dalam beriman didalam agama Islam,, tapi malah banyak yang ngalap berkah dari maqam maqam tersebut...

Mencium hajar aswad ...
Kesucian ibadah haji sering ternodai oleh orang orang yang berjejal dan sedikit berbaku hantam, hanya untuk bisa mencium batu yang pernah dicium oleh Rasullullah... padahal tidak menambah nilai daripada ibadah haji itu sendiri , karena tidak termasuk wajib hukumnya bukan?

Thawaf ...
Sejatinya, orang yang melaksanakan ibadah haji seharusnya melepaskan semua atribut duniawinya,, mau dia jendral atau tukang loak, semuanya sama dimata Allah, dan yang membedakan hanyalah kualitas keimanannya.... tapi, ternyata dipusat yang mana umat islam menghadap pada saat shalat, ketertiban thawaf ternyata hanya sebatas mimpi....
Memang, tidak semua orang bisa ke Baitullah setiap tahun... udah bisa berkunjung kesana sekali sekalinya seumur hidup juga sudah alhamdulillah.....
Tapi, bukan berarti semua orang harus berupaya memegang kiswah ka'bah hanya untuk merasakan sensasinya khan? itu juga tidak termasuk wajib... akibatnya banyak wanita dan anak anak sampai terjepit jepit diantara arus jama'ah yang luar biasa banyaknya.. kadang saya bingung... apakah wudhu saya batal atau nggak ya kalau begini?

Ya, itu sedikit curhatan saya.... sebaiknya bagi yang mengerti benar makna 'keramat' bisa menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti bagi orang awam, sehingga mereka tidak terjebak didalam 'kebodohan' karena kenaifan dan ketidaktahuan...

Karena keimanan yang besar tanpa ilmu yang cukup, bisa menggelincirkan manusia kedalam jeratan syaitan yang memang ditugaskan menggoda manusia hingga akhir zaman... Wink



WowBig Grin saya dikasih PR nih ceritanya, baik segera saya kerjakan Shy

mana nih laporan pr nya.... Wait

Sabar to mbak, PR disini saya prioritaskan dulu :pusing:
signature
[align=right][size=medium][font=Verdana][color=#9400D3][b]" FRiENdsHip DonT cost A Thing "[/b][/color][/font][/size][/align]
banner
caritahu
19 Nov 2009 11:00    #11

Lettu

Usul nih, sebelum diskusi belanjut, mungkin ada baiknya bagi yang mengetahui ato menguasai agar memberi penjelasan mengenai arti kata Keramat itu, penjelasan menurut bahasa aslinya ! Ini dimaksudkan agar kita mempunyai penegtian yang sama ato hampir sama mengenai kata2nya.
terima kasih
banner
Cak Moes
19 Nov 2009 12:09    #12

Letda

(19 Nov 2009 11:00)caritahu Wrote:
 
Usul nih, sebelum diskusi belanjut, mungkin ada baiknya bagi yang mengetahui ato menguasai agar memberi penjelasan mengenai arti kata Keramat itu, penjelasan menurut bahasa aslinya ! Ini dimaksudkan agar kita mempunyai penegtian yang sama ato hampir sama mengenai kata2nya.
terima kasih

Shy akhirnya, ada yang memancing agar diskusi lebih hidup.

"Keramat" berasal dari bahasa Arab, menurut bahasa artinya "mulia". Menurut ajaran Islam ialah "kejadian luar biasa yang tidak masuk akal pada diri Wali".

"Wali" berasal dari bahasa Arab, "waliyun", artinya orang saleh yang ketaatannya terus menerus kepada Allah, tanpa diselang-selingi oleh perbuatan maksiat.

Wali menurut Yususf bin Ismail An- Nabhani dalam kitabnya "jaami’u Karaamatil Aulia", dari segi bahasa artinya "dekat".

ada pendapat lain sebelum saya jelaskan lebih gamblang Blah
signature
[align=right][size=medium][font=Verdana][color=#9400D3][b]" FRiENdsHip DonT cost A Thing "[/b][/color][/font][/size][/align]
banner
caritahu
19 Nov 2009 12:45    #13

Lettu

(19 Nov 2009 12:09)Cak Moes Wrote:
 
(19 Nov 2009 11:00)caritahu Wrote:
 
Usul nih, sebelum diskusi belanjut, mungkin ada baiknya bagi yang mengetahui ato menguasai agar memberi penjelasan mengenai arti kata Keramat itu, penjelasan menurut bahasa aslinya ! Ini dimaksudkan agar kita mempunyai penegtian yang sama ato hampir sama mengenai kata2nya.
terima kasih

Shy akhirnya, ada yang memancing agar diskusi lebih hidup.

"Keramat" berasal dari bahasa Arab, menurut bahasa artinya "mulia". Menurut ajaran Islam ialah "kejadian luar biasa yang tidak masuk akal pada diri Wali".

"Wali" berasal dari bahasa Arab, "waliyun", artinya orang saleh yang ketaatannya terus menerus kepada Allah, tanpa diselang-selingi oleh perbuatan maksiat.

Wali menurut Yususf bin Ismail An- Nabhani dalam kitabnya "jaami’u Karaamatil Aulia", dari segi bahasa artinya "dekat".

ada pendapat lain sebelum saya jelaskan lebih gamblang Blah

makasih Cak Moes,
nah sekarang sdh diketahui arti kata "keramat" menurut bahasa alinya. lalu sekarang bagaimana kalau pembahasannya dirujukkan kepada Al Quran saja terlebih dahulu, artinya kita berusaha untuk menggalinya melalui Al Quran dulu, trus kalau diperlukan baru pake dalil2 lain spt hadits misalnya. trm ksh
banner
REPLY 


Home | Go Top | Text Mode | RSS
Powered By MyBB, © 2002-2014