Hello There, Guest! - Silahkan Daftar atau Login Cepat via Facebook
Post Terbaru Sejak Login Terakhir   Post Terbaru 24 Jam Terakhir



 
  • 100 Vote(s) - 2.54 Average
Tools    New reply


9 Oct 2009 14:28
sonyindra
Peltu
Posts 460
Reputation: 2
Awards:

Aceh dikenal sebagai daerah yg banyak melahirkan pahlawan wanita, meraka bukan hanya pahlawan wanita yang berjuang dengan tulisan atau pemikiran saja tapi mereka ikut terjun langsung ke medan pertempuran, mereka menyediakan perbekalan makanan, membantu di garis belakang, mengobati yang luka, bahkan banyak diantara mereka yang menjadi pemimpin pasukan dalam peperangan melawan kaum penjajah.

Sejak jaman dahulu kaum perempuan Aceh sangat terkenal dengan semangat dan keberaniannya sebagai Mujahidah melawan bangsa penjajah, mereka gigih berjihad mulai dari hutan belantara sampai lautan bersama-sama para Mujahidin.

Dalam sejarahnya Kerajaan Aceh Darussalam memiliki 31 orang Sultan, dan beberapa diantaranya adalah Sultan Perempuan atau disebut Sultanah. Mereka adalah; Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin (1050-1086 H), Sri Ratu Nurul Alam Naqiatuddin (1086-1088 H), Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah (1088-1098 H), Sri Ratu Kamalat Syah (1098-1109 H).

Beberapa pejuang wanita Aceh yang terkenal pada masa penjajahan diantaranya adalah :

Laksamana Malahayati, pemimpin armada laut Kerajaan Aceh Darussalam dalam perang melawan Portugis.

Cut Nyak Din yang memimpin perang melawan Belanda setelah suaminya, Teuku Umar, syahid;

Teungku Fakinah, ustadzah yang juga memimpin resimen laskar perempuan dalam perang melawan Belanda, setelah perang beliau mendirikan pusat pendidikan Islam, Dayah Lam Diran

Cut Meutia, berjuang selama 20 tahun memimpin perang gerilya di hutan Pase. Beliau bersumpah tidak akan menyerah hidup-hidup kepada Belanda dan akhirnya menemui syahid di tangan pasukan penjajah Belanda.

Cutpo Fatimah, seorang puteri ulama besar, Teungku Chik Mata Ie, dan juga teman seperjuangan Cut Meutia. Fatimah bersama suaminya, Teungku Dibarat, melanjutkan perang melawan Belanda setelah Cut Meutia syahid. Cutpo Fatimah dan suaminya syahid bertindih badan diterjang peluru Belanda dalam pertempuran tanggal 22 Februari 1912.

Pocut Meurah Intan, disebut juga dengan nama Pocut Biheu, bersama anak-anaknya Tuanku Muhammad, Tuanku Budiman, dan Tuanku Nurdin, berperang melawan Belanda di hutan belukar hingga tertawan setelah terluka parah di tahun 1904.

Pocut Baren, seorang pemimpin gerilya yang sangat berani dalam perang melawan Belanda di tahun 1898-1906. Nama beliau diabadikan menjadi nama sebuah resimen laskar perempuan Aceh “Resimen Pocut Baren” yang merupakan bagian dari Divisi Pinong di Aceh semasa revolusi fisik melawan Belanda.

Resimen perempuan Aceh ini sangat ditakuti Belanda karena terkenal tidak pernah mundur atau pun melarikan diri dalam setiap pertempuran. Mereka bahkan pantang menyerah hidup-hidup kepada penjajah.

Saleum..


   New reply




User(s) browsing this thread:
1 Guest(s)

Forum Bebas Indonesia
Demokrasi & Kebebasan temukan jalannya!
Respecting others will make you happy here
© 2004-2013 by Adimin | Fan Page | Group Discussion | Twitter | Google+ | Instagram