Hello There, Guest! - Silahkan Daftar atau Login Cepat via Facebook
Post Terbaru Sejak Login Terakhir   Post Terbaru 24 Jam Terakhir


 
  • 75 Vote(s) - 2.91 Average
Tools    New reply


26 Jan 2007 20:49
molotov
Pratu
Posts 20
Reputation: 0
Awards:

Kronologis Kasus Sengketa Tanah Rumpin

Pada tanggal 21 Januari 2007, pada jam 10.00 WIB TNI AU mulai memasuki lahan pertanian untuk melakukan penggusuran lahan petani untuk proyek water training AU.

Sekitar 500 orang petani, dari bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak melakukan penghadangan terhadap pasukan TNI AU yang menggunakan seragam dengan dilengkapi senjata. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sempat terjadi negosiasi antara warga dengan pihak TNI AU, dalam negosiasi tersebut disepakati 2 (dua) point penting yakni:

Bahwa TNI AU akan menarik pasukan dari lokasi
Bahwa TNI AU akan menghentikan penggusuran terhadap lahan-lahan pertanian milik warga
Setelah terjadi kesepakatan tersebut, warga berhasil memaksa pasukan TNI AU keluar dari lokasi pertanian pada sore hari, sekitar jam 17.00 WIB. Meskipun pasukan TNI telah ditarik, warga tetap berjaga-jaga di kampung, untuk memastikan bahwa pasukan TNI tidak datang lagi, dan menyepakati kesepakatan dari hasil negosiasi.


Tanggal 22 Januari 2007

Pada jam 13.00 WIB, pasukan TNI AU yang terdiri dari TNI AU Atang Sanjaya Bogor dan Paskas TNI AU kembali mendatangi lokasi dengan menggunakan 4 buah truk atau kurang lebih sebanyak 100 orang, dengan menggunakan seragam dan dilengkapi dengan senjata, serta dikawal oleh kurang lebih 30 orang aparat Kepolisian.

Kurang lebih 500 orang petani yang terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak, kembali melakukan penghadangan terhadap pasukan TNI AU. Warga melakukan blokade penghadangan dengan menempatkan ibu-ibu berada di barisan terdepan dan berhaapan langsung dengan ibu-ibu. Namun tanpa ada aba-aba atau peringatan, pasukan TNI AU langsung mendorong ibu-ibu hingga terjatuh, dan melihat kondisi tersebut, warga yang terpancing kemudian menjadi emosi dan melakukan perlawanan.

Sekitar jam 14.00 WIB, tiba-tiba pasukan TNI AU melakukan penembakan ke arah warga dan mengakibatkan 1 orang terkena tembakan di bagian leher sebelah kiri. Setelah jauh korban, warga berhamburan ke arah pemukiman warga dan menyelamatkan korban ke RS terdekat. Penembakan TNI AU kemudian terhenti setelah melihat ada warga yang terkena tembakan.

Berselang 2 (dua) jam kemudian, pasukan tambahan TNI AU yang terdiri dari 3 SSK yang berjumah kurang lebih 80 orang datang ke lokasi, dan langsung melakukan pengrusakan terhadap posko pertemuan petani, 2 (dua) buah motor milik warga dan merampas hand phone milik warga. Setelah itu, pasukan TNI AU melakukan penyisiran dan penyerangan terhadap warga, yang mengakibatkan 2 (dua) orang warga terluka akibat dipukul dengan popor senjata oleh TNI AU dan 1 (satu) orang remaja putri terkena tendangan sepatu laras di rusuk sebelah kanan, setelah sebelumnya pasukan TNI juga melakukan penjambretan terhadap kalung milik ibu korban.

Setelah itu, sampai jam 19.00 WIB, pihak TNI AU terus melakukan *sweeping*dan penjagaan ke rumah-rumah warga sampai jam 02.30 dini hari.

Berikut ini keterangan jumlah korban:


Korban Luka Tembak, Penganiyaan dan Penyiksaan

Acep (L, 50 tahun) warga Cibitung Desa Sukamulya, tertembak dibagian leher kiri
Usup (L, 50 tahun) warga Cibitung Desa Sukamulya, dianiaya pada bagian kepala bagian tengah dengan popor senjata
Acih (P, 40 tahun) warga Cibitung Desa Sukamulya, dianiaya dan mengakibatkan luka-luka
Hj. Neneng (P), pingsan terkena pukulan dan 5 gram kalung emas yang dipakainya, dijambret oleh TNI AU
Iyos (L, 40 tahun) pingsan terkena pukulan
Hahat (P, 40 tahun) pingsan terkena pukulan
Warga Perumnas yang kebetulan melintas di lokasi kejadian, ikut terkena pukulan
Warga yang Ditangkap

H. Amir (Polsek Rumpin)
Uci (Polsek Rumpin)
Dery (Polsek Rumpin)
Sudaryanto, kondisinya wajah lebam ketika diserahkan ke Polsek
Pendamping yang belum Diketahui Nasibnya

Cece (AGRA), diidentifikasi oleh warga dibawa oleh pasukan TNI AU
Korban Kerusakan Benda

Saung tempat pertemuan petani dirusak
Motor milik warga dirusak, salah satunya milik Mukri
Pengrusakan/ perampasan HP milik warga
Komentar
kita sedang di tindas...!!!
Ditulis oleh nookie pada 2007-01-24 09:24:17
--------------------------------------------------------------------------------
kasus sengketa tanah di rumpin semakin menyadarkan kita bahwa rakyat sekali lagi di jadikan bulan-bulanan keserakahan penguasa..!!sudah terlalu banyak hak rakyat yg di jarah para penguasa dengan berbagai dalih...KITA SEDANG DI TINDAS...!!!Kejahatan negara atas rakyatnya harus di hentikan..!!bersatulah kaum tertindas..rebut kembali apa yg mereka jarah dari kita dengan SOSIALISME..!!
Hidup rakyat...Hidup Proletar..!!!
APARAT KEPARAT!!
Ditulis oleh anakMERAH pada 2007-01-23 08:00:41

26 Jan 2007 20:51
molotov
Pratu
Posts 20
Reputation: 0
Awards:

Pernyataan Sikap Sekretariat Bina Desa
atas Kejahatan Kemanusiaan yang Menimpa Masyarakat
di Desa Sukamulya Kecamatan Rumpin Bogor


Sekretariat Bina Desa mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat TNI AU pada 22 Januari 2007 lalu terhadap ratusan warga Desa Sukamulya di Kecamatan Rumpin Bogor.

TNI AU sebagai alat negara yang seharusnya melakukan fungsi perlindungan terhadap warga negara telah merampas dan merusak properti penduduk, menembak serta melakukan menangkapan dan penyiksaan terhadap masyarakat sipil.

Perbuatan tidak terhormat aparat negara ini telah menimbulkan trauma dan tekanan psikologis terhadap masyarakat yang seharusnya merupakan konstituennya.

Untuk itu Sekretariat Bina Desa menuntut dan menyerukan, agar:

TNI AU menarik semua pasukannya dari tanah sengketa dan menghentikan segala tindakan intimidasi/teror yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung terhadap warga Desa Sukamulya
TNI AU melepaskan tanpa syarat semua tokoh yang ditangkap tanpa ada pengecualian
TNI AU mengganti segala kerugian materi maupun bukan yang ditanggung oleh masyarakat yang disebabkan oleh perbuatan oknum TNI AU.
Semua oknum pelaku kekerasan terhadap warga Desa Sukamulya ditangkap dan diadili
Pihak kepolisian berani melindungi warga Desa Sukamulya dari pihak manapun yang mengancam keberlangsungan hidup mereka
Pemerintah segera merealisasikan Reforma Agraria sejati di seluruh wilayah Republik Indonesia
Demikianlah pernyataan sikap ini. Segala kedaulatan untuk rakyat!


Jakarta, 24 Januari 2007
Sekretariat Bina Desa

26 Jan 2007 20:53
molotov
Pratu
Posts 20
Reputation: 0
Awards:

Surat Terbuka
Komnas HAM harus Selidiki Kasus Rumpin



Kepada Yth.
Ketua Komnas HAM
Abdul Hakim G Nusantara
Di tempat

Sehubungan dengan memburuknya situasi di desa Rumpin, Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor Jawa Barat, kami mendesak Komnas HAM untuk segera melakukan penyelidikan atas kasus ini. Kami juga meminta Komnas HAM untuk memaksimalkan kerjasamanya dengan Polri untuk menghentikan intimidasi yang masih terus berlangsung.

Peristiwa kekerasan berupa penembakan, pemukulan, penyiksaan, penangkapan sewenang-wenang, intimidasi maupun pengambilan barang-barang secara paksa yang dilakukan oleh pasukan TNI AURI kepada warga merupakan pelanggaran terhadap hak-hak dasr manusia yang semestinya dijamin oleh Konstitusi dan prinsip-prinsip universal. Kami memandang bahwa aparat TNI AU telah melakukan perbuatan melawan hukum serta penggunaan kekerasan secara berlebihan (excessive use of power)

Sementara itu, aparat kepolisian yang hadir saat peristiwa tidak melakukan tindakan hukum untuk melindungi masyarakat maupun melakukan pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang melakukan kekerasan. Aparat kepolisian telah dengan sengaja membiarkan (by ommission) pelanggaran HAM terjadi.

Pasca peristiwa penembakan 22 Januari 2007, situasi di sekitar lokasi bentrokan masih sangat mencekam. Personel TNI-AU masih melakukan pemblokiran jalan masuk desa dan penyisiran untuk mencari orang-orang yang dicurigai sebagai “provokator” bentrokan yang disertai dengan penembakan oleh aparat kepada salah seorang warga. Penggeledahan rumah-rumah warga, penganiayaan, dan penangkapan secara brutal dan sewenang-wenang masih saja terjadi. Warga yang umumnya kaum tani ini pun terpaksa dicekam ketakutan.

Seolah tidak puas dengan “hasil” yang diraih kemarin, pihak TNI-AU kembali mengerahkan personel tambahan. Pada hari ini, paling tidak dua rombongan yang masing-masing terdiri dari tiga truk militer penuh dengan aparat bersenjata lengkap, masuk ke lokasi kejadian. Tidak ada keterangan resmi dari pihak TNI-AU perihal tindakan show of force ini. Meski demikian, sudah bisa dipastikan, teror dan intimidasi adalah maksud paling utama di balik penambahan personel ini.

Setidaknya dua orang warga diseret paksa oleh personel TNI-AU ke lokasi sengketa atau yang oleh warga disebut “lokasi proyek”. Kedua warga tersebut adalah Ayu Komara (Ketua BPD Sukamulya) dan seorang warga lain yang belum diketahui identitasnya. Nasib keduanya masih belum jelas, karena seperti halnya penangkapan yang sebelumnya, TNI-AU tidak pernah menjelaskan secara terbuka maksud dari tindakan penangkapan tersebut.

Saat melakukan penangkapan, personel TNI-AU juga melakukan penganiayaan. Tangis dari kerabat—khususnya perempuan dan anak-anak—dari warga yang diseret paksa itu otomatis meledak. Kebrutalan personel TNI-AU pun menanjak tajam, melebihi batas kemanusiaan dan keberadaban.

Selain penangkapan terhadap kedua tokoh tersebut, personel TNI-AU juga melakukan beberapa penangkapan terhadap warga biasa tanpa latar belakang yang jelas. Umumnya, warga biasa yang tertangkap langsung diserahkan ke Mapolsek Rumpin. Sementara warga yang tergolong tokoh masyarakat—atau “provokator” versi TNI-AU—biasanya diseret dulu ke lokasi proyek untuk dianiaya sebelum akhirnya diserahkan ke Mapolsek. Beberapa warga juga tengah dicari-cari oleh aparat TNI-AU. Hal ini secara jelas terlihat, khususnya di rumah beberapa tokoh masyarakat yang rumahnya dikepung oleh beberapa personel TNI-AU sepanjang hari.

Tindakan yang dilakukan pihak TNI-AU di Desa Sukamulya, Rumpin, Bogor ini tak ubahnya sebuah operasi militer dalam rangka menumpas “musuh negara”. Ironisnya, operasi tersebut diarahkan untuk menakut-nakuti warga yang sebenarnya merupakan bagian dari warga negara yang sah dan dilindungi oleh konstitusi yang berlaku di negeri ini. Perampasan terhadap barang-barang berharga dan perusakan terhadap rumah, kendaraan, dan sarana lainnya semakin menunjukkan bobroknya moral personel TNI-AU.

Karena situasi mencekam dan tidak menentu ini, sebagian warga terpaksa menyingkir dari rumah-rumahnya masing-masing. Tindakan ini membuka peluang bagi personel TNI-AU untuk melakukan penjagaan pada hampir semua rumah yang ada, khususnya di Kampung Cibitung, Desa Sukamulya, Rumpin, Bogor. Sebagian warga yang tidak sempat menyingkir --umumnya perempuan, orang tua, dan anak-anak ini -- menjadi sasaran teror dari personel-personel TNI-AU.

Sampai saat ini, mereka umumnya dicekam trauma dan ketakutan dan menjadi saksi atas tindakan-tindakan brutal yang dilakukan personel TNI-AU terhadap warga tanpa pandang usia, jenis kelamin, atau status. Menjelang malam hari, situasi menjadi semakin mencekam karena pada saat malam hari itulah personel TNI-AU mengintensifkan pencarian dan penangkapan terhadap warga yang dicurigai.

Tindakan nista dan biadab dari aparat personel TNI-AU ini secara tegas, jelas, dan lugas, menunjukkan masih rendahnya penghargaan dari pimpinan TNI, khususnya TNI-AU terhadap hak asasi manusia. Secara sengaja dan terang-terangan, TNI AU telah menghina dan menginjak-injak hukum dan konstitusi yang memberikan perlindungan atas hak seluruh warga, termasuk warga yang bermukin di Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Tindakan brutal, kekerasan, dan sistematika teror yang diterapkan aparat TNI-AU terhadap warga Desa Sukamulya, Rumpin, Bogor ini menunjukkan tidak adanya itikad baik dari pihak TNI-AU untuk duduk sejajar dalam satu meja, berbicara atas kepentingan bersama, dan mau berunding guna menyelesaikan sengketa tanpa harus mengokang senjata.

Hingga saat ini, Kepolisian Republik Indonesia masih bersikap pasif dalam menanggapi kejadian bentrokan yang melibatkan aparat TNI-AU dengan warga Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Sikap ini telah secara resmi direspon oleh Kontras, AGRA, Walhi, LBH Jakarta, LBH Bandung, dan beberapa elemen masyarakat lain yang mendukung perjuangan masyarakat Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Sore tadi, elemen-elemen yang mewakili masyarakat Desa Sukamulya, Rumpin mengadukan tindakan kekerasan yang dialami warga terhadap Kepolisian Republik Indonesia dan meminta agar Kepolisian mengoptimalkan kewenangan dan tugas pokoknya untuk melindungi dan mengayomi masyarakat. Pengaduan dan permintaan ini telah secara resmi diterima pejabat Humas dari Mabes Polri, dan karenanya warga menunggu kelanjutan dan tindakan aktif Polri sebagaimana mandat konstitusi yang diembannya.

Selain melakukan pemukulan, penembakan, dan pengejaran terhadap warga yang memprotes perusakan dengan menggunakan alat berat (deko) atas lahan sawah milik warga oleh personel TNI-AU, aparat personel TNI AU juga melakukan penculikan terhadap lima warga (Sudaryanto, Dery, Yusuf, Haji Amir, dan Cece Rahman).

Kelima warga tersebut diseret ke lokasi proyek dan kemudian dipukuli hingga lebam. Sampai pagi hari, tidak ada keterangan resmi mengenai keberadaan kelima warga tersebut, sampai akhirnya aparat TNI-AU yang melakukan penculikan, menyerahkan kelimanya ke Mapolsek Rumpin. Salah seorang dari kelima warga yang diculik, kini berada dalam keadaan kritis dan harus dilarikan ke rumah sakit di Jakarta. Penyebabnya tidak lain dari penganiayaan yang dilakukan oleh aparat TNI-AU.

Kini, kelima warga tersebut telah berhasil dievakuasi ke rumah sakit untuk divisum dan mendapatkan perawatan medis. Sampai sekarang—kecuali hendak melakukan teror—tidak jelas motivasi TNI-AU melakukan penculikan tersebut. Tidak jelas pula, siapa pejabat TNI-AU yang bertanggungjawab atas penculikan dan penganiayaan tersebut.

Namun, seperti yang diberitakan di atas, penculikan yang dilakukan terhadap kelima warga di atas masih terus diulang sampai saat ini. Penyisiran yang aparat TNI-AU dengan menggunakan setidaknya delapan sepeda motor dan didukung oleh sebuah mobil jenis kijang masih terus dilakukan, dengan maksud mencari “aktor intelektual” dari rangkaian aksi protes warga. Karenanya, bukan tidak mungkin, kejadian-kejadian penculikan yang disertai penganiayaan seperti yang dialami lima warga sehari sebelumnya, akan kembali berulang.

Konflik antara warga dan TNI AU ini bermula dari rencana Lanud Atang Sandjaja yang hendak mengoperasikan proyek Water Training diatas lahan milik masyarakat. Klaim sepihak dari TNI AU ini telah menimbulkan keresahan warga Sukamulya sejak November tahun lalu. Sejak itu warga kerap melakukan aksi protes terhadap keberadaan aparat TNI AU disana.

Konflik pengambilalihan tanah antara warga oleh TNI AU ini bukanlah yang pertama. Dalam catatan KontraS kasus serupa terjadi di Bojong Kemang-Bogor, Kuala Namo-Sumut, Pattimura Laha (Ambon) dan Papua.

Warga Rumpin telah melaporkan adanya konflik ini kepada Taheri Noor, November 2006 yang berjanji akan segera datang ke lokasi. Namun hingga saat ini Komnas HAM belum menyelidiki kasus ini.

Demikian surat ini kami sampaikan. Atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, 24 Januari 2007


Persatuan Warga Tani dan Masyarakat Desa Sukamula -Rumpin

Didukung oleh:
Front Mahasiswa Nasional (FMN), KontraS, Aliansi Gerakan Reformasi Agraria (AGRA), LBH Bandung, LBH Jakarta, WALHI, Serikat Mahasiswa Indonesia, Serikat Tani Nasional (STN) Gabungan Serikat Buruh Independent, HUMA, PILNET, Serikat Perempuan Indonesia (Seruni), FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia), SPI (Serikat Pengacara Indonesia), Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI), Koalisi Anti-Utang (KAU)

26 Jan 2007 20:58
molotov
Pratu
Posts 20
Reputation: 0
Awards:

Kami menyesalkan kekerasan yang dilakukan oleh aparat TNI AU dari Lanud Atang Sandjaja, Bogor, terhadap warga kampung Cibitung desa Sukamulya kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Kekerasan aparat TNI ini dilatarbelakangi oleh klaim atas tanah yang dimiliki dan digarap oleh warga jauh sebelum Indonesia merdeka.

Peristiwa kekerasan diatas telah mengakibatkan 2 warga dalam kondisi kritis yang tengah dirawat di rumah sakit. Dan sebelas orang lainnya termasuk perempuan dan anak mengalami penganiayaan oleh aparat TNI AU tersebut. Bahkan seorang aktivis Agra (Cece) yang selama ini aktif mendampingi warga mengalami tindak penculikan dan penyiksaan oleh para aparat TNI AU.

Kekerasan terhadap warga Rumpin ini bukanlah yang pertama, sebelumnya seorang anak (14 th) juga pernah mengalami penganiyaan oleh aparat TNI AU yang berjaga di lokasi, disebabkan korban menolak meminjamkan motor kepada aparat TNI AU yang tengah berjaga.

Konflik antara warga dan TNI AU ini bermula dari rencana Lanud Atang Sandjaja yang hendak mengoperasikan proyek Water Training diatas lahan milik masyarakat. Klaim sepihak dari TNI AU ini telah menimbulkan keresahan warga Sukamulya sejak November tahun lalu. Sejak itu warga kerap melakukan aksi protes terhadap keberadaan aparat TNI AU disana.

Konflik pengambilalihan tanah antara warga oleh TNI AU ini bukanlah yang pertama. Dalam catatan KontraS kasus serupa terjadi di Bojong Kemang-Bogor, Kuala Namo-Sumut, Pattimura Laha (Ambon) dan Papua.

Dari gambaran kasus diatas, kami melihat TNI AU kerap memaksakan diri untuk mengambilalih tanah milik warga dengan dasar hukum yang tidak jelas. Padahal pada setiap kasus tersebut warga juga memiliki klaim hukum dan historis yang kuat atas tanahnya.

Klaim TNI AU atas sejumlah tanah warga ini disisi lain, bertentangan dengan rencana pemerintah untuk melaksanakan Program Pembaharuan Agararia Nasional. Program ini dimaksudkan untuk memberikan tanah kepada warga dan petani miskin, terutama hal ini dimaksudkan sebagai solusi atas konflik agraria.

Berdasarkan hal tersebut, Pertama, kami mendesak pada Panglima TNI untuk menarik mundur pasukan TNI AU dari desa Sukamulya, Kec. Rumpin. Kedua, mendesak DPR RI (Komisi I dan II) untuk segera meminta penjelasan atas kasus ini kepada Panglima TNI dan warga. Ketiga, kami mendesak pemerintah untuk segera merealisasikan Reformasi Agraria. Kelima, kami mendesak Polri untuk melakukan langkah hukum terhadap aparat TNI AU yang melakukan kekerasan terhadap warga sipil tersebut.


Jakarta, 23 Januari 2007

Front Mahasiswa Nasional (FMN), KontraS, Aliansi Gerakan Reformasi Agraria (AGRA), LBH Bandung, LBH Jakarta, WALHI, Serikat Mahasiswa Indonesia, Serikat Tani Nasional (STN) Gabungan Serikat Buruh Independent, HUMA, PILNET, Serikat Perempuan Indonesia (Seruni), FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia), SPI (Serikat Pengacara Indonesia)

26 Jan 2007 21:16
molotov
Pratu
Posts 20
Reputation: 0
Awards:

Pernyataan Sikap Perhimpunan Rakyat Pekerja

Bebaskan segera Warga yang Ditangkap oleh Aparat TNI AU !!!
Hentikan segala bentuk Intimidasi, Teror, dan Kekerasan yang Dilakukan Aparat TNI AU !!!


Salam Rakyat Pekerja,

Pengambilalihan tanah warga oleh negara melalui aparat-aparat negara kembali terjadi di Indonesia. Saat ini pengambilalihan tanah warga di Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor dilakukan oleh para aparat TNI AU. Kasus sengketa tanah seluas 100 hektar tersebut sebenarnya telah mencuat awal November 2006 yang lalu. Saat itu TNI AU, dalam hal ini aparat Pangkalan Udara Atang Sanjaya, Bogor, mulai melakukan penggalian di lahan tersebut untuk membangun fasilitas yang disebut water training.

Komandan Pangkalan Udara Atang Sandjaya, Bogor, Marsekal Pertama TNI Ignatius Basuki menjelaskan bahwa di desa tersebut akan dibangun Markas Komando Detasemen Bravo Paskhas TNI AU serta fasilitas latihannya. Bahkan Ignatius Basuki sudah mewanti-wanti agar warga tidak mengganggu proyek pembangunan tersebut.

Namun warga keberatan terhadap proyek tersebut karena lahan yang digunakan diklaim milik warga dan aset desa. Aksi pemblokiran jalan akhirnya dilakukan oleh warga dua desa untuk memprotes pengerjaan proyek milik TNI AU. Jalan sepanjang sekitar 50 meter menuju lokasi proyek milik TNI AU telah diblokir sejak Desember 2006 oleh ratusan warga dari desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor dan Desa Suradita, Kecamatan Cisauk Kabupaten Tangerang dengan menggunakan pohon bambu, balok dan batu belah.

Usaha melaporkan tindakan aparat TNI AU pun telah dilakukan oleh warga Cisauk dan Rumpin dengan mendatangi Kantor Kepolisian Resor Bogor dan Markas Detasemen Polisi Militer III/1 Bogor. Bahkan mereka sudah mengadukan nasib mereka ke kepala desa, camat, bupati, DPRD Kabupaten Bogor hingga Departemen Pertahanan. Namun sampai hari ini hasilnya tetap tidak jelas.

Titik terang akan ditariknya pasukan TNI AU dari tanah warga sebenarnya sudah dapat terlihat ketika hasil rapat kerja komisi A DPRD Kab Bogor bulan Desember 2006 meminta Komandan Pangkalan Udara Atang Sandjaya menarik pasukannya dari Desa Sukamulya. DPRD juga meminta mereka menghentikan pengerjaan proyek hingga masalah sengketa lahan antara pihak pangkalan udara dan warga selesai. Namun hal itu juga tidak terlaksana,karena kenyataannya pasukan TNI AU sampai bulan Januari 2007 masih saja berada di tanah warga.

Puncaknya pada tanggal 21 Januari 2007 terjadi bentrokan antara ratusan warga dan aparat TNI AU. Bentrokan tersebut melibatkan ratusan warga dan empat peleton TNI AU. Beberapa warga sempat terluka karena mempertahankan tanah mereka dari pengambilalihan TNI AU. Buntut dari bentrokan itu adalah penangkapan terhadap warga pun dilakukan oleh aparat TNI AU. Sebanyak 5 orang warga sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya setelah ditangkap oleh aparat TNI AU. Adapun tokoh-tokoh masyarakat yang ditangkap TNI AU adalah Haji Amir, Uci, dan Cece Rahman. Salah seorang lagi adalah Wowon dari Aliansi Gerakan Agraria (AGRA). Tokoh-tokoh tersebut diseret secara paksa oleh pasukan TNI AU dan dibawa ke suatu tempat yang hingga kini belum diketahui.

Selain penangkapan, TNI AU juga melakukan perampasan dua pesawat telepon selular milik Cece Rahman dan Wowon. Warga juga melaporkan bahwa aparat TNI AU juga menyita kalung emas dan telepon selular yang lain milik warga. Penyitaan tanpa dasar hukum ini jelas merupakan perbuatan kriminal yang dilakukan TNI AU.

Bahkan pada hari ini pun, aparat TNI AU melakukan penambahan pasukan dan memblokir seluruh akses masuk ke lokasi sengketa di Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Akibatnya beberapa warga yang terluka namun belum sempat dievakuasi ke rumah sakit akibat bentrokan belum bisa mendapatkan pengobatan yang memadai.

TNI AU juga melakukan penjagaan di tiap-tiap rumah warga. Tidak kurang empat personel ditempatkan di setiap rumah warga. Tindakan TNI AU ini jelas semakin mempertinggi trauma dan ketakutan di kalangan warga.

Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) sangat mengecam aksi penangkapan ilegal yan dilakukan oleh aparat TNI AU, karena jelas penangkapan tersebut melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Maka dari itu, kami dari Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) menyatakan sikap:

Mengecam keras tindakan penangkapan, intimidasi, teror, perampasan dan kekerasan yang dilakukan oleh aparat TNI AU.
Menuntut Komandan Pangkalan Udara Atang Sandjaya, Bogor untuk membebaskan seluruh tokoh warga yang ditangkap oleh aparat TNI AU karena jelas aksi tersebut melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).
Seluruh pasukan TNI AU di wilayah tersebut harus ditarik dari tanah sengketa.
Hentikan segera segala bentuk intimidasi, teror dan kekerasan yang dilakukan aparat TNI AU.
Usut dan adili aparat TNI AU yang terbukti melakukan tindakan kekerasan berupa penembakan, pemukulan, perampasan secara tidak sah atas barang-barang milik warga.
Kami dari Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) juga menghimbau seluruh rakyat pekerja, baik dari buruh, petani, rakyat miskin kota dan mahasiswa untuk memberikan pernyataan sikap dan solidaritasnya terhadap perjuangan warga desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Seluruh rakyat pekerja harus bersatu melawan segala penindasan dan segala bentuk ketidakadilan di bumi Indonesia.

Jakarta, 23 Januari 2007

Sekertaris Jenderal
Irwansyah

Komite Pusat
Perhimpunan Rakyat Pekerja
(KP PRP)
JL Dr Saharjo No 115 B Ungu
Telp : (021) 829-4858 / (021) 928-41259

26 Jan 2007 21:22
siketemele
Prajurit
Posts 8
Reputation: 0
Awards:

berjuang terus pren.......................................doa kami bersama kamu

26 Jan 2007 22:29
satria_malajang_tengah
Letda
Posts 645
Reputation: 0
Awards:

lawan terus ...kebiadaban tni

26 Jan 2007 23:02
bondon
Sertu
Posts 224
Reputation: 0
Awards:

beginilah tabiat, sikap dan perilaku tni dari zaman orba sampai skrg gak berubah2...
arogan, sok hebat, suka menindas, merasa dia yg punya indonesia ini..
kalo gue rasa ini jg refleksi dari pimpinan2 tni sekarang..
mana ada anak buah yang brani bertindak tanpa restu dari atasan..
indonesia makin parah aja...

untuk merubahnya...wallahu alam bissawab....

27 Jan 2007 18:51
molotov
Pratu
Posts 20
Reputation: 0
Awards:

salam solidaritas,


terkait dengan kasus sengketa tanah antara petani di kampung Sukamulya
Rumpin Bogor Timur dengan TNI AU,
dimana TNI AU telah mengklaim tanah petani sebagai tanah milik mereka dan
telah melakukan penggusuran paksa
tanah pertanian dengan intimidasi kepada rakyat untuk kepentingan
pembangunan water training yang tidak jelas
juga peruntukannya. meskipun warga menyatakan secara tegas menolak
pembangunan proyek water training, namun pada tanggal
21 januari 2007 ini, pihak TNI AU tetap ngotot untuk mulai beroperasi.

kami (WALHI Jakarta, KontraS, LBH Bandung, LBH Jakarta, AGRA, FMN) telah
menyatakan kesediaannya untuk bersama-sama dengan warga melawan okupasi
tanah yang dilakukan oleh TNI AU. untuk itu, kami meminta kepada seluruh
kawan2 untuk juga
bersama-sama mengirimkan surat kepada beberapa pihak dibawah ini untuk
menghentikan pengklaiman tanah tersebut, terlebih dengan mengatasnamakan
kepentingan umum (karena sarana militer dimasukkan dalam kategori
kepentingan umum).

kami berharap surat tersebut dikirimkan secepatnya, sebelum tanggal 21
Januari 2007. isi surat diserahkan kepada teman2 semua, namun bersama ini
juga kami kirimkan contoh surat yang akan dikirimkan.

terima kasih atas solidaritas teman2 terhadap warga desa Sukamulya Rumpin
Kabupaten Bogor Timur.

berikut ini no fax yang diperlukan

No fax menhan : 021-3440023
No Fax Panglima TNI: 021-8456805


hormat selalu,


Khalisah Khalid (alien)
Kadiv. Kampanye &Perluasan jaringan WALHI Jakarta
cp: 0813111 87498/021-9895897
email: [EMAIL PROTECTED]
http://www.sangperempuan.blogspot.com


   New reply




User(s) browsing this thread:
1 Guest(s)

Forum Bebas Indonesia
Demokrasi & Kebebasan temukan jalannya!
Respecting others will make you happy here
© 2004-2013 by Adimin | Fan Page | Group Discussion | Twitter | Google+ | Instagram