Current time: 24 Apr 2014, 10:25 Hello There, Guest! LoginRegister
ForumBebas.com / Forbidden Area, Find The Hidden & Secret Forum / Global Faith and Tolerance / Nuansa Kristiani / Pakoe Boewono XIII Ditemui Isa Almasih Sang Ratu Adil



REPLY 
 
Thread Rating:
  • 73 Votes - 2.95 Average


  
Martian
3 Apr 2008 12:24    #1

Financial Advisor

Sebuah kesempatan istimewa Tabloit GLORIA diperkenankan mewawancarai Raja Surakarta Pakoe Boewono XIII bernama Sinuhun Tedjo Woelan. Dalam wawancara eksklusif ini, terkuak pengakuan sosok Pakoe Boewono xiii telah melihat dan bertemu Isa Almasih, yang disebut-sebut Ratu Adil. Bagaimana kisahnya berikut petikan wawancara Andriant wartawan Gloria dengan Sihuhun Tedjo Woelan:

*Gloria: Sejak kapan sinuhun mengenal agama dan spiritual dalam hidup ini?

* Sinuhun: Kelahiran saya ada dua, yaitu kelahiran saya ke dunia yaitu pada 3 agustus 1954 dan kelahiran saya pada saat bapak ibu saya melihat pertama kai dan hal itulah yang disebut dengan kelahiran secara spiritual. Masa kecil saya seperti anak-anak pada umumnya, yang suka bermain. Saya mendapatkan pendidikan yaitu SD, SMP, SMA dan AKABRI. Di Keraton Solo, setiap senin khusus didik tentang agama, pada malam Jumat didik tentang spiritual yang namanya budi pekerti, budi luhur dan pada hari Jumatnya kedua hal yang didapatkan itu di praktekan dalam kehidupan nyata.

*Gloria: Bisa diceritakan awal mula pengalaman religi didatangi Yesus, yang disebut Isa Almasih?

* Sinuhun: Pertemuan pertama kali dengan Isa Almasih saya alami ketika saya belum dinobatkan menjadi sinuwun. Tepatnya sewaktu saya dinas militer di Timor-Timur tahun 1983. Waktu itu saya tergabung dalam pasukan TNI yang ditugaskan di Timor Timur untuk menjaga kedaulatan Negara Republik Indonesia. Semula di dalam pasukan terdapat 21 orang prajurit termasuk saya, tetapi karena terjadi pertempuran sengit beberapa kali dengan gerakan orang-orang bersenjata yang berada di Timor-Timur, sebanyak 19 orang prajurit anak buah saya gugur dalam medan perang. Waktu itu Edi B.M. menjadi komandan saya. Komandan saya bingung dan sedih mengalami kenyataan itu. Mengetahui hal saya menyarankan pada komandan bahwa yang dipimpin adalah yang hidup dan jangan terus terlarut-larut dalam kesedihan seperti itu, dan tidak ada gunanya memikirkan terus anak buah yang telah mati.

*Gloria: Lantas tanggapan komandan saat itu?

* Sinuhun: Saran saya diterima. Setelah survey pada hari Minggu saya mendampingi komandan untuk mengikuti pelaksanaan misa terakhir di salah satu gereja yang ada di Dili. Sewaktu komandan saya jongkok di depan sayapun ikut jongkok. Setelah itu saya berbicara kepada Tuhan Yesus, saya beritahukan nama saya, saya sebutkan orang tua saya dan saya beritahukan maksud dan tujuan saya datang ke tempat itu. Saya juga katakan bila sekiranya saya kurang berkenan datang ke gereja, saya memohon ampun kepada Tuhan Yesus. Dihadapan Tuhan Yesus saya minta pengampunan atas perbuatan kesalahan yang saya perbuat. Kebetulan yang ada ditempat itu hanya saya dan komandan sehingga saya lebih leluasa untuk berdoa. Saya sendiri tidak mengerti justru kenapa saya yang didatangi Tuhan Yesus dan hanya saya yang dapat melihat sosokNya. Waktu itu Tuhan Yesus berdiri dan mengulurkan tangan ke arah saya, sepertinya hendak memberikan berkatnya pada saya. Sedangkan komandan saya tidak melihat apa-apa.

*Gloria: Apa yang melatar belakangi Sinuhun, sehingga mengadakan perjalanan spiritual?

* Sihuhun: Karena ketika itu setelah Pakubuwono XII surut, saya dinobatkan sebagai Ratu pada 31 Agustus 2004, dengan gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono (SISKS PB) XIII atau di sebut pula dengan 'Sinuhun Tedjo Woelan' yang disingkat 'STJW'. Saat itu muncul tingkat kesadaran saya agar benar-benar dapat menjalankan fungsi tugas sebagai Ratu sebagaimana mestinya. Ratu alam jagat ini mempunyai makna, dimana itu kedatu atau kedaton bisa disebut pula sebagai pemimpin. Sebelum menjadi Ratu harus jadi pandhito (orang yang menjadi panutan dalam sikap dan budi pekerti yang luhur Red) dahulu, setelah itu bisa nyabdo (berbicara Red), selain itu harus waskito (awas dalam bersikap arif dalam membaca tanda-tanda jaman) dan selanjutnya wicaksono (bijaksana Red.) Tetapi ketika saya melakukan spiritual, saya dapati ternyata 'STJW' bukan Sinuhun Tedjo Woelan, tetapi saya mendapatkan pengertian 'Sinuhun Tanah Jawa'. Memang keduanya dapat disingkat 'STJW' baik untuk Sinuhun Tedjo Wolean maupun Sinuhun Tanah Jawa. Tetapi Sinuhun Tanah Jawa itu mungkin bukan saya dan semula saya tidak ngerti apa maksud semua ini.

*Gloria: Apa yang membuat bapak tertarik pada perjalanan spiritual saat itu?

* Sinuhun: Saya semakin tertarik untuk meneliti dan mempelajari sumber-sumber itu karena berkaitan dengan Ratu-Ratu tanah Jawa pada masa lalu. Hal ini saya pelajari satu-satu dengan teliti agar saya dapat belajar dari pengalaman Ratu-Ratu pada jaman dahulu sekaligus mengambil hikmahnya. Mulai jaman Airlangga, Ken Arok hingga Ratu-Ratu berikutnya semuanya tidak ada yang luput dari perhatian saya. Dahulu istilah Jawa nya Ratu menggunakan sebutan Prabu tetapi tiba-tiba berubah sebutan menjadi Sultan. Mengapa tiba-tiba menggunakan gelar Sultan? Akhirnya saya tahu, itu karena pengaruh Islam pada saat itu. Tanah Jawa telah beberapa kali didatangi oleh wali songo (sembilan wali Red) tetapi toh tidak semua tanah Jawa memeluk islamkan. Padahal para wali itu hebat-hebat, apalagi seperti Sunan Kali Jaga. Menurut pengamatan saya ada tiga kesalahan Kerajaan Demak: Kesalahan pertama di Ratunya, kesalahan kedua di bapaknya dan kesalahan di negaranya. Setelah itu muncul Sultan Hadiwijaya yang memerintah selama satu periode. Selanjutnya diteruskan Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati. Diteruskan dengan beberapa Amangkurat Jawi sampai dengan Sultan Agung. Sultan Agung seorang yang hebat karena berusaha mempersatukan antara ulama dengan umaroh (Penguasa di Pemerintahan Red.). Namun beliau adalah ratu yang umurnya paling pendek karena melanggar bahwa ulama dan umaroh tidak akan bisa dijadikan satu. Setelah itu muncul nama Pakubuwono. Dimulai dari Pakubuwono I, Pakubuwono II yang selanjutnya muncul Sultan Hamengkubuwono, muncul Mangkunegoro terakhir Paku Alam. Setelah Paku Buwono IV, muncul pandita namanya Sulatu Langgrek. Setelah itu diteruskan Pakubuwono V hingga Pakubuwono X. Satu-satunya Ratu di pulau Jawa yang mukti mulyo wibowo waskito hanya Pakubuwono X yang bertahta selama 41 tahun dan disitu putus sudah putus karena panembahan senopati muncul lagi. Pakubuwono XII adalah Ratu pulau Jawa yang noto jumeneng paling panjang, kurang lebih selama 52 tahun. Berkaitan dengan Pakubuwono XII, dalam bahasa Jawanya angka dua belas adalah ongko rolas yang bermakna ?rohipun sampun telas.?

*Gloria: Berapa lama perjalanan spiritual?

*Sinuhun: Perjalanan spiritual saya lakukan bukannya 2, 3 hari, tetapi saya lakukan selama tiga setengah tahun. Memang hal itu sudah menjadi keputusan saya dan tidak ada seorangpun yang dapat mencegah kemauan saya. Selama itu saya harus meninggalkan isteri, keluarga, keraton Solo dan kehidupan duniawi. Bukannya saya egois dan tidak mau mempedulikan keluarga maupun orang lain, tetapi ada hal yang lebih prinsip dan saya anggap sangat penting dari itu semua sehingga saya melakukan perjalanan spiritual.

*Gloria: Pertemuan yang lain antara Sinuhun dengan Yesus selanjutnya bagaimana?

*Sinuhun: Yesus menemui saya untuk kedua kalinya. Hingga yang keempat kalinya setelah saya dinobatkan sebagai Sinuhun. Tuhan Yesus menemui saya kedua kalinya, saat saya berada ditengah laut. Dan yang ketiga kalinya menjumpai saya ketika saya berada didalam pesawat udara. Pada saat itu saya diliputi oleh rasa ketakutan yang saya sendiri tidak tahu mengapa sebabnya. Saat itu Tuhan Yesus menemui saya. Tuhan Yesus mencul lagi menemui saya keempat kalinya pada saat saya bersemedi.

*Gloria: Waktu itu Bapak semedi dimana?

*Sinuhun: Nggak perlu tahu, kalau saya beritahu nanti orang berbondong-bondong ke sana dan saya tidak mau kalau orang-orang akhirnya mengkeramatkan tempat itu.

*Gloria: Apakah terjadi dialog ketika Sinuhun didatangi Yesus Kristus?

*Sinuhun: Yang jelas, sewaktu saya didatangi Yesus tidak terjadi dialog timbal balik, walaupun sebenarnya dalam hati, saya ingin bercakap-cakap panjang lebar dengan Tuhan Yesus waktu itu. Mungkin karena saya masih kotor atau mungkin karena belum titi wancinya (belum tiba saatnya Red.)

*Gloria: Hikmah apa yang Sinuhun dapatkan dari melakukan perjalanan spiritual?

*Sinuhun: Saya membaca buku-buku tentang sejarah tanah Jawa yang di dalamnya juga ada yang membahas tentang Ratu Adil yang berkaitan dengan tanah Jawa, selain itu saya sering mengadakan saresehan sehingga dapat mendengarkan masukkan. Dari situlah saya mengerti bahwa Indonesia ini punya konsep namanya konsep Sang Ratu Adil. Jongko (ramalan Red.) Joyoboyo konsepnya Ratu Adil, Sabdopalon konsepnya juga Ratu Adil, Ronggo Warsito membahas Ratu Adil, Bung Karno juga menyebut Ratu Adil, Pak Soeharto juga memakai sarana adil, sarana gunung Srandil, tetapi di perjalan semua geger(ribut Red.) karena apa? Ratu Adil adalah Ratu yang membuat berdirinya Tanah Jawa, lha ini siapa? Sabdo Pandhito ratu Waskito Ian wicaksono ini yang namanya Mirah Delima, dimana kalau anda mencari Mirah Delima kemana saja tidak akan ketemu, ini adalah hasil dari perjalanan spiritual saya.

*Gloria: Apa yang istimewa dalam penglihatan itu?

*Sinuhun: Justru di perjalanan spiritual tersebut akhirnya muncul yang namanya Yesus. Saya sendiri semula bertanya yang muncul bukannya Ratu-Ratu tanah Jawa leluhur saya, tetapi justru Yesus yang mendatangi saya. Ternyata dari perjalanan spiritual yang saya lakukan, saya mendapatkan bahwa Ratu Adil Sinuhun Tanah Jawa adalah Yesus. Mau anda gelar, mau anda muat di koran ataupun di media massa silahkan, begitu anda muat pasti dunia ini akan geger (ribut Red.), pasti Paus di Vatikan akan mengundang dan mengklarifikasi saya.

*Gloria: Kalau dirunut dari sumber-sumber sejarah tanah Jawa ada data yang berkaitan dan berbicara tentang Yesus?

*Sinuhun: Ada! Anda lebih baik ke Radio Pustaka Kepustakaan Jawa di Yogyakarta di sana ada banyak buku tulisan tokoh dan pujangga Jawa yang berkaitan dengan hal itu, tanyalah pada ahlinya jangan tanya saya sebab saya bukan ahli sejarah. Dari buku-buku yang pernah saya baca itu ada yang tersirat ada pula yang tersurat tentang Yesus atau juga yang disebut Isa Almasih. Kalau anda mau mewawancarai saya yang berkaitan dengan spiritual, anda juga harus berspiritual juga, kalau tidak, hal itu tidak akan pernah anda capai. Makanya saya sering mengajak ayo kita laku (mengalami sendiri pengalaman spiritual Red.) bersama-sama, supaya tahu. Saya sudah tidak bisa sabar. Dan saya harus mengajak dengan tegas dalam hal ini, sehingga bukan hanya saya saja yang dapat kebenaran dan pencerahan.

*Gloria: Apakah kaitan Yesus sebagai Ratu Adil dapat diartikan juga Yesus sebagai Tuhan?* Sinuhun: Kalau berbicara tentang Tuhan itu siapa. Tuhan berada pada diri sendiri, tidak jauh dari urat nadi kita. Kalau di ajaran Jawa dikenal dengan istilah Ingsun Sejati. Dalam filosofi jawa dikenal terdapat istilah Argo dumilah, argo itu dirimu sendiri, seperti sebuah gunung dumadine saka (terciptanya dari red) Allah. Ketika kita memahami dan menyadari bahwa kita ini berasal dari Allah, maka seseorang telah berada pada titik balik sehingga pada akhirnya akan mewujudkan kasampurnaan sejati (kesempurnaan yang sesungguhnya Red) atau yang disebut juga kesejatian diri. Sebelum mencapai kesejatian diri, pasti orang-orang yang punya tekad sungguh-sungguh mencapai kesajtian diri pasti akan ditemui Yesus, karena hal itu sudah saya alami sendiri dan sudah dialami pula oleh orang lain selain saya. Yesus akan memberikan jawaban pada mereka yang ingin mencapai kasampurnaan hidup. Istilah kasampurnaan urip di sebut ?sirotol mustagim?.

*Gloria: Apa yang bisa Sinuhun simpulkan setelah perjalanan spiritual itu?

*Sinuhun: Setelah saya memohon petunjuk kepada Sang Pencipta jagad, pemikiran saya dibukakan oleh Tuhan lewat proses perenungan spiritual yang dalam dan memakan waktu yang cukup lama. Hasil perenungan saya semakin lengkap masukkan dari beberapa sahabat baik yang memberikan masukkan, saya tahu bahwa Isa Almasih menemui. Saya kembali ditemui oleh sosok itu beberapa kali di tempat dan dalam waktu yang berbeda-beda. Dalam semedipun saya pernah didatangi oleh Isa Almasih. Dan sejak saat itu saya mulai merenungkan siapakah sebenarnya Isa Almasih itu. Dan dari pengalaman batin yang saya alami, membaca buku-buku dan diskusi dengan tokoh-tokoh yang paham dan mengerti betul masalah spirituil secara benar, akhirnya saya dapat mengetahui dan memahami bahwa Isa Almasih adalah Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta, dimana hal ini sesuai dengan iman dan kepercayaan umat Kristen.

*Gloria: Apa makna politis Ratu Adil untuk bangsa ini?

*Sinuhun: Dalam setiap jaman Ratu Adil dalam arti politis itu pasti selalu muncul, jumlahnya amat sangat sedikit. Ratu Adil sejati. Pada kenyataannya tidak ada satupun manusia yang benar-benar bisa berlaku adil di dunia. Dan hanya Tuhan Penguasa semesta saja yang dapat benar-benar berbuat adil. Jadi Tuhan adalah gambaran Ratu Adil yang sejati. Jika dikaitkan dalam Pembukaan UUD alinea ketiga 1945: ?Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya?, bukan saja menegaskan lagi apa yang menjadi motivasi riil dan material bangsa Indonesia untuk menyataan kemerdekaannya tetapi juga menjadi keyakinannya, menjadi motivasi spiritualnya, bahwa maksud dan tindakannya menyatakan kemerdekaan itu diberkati oleh Allah Yang Maha Kuasa. Dengan ini digambarkan bahwa bangsa Indonesia mendambakan kehidupan yang berkeseimbangan antara jasmani dan rohani. Sekaligus menunjukkan ketakwaan bangsa Indonesia terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan rakhmat bagi bangsa Indonesia sehingga mencapai kemerdekaan. Selanjutnya jika kita lihat Alinea keempat UUD 1945: ?Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yhang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia?? Indonesia mempunyai usaha untuk menertibkan dunia. Apakah benar alam semesta yang diciptakan tidak tertib sehingga bangsa Indonesia ingin menertibkannya? Indonesia sekarang ini malah sering dilanda bencana, dari mulai tsunami, gempa bumi, tahan longsor, banjir bandang, luapan lumpur lapindo dan bencana yang mungkin akan terjadi di masa mendatang mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia, khususnya pemerintahan belum berhasil dalam mewujudkan cita-cita luhur untuk menertibkan dunia.

*Gloria: Bisa dijelaskan hakekat Ratu Adil pandangan Jawa?

*Sinuhun: Rupanya alam yang dieksploitasi besar-besaran dan seenak sendiri untuk memperkaya diri sendiri dan kelompok atau golongan tertentu tanpa memperhatikan kesejahteraan seluruh rakyat mulai berteriak menuntuk keadilan, misal saja hutan, dimana banyak hutan ditebang secara liar sehingga mendatangkan musibah banjir maupun tanah longsor, sementara kayunya dijual secara ilegal keluar negeri. Seiring dengan banyaknya hutan yang ditebang secara liar, lama-kelamaan negara kita akan menjadi panas, sementara kalau kita melihat negara lain yang punya kesadaran tinggi dalam menjaga kelestarian alam maka kita akan merasakan kesejukkan dan merasa lebih senang tinggal diluar negeri. Padahal di Indonesia sebenarnya kaya dengan hutan tetapi kok malah di rusak sendiri. Jika fenomena dan bencara alam terjadi tidak ada satupun yang dapat menghentikannya ataupun mencegahnya sekalipun menggunakan teknologi modern. Dalam filosofi Jawa tersirat Ratu Adil mempunyai kuasa atas alam semesta sehingga dapat menghentikan ataupun menggerakkan semua fenomena alam. Hanya Tuhan saja yang dapat melakukan hal itu. Dalam kepercayaan Jawa kita dapat menemukan hakekat Ratu Adil bila kita mengetahui dan paham betul identitas dan jati diri kita secara benar. Diri kita dapat menuntun dengan benar agar kita menemukan Ratu Adil yang sejati. Tapi sekarang ini malah ada kata pepatah ?Wong Jawa Ilang Jawane? sehingga sampai kapanpun kita juga tidak akan pernah memahami hakekat ratu adil yang sebenarnya. Dalam pemerintahan saja, sekarang ini hukum dan keadilan belum sepenuhnya dijalankan secara adil, itu menandakan bahwa hakekat Ratu Adil belum terwujud sekarang ini. Dari fakta harus kita akui bahwa tidak ada satupun manusia yang dapat berbuat adil, yang dapat berbuat adil hanya Tuhan sebagai hakim dunia yang dapat berbuat adil. Menurut kepercayaan saya, Isa Almasih adalah Imam Mahdi dan Hakim Adil akhir Jaman. Sehingga konsep itu sesuai dengan pengalaman spiritual secara pribadi dengan Isa Almasih, di mana saya tidak pernah habis pikir.

Sumber Tabloit Gloria Edisi 373, Minggu ke III Oktober 2007
signature
[b]IJO...IJO...IJO.....[/b]
banner
justin timberlake
3 Apr 2008 13:04    #2

Penjaja Cinta

Top Top Top Top Top posting yg luar biasa
signature
[b]Mazmur 118:8 Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia.[/b]
banner
Martian
3 Apr 2008 13:32    #3

Financial Advisor

Perspektif Ratu Adil Identik Isa Almasih

Sejumlah menteri, pimpinan lembaga pemerintah, politisi, artis dan tokoh spiritual kemarin, 31 Agustus dan 2 September 2007, menerima gelar kehormatan dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Mereka dinilai berjasa dalam melestarikan kebudayaan Jawa sehingga mendapat penghargaan dari penguasa Keraton Surakarta Hadiningrat Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono (SISKS PB) XIII Tedjowulan.

Diantara tokoh-tokoh itu, Tabloid Mingguan Gloria berhasil mewawancarai Bambang Noorsena, SH, MA. Seorang intelektual Kristen yang dalam kesempatan itu juga dianugrahi gelar Kanjeng Pangeran (KP), atau lengkapnya KP. Seno Kusumonagoro.
Bagaimana perasaan Bapak setelah dianugrahi gelar?

Senang dan terharu. Mulanya saya diberitahu bahwa saya akan diberi gelar KRT (Kanjeng Raden Tumenggung), tetapi yang diberikan ternyata lebih tinggi.

Apa gelar-gelar kebangsawanan seperti itu masih perlu di era demokrasi sekarang?

Kalau saya lebih melihatnya dari sudut pandang budaya semata, dan maknanya tentu saja jauh berbeda dengan zaman feodal dulu.

Bisa diceritakan kronologisnya Bapak menerima gelar itu?

Kira-kira 3 atau 4 bulan lalu, saya dihubungi seorang sahabat Sinuwun Tedjowulan di Jakarta, intinya ngajak diskuis soal kebudayaan Jawa, khususnya soal Ratu Adil. Kebetulan saya menulis buku, Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen. Singkat kata, kami diskusi ngalor ngidul di Hotel Hilton, yang berlanjut pertemuan dengan Sinuwun. Selain Sinuwun, waktu itu ada saya, Pak Sapto Heru Samudro, Romo Rohadi, dan beberapa teman lagi.

Boleh tahu, inti obrolan tentang Ratu Adil tersebut?

Kita membahas apakah Yesus sebagai Sabda Allah yang pra-eksisten sama dengan Nur Muhammad?

Mungkin bisa dijelaskan lagi “Genitum non Factum!”

Makna ‘dilahirkan’ (genetum) disini ‘melalui Sang Firman, Allah menyatakan diri’ (Yoh 1: 18), dan ‘tidak diciptakan’ (non-Factum), karena sebelumnya firman itu sudah ada bersama-sama Allah dan berdiam dalam Dzat-Nya Yang Esa, bahkan Allah menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya.

Dengan mewahyukan diri-Nya, Firman itu keluar dari Allah untuk menyatakan siapakah Allah kepada manusia. Itu makna teologis gelar Putra Allah, dan bukan dalam makna keyakinan kaum primitif ‘Allah Itu Beranak’.

Beberapa teman merasa tercerahkan. Lalu kami menuju kediaman Sinuwun (sebutan raja Surakarta Red.) Jakarta, dan pembicaraan berlanjut disana.

Apa tema diskusi tersebut ada hubungannya dengan perjumpaan spiritual Sinuwun dengan Isa Almasih?

Bagaimana persisnya pendapat beliau saya tidak tahu. Yang jelas saya tangkap dari penjelasan beliau adalah keyakinan beliau sendiri bahwa ratu Adil yang ditunggu-tunggu itu adalah Yesus.

Jadi, beliau membedakan ratu adil secara politis, dan Ratu Adil semesta, yang tidak lain Isa Almasih. Dan tentang hal itu, beliau sangat meyakininya, karena menurut beliau, Isa Almasih memang pernah menemui beliau dalam semedi, malahan sampai empat kali, di tempat dan waktu yang berbeda-beda.

Kembali soal “Anak Allah”, apa yang sempat Bapak sampaikan kepada beliau, dan tokoh-tokoh spiritual yang sering bersama-sama beliau?

Tokoh-tokoh spiritual yang sering dengan beliau? Saya juga tidak tahu persis. Tapi waktu bincang-bincang di kediaman beliau itu, saya sampaikan bahwa dalam Iman Kristiani dikenal 2 makna kelahiran Isa.

Pertama, kelahira ilahi AlMasih (The Divine Birth Of Christ), maknanya bahwa Allah menyatakan diriNya dengan FirmanNya sendiri yang nuzul (turun) ke dunia (Yoh 1:14; Ibrani 1:1). Kedua, kelahiran fisik Isa ke dunia dari seorang perawan (The Virgin Birth Of Christ). Yesus lahir tanpa bapa bukanlah alasan mengapa Dia disebut Allah, tetapi karena Dia Firman Allah, dan Firman itu Allah (Yoh 1:1), maka ketika Firman itu nuzul ke dunia, Dia ‘dilahirkan tanpa bapa insani’.

Lebih lanjut, bagaimana Bapak menjelaskan 2 makna kelahiran Isa, yang tentunya sulit dipahami oleh non-Kristen?

Mengapa ‘kelahiran Ilahi Yesus’, saya sering mengutip Credo Nikea (325) dalam bahasa Arab: ‘Dilahirkan dari Sang Bapa sebelum segala zaman’ (al-Mauludu minal Abi, ay min dzatil Abi). Atau menurut rumusan Konstantinopel (381): ‘Dilahirkan dari bapa sebelum segala zaman’ (Al-mauludu minal Abi qabla kulli duhur). Siapakah di dunia ini yang dilahirkan dari seorang bapa? Jelas tidak ada! Karena itu, ungkapan Anak Allah itu bukan ‘beranak secara fisik’, Lam yalid wa lam yulad, melainkan Allah menyatakan diri melalui FirmanNya.

Dalam bahasa teolog Kristen Arab dirumuskan: Wulida minal Abi ilahan bi ghairi jasaadin bi duni ab (dilahirkan dari Bapa secara ilahi, tanpa jasad, tanpa seorang ibu). Selanjutnya, mengenai kelahiran fisikNya dirumuskan: ‘…ketika turun ke dunia, Dia dilahirkan oleh ibu secara jasad tanpa bapa’ (wa lamma ja’a fial-‘alam, wulida minal umm jasadan bi dun ab).

Ini untuk menekankan bahwa kelahiranNya ke dunia benar-benar oleh Roh Allah, Sang Hayat, tanpa campur tangan seorang laki-laki.

Apa penjelasan seperti itu bisa dipahami oleh para spiritualis Kejawen?

Saya kira lebih mudah mereka paham, ketimbang banyak M.Div lulusan Amerika yang pikirannya lebih pragmatis haa..haa.. Lebih dari itu, tentu saja saya mesti reformulasi dalam cita rasa spiritual Jawa.

Bahkan berangkat dari ‘kodrat ganda’ Yesus: Allah-Manusia itu, lalu saya masuk dalam pembahasan Manunggaling Kawula-Gusti dalam perspektif Kristen Timur.

Bagaimana misteri Pewahyuan diri Allah dalam Yesus itu dijelaskan dalam pemikiran Jawa?

Misalnya, saya rumuskan ‘Mijile Sabda Langgeng saka Allah Kang Maha Langgeng ing kelanggengan’ (Sabda kekal yang keluar dari Allah Yang Maha Kekal dalam kekekalan), untuk membuktikan bahwa Sabda yang keluar dari keabadian adalah abadi pula.

Karena itu dikatakan ‘Terang dari Terang, Allah sejati dari Allah sejati’ (nurun min nurin, ilahun haqqun min ilahin haqqin). Juga, ‘Wewadine kamursidan kang sanyata agung, karana Sang Sabda Agung wus mujil saka Allah Kang Maha Agung, sadurunge ana jagat bhawana gung, tanpa dunung, tanpa biyung’ (Rahasia iman kita yang sungguh agung, Sabda Agung yang keluar dari Allah Yang Maha Agung, sebelum alam semesta ini tercipta, kelahiran yang tanpa ruang dan waktu, dan tanpa melalui seorang ibu)

Apa itu salah satu alasan mengapa Sinuwun memberi gelar tinggi kepada Bapak?

Saya tidak tahu. Itu penilaian Sihuwun sendiri.

Buku apa saja yang Bapak pernah sampaikan kepada Sinuwun?

Religi dan Religiusitas Bung Karno, The History of Allah, dan yang penting mungkin Menyongsong Sang Ratu Adil. Ada juga artikel-artikel saya yang lain, tidak hanya soal-soal spiritual, tetapi juga soal kebangsaan. Selesai Tinggalan Jumenengan (Peringatan Kenaikan Tahta) kemarin, beliau juga minta dikirimi buku-buku saya yang lain.

Menurut Bapak sendiri, bagaimana konsep Jawa mengenai Ratu Adil?

Ratu Adil semesta alam adalah Isa Almasih, tetapi banyak ratu adil yang datang sebagai orang pilihan yang ditunjuk Tuhan untuk memenuhi panggilan zamannya.

Mengenai Ratu Adil semesta itu apa ada persamaannya dengan Iman Kristen?

Konsep Ratu Adil Jawa memang diperkaya oleh beberapa anasir agama-agama: Avaatara Hidu, bodhisatwa Buddha dan Imam Mahdi dalam Islam. Tetapi dalam beberapa versi Jangka Jayabaya secara eksplisit disebutkan Yesus adalah Ratu Adil.

Jangka Jayabaya Catur Sabda, misalnya, mengatakan bahwa datangnya Ratu Adil akan menandai akhir zaman. Era itu disebut ‘timbule budo wekasan” (zaman Buddha terakhir), ‘paribahasane bakal ana sileme prau gabus, kumambange watu item, mungguh jumenenge ratu adil, yaitu Tanjung putih, iya Pudak sinumpet, jumeneng Imam Mahdi, yaitu Kanjeng Nabi Isa Rohullah” (laksana akan tenggelamnya perahu dari gabus dan terapungnya batu hitam, dan bertahtanya Ratu Adil, yaitu Sang Teratai Putih, yaitu “Pudak Sinumpel”, akan menjadi Imam Mahdi, yaitu Nabi Isa Roh Allah).

Bisa dikelaskan lebih detil makna perumpamaan-perumpamaan itu?

‘Perahu Gabus Tenggelam’, ‘batu hitam terapung’, itu wolak-walike zaman, yaitu mujizat dan tanda-tanda ajaib yang dibuat Ratu Adil. ‘Pudak sinumpel’, maknanya bunga Pandan memekar yang tidak pernah memamerkan wanginya. Perumpanaan ini klop dengan Yoh 1:10 yang menyebut: ‘Ia ada dalam dunia, bahkan dunia dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenalNya’. Dan masih banyak kesejajaran yang lain.

Mengenai budaya, banyak pendeta yang bilang kita harus hati-hati. Lebih-lebih budaya Jawa yang sangat sinkretis, bahkan penuh okultisme. Pendapat Bapak?
Apakah budaya Jawa ini sinkretis? Masih jadi perdebatan para ahli. Tapi jangan pukul rata budaya Jawa. Kalau saya, kapan kesaksian Kristiani itu menjadi terang, dan kapan harus menjadi garam.

Maksud saya lihat konteksnya, kapan mesti lugas-lugasan, kapan kehadiran kita itu terasakan mesti tidak kelihatan. Tergantung konteksnya. Contohnya, kehadiran Prof. Bavinck, yang pernah tinggal lama dan melayani di mangkunegaran, ternyata mempunyai langsung dan tidak langsung.

Pengaruh langsung, banyak orang Jawa datang kepada Kristus, bahkan hingga saat ini. Dan pengaruh tidak langsung, timbulnya aliran Paguyuban Ngesti tunggal (PANGESTU) yang sangat anti segala klenik dan pedukunan. Jadi, Jawa itu jangan dipukul rata dengan okultisme.

Mungkin karena pelayanan Bapak lintas agama dan budaya, ada yang menuduh Bapak “bunglon”, “kompromistis”. Tanggapan Bapak?

Untuk apa ditanggapi? Kalau diladeni malah dia jadi terkenal haa… Memang orang yang berpikir ‘hitam-putih’, kurang referensi, ya begitu itu. Pernah nonton wayang semalam suntuk? ‘Buto lorek jam songo mati’ (Raksasa loreng jam sembilan sore mati Red.), begitu filosofinya. Maksudnya, dalam masyarakat majemuk cara bertindak kita harus cerdas, tidak lorek-lorek atau ‘hitam putih’, sehingga mudah dibaca orang dan jadi sasaran tembak.

Kalau seperti itu, “jam sembilan mati, buto lorek masuk kotak”. Tapi ksatria utama menjalankan pengabdiannya sampai akhir, sampai Tancep kayon. Nak, saya ini satrio sakti mondroguno, bukan golongannya buto lorek haa …
signature
[b]IJO...IJO...IJO.....[/b]
banner
Martian
3 Apr 2008 14:59    #4

Financial Advisor

Isa Almasih Rohullah Sang Ratu Adil

Sebenarnya Tuhan memanggil umatnya dengan, kalau orang Yunani dipanggil Tuhan salah satunya lewat pemikiran Plato, sehingga Yustin Martir Bapak Gereja berkata bahwa Plato adalah Musa untuk orang-orang Yunani. Sedangkan Tuhan memanggil orang Yahudi berdasar Perjanjian Lama. Sementara Tuhan memanggil orang Jawa berdasar Ilmu Jawa. Bambang Noorsena mengkaji sumber sejarah Jawa tersirat Isa Almasih adalah Sang Ratu Adil yang menjadi Hakim di akhir zaman.

Seperti halnya dokumen babad (red: istilah kejawen) Kediri di kisahkan Prabu Joyoboyo yang hidup pada abad XII, mempunyai tiga orang bawahan yang setia dengannya. Satu diantaranya adalah anaknya, sedangkan dua orang yang lain adalah hambanya. Anak Prabu Joyoboyo tersebut bernama Nimas Ratu Pagedongan, hambanya bernama Kyai Doko dan Kyai Doho.

Kisah ini, dilanjutkan bahwa setelah Prabu Joyoboyo mukso, Kiyai Doko ini mukso juga, kiyai Doko ini menjadi penunggunya Goa Selomangkleng di Kediri. Pada akhirnya Kiyai Doko dikenal sebagai Buto locoyo, ini danyangnya kota kediri.
Sedangkan Kiyai Doho juga mengalami mukso dan menjadi penunggu gunung Kelud yang bergelar Tunggul Wulung. Menurut babad Kediri Tunggul Wulung akan datang mendahului Isa Almasih. Di babad (sejarah) kediri itu terdapat rekaman cerita Islam dalam konteks seperti itu tokoh Isa muncul sebagai tokoh hakim di akhir jaman dan seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat.

Nimas Ratu Pagedongan anak Prabu Joyoboyo mukso menjadi Nyi Roro. Mukso dalam konteks Jawa diartikan hilang sak jiwo ragane, padahal arti mukso sebenarnya tidak seperti itu.

Mukso berasal dari istilah ‘Muk-sartem Jagad Hitayasa Iti Dharma’. Pengertian mukso konsep India bermakna pengalaman tertinggi perjumpaan manusia dengan Tuhan.

Kalau orang Jawa tidak mengerti bahasa sansekerta dan bahasa Jawa kuno akan menjadi salah dalam memahami makna sebuah istilah Jawa termasuk istilah ‘mukso’. Makanya dalam hal ini seseorang juga harus paham bahasa Jawa kuno.

Kata ‘Kiyai’ bukan berasal dari bahasa Arab, tetapi berasal dari bahasa Jawa kuno. Orang Kristen jawa yang kebelanda-belandaan, tidak mau memakai istilah itu hingga berdampak sampai sekarang ini.

Kiyai itu sebutan Jawa, seperti Kiyai Semar, Kiyai Tunggul Wulung. Kiyai itu asalnya dari kata ‘Rakriyan’ Ra itu gelar bangsawan jaman majapahit, kalau sekarang setara dengan sebutan ‘Raden’.

Dalam bahasa Jawa baru kata ‘Kriyan’, huruf ‘r’ nya pasti hilang hingga mengalami proses menjadi istilah ‘Kiyai’, demikian juga misalnya kata ‘lawrang’ yang berasal dari calonarang, dimana ‘lawrang’ akhirnya menjadi lawang dalam bahasa Jawa baru.

BABAD TANAH JAWA

Menurut Kitab Babad Tanah Jawa dikisahkan untuk mendapatkan kekuatan, Panembahan Senopati bertapa di pantai laut selatan dengan tujuan untuk bertemu dengan Nyi Roro Kidul.

Nyi Roro Kidul tertarik dengan kepintaran Panembahan Senopati. Panembahan Senopati meminta kesaktian dari Nyi Roro Kidul.

Maka terjadilah perkawinan mistik antara Nyi Roro Kidul dengan Panembahan Senopati. “Saya akan mengabdi pada anda, anak cucu anda sampai tujuh turunan, kerajaan di tanah Jawa yang akan kamu perintah akan saya kokohkan hingga tujuh turunan,” kata Nyi Roro Kidul kepada Panembahan Senopati. Sejak saat itu panembahan Senopati hingga keturunannya ketujuh menjadi ‘isteri mistik’ Nyai Roro Kidul.

DOKUMEN DARI KAYU APU

“Saya mendapatkan sumber data ini dari naskah Kayu Apu yang disimpan oleh ahli waris Kiyai Abdullah Tunggul Wulung. Bahkan semula naskah itu disembah-sembah dan tidak boleh diterjemahkan. Tetapi akhirnya saya memberikan pengertian kepada pewarisnya tersebut, agar naskah ini diketahui banyak orang,” kata Bambang Noorsena kepada GLORIA.

Adalah seorang yang bernama Kiyai Abdullah yang hidup setelah zaman Diponegoro. Waktu itu sebagian besar tanah Jawa dikuasai pemerintah Kolonial Belanda. Kiyai Abdullah seorang pemikir Islam kejawen. Dia lulusan dari salah satu pesantren. Kiyai Abdullah percaya pada Jongko atau ramalan Joyoboyo bahwa Tunggul Wulung menjadi penunggu gunung Kelud.

Dirinya berkeyakinan bahwa Ratu Adil akan datang, karena dalam pandangan orang Jawa, termasuk Kiyai Abdullah sendiri. Sebelum Ratu Adil datang maka ada orang yang akan menyambut Ratu Adil dengan cara menguasai daerah-daerah di tanah Jawa dengan bentera (tentara Red.) Tunggul Wulung.

Kiyai Abdullah merasa diri sebagai titisan (penjelmaan Red.) Tunggul Wulung. Sehingga namanya ditambahi menjadi Kiyai Abdullah Tunggul Wulung. Dia mengajarkan pada rakyat agar berperang melawan Belanda yang menindas rakyat dengan sistem tanam paksa (cultur steel-sel). Kiyai Abdullah mencuri sapi-sapinya Belanda, setelah itu dijual, uangnya lalu dibagi-bagikan kepada rakyat, sehingga ia dikejar-kejar Belanda.

Dia lari ke sebelah timur sampai ke Semarang, akhirnya dia tertangkap Belanda, dan akan dibuang ke Manado. Belanda membawa Kiyai Abdullah dengan tangan terbelenggu naik kapal hendak di buang ke Manado. Sewaktu akan dibawa ke Manado, dengan menggunakan kekuatan dan kesaktian (okultisme Red.) dia meloloskan diri dari Belanda.

DI GUNUNG KELUD

Setelah itu ia pergi ke gunung Kelud, untuk mencari yang namanya Tunggul Wulung yang ia yakini berada di gunung Kelud. Kiyai Abdullah merasa trauma karena kekalahannya dari Belanda.

Dia berharap setelah pertemuannya dengan Tunggul Wulung nanti, dia dapat mengalahkan Belanda sehingga kedatangan Sang Ratu Adil yang selama ini sangat diharapkan dapat segera terwujud.

Ketika hendak naik ke gunung kiyai Abdullah bertemu dengan seorang gadis anak bangsawan Kediri bernama Endang Sampoernowati yang bersumpah tidak akan menikah.

Sampornawati menantang Kiyai Abdullah.

“Tuan hendak kemana? Tanya Sampoernawati.

“Saya mau ke gunung Kelud, hendak bertemu dengan arwahnya Tanggul Wulung,” jawab Kiyai Abdullah.

“Saya juga, anda atau saya yang naik, siapa yang diperkenan antara kita berdua,” jawab Sampoernawati.

“Baik kita sama-sama mencari Ratu Adil, tapi jawab pertanyaan saya dahulu,” kata Sampoernawati.

“Apa pertanyaanmu?” tanya balik Kiyai Abdullah.

Lalu Sampoernawati memberikan pertanyaan lebih dahulu kepada Kiyai Abdullah, “tuan tebak ilmu saya apa itu wah kemiri tiba saiki nanging iso di panen dek wingi.” (Buah kemiri jatuh hari ini, tetapi buahnya bisa dipanen kemarin Red).

“Baik, sebelum saya bisa menjawab saya akan memberikan pertanyaan kamu, jawab pertanyaan saya ‘Ratu Adil rawuh mertamu, tamu mbagek ake kang ditamoni, sebiting tanpa sangu,” kata Kiyai Abdullah.

Ternyata setelah pertanyaan sama-sama dikemukakan mereka sama-sama menjawab “Ratu Adil itu adalah Nabi Isa,” kata keduanya.

“Rawuh mertamu, (Datang bertamu. Red), anehnya tamunya ini, mempersilahkan pada tuan rumah, bukan tuan rumah yang mempersilahkan kepada tamunya) sebiting tanpa sangu (sepersenpun tanpa membawa modal apa-apa, red) Dia datang kepada milik kepunyaannya tetapi milik kepunyaannya tidak mengenal Dia, Dia datang justru menyambut orang kepunyaannya, tetapi orang kepunyaannya tidak menyambut Dia,” jawab Sampoernawati.

“Itu yang saya maksud,” kata Kiyai Abudllah Tunggul Wulung.

“Tiba pertanyaan saya tuan jawab,” kata Sampoernawati.

“Saya akan jawab,” sahut Kiyai Abdullah.

“Woh kemiri tibo saiki itu Isa Almasih Ratu adil.. Karena sebelum kedatangannya menjadi manusia, Isa sudah ada sebagai sabda (firman Red.) Allah. Dia hadir sebelum kehadirannya sekarang dan nabi-nabi yang sebelumnya itu berbicara tentang Ratu Adil sebagai sabda bukan dalam penjelmaannya sebagai manusia,” kata Kiyai Abdullah.

“Kiyai Abdullah Tunggul Wulung dan Endang Sampoernawati tahu semuanya itu dari mana, sementara waktu itu belum ada Alkitab ataupun penginjil yang masuk tanah jawa. Mereka berdua mengerti hal itu dari semedi. Berarti Tuhan bisa menggunakan cara semedi untuk menemui seseorang tentunya dengan caranya Roh Kudus sendiri,” jelas Bambang lebih jauh.

WANGSIT DI GUNUNG KELUD

“Wah kalau begitu kita tunggal guru, tunggal ilmu kita tidak boleh saling mengganggu, mari kita naik bersama-sama, Ratu Adil merestui kita,” kata Sampoernawati.

Akhirnya mereka berdua naik ke atas gunung Kelud, disana mereka bersemedi selama tujuh tahun. Setelah tahun ke tujuh gunung Kelud mau meletus, keduanya mendapatkan suara dalam semedi mereka yang mengatakan kamu lepaskan semua yang kamu cari, yang kamu cari sudah ketemu.

Yang kamu cari bukan Tunggul Wulung, tetapi lebih daripada Tunggul Wulung yang ada disini. Di bawah tikar sembahyangmu itulah jawabannya.

Waktu itu mereka tidak mengerti apa yang ada di bawah tikar sembahyang mereka. Selanjutnya suara itu berbicara kamu sudah mantap bahwa Ratu Adil yang kamu cari adalah Isa Almasih. Temuilah hambaKu di sebelah sana.

Setelah itu Kiyai Abdullah Tunggul Wulung pergi mencari seseorang untuk ditemui seperti yang diperintahkan oleh suara Ilahi itu.

Kiyai Abdullah mempercayai suara gaib itu sebagai suara Sang Ratu Adil sendiri. “Di Alkitab tidak ada ayat yang menjelaskan kalau berdoa harus tutup matamu, lipat tanganmu, bukalah tanganmu itu semua kan soal cara. Orang jawa berdoa dengan cara semedi itu tidak salah, yang terpenting adalah siapa yang dipanggil dalam semedi.

Tuhan memanggil orang Yunani berdasarkan pemikiran Yunani salah satunya lewat pemikiran Plato, Yustin Martir Bapak Gereja berkata bahwa Plato adalah Musa untuk orang-orang Yunani Tuhan memanggil orang Yahudi berdasar Perjanjian Lama.

“Memanggil orang Jawa berdasarkan ilmu Jawa karena di Jawa sudah punya peradaban sudah tinggil sehingga ketika bertemu dengan misionaris barat, tidak mudah diterima begitu saja. Selain itu misionaris ditolak orang Jawa karena ke Belanda-Belandaannya. Tuhan bisa memanggil cerita Babad untuk memanggil orang yang dipilihnya dan dipakainya sebagai gamba.,” kata Bambang Noorsena kepada GLORIA.

Ternyata Kiyai Abdullah diperintah oleh Sang Ratu Adil untuk menemui seorang misionaris Belanda yang bernama tuan Jellesma yang berada di Mojowarna. Kiyai Abdullah Tunggul Wulung marah begitu tahu kalau wangsit Sang Ratu Adil itu menyuruhnya untuk menemui seorang Belanda.

Ini pasti wahyunya keliru pikirnya. Saya datang jauh-jauh dikejar-kejar Belanda hanya untuk menemui seorang Belanda.

Karena marahnya, Kiyai Abdullah mengeluarkan ilmunya ‘Mateg Aji Bandung Bondowoso’ untuk menyerang misionaris Belanda itu. Ketika ilmunya dikeluarkan pohon-pohon kelapa itu bergoyang-goyang sangat kencang. Tetapi misionaris Belanda itu tidak bergeming sedikitpun ketika ilmu Kiyai Abdullah menyerangnya. Tuhan melindungi tuan Jellesma misionaris Belanda itu.

Ketika melihat bahwa ilmunya tidak mempan. Kiyai Abdullah menaikkan kakinya ke jendela. “Hai kalau ilmumu tinggi kamu dapat mengetahui siapa yang datang menemuimu,” ejek Kiyai Abdullah Tunggul Wulung kepada tuan Jellesma.

Tuan Jellesma mendapat hikmat dari Tuhan. “Hai saudara, rumah ini terbuka untukmu, tapi kenapa kamu datang dengan cara yang tidak layak datang sebagai seorang tamu.” Mendengar itu, Kiyai Abdullah Tunggul Wulung sangat kaget, ternyata Belanda yang satu ini tahu kalau tujuannya ke tempat itu adalah bertamu seperti yang diperintahkan oleh suara gaib dalam semedinya.

Akhirnya ia bersujud kepada tuan Jellesma. “Kamu berdiri, karena yang ada disini sama seperti kamu, saya hanya seorang hamba Isa Almasih. Kenapa kamu cari saya?” tanya Jellesma.

Akhirnya Kiyai Abdullah menceritakan bahwa dia mendapat suara gaib ketika bersemedi di gunung Kelud untuk mencari hamba Isa Almasih.

“Sayalah orangnya,” jawab Jellesma.

“Bagaimana caranya saya menjadi pengikut Isa yang sejati?” tanya Kiyai Abdullah.
“Kamu harus dibaptis.” Jawab Jellesma.

“Saya tidak layak menerima baptisan itu, sebelum tuan ijinkan saya mewartakan apa yang saya alami kepada orang yang saya temui di sekitar gunung ini dan kepada orang-orang yang melakukan ritual di candi-candi bekas peninggalan Mojopahit. (Daerah yang dimaksud adalah sekitar Malang sampai Tretes Red)”

Akhirnya Kiyai Abdullah Tunggul Wulung mengabarkan injil ke Gimoro daerah Kepanjen hingga ke Batu. Dua tahun setelah mengabarkan Injil dia datang kepada Jellesma dan dibaptis di Mojowarno namun saat itu ilmu kesaktiannya belum dilepas.

Dalam cerita itu...
signature
[b]IJO...IJO...IJO.....[/b]
banner
Martian
3 Apr 2008 15:01    #5

Financial Advisor

Dalam cerita itu Kiyai Abdullah bertemu dengan nyonya Belanda bernama Anting ketua Pengadilan Negeri Semarang sekaligus seorang misionaris. Nyonya Anting selanjutnya memperkenalkan Kiyai Abdullah dengan Doktor Brookner, ternyata tikar yang dipakai berdoa yang dahulu di pakai oleh Kiyai Abdullah bersemedi di gunung Kelud terdapat rontal yang berisi sepuluh perintah Allah dalam bahasa Jawa. Tertulis ‘Jangan ada ilah lain dihadapanku dan seterusnya.” Rontal yang berisi sepuluh perintah Allah diberikan Allah dengan cara yang ajaib.

Setelah itu Kiyai Abdullah Tunggul Wulung membuang semua ilmu kesaktiannya dan dilayani oleh Doktor Brookner seorang misionaris Baptis di Semarang.
Sebelum berangkat ke Batavia, Kyai Abdullah bertemu dengan Radin, yang baru lulus sekolah agama. Radin diutus ayahnya berguru ilmu-ilmu kejawen kepada Kiyai Abdullah Tunggul Wulung sahabat ayah Radin agar kelak menjadi manusia sempurna.

‘Maaf Radin ilmu saya tidak seperti yang dahulu lagi, saya telah menjadi pengikut Isa Almasih. Kalau kamu mau belajar dari saya belajarlah. Katakan dahulu kepada orang tuamu karena harapan orang tuamu kepada saya tidak dapat saya penuhi. Saya yang sekarang ini tidak sama seperti yang dahulu ketika ayahmu mengenal saya,’ kata Kiyai Abdullah kepada Radin.

Setelah itu Radin pulang dan menceritakan semuanya kepada ayahnya. ‘Romo, ternyata sahabat Romo itu telah menjadi pengikut Kristus.’ Menurutnya apa yang dikatakan ayahnya, lalu kembali kepada Kiyai Tunggul Wulung dan menyatakan diri bersedia mengabdi dan berguru kepada Kiyai Abdullah Tunggul Wulung.
Akhirnya Radin di baptis oleh Kiyai Abdullah Tunggul Wulung. Setelah itu Radin mulai diajar oleh gurunya mempelajari ilmu tentang Isa Almasih sesuai isi Kitab Perjanjian Baru berbahasa Jawa.

Alkitab Perjanjian Baru berbahasa Jawa waktu itu dicetak dan diperbanyak di Singapure lalu dibagikan ke tanah Jawa oleh Nyonya Anting. Kiyai Abdullah Tunggul Wulung, akhirnya menikah dengan Endang Sampoernawati. Yang menikahkan mereka adalah Nyonya Anting.

Tetapi pernikahan itu tidak dikaruniai keturunan, sehingga mereka mengangkat orang lain sebagai anak mereka. Setelah sekian lama berguru dengan rajin, akhirnya Radin mendalami semua ajaran tentang ilmu Isa Almasih.
Semula Radin mengalami kebingungan, siapa yang harus ia ajar kelak, karena waktu itu hanya segelintir orang yang menjadi pengikut Isa Almasih.
Tunggul Wulung tahu apa yang dipikirkan muridnya itu. ‘Kamu mau bekerja, apa yang kamu kerjakan, kamu tunggu, Tuhan akan mengirimkan orang kepadamu.’ Nasehat Kiyai Abullah Tunggul Wulung.

Manuskrip Karangjoso C

Dalam penelitian Karangjoso C yang diteliti di Perancis dikisahkan: Ada seorang carik (sekretaris desa Red) dari desa karangjoso, bernama Karyo Dikromo. Waktu itu dia sedang bertapa dan bersemedi di pantai Selatan menyembah Nyi Roro Kidul, tetapi dia tidak ketemu Nyi Roro Kidul.

Suatu hari dia mendengar suara tanpa rupa dalam bahasa Jawa. Suara itu mengatakan: ‘Anakku apa yang kamu cari sudah kamu temui, carilah seorang yang bernama bocah angon gawane sodho lanang (Anak gembala yang membawa lidi pria red) ke arah barat utara. Dialah yang akan menjelaskan kepada kamu tentang ilmu yang kamu cari.’

Perlambang mengenai sodo lanang pada jaman itu telah dipahami dan dipercayai sebagai orang yang diberikan hak untuk mengajar yang mempunyai otoritas ilahi, seperti apa yang dikatakan Prabu Joyoboyo sebelum mukso bahwa ono cahyo manther sak sodo lanang (ada cahaya terpancar sebesar lidi jantan Red.)
Lalu Karyo Dikromo berjalan ke arah seperti yang ditunjukkan oleh suara gaib itu. Pada akhrinya ia bertemu dengan Radin murid Kyai Abdullah Tunggul Wulung.
‘Apa orang ini yang harus saya temui seperti yang disuruhkan kepada saya,’ tanya karyo Dikromo dalam hatinya.

Untuk memastikan bahwa orang yang dihadapannya itu adalah orang yang harus ditemui, seperti yang dikatakan suara gaib dalam semedinya, lalu dia bertanya kepada Radin.

‘Apakah tuan yang diceritakan dalam wangsit saya,’ tanya Dikromo kepada orang dihadapannya. ‘Bocah angon gawah sodho lanang yang kamu cari itu saya,’ jawab Radin.

Karyo Dikromo pada akhirnya tahu dan yakin bahwa orang yang dihadapannya itulah yang dimaksudkan suara gaib yang didengarnya sewaktu bersemedi.
Setelah itu dia memperkenalkan dirinya kepada Radin yang selanjutnya lebih dikenal dengan nama Kiyai Sadrakh. Orang yang dibabtis pertama kali oleh Kiyai Sadrakh adalah Karyo Dikromo. Walaupun pada akhirnya Karyo Dikromo ditolak oleh keluarganya tetapi dia tetap teguh menjadi pengikut Isa Almasih, sebab dia mempunyai keyakinan bahwa keputusannya itu tepat.

Gereja Jawa

Suluk Roso sejati dari Tosari, seorang berdarah Madura pernah dibaptis oleh Kiyai Abdullah Tunggul wulung. Dari kedua orang itulah didirikan gereja yang menjadi cikal bakal gereja Jawa di Mojowarno.

Gereja Jawa Mojowarno hampir semuanya terletak di tepi pantai Selatan. Padahal dahulu tidak ada orang berani datang ke daerah itu. Tunggul Wulung itu seorang yang dapat dikatakan aneh, dia membuang mantera-manteranya, tapi mantera-manteranya itu teap di pakai tetapi ada kata-kata mantera diganti dengan nama Yesus.

Tunggul Wulung datang ke sebuah hutan yang dikenal sangat angker di Jawa, tepatnya di daerah Kayu Apu. Hutan itu tidak ada makhluk hidup satupun yang berani datang ke tempat itu, dan bila ada yang nekat datang, maka akan mati.
‘Saksikan hai anak-anakku tidak ada satu kuasapun yang bisa mengalahkan kuasa Isa Rohullah Sang Ratu Adil,’ serunya dihadapan pengikutnya. Setelah itu dia nembang yang syairnya ada yang diganti dengan memakai nama Isa Rohul Kudus Sang Ratu Adil.

Setan-setan yang menempati dan tinggal di daerah tersebut semuanya dapat diusir. Seluruh penduduk desa Kayu Apu akhirnya menjadi Kristen.

Belanda marah kepada Kiyai Abdullah Tunggul Wulung karena dia dituduh menggunakan ilmu kesaktian untuk menginjil. ‘Apa yang kamu kumpulkan selama tiga tahun akan saya kumpulkan selama tiga hari, karena kamu menginjili orang Jawa dan kamu jadikan dia Belanda. Kamu larang dia nembang Jawa, kamu larang dia nonton wayang, mereka bukan orang Belanda, tugasmu bukan membelandakan orang Jawa, tetapi membawa orang Jawa kepada Isa Rohul Kudus Sang Ratu Adil.’ Seru Kiyai Abdullah Tunggul Wulung.

Selama 100 tahun ada sebagian orang Kristen sendiri yang memvonis bahwa Kiyai abdullah Tunggul Wulung itu sesat karena pada waktu itu terpengaruh dengan Belanda.

Sementara Kiyai-Kiyai pengikut Isa Almasih Sang Ratu Adil inilah yang dipakai Tuhan untuk mewartakan kabar baik di tanah Jawa.

Jongko Joyoboyo

Konsep Ratu Adil Jawa memang diperkaya oleh beberapa anasir agma-agama: Avatara Hindu, Bodhisatwa Buddha, dan Imam Mahdi. Tetapi dalam beberapa versi Jongko Joyoboyo (Ramalan Joyoboyo tentang masa Depan Red) secara eksplisit disebutkan Yesus adalah Ratu Adil.

Jongko Joyoboyo Catur Sabda, misalnya, mengatakan bahwa datangnya Ratu Adil akan menandai akhir zaman. Era itu disebut ‘timbule budo wekasan’ (zaman Buddha terakhir), ‘paribasane bakal ana sileme prau gabus, kumambange watu item, mungguh jumenenge ratu adil, yaiku Tunjung Putih, iya Pudak sinumpet, jumeneng Imam Mahdi, yaiku Kanjeng Nabi Isa Rohullah’ (dalam bahasa Indonesianya adalah Peribahasa akan tenggelamnya perahu dari gabus dan terapungnya batu hitam, dan bertahtanya Ratu Adil, yaitu Sang Teratai Putih, yaitu ‘Pudak Sinumpet’, akan menjadi Imam Mahdi, yaitu Nabi Isa Roh Allah).

‘Perahu gabus tenggelam’, ‘batu hitam terapung’, itu wolak walke zaman, yaitu mujizat dan tanda-tanda ajaib yang dibuat Ratu Adil.

‘Pudah sinumpet’, maknanya bunga Pandan memekar yang tidak pernah memamerkan wanginya. Perumpamaan ini cocok dengan Yoh 1:10 yang menyebut: ‘Ia ada dalam dunia, bahkan dunia dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenalNya’. Itu adalah bahasa Inkarnasi Yesus Kristus. Penguasa alam tetapi merendahkan diri.

Konsep ‘Ratu Adil’ adalam literatur Jawa adalah Isa Almasih, hal itu jelas disebutkan antara lain dalam serat ‘Joyoboyo Catur Sabda’, Jongko Joyoboyo Wedawakya dan masih banyak sumber-sumber yang lain lagi.

Salah satu isinya mempunyai inti makna yaitu: Rawuhe Kanjeng Nabi Isa Rohullah, kang bakal Jumeneng Ratu Adil, lan Imam Mahdi bakal mertandani punkasaning zaman. Kalau bahasa Indonesai adalah: ‘Datangnya Isa Roh Allah yang akan menjadi Ratu Adil dan Imam Mahdi akan menjadi tanda akhir zaman’.
Dan masih banyak kesejajaran yang lain penjelasan Bambang Noorsena Pengarang buku Menyongsong Sang Ratu Adil.

Profesor Bavick

Seorang Profesor asal Belanda bernama Bavick datang ke Puri Mangkunegaran, tahun 1890 bahkan hampir tahun 1890 (setelah Kyai Abdullah Tunggul Wulung). Walaupun seorang Belanda dia mendukung pemberitaan tentang Isa Almasih kepada orang Jawa seperti apa yang dilakukan Kyai Abdullah Tunggul Wulung.
Sebagai penghayat sastra, dia sampai bersedia hidup di Puri Mangkunegaran dan meninggalkan kampung halamannya. Prof Bavick dikenal sebagai ahli bahasa Jawa penerus Winter pendahulunya.

Winter pernah kerjasama dengan Ronggowarsito, Dalam bukunya Serat Paromo Yoga, Ronggowarsito menulis bahwa yang namanya Bathara Guru sudah dikalahkan oleh nabi Isa. Dalam mitos-mitos jawa Isa Almasih Rohullah diangkat begitu rupa itu.

Orang Jawa yang mau menjadi pengikut Isa Almasih, akhirnya dibaptis oleh Bavick, mereka itulah menjadi cikal bakal Gereja Kristen Jawa (GKJ) yang sebagian besar terdapat di Jawa Tengah.

Kehadiran Prof. Bavick yang pernah tinggal lama dan melayani di Mangkunegaran, ternyata mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung. Pengaruh langsung, banyak orang Jawa datang kepada Kristus bahkan hingga saat ini.

Jadi, menurut Bambang Noorsena adat Jawa itu jangan dipukul rata ada kaitannya berbau okultisme ataupun sinkretisme. Demikian seputar sumber sejarah Jawa terkait dengan Isa Almasih Rohullah Sang Ratu Adil.

Sumber Tabloit Gloria Edisi 375, Minggu ke I November 2007
signature
[b]IJO...IJO...IJO.....[/b]
banner
tiku
4 Apr 2008 14:38    #6

Letda

Sebagai bahan informasi saja bahwa yang berkuasa di Keraton Kasunanan Surakarta pada saat ini adalah Hangabehi bukan Tedjo Wulan dan memang ketika Paku Buwana XII meninggal dunia terjadi ontran-ontran di Keraton Surakarta kepada siapakah Keraton Surakarta ini akan diteruskan sebab Sinuwun Paku Buwana XII selama ini mau tidak mengambil "Permaisuri" sehingga tidak punya putra mahkota sebagai Raja Surakarta
signature
Bila anda copy paste tulisan ini, point anda akan bertambah 1x lipat otomatis

Powered By MyBB, © 2002-2011 MyBB Group.
banner
Martian
4 Apr 2008 15:19    #7

Financial Advisor

thx ndan, buat info tambahannya, btw boleh nanya "ontran-ontran" artinya apa ya?
signature
[b]IJO...IJO...IJO.....[/b]
banner
rochman
4 Apr 2008 15:55    #8

Kapten

perlu dikaji ulang kelanjutannya..karena menambah wawasan yg kompleks biar tidak salah tanggap/sempit berpikir....bagus tuk referensi terutama, sepertina ini baru sepenggal sepenggal..
banner
Martian
4 Apr 2008 16:21    #9

Financial Advisor

rochman Wrote:perlu dikaji ulang kelanjutannya..karena menambah wawasan yg kompleks biar tidak salah tanggap/sempit berpikir....bagus tuk referensi terutama, sepertina ini baru sepenggal sepenggal..
saya sedang mencari tambahan info mengenai hal ini, mungkin yang lain ada yang bisa menambahkan?
signature
[b]IJO...IJO...IJO.....[/b]
banner
tiku
4 Apr 2008 16:47    #10

Letda

Martian_Man_Hunter Wrote:thx ndan, buat info tambahannya, btw boleh nanya "ontran-ontran" artinya apa ya?
"ontran-ontran" itu artinya "geger" atau "coup de etat" / "kudeta" yang maksudnya adalah perebutan kekuasaan sebagai Raja Keraton Surakarta Hadiningrat

Hangabehi dan Tedjo Wulan adalah anak keturunan Paku Buwono XII dari "garwo ampil" atau "selir" dan menurut informasi PB XII tidak bersedia mengambil permaisuri karena memang PB XII sudah memutuskan bahwa sesudah PB XII tidak akan ada lagi PB XIII di Keraton Kasunanan Surakarta dan kayaknya Hangabehi tidak memakai gelar PB XIII, walaupun secara de facto adalah Raja Keraton Surakarta

Tedjo Wulan memproklamirkan dirinya sebagai PB XIII bukan di Kraton Surakarta tapi diluar Kraton Surakarta

Dan sebagai penerus tradisi Mataram, Raja Keraton Kasunanan Surakarta mewarisi tradisi "Sultan Agung Hanyokrokusumo Senopati Ing Alogo Panotogomo" sama dengan Raja Keraton Kasultanan Yogyakarta"
signature
Bila anda copy paste tulisan ini, point anda akan bertambah 1x lipat otomatis

Powered By MyBB, © 2002-2011 MyBB Group.
banner
erichard
4 Apr 2008 16:49    #11

Letkol

mudah-mudahan referensinya sangat mendukung..

Tread OK Top Top Top Top Top
banner
Shem
21 Jun 2011 22:54    #12

Prajurit

MENIMBANG KARYA PEKABARAN INJIL KIAI SADRACH SUROPRANOTO
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/0...-kiai.html

MENGINGAT AJARAN DAN PERAN SERTA JASA PARA PAHLAWAN IMAN
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/0...-jasa.html

MENYONGSONG RATU ADIL DENGAN MENJALANI KEHIDUPAN YANG SADAR & WASPADA

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/0...alani.html
banner
Martian
2 Jul 2011 01:45  (Edit: 2 Jul 2011 01:45 by Martian.)    #13

Financial Advisor

(21 Jun 2011 22:54)Shem Wrote:
 
MENIMBANG KARYA PEKABARAN INJIL KIAI SADRACH SUROPRANOTO
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/0...-kiai.html

MENGINGAT AJARAN DAN PERAN SERTA JASA PARA PAHLAWAN IMAN
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/0...-jasa.html

MENYONGSONG RATU ADIL DENGAN MENJALANI KEHIDUPAN YANG SADAR & WASPADA

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/0...alani.html

makasih ndan buat referensinya...
signature
[b]IJO...IJO...IJO.....[/b]
banner
REPLY 


Home | Go Top | Text Mode | RSS
Powered By MyBB, © 2002-2014