Hello There, Guest! - Silahkan Daftar atau Login Cepat via Facebook
Post Terbaru Sejak Login Terakhir   Post Terbaru 24 Jam Terakhir


 
  • 112 Vote(s) - 2.91 Average
Tools    New reply


26 Feb 2008 07:06
Yang Qung
Kopda
Posts 70
Reputation: 0
Awards:

(This post was last modified: 2 Nov 2010 00:02 by wong_edhan.)
Telisik yang menarik di dalam mencari jawab tentang siapakah Sabdo Palon ? Karena kata Sabdo Palon Noyo Genggong sebagai penasehat spiritual Prabu Brawijaya V (memerintah tahun 1453 – 1478) tidak hanya dapat ditemui di dalam Serat Darmagandhul saja, namun di dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo (1135 – 1157) juga telah disebut-sebut, yaitu bait 164 dan 173 yang menggambarkan tentang sosok Putra Betara Indra sbb :

164.
…; mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho; ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong.
(…; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di bawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda; tajamnya tritunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong)

173.
nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha asung bhekti.
(menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi)

Serat Darmagandhul
Memahami Serat Darmagandhul dan karya-karya leluhur kita dibutuhkan kearifan dan netralitas yang tinggi, karena mengandung nilai kawruh Jawa yang sangat tinggi. Jika belum matang beragama maka akan muncul sentimen terhadap agama lain. Tentu ini tidak kita kehendaki. Tiada maksud lain kecuali hanya ingin mengungkap fakta dan membedah warisan leluhur dari pendekatan spiritual dan historis.

26 Feb 2008 07:11
Yang Qung
Kopda
Posts 70
Reputation: 0
Awards:

(This post was last modified: 27 Feb 2008 06:52 by yuyunsrihandayani.)
Dalam serat Dharmagandhul ini hanya ingin menyoroti ucapan-ucapan penting pada pertemuan antara Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon di Blambangan. Pertemuan ini terjadi ketika Sunan Kalijaga mencari dan menemukan Prabu Brawijaya yang tengah lari ke Blambangan untuk meminta bantuan bala tentara dari kerajaan di Bali dan Cina untuk memukul balik serangan putranya, Raden Patah yang telah menghancurkan Majapahit. Namun hal ini bisa dicegah oleh Sunan Kalijaga dan akhirnya Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Karena Sabdo Palon tidak bersedia masuk agama Islam atas ajakan Prabu Brawijaya, maka mereka berpisah.

26 Feb 2008 10:00
tiku
Letda
Posts 644
Reputation: 39
Awards:

Yangkung ...

Opo bedane Dharmogandhul karo Dharmokondho ?






signature
Bila anda copy paste tulisan ini, point anda akan bertambah 1x lipat otomatis

Powered By MyBB, © 2002-2011 MyBB Group.

26 Feb 2008 17:42
Yang Qung
Kopda
Posts 70
Reputation: 0
Awards:

tiku Wrote:Yangkung ...

Opo bedane Dharmogandhul karo Dharmokondho ?
Darmo gandul ditulis oleh Ki Kalamwadi yang mempunyai guru bernama Raden Budi Sukardi. Ki Kalamwadi ini mempunyai murid yang bernama Darmo Gandhul. Nama dari murid nya inilah yang kemudian menjadi nama kitabnya

27 Feb 2008 08:01
tiku
Letda
Posts 644
Reputation: 39
Awards:

Yang Qung Wrote:
tiku Wrote:Yangkung ...

Opo bedane Dharmogandhul karo Dharmokondho ?
Darmo gandul ditulis oleh Ki Kalamwadi yang mempunyai guru bernama Raden Budi Sukardi. Ki Kalamwadi ini mempunyai murid yang bernama Darmo Gandhul. Nama dari murid nya inilah yang kemudian menjadi nama kitabnya
kenapa serat Dharmogandhul ditulis pakai basa jawa ngoko dan bukan kromo inggil atau basa kawi ?






signature
Bila anda copy paste tulisan ini, point anda akan bertambah 1x lipat otomatis

Powered By MyBB, © 2002-2011 MyBB Group.

29 Mar 2008 13:02
justin timberlake
Penjaja Cinta
Posts 5.307
Reputation: 236
Awards:
FBI FansFacebook NetworkPembayar PajakMember Telah Dewasa

Top Top Top






signature
[b]Mazmur 118:8 Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia.[/b]

21 Jul 2008 21:37
Cah_TERATE
Lettu
Posts 848
Reputation: 15
Awards:

Think Think Think Think

1 Nov 2010 23:53
wong_edhan
Gembel Jalanan
Posts 6.667
Reputation: 609
Awards:
Facebook NetworkPembayar PajakAnti Child Po rnCharityFBI ManiaBlood DonationGood CitizenContributor

(This post was last modified: 1 Nov 2010 23:54 by wong_edhan.)
SIAPA SEJATINYA “SABDO PALON NOYO GENGGONG” ?


Setelah kita membaca dan memahami secara keseluruhan wasiat-wasiat leluhur Nusantara yang ada , maka telah sampai saatnya saya akan mengulas sesuai dengan pemahaman saya tentang siapa sejatinya Sabdo Palon Noyo Genggong itu. Dari penuturan bapak Tri Budi Marhaen Darmawan, saya mendapatkan jawaban : “Sabdo Palon adalah seorang ponokawan Prabu Brawijaya, penasehat spiritual dan pandhita sakti kerajaan Majapahit. Dari penelusuran secara spiritual, Sabdo Palon itu sejatinya adalah beliau : Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru yang akhirnya moksa di Pura Uluwatu.” (merinding juga saya mendengar nama ini)

Dari referensi yang saya dapatkan, Dang Hyang Nirartha adalah anak dari Dang Hyang Asmaranatha, dan cucu dari Mpu Tantular atau Dang Hyang Angsokanatha (penyusun Kakawin Sutasoma dimana di dalamnya tercantum “Bhinneka Tunggal Ika”). Danghyang Nirartha adalah seorang pendeta Budha yang kemudian beralih menjadi pendeta Syiwa. Beliau juga diberi nama Mpu Dwijendra dan dijuluki Pedanda Sakti Wawu Rawuh, beliau juga dikenal sebagai seorang sastrawan. Dalam Dwijendra Tattwa dikisahkan sebagai berikut :
“Pada Masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, tersebutlah seorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau dihormati atas pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran Agama Hindu dengan nama “Dharma Yatra”. Di Lombok Beliau disebut “Tuan Semeru” atau guru dari Semeru, nama sebuah gunung di Jawa Timur.”

Dengan kemampuan supranatural dan mata bathinnya, beliau melihat benih-benih keruntuhan kerajaan Hindu di tanah Jawa. Maksud hati hendak melerai pihak-pihak yang bertikai, akan tetapi tidak mampu melawan kehendak Sang Pencipta, ditandai dengan berbagai bencana alam yang ditengarai turut ambil kontribusi dalam runtuhnya kerajaan Majapahit (salah satunya adalah bencana alam “Pagunungan Anyar”). Akhirnya beliau mendapat petunjuk untuk hijrah ke sebuah pulau yang masih di bawah kekuasaan Majapahit, yaitu Pulau Bali. Sebelum pergi ke Pulau Bali, Dang Hyang Nirartha hijrah ke Daha (Kediri), lalu ke Pasuruan dan kemudian ke Blambangan.

Beliau pertama kali tiba di Pulau Bali dari Blambangan sekitar tahun caka 1411 atau 1489 M ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Dang Hyang Nirarta dijuluki pula Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan). Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan. Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.
Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat adalah : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Ulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dan lain-lain. Akhirnya Dang Hyang Nirartha menghilang gaib (moksa) di Pura Uluwatu. (Moksa = bersatunya atman dengan Brahman/Sang Hyang Widhi Wasa, meninggal dunia tanpa meninggalkan jasad).

Setelah mengungkapkan bahwa Sabdo Palon sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha, lalu bapak Tri Budi Marhaen Darmawan memberikan kepada saya 10 (sepuluh) pesan dari beliau Dang Hyang Nirartha sbb:

Tuwi ada ucaping haji, utama ngwangun tlaga, satus reka saliunnya, kasor ento utamannya, ring sang ngangun yadnya pisan, kasor buin yadnyane satus, baan suputra satunggal. ( bait 5 )
Ada sebenarnya ucapan ilmu pengetahuan, utama orang yang membangun telaga, banyaknya seratus, kalah keutamaannya itu, oleh orang yang melakukan korban suci sekali, korban suci yang seratus ini, kalah oleh anak baik seorang.
Bapa mituduhin cening, tingkahe menadi pyanak, eda bani ring kawitan, sang sampun kaucap garwa, telu ne maadan garwa, guru reka, guru prabhu, guru tapak tui timpalnya. ( bait 6 )
Ayahanda memberitahumu anakku, tata cara menjadi anak, jangan durhaka pada leluhur, orang yang disebut guru, tiga banyaknya yang disebut guru, guru reka, guru prabhu, dan guru tapak (yang mengajar) itu.
Melah pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane tong kaletehan, tong ada ngupet manemah, melah alepe majalan, batise twara katanjung, bacin tuara bakat ingsak. ( bait 8 )
Lebih baik hati-hati dalam berbicara, kepada semua orang, tak akan ternoda keturunannya, tak ada yang akan mencaci maki, lebih baik hati-hati dalam berjalan, sebab kaki tak akan tersandung, dan tidak akan menginjak kotoran.
Uli jani jwa kardinin, ajak dadwa nah gawenang, patut tingkahe buatang, tingkahe mangelah mata, gunannya anggon malihat, mamedasin ane patut, da jua ulah malihat. ( bait 10 )
Mulai sekarang lakukan, lakukanlah berdua, patut utamakan tingkah laku yang benar, seperti menggunakan mata, gunanya untuk melihat, memperhatikan tingkah laku yang benar, jangan hanya sekedar melihat.
Tingkahe mangelah kuping, tuah anggon maningehang, ningehang raose melah, resepang pejang di manah, da pati dingeh-dingehang, kranannya mangelah cunguh, anggon ngadek twah gunanya. ( bait 11 )
Kegunaan punya telinga, sebenarnya untuk mendengar, mendengar kata-kata yang benar, camkan dan simpan dalam hati, jangan semua hal didengarkan.
Nanging da pati adekin, mangulah maan madiman, patutang jua agrasayang, apang bisa jwa ningkahang, gunan bibih twah mangucap, de mangucap pati kacuh, ne patut jwa ucapang. ( bait 12 )
Jangan segalanya dicium, sok baru dapat mencium, baik-baiklah caranya merasakan, agar bisa melaksanakannya, kegunaan mulut untuk berbicara, jangan berbicara sembarangan, hal yang benar hendaknya diucapkan.
Ngelah lima da ja gudip, apikin jua nyemakang, apang patute bakatang, wyadin batise tindakang, yatnain twah nyalanang, eda jwa mangulah laku, katanjung bena nahanang. ( bait 13 )
Memiliki tangan jangan usil, hati-hati menggunakan, agar selalu mendapat kebenaran, begitu pula dalam melangkahkan kaki, hati-hatilah melangkahkannya, bila kesandung pasti kita yang menahan (menderita) nya.
Awake patut gawenin, apang manggih karahaywan, da maren ngertiang awak, waluya matetanduran, tingkahe ngardinin awak, yen anteng twi manandur, joh pare twara mupuang. ( bait 14 )
Kebenaran hendaknya diperbuat, agar menemukan keselamatan, jangan henti-hentinya berbuat baik, ibaratnya bagai bercocok tanam, tata cara dalam bertingkah laku, kalau rajin menanam, tak mungkin tidak akan berhasil.
Tingkah ne melah pilihin, buka anake ka pasar, maidep matetumbasan, masih ya nu mamilihin, twara nyak meli ne rusak, twah ne melah tumbas ipun, patuh ring ma mwatang tingkah. ( bait 15 )
Pilihlah perbuatan yang baik, seperti orang ke pasar, bermaksud hendak berbelanja, juga masih memilih, tidak mau membeli yang rusak, pasti yang baik dibelinya, sama halnya dengan memilih tingkah laku.
Tingkah ne melah pilihin, da manganggoang tingkah rusak, saluire kaucap rusak, wantah nista ya ajinnya, buine tong kanggoang anak, kija aba tuara laku, keto cening sujatinnya. ( bait 16 )
Pilihlah tingkah laku yang baik, jangan mau memakai tingkah laku yang jahat, betul-betul hina nilainya, ditambah lagi tiada disukai masyarakat, kemanapun di bawa tak akan laku, begitulah sebenarnya anakku.
Akhirnya bapak Tri Budi Marhaen Darmawan mengungkapkan bahwa dengan penelusuran secara spiritual dapatlah disimpulkan : “Jadi yang dikatakan “Putra Betara Indra” oleh Joyoboyo, “Budak Angon” oleh Prabu Siliwangi, dan “Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu” oleh Ronggowarsito itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Sabdo Palon, yang sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru. Pertanyaannya sekarang adalah: Ada dimanakah beliau saat ini kalau dari tanda-tanda yang telah terjadi dikatakan bahwa Sabdo Palon telah datang ? Tentu saja sangat tidak etis untuk menjawab persoalan ini. Sangat sensitif… Ini adalah wilayah para kasepuhan suci, waskitho, ma’rifat dan mukasyafah saja yang dapat menjumpai dan membuktikan kebenarannya. Dimensi spiritual sangatlah pelik dan rumit. Tidak perlu banyak perdebatan, karena Sabdo Palon yang telah menitis kepada “seseorang” itu yang jelas memiliki karakter 7 (tujuh) satrio seperti yang telah diungkapkan oleh R.Ng. Ronggowarsito, dan juga memiliki karakter Putra Betara Indra seperti yang diungkapkan oleh Joyoboyo. Secara fisik “seseorang” itu ditandai dengan memegang sepasang pusaka Pengayom Nusantara hasil karya beliau Dang Hyang Nirartha.”

“Kesimpulan akhirnya adalah : Putra Betara Indra = Budak Angon = Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu seperti yang telah dikatakan oleh para leluhur Nusantara di atas adalah sosok yang diharap-harapkan rakyat nusantara selama ini, yaitu beliau yang dinamakan “SATRIO PININGIT”. Jadi, Satrio Piningit (SP) = adalah seorang Satrio Pinandhito (SP) = yaitulah Sabdo Palon (SP) = sebagai Sang Pamomong (SP) = dikenal juga dengan nama Semar Ponokawan (SP) = pemegang pusaka Sabdo Palon (SP) = berada di “SP” (?) = tepatnya di daerah “SP” (?) = dimana terdapat “SP” (?) = dengan nama “SP” dan “SP” (?) . Satrio Piningit tidak akan sekedar mengaku-aku bahwa dirinya adalah seorang Satrio Piningit. Namun beliau akan “membuktikan” banyak hal yang sangat fenomenal untuk kemaslahatan rakyat negeri ini. Kapan waktunya ? Hanya Allah SWT yang tahu.

Dari apa yang telah saya ungkapkan sejauh ini mudah-mudahan membawa banyak manfaat bagi kita semua, terutama hikmah yang tersirat dari wasiat-wasiat nenek moyang kita, para leluhur Nusantara. Menjadi harapan kita bersama di tengah carut-marut keadaan negeri ini akan datang cahaya terang di depan kita.

1 Nov 2010 23:55
wong_edhan
Gembel Jalanan
Posts 6.667
Reputation: 609
Awards:
Facebook NetworkPembayar PajakAnti Child Po rnCharityFBI ManiaBlood DonationGood CitizenContributor

Seperti kami sampaikan bahwa penyebab persoalan-persoalan dinegara kita adalah karena merosotnya moralitas bangsa atau merosotnya nilai-nilai kemanusiaan di negara kita, yang berakibat pada perilaku anak bangsa yang hanya mengejar kepentingan pribadi yang sering kali dampaknya adalah penyengsaraan orang lain, atau sebuah perilaku merusak sumber daya alam. Dengan demikian perbaikan yang pertama yang diperlukan oleh bangsa ini adalah perbaikan moralitas dari anak-anak bangsa. Disini kita perlu renungkan dan kaji kembali Falsafah Bangsa, atau Ideologi Bangsa, sebagai sumber dari pengajaran moralitas di negara kita. Jadi nada dasar yang dimainkan adalah melakukan kaji ulang pada falsafah bangsa.

Falsafah bangsa kita terletak pada dasar negara kita yaitu Panca Sila. Dalam kajian ini, kami tidak memperdebatkan isi dari Panca Sila kita, melainkan memperbandingkannya dengan dasar negara yang disampaikan oleh Prabhu Jayabaya. Dalam buku Ramalan Prabu Jayabaya yang ditulis oleh Dr. Sindung Marwoto, MA., pada halaman 99 tertulis, Dhasaring negara iku ana lima, kapisan pasrah anane negara iki marang Kang Murbeng Dumadi. Kapindho percaya marang anane manungsa iki saka Kang Murbeng Dumadi. Kaping telu aja sira nglirwakake bangsanira pribadi. Kaping papat sira aja mung kepengin menang dhewe, mula prelu rerembugan amrih becike. Kaping lima kewajiban aweh sandhang kalawan pangan lan uga njaga katentreman lahir kalawan batin. Dimana Pancasila yang disampaikan oleh Prabhu Jayabaya dapat diterjemahkan sebagai, Dasar negara itu ada lima, pertama pasrah adanya negara itu kepada Tuhan. Kedua, bahwa manusia ini dari Tuhan adanya. Ketiga, jangan mengabaikan bangsamu sendiri. Keempat, engkau jangan ingin menang sendiri karena itu harus suka berunding bagaimana baiknya. Kelima, berkewajiban memberi sandang pangan serta ketentraman lahir batin. Pancasila yang kita gunakan sebagai dasar negara saat ini adalah:

Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Persatuan Indonesia,
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sekilas nampak Pancasila yang disampaikan oleh Prabhu Jayabaya dengan Pancasila yang menjadi dasar negara kita serupa. Namun ada perbedaan pengertian yang mendasar dari apa yang disampaikan oleh Prabhu Jayabaya dengan apa yang sekarang menjadi dasar negara kita, yaitu terutama terkait dengan sila kedua. Dimana Prabhu Jayabaya menyampaikan bahwa manusia itu dari Tuhan adanya, dan pada dasar negara kita berbunyi Kemanusiaan yang adil dan beradab. Jelas kedua filosofi ini memiliki arti yang jauh berbeda, walaupun mirip.

Filosofi yang disampaikan oleh Prabhu Jayabaya pada sila kedua merujuk pada falsafah bahwa manusia itu berasal dari Tuhan dan akan kembali lagi kepada Tuhan. Ini menyangkut kesadaran jiwa dari umat manusia. Bila manusia sadar bahwa dirinya adalah Sang Jiwa, dan sadar pula Sang Jiwa berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan, serta sadar pula bahwa Jiwa-jiwa lainnya juga berasal dari Tuhan, tentu akan memiliki semangat untuk saling menolong sesama, saling mengasihi antar sesama karena pada hakekatnya semua makhluk berasal dari Tuhan dan akan kembali lagi pada kesadaran Ketuhanan. Dalam filosofi Jawa hal ini dinyatakan sebagai Sangkan Paraning Dumadi. Inilah rasanya yang perlu kita kaji, yaitu tentang nilai-nilai kemanusiaan kita.

Dampak dari sila kedua adalah perubahan moral secara umum. Karena pada hakekatnya dengan perubahan cara pandang (perubahan ideologi) maka akan menyebabkan perubahan sikap pada anak bangsa, dan perubahan sikap ini akan berujung pada perubahan perilaku dari anak-anak bangsa ini. Perubahan bagaimana yang kita harapkan? Tentu saja perubahan ke arah tujuan yang positif, yaitu perubahan yang membawa kebahagiaan bagi seluruh anak-anak negeri.

Petunjuk-petunjuk mengenai merosotnya moralitas anak bangsa ini, kalau kita kaji lebih jauh, sesungguhnya telah banyak disampaikan dalam jangka-jangka yang disusun oleh para leluhur kita yang purohito, maupun pujangga-pujangga besar dimasa lalu yang waskita. Seperti apa yang disampaikan oleh Prabhu Jayabaya, Prabhu Siliwangi, dan juga oleh Raden Ngabehi Ronggo Warsito. Dimana intisari persoalan yang dapat kami petik dari petunjuk-petunjuk beliau bahwa merosotnya moralitas bangsa saat ini adalah sebagai buah akibat dari perselisihan pendapat para pemuka agama saat itu. Sebagai contoh, kita telah diberi petunjuk mengenai perselisihan agama saat runtuhnya kerajaan Majapahit, dimana pada jangka Sabda Palon Noyo Ginggong, seperti yang digubah oleh Ronggo Warsito bahwa pada saat itu terjadi perdebatan masalah agama, dan pada saat ini bangsa ini akan dikembalikan lagi kepada agama budi, yaitu agama yang mengedepankan budi pakerti luhur untuk mewujudkan Nusantara Adil Makmur. Dan pada petunjuk itu pula kita temukan bahwa barang siapa yang menolak kehendak ini, akan menerima amarah dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Karena dalam petunjuk tersebut kita diarahkan untuk melihat perselisihan antara ajaran budhi (Hindu/Budha) dengan ajaran Islam, maka saat ini kita perlu mengkaji dari apa yang mereka perselisihkan itu, dengan harapan bahwa kalau kita jelas memahami apa yang mereka perselisihkan, maka sebuah solusi yang tepat untuk mengatasi merosotnya moralitas bangsa ini dapat kita tentukan. Untuk memahami apa yang mereka perselisihkan itu, tentu yang perlu kita kaji adalah perintah-perintah yang dituangkan dalam kitab suci kedua ajaran ini, apakah memang terjadi kontradiktif, atau sesungguhnya adalah hal yang sama, mengingat kedua agama ini adalah sama-sama berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Untuk melihat apa yang mereka perselisihkan ini, tentu saja kita akan meninjau kitab tertinggi dari kedua agama, yang sama-sama merupakan wahyu dari Yang Maha Kuasa, sehingga perbandingan ini menjadi perbandingan yang setara yaitu apel dibandingkan dengan apel. Yang kedua, kedua kitab suci ini, sama-sama memiliki surat yang berjudul Sapi Betina. Sehingga kloplah bahwa perbandingan ini menjadi perbandingan yang setara. Dalam kajian ini, kita tidak membicarakan seekor sapi betina yang memakan rumput, atau sebuah patung sapi betina, melainkan kita membicarakan isi perintah dari surat suci yang berjudul Sapi Betina.

Surat Sapi Betina dalam Kitab Weda, kita akan merujuk pada kitab Atharwa Weda, Kanda (Buku) V, Sukta ke 18 dan 19, sedangkan pada Al Quran kita akan merujuk Surat Al Baqarah yang artinya adalah Sapi Betina. Dengan memperbandingkan isi perintah dari kedua surat ini, maka kita akan semakin jelas melihat kebenaran dari perintah Tuhan. Secara umum petunjuk dari kedua kitab suci memberitahukan kepada kita bahwa barang siapa yang menyimpang dari ajaran suci maka akan mengalami kecelakaan besar. Sebelum kita mengkaji perilaku kita terhadap perintah dari kitab suci, maka kita perlu mengkaji kesamaan isi perintah itu, dan mempertimbangkannya perilaku siapa telah menyimpang dari kitab suci dan perilaku siapa yang masih selaras dengan perintah dari kitab suci.

Kutipan lengkap dari kitab Suci Weda kami sajikan dalam lampiran, secara umum perintah dalam Weda adalah untuk mengimani lima hal yang menjadi dasar dalam keyakinan Dharma (kebenaran universal) yaitu, pertama yakin tentang adanya Tuhan Yang Maha Kuasa, kedua yakin bahwa sang Jiwa itu dari Tuhan asalnya, ketiga yakin tentang hukum sebab akibat (karmaphala), keempat yakin tentang adanya kelahiran berulang (reinkarnasi), dan kelima yakin tentang moksa yaitu kembali lagi kepada Tuhan. Dimana kami temukan pada kitab Al Quran sesungguhnya keyakinan tentang adanya kelahiran berulang dan moksa juga terdapat disana, yaitu dapat kami kutipkan QS 2.28 sebagai berikut, Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkannya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. Istilah kafir dalam bahasa Indonesia sepadan dengan kata ingkar, yaitu siapa yang ingkar kepada Tuhan. Apa yang diingkari adalah mengenai kebenaran hukum kelahiran berulang dan hukum moksa (kembali kepada Tuhan). Orang yang ingkar kepada Tuhan, karena hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan, terutama ketidaktahuan tentang Sang Jiwa atau roh. Dalam QS 17.85 dinyatakan bahwa, Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Mengapa hal ini kami sampaikan karena perintah pada Weda, bahwa bagi mereka yang menyembelih sapi betina maka dihancurkan, maksud dari kiasan ini adalah bagi mereka yang mendustakan kitab suci yang berjudul Sapi Betina. Karena hakekat dari Sapi Betina, bahwa Tuhan itu meliputi segala sesuatu dan kita diajarkan untuk menyembah sapi betina agar kita tidak takabur dengan pengetahuan Ketuhanan dalam diri kita. Sesungguhnya bagi mereka yang sungguh-sungguh beriman mereka itu sadar bahwa Tuhan itu ada didalam dirinya sendiri, namun demikian janganlah Takabur, sebab Tuhan Yang Esa sesungguhnya itu juga terdapat dalam seekor sapi betina. Seperti yang termuat dalam QS 2.26-27, Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan ‘apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?’ Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan dimuka bumi, mereka itulah orang-orang yang rugi.

Seperti halnya dinyatakan dalam QS 2.51 Dan (ingatlah), ketika kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim. Kemudian dalam QS 2.59, Lalu orang-orang yang zalim itu mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik. Dalam ayat ini kita temukan bahwa orang-orang yang meninggalkan penyembahan terhadap Sapi Betina, mereka menjadi orang yang zalim, dan orang zalim ini yaitu mereka yang tidak menyembah Sapi Betina telah mengganti perintah Tuhan yang sesungguhnya dan yang benar.

Berikut ini kami kutipkan secara lengkap surat Sapi Betina.

Atha Pañcama> K@%}am [Buku V]

18. Sapinya Brahman [sapi betina]

18. BRAHMAGAV| S]KTA

[=&i-mayobh#, devat@-brahmagav$, chanda-anu&{up, 4 bhurik tri&{up, 5, 8-9, 13 tri&{up]

nait@> te dev@ adadustubhya> n=pate attave, m@ br@hma%asya r@janya g@> jighatso an@dy@m.
Para Deva tidak memberikan makanan kepadamu, Wahai Deva penguasa manusia [n=pati]; bukan Engkau, Wahai yang memiliki kemuliaan, menginginkan sapinya Brahman, yang belum dimakan.

ak&adrugdho r@janya* p@pa @tmapar@jita*, sa br@hma%asya g@mady@dadya j$v@ni m@ ^va*.
Seorang bangsawan yang membenci dadu, kejahatan penghancuran diri, dia mungkin memakan sapinya Brahman: ”semoga aku menyukainya hari ini, bukan besok.”

@vi&{it@ghavi&@ p=d@k#riva carma%@, s@ br@hma%asya r@janya t=&{ai&@ gauran@dy@.
Seperti racun yang menyakitkan digabungkan dengan sapi yang belum diketahui, sapi Brahman ini, Wahai yang mulia, begitu bahayakah sehingga tidak boleh untuk dimakan.

nirvai k&atra> nayati hanti varco’gniriv@rabdho vi dunoti sarvam, yo br@hma%a> manyate annameva sa vi&asya pibati taim@tasya.
Sesungguhnya itu membawa jauh kekuasaannya, menghancurkan kemegahannya seperti semua api yang diambil dari baranya; dia berharap Brahman memberi makanan, dia meminum racun Timatan.

ya ena> hanti m=du> manyam@no devap$yurdhanak@mo na citt@t, sa> tasyendro h=daye’gnimindha ubhe ena> dvi&{o nabhas$ carantam.
Apapun ucapan dari para Deva, menginginkan kekayaan, bukan dari pengetahuan, jauhkanlah dia, memikirkan keramahan yang ada didalam hatinya Indra yang menyalakan api; kedua langit membencinya saat ia berjalan kesana.

na br@hma%o hi>sitavyo gni* priyatonoriva, somo hyasya d@y@da indro asy@bhi^astip@*.
Brahman tidak akan terlukai, seperti api, bagi orang yang menyayangi dirinya sendiri; dia adalah Soma, putra mahkota, Indra adalah pelindungnya dari kutukan itu.

^at@p@&{h@> ni girati t@> na ^aknoti ni*khidan, anna> yo brahma%@> malva* sv@dva dm$ti manyate.
Ia mampu meneguk apapun yang memiliki ratusan mata kail; ia tak mampu memunculkannya – orang bodoh yang memikirkan makanan bagi para Brahman ”Aku memakan apa yang manis”.

jihv@ jy@ bhavati kulmala> v@<n@}$k@ dant@stapas@bhidigdh@*, tebhirbrahm@ vidhyati devap$y#n h=dbalairdhanurbhirdevaj#tai*.
Lidahnya menjadi tali busur, suaranya anak panah, leher, giginya menjadi patil dilumuri dengan penebusan dosa; dengan ini Brahman menusuk para penghina deva, dengan busur yang dilesakkan dari hati dan dipercepat oleh para deva.

t$k&%e&avo br@hma%@ hetimanto y@masyanti ^aravy@> na s@ m=&@, anuh@ya tapas@ manyun@ cota d#r@dav bhindantyenam.
Para Brahman memiliki anak panah yang tajam, memiliki peluru; serangan apapun yang mereka arahkan, ini tidak akan sia-sia; mengejar dengan semangat dan kemarahan, Ia membaginya meskipun dari jarak jauh.

ye sahasramar@jann@san da^a^at@ uta, te br@hma%asya g@m jagdhv@ vaitahavy@* par@bhavan.
Mereka yang mengatur dalam jumlah yang banyak, dan bahkan ribuan, para Vaitahavya itu, memakan sapinya Brahman, hancurkanlah.

gaureva t@n hanyam@n@ vaitahavy@> av@tirat, ye kesarapr@bandh@y@^caram@j@mapeciran.
Sapi itu sendiri, dibunuh, menarik para Vaitahavya, yang memasak kambing terakhir adalah Kesarapr@bandh@.

eka^ata> t@ janat@ y@ bh#marvyadh#nuta, praj@> hi>sitv@ br@hma%$masa>-bhavya> par@bhavan.
Keseratus satu teman itu yang menggetarkan bumi, telah melukai keturunan para Brahman, hancurkan berkeping-keping.

devap$yu^carati martye&u garag$r%o bhavatyasthibh#y@n, yo br@hma%a> devabandhu> hinasti na sa pit=y@%amapyeti lokam.
Para pencela deva itu berjalan diantara makhluk hidup; ia menjadi seseorang yang menelan racun, menjadi umumnya tersusunan dari tulang; dia yang melukai Brahman, hubungan para deva, ia tidak pergi ke dunia di mana ayah pergi.

agnirvai na* padav@ya* somo d@y@da ucyate, hant@bhi^astendrastath@ tad vedhaso vidu*.
Agni adalah penuntun kami, Soma disebut pewaris kami, Indra pembunuh kutukan: begitu mengetahui yang berhati tulus.

i&uriva digdh@ n=pate p=d@k#riva gopate, s@ br@hma%asye&urghor@ tay@ vidhyati p$yata*.
Seperti sebuah anak panah berlumuran dengan racun, Wahai Deva penguasa manusia, seperti seekor ular berbisa, Wahai Deva penguasa ternak – panah Brahman mengarah kemanapun saja; karena itulah panah-panah ini menghancurkan orang yang menghina.



19. Sapinya Brahman

19. BRAHMAGAV| S]KTA

[=&i-mayobh#, devat@-brahmagav$, chanda-anu&{up, 2 vir@{ purast@d b=hat$, 7 apari&{@db=hat$]

atim@tramavardhanta nodiva divamasp=^an, bh=gu> hi>sitv@ s=~jay@ vaitahvy@* par@bhavan.
Mereka tumbuh begitu banyak; mereka tidak sampai menyentuh langit; yang terlukai oleh Bhrgu, para Sri~jaya, Vaitahavya, sampai mereka mati.

ye b=hats@m@nam@<girasam@rpayan br@hma%a> jan@*, petvaste&@mubhay@dama-vistok@ny@vayat.
Orang-orang yang memuja Brahman Brihatsaman, keturunan dari para Angira – kambing dengan memiliki dua baris gigi, seekor domba, memakan anak-anak mereka.

ye br@hma%a> pratya&{h$van ye v@smi~chulkam$&ire, asnaste madhye kuly@y@* ke^@n kh@danta @sate.
Mereka yang berselisih dengan Brahman, atau yang mengirimkan getah kepadanya – mereka duduk di tengah sungai yang berisi darah dan menghanyutkan rambut.

brahmagav$ pacyam@n@ y@vat s@bhi vija<gahe, tejo r@&{rasya nirhanti na v$ro j@yate v=&@.
Sapi Brahman itu, yang dimasak, sama jauhnya saat dia menekan, menghilangkan kecerahan (tejas) dari kerajaan; tidak ada pahlawan yang perkasa terlahir (disana).

kr#ramasy@ @^asana> t=&{a> pi^itamasyate, k&$ra> yadasy@* p$yate tad wai pit=&u kilbi&am.
Begitu dahsyat untuk menghancurkannya; seperti daging yang dipersiapkan untuk dimakan; di susu yang diminumnya, itu benar-benar perlawanan terhadap ayah.

ugro r@j@ manyam@no br@hma%a> yo jighatsati, par@ tat sicyate r@&{ra> br@hma%o yatra j$yate.
Seorang raja menganggap dirinya yang hebat dan yang ingin menghancurkan seorang Brahman – kerajaan itu jauh memperoleh limpahan, karena seorang Brahman disakiti.

a&{@pad$ caturak&$ catu*^rotr@ caturhanu*, dvy@sy@ dvijihv@ bh#tv@ s@ r@&{ramava dh#nute brahmajyasya.
Menjadi berkaki delapan, bermata empat, bertelinga empat, berahang empat, dua mulut, berlidah dua, ia mengguncangkan kerajaan yang menyakiti Brahman.

tad vai r@&{ram@ sravati n@va> bhinn@mivodakam, br@hma%a> yatra hi>santi tad r@&{ra> hanti ducchun@.
Hal itu memperlemah kerajaan, seperti air pada perahu yang terpecah; di mana mereka melukai seorang Brahman, kerajaan itu tidak akan pernah damai.

ta> v=k&@ apa sedhanti ch@y@> no mopag@ iti, yo br@hma%asya saddhanamabhi n@rada manyate.
Dia diibaratkan sebagai pepohonan yang jauh, dan mengatakan ”janganlah datang dalam bayangan kami,” siapapun, Wahai Narada, yang akan melawan itu merupakan kekayaan Brahman.

10. vi&ametad devak=ta> r@j@ varu%o’brav$t, na br@hma%asya g@> jagdhv@ r@&{ra j@g@ra ka^cana.

Raja Varuna menyebutnya sebagai sebuah racun yang dibuat oleh deva; tak seorang-pun sejauh ini, yang melahap sapi milik Brahman, tetap dijaga dalam kerajaan.

11. navaiva t@ bavatayo y@ bh#mirvyadh#nuta, praj@> hi>sitv@ br@hma%$masa>-bhavya> par@bhavan.

Sembilan yang sama dari sembilan puluh yang menggoncangkan bumi, sehingga bergetar dengan hebat, melukai keturunan Brahman, hancur luluh.

12. y@> m=t@y@nubadhnanti k#dya> padayopan$m, tad vai brahmajya te dev@ upastara%amabruvan.

Kudi yang diikatkan disebelah orang mati, yang menghilangkan perjalanan yang sebenarnya, Wahai yang menyakiti Brahman, apakah para deva memanggil pemimpinmu.

13. a^r#%i k=pam@%asya y@ni j$tasya v@v=tu*, ta> vai brahmajya te dev@ ap@> bh@gamadh@rayan.

Air mata yang bercucuran, yang menetes turun saat ia disiksa, inilah yang sesungguhnya, Wahai yang menyakiti Brahman, apakah para deva memberikanmu bagian dari air itu.

14. yena m=ta> snapayanti ^ma^r#%i yrnondate, ta> vai brahmajya te dev@ ap@> bh@gamadh@rayan.

Dengan apa mereka memandikan orang mati, dengan apa mereka membasahi janggutnya itu sungguh-sungguh, Wahai yang menyakiti Brahman, apakah para deva memberikan bagian airmu.

15. na var&a> maitr@varu%a> brahmajyamabhi var&ati, n@smai samiti* kalpate na mitra> nayate va^am.

Hujan yang diberikan oleh Mitra dan Varuna tidak menimpa bagi yang menyakiti Brahman, pemasangan tersebut tidak sesuai dengannya; Dia tidak memiliki teman untuk mengendalikannya.

Berikut ini kami kutipkan, beberapa bait dari Jangka Sabda Palon Noyo Ginggong yang digubah oleh Pujangga Raden Ngabehi Ronggo Warsito dari Surakarta.

Lamun mangke tetenger wus kaeksi,

Ingkang prapti ing tanah Jawa,

Manjat ing tengah rakyate,

Kinanthi anak putu,

Wujud brekasakan lan demit,

Sun sebar kawruh nyata,

Agama satuhu,

Meruhna ing ma’rifat,

Gami Buddhi nenggih Islam kang sejati,

Kinarya wisik Hyang Suksma.

Suatu kelak ketika bila tanda-tanda ini telah muncul, dan datang dite ngah-tengah rakyat Jawa ini, diikuti oleh anak cucu yang berwatak setan dan demit, maka disaat itulah kaum agama menyebarkan ilmunya, Aku sebar “Ilmu Pengetahuan Kenyataan Hidup” yang bersumber ilmu agama yang sesungguhnya, mengetahui kebenaran mutlak dan mengamal kannya [ma’rifat ~ suffi], agama Budhi sesungguhnya yang dimaksud Islam sejati [agama sejati], buah wahyu dari Yang Maha Kuasa.

Papesthene nusa tekan janji,

Yen wus jangkep limang atus warsa,

Kepetung jaman Islame,

Musna bali maringsun,

Gami budi madeg sawiji,

Sapa kang ngemohna,

Yekti nampa bendu,

Sun pakakna putuning wang,

Nadya pratanda wastane linun demit,

Gegila myang lelara.



Janji kepastian nusantara ini telah tiba, kalau sudah tepat lima ratus ta hun, terhitung sejak masuknya Islam, musnah dan kembali kepadaku, agama Budhi yang bersatu, barang siapa yang menolaknya, akan menerima amarah, maka dari itu kusampaikan hal ini padamu cucu-cu cuku, berusahalah kamu memakai tanda-tanda agar selamat dari godaan bhutakala, dan penyakit-penyakit yang tidak wajar.



Thathit kliweran ing nusa Jawi,

Pratandane ing wong nuduhna,

Sampurnakna agamane,

Yeku agama Rasul,

Anyebarna Islam sejati,

Duk jaman Brawijaya,

Ingsun datan purun,

Angrasuk agama Islam,

Marga ingsun uninga agama niki,

Nlisik saking kang nyata.



Petir menyambar-nyambar di Pulau Jawa, pertanda ada orang yang memberitahu, menyempurnakan agamanya, yaitu agama Rasul, menye barkan Islam (agama) yang sejati, pada jaman Brawijaya, saya memang tidak mau, memeluk agama Islam, karena saya tahu agama ini, menyimpang dari Yang Nyata.

Ngelingana he pra umat sami,

Yen sira tan ngetut kersaning wang,

Yekti abot penandange,

Ingsun pikukuhipun,

Nuswantarane ing saindenging,

Bawana kang sisih wetan,

Asia punika,

Kasigegan swasana,

Dabda kasabdakna mring bawana wadag iku,

Lumantar Sri Buwana.



Ingatlah hai seluruh umat manusia, bila anda tidak mau mengikuti petunjuk ini, niscayalah akan berat akibatnya, sayalah jaminannya, seluruh [seke liling] nusantara ini, bumi disebelah timur Asia itu, disaat itulah mun culnya suasana baru, akan disampaikanlah didalam badan kasarmu itu terdapat kenyataan Aku Alam Semesta.





Semut ireng ngendog jroning geni,

Ana merak memitran lan baya,

Keong sak kenong matane,

Tikus pada ngidung,

Kucing gering ingkang nungoni,

Kodok nawu segara,

Oleh banteng sewu,

Precil-precil kang anjaga,

Semut ngangrang angrangsang gunung Merapi,

Wit Ranti woh Delima.



Semut hitam bertelur dalam api, ada merak bersahabat dengan buaya, keong matanya sebesar kenong, tikus pada bernyanyi, kucing kurus menunggui, katak menguras lautan, oleh seribu banteng, dijaga anak-anak katak, semut merah merangsang gunung merapi, pohon ranti [kepuh] berbuah delima.

1 Nov 2010 23:58
wong_edhan
Gembel Jalanan
Posts 6.667
Reputation: 609
Awards:
Facebook NetworkPembayar PajakAnti Child Po rnCharityFBI ManiaBlood DonationGood CitizenContributor

Reinkarnasi
Noyo Genggong Sabdo Palon

Mbah Sghriwo

Dua pendeta penasihat sekaligus punakawan kerajaan Majapahit ini memang bukan tokoh sembarangan. Selama ini ditafsirkan sebagai makhluk halus. Wadag atau tubuhnya memang sebagaimana lazimnya orang biasa. Roh halus atau roh gaibnya yang luarbiasa, ia mampu bereinkarnasi ribuan kali sejak manusia pertama tinggal di bumi.
Sebagai pendeta Buddha Jawa (Jowo Sanyoto, agama negara Majapahit) utama di kerajaan Majapahit ilmu agamanya sempurna bahkan lebih sempurna dibanding para pengikut utama Dalai Lama di Tibet. Dari jaman ke jaman Sabdo Palon* terus-menerus berganti raga (wadag), yakni pada saat raganya memang sudah tua dan meninggal dunia.
Wadag baru pilihan itu tidak atas kemauan pribadi roh Sabdo Palon akan tetapi atas kehendak Sang Hyang Wenang ing Jagad.
Jadi sebenarnya walau Majapahit runtuh, Sabdo Palon dan pendahulunya Noyo Genggong tidak pernah murca atau hilang, dia hidup sebagai manusia biasa di bumi manusia ini. Silsilah Sabdo Palon dalam 2500 tahun terakhir mengayomi tanah Jawa, dan bumi bagian Selatan (Man Yang) adalah sbb.: Semar, Humarmoyo, Manikmoyo, Ismoyo, Noyo Genggong, Sabdo Palon, Ki K, WS, dan pada 2010 ini ......???!
Ramalan Sri Aji Joyoboyo kedelapan bahwa Sabdo Palon akan kembali ke Nusantara, dengan sendirinya dapat ditafsirkan Sabdo Palon kelak berkiprah kembali sebagai pendamping dan penasihat daripada pemimpin negeri suatu kerajaan.
Tatkala Majapahit pada era keruntuhannya sekitar 1478, di hadapan Prabu Brawijaya yang berganti haluan memeluk Islam sedangkan Sabdo Palon tetap bertahan sebagai titah dengan Jowo Sanyoto sebelum murca (lenyap) Sabdo Palon berjanji, "Yang Mulia, kita ditakdirkan untuk berpisah, tetapi harap Yang Mulia ingat limaratus tahun lagi aku akan kembali ke marcapada bumi Nusantara untuk menjalankan titah-Nya."
Tepat waktu sebagaimana dijanjikan Sabdo Palon maka pada 1978 (500 tahun sejak Majapahit runtuh berikut murcanya Sabdo Palon) seorang penduduk biasa Jawa Tengah wadagnya dipergunakan oleh Sabdo Palon lengkap dengan Jowo Sanyoto-nya, lelaki tua itu menyebut dirinya Ki K. Pada awal 1990-an sosoknya yang sudah sepuh itu masih berstamina dan memiliki energi besar ditambah daya intelijensinya masih sangat kuat. Bicaranya menyihir barangsiapa saja yang mendengarkan. Sabdo Palon yang satu ini membawa ajaran dalam kitab "suci" Adam Makna (bukan Betaljemur Adam Makna). Salah satu isi kitab itu ialah penjabaran daripada abjad huruf Jawa ho no co ro ko do to so wo lo po dho jo yo nyo mo nggo bo tho ngo (yang bagi orang Sunda sangat penting sekali, ilmu tertinggi dalam dunia kebathinan dan falsafah di Nusantara). Beliau meninggal sekitar pertengahan 1990-an. Sabdo Palon berganti wadag lagi, dan kali ini dalam diri WS (65 tahunan) tangan kanan dan orang dekat Ki K sendiri. Kehadiran kembali Sabdo Palon dengan melalui reinkarnasi berabad pada sosok manusia pilihan itu atas kehendak dan kuasa Sang Hyang Wenang ing Jagad.
WS meninggal sekitar 2006, (bersamaan waktunya dengan meletusnya Gunung Merapi), sepak-terjang beliau semasa hidupnya mirip tokoh misterius yang gerakannya juga misterius, ia pernah mencoba memberikan nasihat kepada Presiden Suharto yang di masa itu dikelilingi tokoh-tokoh spiritual tingkat tinggi dan sulit didekati siapapun, konon hasilnya kurang memuaskan; dan beliau di samping itu juga mencoba memberi nasihat atau petuah pada berbagai petinggi militer maupun sipil. Sepak-terjangnya tidak pernah membikin heboh karena setiap lakunya dikerjakan tanpa menarik perhatian. Dan tentu saja ia tidak pernah mengumumkan jatidirinya kepada siapapun. Sosoknya biasa saja, keistimewaannya ialah stamina tubuhnya luarbiasa apalagi saat ia berbicara seolah menyihir para pendengarnya. Dan keberaniannya berbicara menghadapi tokoh manapun sangat luarbiasa.
Semasa jaman Majapahit dalam wasiatnya Sabdo Palon mengatakan, "Hanya atas kehendak Sang Hyang Wenang ing Jagad yang maha menentukan manusia pilihan sebagai wadag baru Sabdo Palon." Prosesnya perpindahan Sabdo Palon ke wadag baru berbeda dengan reinkarnasi pendeta Buddha Tibet. Sabdo Palon memasuki tubuh remaja atau dewasa yang telah ditakdirkan Sang Hyang Wenang ing Jagad meninggal dunia dan atas kehendakNya pula tubuh tersebut hidup kembali sebagai reinkarnasi Sabdo Palon baru dengan nama baru. Pada reinkarnasi pendeta Tibet terjadi sejak dalam kandungan ibunya, hingga lahir ke dunia sebagai bayi reinkarnasi pendeta si A atau si B.
Menurut penuturan Ki K, pada jaman Jepang, Sabdo Palon sebelumnya -- yang kini bersemayam dalam dirinya -- turut bersama balatentara Dai Nippon menyerbu Jawa, membebaskan tanah Jawa dari bangsa kulit putih. Akan tetapi naas di Singapura pesawat tempur Zero yang ditumpangi Sabdo Palon tertembak oleh musuh, seluruh awak tewas, tatkala itulah meloncatlah roh Sabdo Palon dari tubuh seseorang yang tewas dalam pesawat tersebut (orang Jepang!). Sabdo Palon yang memang hendak ke tanah Jawa konon mendarat seorang diri di kaki Gunung Merapi. Pesawat naas itu berangkat dari salah satu kota Jepang.
Kejayaan Nusantara dalam ramalan Sri Aji Joyoboyo akan terjadi tatkala munculnya kembali Sabdo Palon dan Noyo Genggong. Sabdo Palon alias Ki K pada 1980 mengatakan, "Kejayaan Nusantara yang lebih dahsyat daripada kerajaan Majapahit terwujud bila dunia mengalami goro-goro besar semacam perang dunia dahsyat atau bencana alam berskala besar, misalnya jatuhnya benda angkasa, meletusnya gunung berapi, dan lain-lain. Usai goro-goro terjadi maka dunia akan kembali seperti sediakala. Pada saat itulah tatanan politik dunia baru akan terbentuk dan jauh berbeda dari peta dunia modern sebelumnya. Pasca goro-goro itulah di Nusantara akan muncul Ratu adil dan Sabdo Palon berdampingan menentukan nasib Nusantara dan bumi bagian selatan (Man Yang) dalam satu tata pusat pemerintahan baru," demikian ucapan orisinil Sabdo Palon pada 1980.
Kapankah terjadinya goro-goro besar dan munculnya ratu adil? Pertanyaan itu akan terjawab setelah ada jawaban atas pertanyaan berikut, "Siapakah yang kini dipilih oleh Sang Hyang Wenang ing Jagad menjadi manusia pilihanNya sebagai wadag terbaru daripada reinkarnasi Sabdo Palon?"
Beliaulah sumber jawabannya.

1 Nov 2010 23:59
wong_edhan
Gembel Jalanan
Posts 6.667
Reputation: 609
Awards:
Facebook NetworkPembayar PajakAnti Child Po rnCharityFBI ManiaBlood DonationGood CitizenContributor

( Sabdo Palon Naya Genggong )

1.

Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang Negara Mojopahit, Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.

2.

Prabu Brawijaya berkata lemah-lembut kepada punakawannya: “Sabda palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu. Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.

3.

Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tidak masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dah Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah Jawa. Sudah digariskan kita harus berpisah.


4.

Berpisah dengan Sang Prabu kembali keasal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Buda lagi, saya sebar seluruh tanah Jawa.

5.

Bila tidak ada yang mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya..

6.

Lahar tesebut mengalir ke barat daya. Baunya tidak sedap. Itulah pratanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Budha. Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus berganti. Tidak dapat bila dirubah lagi.

7.

Kelak waktunya paling sengsara di tanah jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesti Aji (1.878 atau 1.877). Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang ditengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.

8.

Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.

9.

Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.

10.

Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang mnyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tetapi bila siang hari banyak begal.

11.

Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan Negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut masih berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.

12.

Bahaya penyakit luar biasa. Disana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir, sehingga bila dilihat persis lautan pasang.

13.

Seperti lautan meluap arinya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri, Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan bergemuruh suaranya.

14.

Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap kekanan serta kekiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.

15.

Gempa bumi 7 kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia masuk ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.

16.

Demikian kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi dirinya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin dirobah lagi.

——-0o0——

copypaste blogsana blogsini diingat kembali ada disini……..

Sabda Palon Naya Genggong

( Pupuh Sinom )

Pada sira ngelingana

Carita ing nguni-nguni

Kang kocap ing serat babad

Babad nagri Mojopahit

Naika duking nguni

Sang-a Brawijaya Prabu

Pan Samya pepanggihan

Kaliyan Njeng Sunan Kali

Sabda Palon Naya Genggong rencangira

Sang – a Prabu Brawijaya

Sabdanira arum manis

Nuntun dhateng punakwan

“Sabda palon paran karsi”

Jenengsun sapuniki

Wus ngrasuk agama Rosul

Heh ta kakang manira

Meluwa agama suci

Luwih becik iki agama kang mulya

Sabda Palon matur sugal,

“Yen kawula boten arsi,

Ngrrasuka agama Islam

Wit kula puniki yekti

Ratuning Dang Hyang Jawi

Momong marang anak putu,

Sagung kang para Nata,

Kang jemeneng Tanah Jawi,

Wus pinasthi sayekti kula pisahan”.

Klawan Paduka sang Nata,

Wangsul maring sunya ruri,

Nung kula matur petungna,

Ing benjang sakpungkur mami,

Yen wus prapta kang wanci,

Jangkep gangsal atus tahun,

Wit ing dinten punika,

Kula gantos kang agami,

Gama Budha kula sebar tanah Jawa.

Sinten tan purun nganggeya,

Yekti kula rusak sami,

Sun sajeken putu kula,

Berkasakan rupi-rupi,

Dereng lega kang ati,

Yen during lebur atempur,

Kula damel pratandha,

Pratandha tembayan mami,

Hardi Merapi yen wus rijeblug mili lahar.

Ngidul ngilen purugina,

Ngganda banger ingkang warih,

Nggih punika medal kula,

Wus nyebar Agama Budi,

Merapi janji mami,

Anggereng jagad satuhu,

Karsanireng Jawata,

Sadaya gilir gumanti,

Boten kenging kalamunta kaowahan.

Sanget-sangeting sangsara,

Kan tuwuh ing tanah Jawi,

Sinengkalan tahunira,

Lawon Sapta Ngesthi Aji,

Upami nyabrang kali,

Prapta tengah-tengahipun,

Kaline bajir bandhang,

Jerone ngelebne jalmi,

Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.

Bebaya ingkang tumeka,

Warata sa Tanah Jawi,

Ginawe kang paring gesang,

Tan kenging dipun singgahi,

Wit ing donya puniki,

Wonten ing sakwasanipun,

Sadaya pra Jawata,

Kinarya amertandhani,

Jagad iki yekti anak akng akarya.

Warna-warna kang bebaya,

Angrusaken Tanah Jawa,

Sagung tiyang nambut karya,

Pamedal boten nyekapi,

Priyayi keh beranti,

Sudagar tuna sadarum,

Wong glidhik ora mingsra,

Wong tani ora nyukupi,

Pametune akeh serna aneng wana,

Bumi ilang berkatira,

Ama kathah ingkang ilang,

Cinolong dening sujanmi,

Pan sisaknya nglangkungi,

Karana rebut rinebut,

Risak tetaning janma,

Yen dalu grimis keh maling,

Yen rina-wa kathah tetiyang ambegal.

Heru hara sakeh janma,

Rebutan ngupaya bukti,

Tan ngetang angering praja,

Tan tahan perihing ati,

Katungka praptaneki,

Pageblug ingkang linangkung,

Lelara ngambra-ambra.

Waradin saktanah Jawi,

Enjing sakit sorenya sampun pralaya.

Kasandung wohing pralaya,

Kaselak banjir ngemasi,

Udan barat salah mangsa,

Angin gung anggegirisi,

Kayu gung brasta sami,

Tinempuhing angina angun,

Katah rebah amblasah,

Lepen-lepen samya banjir,

Lamun tinon pan kados samodra bena.

Alun minggah ing daratan,

Karya rusak tepis wiring,

Kang dumunung kering kanan,

Kajeng akeh ingkang keli,

Kang tumuwuh apinggir,

Samya kentir trusing laut,

Sela geng sami brasta,

Kabalebeg katut keli,

Gumalundhung gumludhug suwaranira.

Hardi agung-agung samya,

Huru-hara nggeririsi,

Gumleger suwaranira,

Lahar wutah kanan kering,

Ambleber angelelebi,

Nrajang wana lan desagung,

Manugsanya keh brasta,

Kebo sapi samya gusis,

Surna gempang tan wenten mangga puliha.

Lindu ping pitu sedina,

Karya sisahing sujanmi,

Sitinipun samya nela,

Brekasakan kang ngelesi,

Anyeret sagung janmi,

Manungsa pating galuruh,

Kathah kang nandhang roga,

Warna-warni ingkang sakit,

Awis waras akeh kang praptng pralaya,

Sabda Palon nulya mukswa,

Sakedhap boten kaeksi,

Wangsul ing jaman limunan,

Langkung ngungun Sri Bupati,

Njegreg tan bisa angling,

Ing manah langkung gegetun,

Keduwung lepatira,

Mupus karsaning Dewadi,

Kodrat itu sayekti tan kena owah.

2 Nov 2010 00:00
wong_edhan
Gembel Jalanan
Posts 6.667
Reputation: 609
Awards:
Facebook NetworkPembayar PajakAnti Child Po rnCharityFBI ManiaBlood DonationGood CitizenContributor

Dalam upaya menelisik misteri siapa sejatinya Sabdo Palon, saya mengawali dengan mengkaji Serat Darmagandhul dan ramalan Sabdo Palon. Di sini tidak akan dipersoalkan siapa yang membuat karya-karya tersebut untuk tidak menimbulkan banyak perdebatan. Karena penjelasan secara akal penalaran amatlah rumit, namun dengan pendekatan spiritual dapatlah ditarik benang merahnya yang akan membawa kepada satu titik terang. Dan ini akhirnya dapat dirunut secara logika historis.
Menarik memang di dalam mencari jawab tentang siapakah Sabdo Palon ? Karena kata Sabdo Palon Noyo Genggong sebagai penasehat spiritual Prabu Brawijaya V ( memerintah tahun 1453 – 1478 ) tidak hanya dapat ditemui di dalam Serat Darmagandhul saja, namun di dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo (1135 – 1157) juga telah disebut-sebut, yaitu bait 164 dan 173 yang menggambarkan tentang sosok Putra Betara Indra sbb :
164.
…; mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho; ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong.
(…; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di bawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda; tajamnya tritunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong)
173.
nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha asung bhekti.
(menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi)
Serat Darmagandhul
Memahami Serat Darmagandhul dan karya-karya leluhur kita dibutuhkan kearifan dan netralitas yang tinggi, karena mengandung nilai kawruh Jawa yang sangat tinggi. Jika belum matang beragama maka akan muncul sentimen terhadap agama lain. Tentu ini tidak kita kehendaki. Tiada maksud lain dari saya kecuali hanya ingin mengungkap fakta dan membedah warisan leluhur dari pendekatan spiritual dan historis.
Dalam serat Dharmagandhul ini saya hanya ingin menyoroti ucapan-ucapan penting pada pertemuan antara Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon di Blambangan. Pertemuan ini terjadi ketika Sunan Kalijaga mencari dan menemukan Prabu Brawijaya yang tengah lari ke Blambangan untuk meminta bantuan bala tentara dari kerajaan di Bali dan Cina untuk memukul balik serangan putranya, Raden Patah yang telah menghancurkan Majapahit. Namun hal ini bisa dicegah oleh Sunan Kalijaga dan akhirnya Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Karena Sabdo Palon tidak bersedia masuk agama Islam atas ajakan Prabu Brawijaya, maka mereka berpisah. Sebelum perpisahan terjadi ada baiknya kita cermati ucapan-ucapan berikut ini :
Sabdo Palon :
“Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. … Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, …”
(“Paduka sudah terlanjur terperosok, mau jadi orang jawan (kehilangan jawa-nya), kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol, saya mau mencari asuhan yang bermata satu (memiliki prinsip/aqidah yang kuat), tidak senang mengasuh paduka. … Kalau paduka tidak percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya (Semar) itu saya, yang membuat kawah air panas di atas gunung itu semua adalah saya, …”)
Ucapan Sabdo Palon ini menyatakan bahwa dia sangat malu kepada bumi dan langit dengan keputusan Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Gambaran ini telah diungkapkan Joyoboyo pada bait 173 yang berbunyi :
“…, hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; …”
(“…, itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; …”). Dalam ucapan ini pula Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah sebenarnya yang dikatakan dalam kawruh Jawa dengan apa yang dikenal sebagai “Manik Maya” atau “Semar”.
“Sabdapalon matur yen arêp misah, barêng didangu lungane mênyang ngêndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nêtêpi jênênge Sêmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang. …..”
(“ Sabdo Palon menyatakan akan berpisah, begitu ditanya perginya kemana, jawabnya tidak pergi, akan tetapi tidak bertempat di situ, hanya menetapkan namanya Semar, yang meliputi segala wujud, membuatnya samar. …..”)
Sekali lagi dalam ucapan ini Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah yang bernama Semar. Bagi orang Jawa yang berpegang pada kawruh Jawa pastilah memahami tentang apa dan bagaimana Semar. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa Semar adalah merupakan utusan gaib Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Kuasa) untuk melaksanakan tugas agar manusia selalu menyembah dan bertaqwa kepada Tuhan, selalu bersyukur dan eling serta berjalan pada jalan kebaikan. Sebelum manusia mengenal agama, keberadaan Semar telah ada di muka bumi. Beliau mendapat tugas khusus dari Gusti Kang Murbeng Dumadi untuk menjaga dan memelihara bumi Nusantara khususnya, dan jagad raya pada umumnya. Perhatikan ungkapan Sabdo Palon berikut ini :
Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajêr Jawi, …..
….., dumugi sapriki umur-kula sampun 2.000 langkung 3 taun, momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, …..”
(Sabdo Palon berkata sedih: “Hamba ini Ratu Dhang Hyang yang menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun temurun sampai sekarang, hamba mengasuh keturunan raja-raja Jawa, …..
….., sampai sekarang ini usia hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, …..”)
Ungkapan di atas menyatakan bahwa Sabdo Palon (Semar) telah ada di bumi Nusantara ini bahkan 525 tahun sebelum masehi jika dihitung dari berakhirnya kekuasaan Prabu Brawijaya pada tahun 1478. Saat ini di tahun 2007, berarti usia Sabdo Palon telah mencapai 2.532 tahun. Setidaknya perhitungan usia tersebut dapat memberikan gambaran kepada kita, walaupun angka-angka yang menunjuk masa di dalam wasiat leluhur sangat toleransif sifatnya. Di kalangan spiritualis Jawa pada umumnya, keberadaan Semar diyakini berupa “suara tanpa rupa”. Namun secara khusus bagi yang memahami lebih dalam lagi, keberadaan Semar diyakini dengan istilah “mencolo putro, mencolo putri”, artinya dapat mewujud dan menyamar sebagai manusia biasa dalam wujud berlainan di setiap masa. Namun dalam perwujudannya sebagai manusia tetap mencirikan karakter Semar sebagai sosok “Begawan atau Pandhita”. Hal ini dapat dipahami karena dalam kawruh Jawa dikenal adanya konsep “menitis” dan “Cokro Manggilingan”.
Dari apa yang telah disinggung di atas, kita telah sedikit memahami bahwa Sabdo Palon sebagai pembimbing spiritual Prabu Brawijaya merupakan sosok Semar yang nyata. Menurut Sabdo Palon dalam ungkapannya dikatakan :
“…, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.”
(“…, apakah paduka lupa terhadap nama saya Sabdo Palon? Sabda artinya kata-kata, Palon adalah kayu pengancing kandang, Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan hamba itu berlaku sebagai pedoman hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”)
Seperti halnya Semar telah banyak dikenal sebagai pamomong sejati yang selalu mengingatkan bilamana yang di”emong”nya salah jalan, salah berpikir atau salah dalam perbuatan, terlebih apabila melanggar ketentuan-ketentuan Tuhan Yang Maha Esa. Semar selalu memberikan piwulangnya untuk bagaimana berbudi pekerti luhur selagi hidup di dunia fana ini sebagai bekal untuk perjalanan panjang berikutnya nanti. Jadi Semar merupakan pamomong yang “tut wuri handayani”, menjadi tempat bertanya karena pengetahuan dan kemampuannya sangat luas, serta memiliki sifat yang bijaksana dan rendah hati juga waskitho (ngerti sakdurunge winarah). Semua yang disabdakan Semar tidak pernah berupa “perintah untuk melakukan” tetapi lebih kepada “bagaimana sebaiknya melakukan”. Semua keputusan yang akan diambil diserahkan semuanya kepada “tuan”nya. Semar atau Kaki Semar sendiri memiliki 110 nama, diantaranya adalah Ki Sabdopalon, Sang Hyang Ismoyo, Ki Bodronoyo, dan lain-lain.
Di dalam Serat Darmogandhul diceritakan episode perpisahan antara Sabdo Palon dengan Prabu Brawijaya karena perbedaan prinsip. Sebelum berpisah Sabdo Palon menyatakan kekecewaannya dengan sabda-sabda yang mengandung prediksi tentang sosok masa depan yang diharapkannya. Berikut ungkapan-ungkapan itu :
“….. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.”
(“….. Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama Budha, keturunan Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang memahami kawruh Jawa) tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawi-nya hilang, suka ikut-ikutan bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin oleh orang Jawa (Jawi) yang mengerti.”
“….. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.”
(“….. Sang Prabu diminta memahami, suatu saat nanti kalau ada orang Jawa menggunakan nama tua (sepuh), berpegang pada kawruh Jawa, yaitulah yang diasuh oleh Sabda Palon, orang Jawan (yang telah kehilangan Jawa-nya) akan diajarkan agar bisa melihat benar salahnya.”)
Dari dua ungkapan di atas Sabdo Palon mengingatkan Prabu Brawijaya bahwa suatu ketika nanti akan ada orang Jawa yang memahami kawruh Jawa (tiyang Jawi) yang akan memimpin bumi nusantara ini. Juga dikatakan bahwa ada saat nanti datang orang Jawa asuhan Sabdo Palon yang memakai nama sepuh/tua (bisa jadi “mbah”, “aki”, ataupun “eyang”) yang memegang teguh kawruh Jawa akan mengajarkan dan memaparkan kebenaran dan kesalahan dari peristiwa yang terjadi saat itu dan akibat-akibatnya dalam waktu berjalan. Hal ini menyiratkan adanya dua sosok di dalam ungkapan Sabdo Palon tersebut yang merupakan sabda prediksi di masa mendatang, yaitu pemimpin yang diharapkan dan pembimbing spiritual (seorang pandhita). Ibarat Arjuna dan Semar atau juga Prabu Parikesit dan Begawan Abhiyasa. Lebih lanjut diceritakan :
“Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang.”
(“Sang Prabu berkeinginan merangkul Sabdo Palon dan Nayagenggong, namun orang dua itu kemudian raib. Sang Prabu heran dan bingung kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga : “Gantilah nama Blambangan menjadi Banyuwangi, jadikan ini sebagai tanda kembalinya Sabda Palon di tanah Jawa membawa asuhannya. Sekarang ini Sabdo Palon masih berkelana di tanah seberang.”)
Dari kalimat ini jelas menandakan bahwa Sabdo Palon dan Prabu Brawijaya berpisah di tempat yang sekarang bernama Banyuwangi. Tanah seberang yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah Pulau Bali. Untuk mengetahui lebih lanjut guna menguak misteri ini, ada baiknya kita kaji sedikit tentang Ramalan Sabdo Palon berikut ini.
Ramalan Sabdo Palon
Karena Sabdo Palon tidak berkenan berganti agama Islam, maka dalam naskah Ramalan Sabdo Palon ini diungkapkan sabdanya sbb :
3.
Sabda Palon matur sugal, “Yen kawula boten arsi, Ngrasuka agama Islam, Wit kula puniki yekti, Ratuning Dang Hyang Jawi, Momong marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jurneneng Tanah Jawi, Wus pinasthi sayekti kula pisahan.
(Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.)
4.
Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Mung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos kang agami, Gama Buda kula sebar tanah Jawa.
(Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.)
5.
Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajekken putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen durung lebur atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar.
(Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.)
6.
Ngidul ngilen purugira, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika medal kula, Wus nyebar agama budi, Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Boten kenging kalamunta kaowahan.
(Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.)
7.
Sanget-sangeting sangsara, Kang tuwuh ing tanah Jawi, Sinengkalan tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji, Upami nyabrang kali, Prapteng tengah-tengahipun, Kaline banjir bandhang, Jerone ngelebne jalmi, Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.
(Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.)
8.
Bebaya ingkang tumeka, Warata sa Tanah Jawi, Ginawe kang paring gesang, Tan kenging dipun singgahi, Wit ing donya puniki, Wonten ing sakwasanipun, Sedaya pra Jawata, Kinarya amertandhani, Jagad iki yekti ana kang akarya.
(Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.)
Dari bait-bait di atas dapatlah kita memahami bahwa Sabdo Palon menyatakan berpisah dengan Prabu Brawijaya kembali ke asal mulanya. Perlu kita tahu bahwa Semar adalah wujud manusia biasa titisan dewa Sang Hyang Ismoyo. Jadi ketika itu Sabdo Palon berencana untuk kembali ke asal mulanya adalah alam kahyangan (alam dewa-dewa), kembali sebagai wujud dewa, Sang Hyang Ismoyo. Lamanya pergi selama 500 tahun. Dan kemudian Sabdo Palon menyatakan janjinya akan datang kembali di bumi tanah Jawa (tataran nusantara) dengan tanda-tanda tertentu. Diungkapkannya tanda utama itu adalah muntahnya lahar gunung Merapi ke arah barat daya. Baunya tidak sedap. Dan juga kemudian diikuti bencana-bencana lainnya. Itulah tanda Sabdo Palon telah datang. Dalam dunia pewayangan keadaan ini dilambangkan dengan judul: “Semar Ngejawantah”.
Mari kita renungkan sesaat tentang kejadian muntahnya lahar gunung Merapi tahun lalu dimana untuk pertama kalinya ditetapkan tingkat statusnya menjadi yang tertinggi : “Awas Merapi”. Saat kejadian malam itu lahar merapi keluar bergerak ke arah “Barat Daya”. Pada hari itu tanggal 13 Mei 2006 adalah malam bulan purnama bertepatan dengan Hari Raya Waisyak (Budha) dan Hari Raya Kuningan (Hindu). Secara hakekat nama “Sabdo Palon Noyo Genggong” adalah simbol dua satuan yang menyatu, yaitu : Hindu – Budha (Syiwa Budha). Di dalam Islam dua satuan ini dilambangkan dengan dua kalimat Syahadat. Apabila angka tanggal, bulan dan tahun dijumlahkan, maka : 1 + 3 + 5 + 2 + 6 = 17 ( 1 + 7 = 8 ). Angka 17 kita kenal merupakan angka keramat. 17 merupakan jumlah raka’at sholat lima waktu di dalam syari’at Islam. 17 juga merupakan lambang hakekat dari “bumi sap pitu” dan “langit sap pitu” yang berasal dari Yang Satu, Allah SWT. Sedangkan angka 8 merupakan lambang delapan penjuru mata angin. Di Bali hal ini dilambangkan dengan apa yang kita kenal dengan “Sad Kahyangan Jagad”. Artinya dalam kejadian ini delapan kekuatan dewa-dewa menyatu, menyambut dan menghantarkan Sang Hyang Ismoyo (Sabdo Palon) untuk turun ke bumi. Di dalam kawruh Jawa, Sang Hyang Ismoyo adalah sosok dewa yang dihormati oleh seluruh dewa-dewa. Dan gunung Merapi di sini melambangkan hakekat tempat atau sarana turunnya dewa ke bumi (menitis).
SIAPA SEJATINYA “SABDO PALON NOYO GENGGONG” ?
Setelah kita membaca dan memahami secara keseluruhan wasiat-wasiat leluhur Nusantara yang ada di blog ini, maka telah sampai saatnya saya akan mengulas sesuai dengan pemahaman saya tentang siapa sejatinya Sabdo Palon Noyo Genggong itu. Dari penuturan bapak Tri Budi Marhaen Darmawan, saya mendapatkan jawaban : “Sabdo Palon adalah seorang ponokawan Prabu Brawijaya, penasehat spiritual dan pandhita sakti kerajaan Majapahit. Dari penelusuran secara spiritual, Sabdo Palon itu sejatinya adalah beliau : Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru yang akhirnya moksa di Pura Uluwatu.” (merinding juga saya mendengar nama ini)
Dari referensi yang saya dapatkan, Dang Hyang Nirartha adalah anak dari Dang Hyang Asmaranatha, dan cucu dari Mpu Tantular atau Dang Hyang Angsokanatha (penyusun Kakawin Sutasoma dimana di dalamnya tercantum “Bhinneka Tunggal Ika”). Danghyang Nirartha adalah seorang pendeta Budha yang kemudian beralih menjadi pendeta Syiwa. Beliau juga diberi nama Mpu Dwijendra dan dijuluki Pedanda Sakti Wawu Rawuh, beliau juga dikenal sebagai seorang sastrawan. Dalam Dwijendra Tattwa dikisahkan sebagai berikut :
“Pada Masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, tersebutlah seorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau dihormati atas pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran Agama Hindu dengan nama “Dharma Yatra”. Di Lombok Beliau disebut “Tuan Semeru” atau guru dari Semeru, nama sebuah gunung di Jawa Timur.”
Dengan kemampuan supranatural dan mata bathinnya, beliau melihat benih-benih keruntuhan kerajaan Hindu di tanah Jawa. Maksud hati hendak melerai pihak-pihak yang bertikai, akan tetapi tidak mampu melawan kehendak Sang Pencipta, ditandai dengan berbagai bencana alam yang ditengarai turut ambil kontribusi dalam runtuhnya kerajaan Majapahit (salah satunya adalah bencana alam “Pagunungan Anyar”). Akhirnya beliau mendapat petunjuk untuk hijrah ke sebuah pulau yang masih di bawah kekuasaan Majapahit, yaitu Pulau Bali. Sebelum pergi ke Pulau Bali, Dang Hyang Nirartha hijrah ke Daha (Kediri), lalu ke Pasuruan dan kemudian ke Blambangan.
Beliau pertama kali tiba di Pulau Bali dari Blambangan sekitar tahun caka 1411 atau 1489 M ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Dang Hyang Nirarta dijuluki pula Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan). Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan. Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.
Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat adalah : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Ulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dan lain-lain. Akhirnya Dang Hyang Nirartha menghilang gaib (moksa) di Pura Uluwatu. (Moksa = bersatunya atman dengan Brahman/Sang Hyang Widhi Wasa, meninggal dunia tanpa meninggalkan jasad).
Setelah mengungkapkan bahwa Sabdo Palon sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha, lalu bapak Tri Budi Marhaen Darmawan memberikan kepada saya 10 (sepuluh) pesan dari beliau Dang Hyang Nirartha sbb:
Tuwi ada ucaping haji, utama ngwangun tlaga, satus reka saliunnya, kasor ento utamannya, ring sang ngangun yadnya pisan, kasor buin yadnyane satus, baan suputra satunggal. ( bait 5 )
Ada sebenarnya ucapan ilmu pengetahuan, utama orang yang membangun telaga, banyaknya seratus, kalah keutamaannya itu, oleh orang yang melakukan korban suci sekali, korban suci yang seratus ini, kalah oleh anak baik seorang.
Bapa mituduhin cening, tingkahe menadi pyanak, eda bani ring kawitan, sang sampun kaucap garwa, telu ne maadan garwa, guru reka, guru prabhu, guru tapak tui timpalnya. ( bait 6 )
Ayahnda memberitahumu anakku, tata cara menjadi anak, jangan durhaka pada leluhur, orang yang disebut guru, tiga banyaknya yang disebut guru, guru reka, guru prabhu, dan guru tapak (yang mengajar) itu.
Melah pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane tong kaletehan, tong ada ngupet manemah, melah alepe majalan, batise twara katanjung, bacin tuara bakat ingsak. ( bait 8 )
Lebih baik hati-hati dalam berbicara, kepada semua orang, tak akan ternoda keturunannya, tak ada yang akan mencaci maki, lebih baik hati-hati dalam berjalan, sebab kaki tak akan tersandung, dan tidak akan menginjak kotoran.
Uli jani jwa kardinin, ajak dadwa nah gawenang, patut tingkahe buatang, tingkahe mangelah mata, gunannya anggon malihat, mamedasin ane patut, da jua ulah malihat. ( bait 10 )
Mulai sekarang lakukan, lakukanlah berdua, patut utamakan tingkah laku yang benar, seperti menggunakan mata, gunanya untuk melihat, memperhatikan tingkah laku yang benar, jangan hanya sekedar melihat.
Tingkahe mangelah kuping, tuah anggon maningehang, ningehang raose melah, resepang pejang di manah, da pati dingeh-dingehang, kranannya mangelah cunguh, anggon ngadek twah gunanya. ( bait 11 )
Kegunaan punya telinga, sebenarnya untuk mendengar, mendengar kata-kata yang benar, camkan dan simpan dalam hati, jangan semua hal didengarkan.
Nanging da pati adekin, mangulah maan madiman, patutang jua agrasayang, apang bisa jwa ningkahang, gunan bibih twah mangucap, de mangucap pati kacuh, ne patut jwa ucapang. ( bait 12 )
Jangan segalanya dicium, sok baru dapat mencium, baik-baiklah caranya merasakan, agar bisa melaksanakannya, kegunaan mulut untuk berbicara, jangan berbicara sembarangan, hal yang benar hendaknya diucapkan.
Ngelah lima da ja gudip, apikin jua nyemakang, apang patute bakatang, wyadin batise tindakang, yatnain twah nyalanang, eda jwa mangulah laku, katanjung bena nahanang. ( bait 13 )
Memiliki tangan jangan usil, hati-hati menggunakan, agar selalu mendapat kebenaran, begitu pula dalam melangkahkan kaki, hati-hatilah melangkahkannya, bila kesandung pasti kita yang menahan (menderita) nya.
Awake patut gawenin, apang manggih karahaywan, da maren ngertiang awak, waluya matetanduran, tingkahe ngardinin awak, yen anteng twi manandur, joh pare twara mupuang. ( bait 14 )
Kebenaran hendaknya diperbuat, agar menemukan keselamatan, jangan henti-hentinya berbuat baik, ibaratnya bagai bercocok tanam, tata cara dalam bertingkah laku, kalau rajin menanam, tak mungkin tidak akan berhasil.
Tingkah ne melah pilihin, buka anake ka pasar, maidep matetumbasan, masih ya nu mamilihin, twara nyak meli ne rusak, twah ne melah tumbas ipun, patuh ring ma mwatang tingkah. ( bait 15 )
Pilihlah perbuatan yang baik, seperti orang ke pasar, bermaksud hendak berbelanja, juga masih memilih, tidak mau membeli yang rusak, pasti yang baik dibelinya, sama halnya dengan memilih tingkah laku.
Tingkah ne melah pilihin, da manganggoang tingkah rusak, saluire kaucap rusak, wantah nista ya ajinnya, buine tong kanggoang anak, kija aba tuara laku, keto cening sujatinnya. ( bait 16 )
Pilihlah tingkah laku yang baik, jangan mau memakai tingkah laku yang jahat, betul-betul hina nilainya, ditambah lagi tiada disukai masyarakat, kemanapun di bawa tak akan laku, begitulah sebenarnya anakku.
Akhirnya bapak Tri Budi Marhaen Darmawan mengungkapkan bahwa dengan penelusuran secara spiritual dapatlah disimpulkan : “Jadi yang dikatakan “Putra Betara Indra” oleh Joyoboyo, “Budak Angon” oleh Prabu Siliwangi, dan “Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu” oleh Ronggowarsito itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Sabdo Palon, yang sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru. Pertanyaannya sekarang adalah: Ada dimanakah beliau saat ini kalau dari tanda-tanda yang telah terjadi dikatakan bahwa Sabdo Palon telah datang ? Tentu saja sangat tidak etis untuk menjawab persoalan ini. Sangat sensitif… Ini adalah wilayah para kasepuhan suci, waskitho, ma’rifat dan mukasyafah saja yang dapat menjumpai dan membuktikan kebenarannya. Dimensi spiritual sangatlah pelik dan rumit. Tidak perlu banyak perdebatan, karena Sabdo Palon yang telah menitis kepada “seseorang” itu yang jelas memiliki karakter 7 (tujuh) satrio seperti yang telah diungkapkan oleh R.Ng. Ronggowarsito, dan juga memiliki karakter Putra Betara Indra seperti yang diungkapkan oleh Joyoboyo. Secara fisik “seseorang” itu ditandai dengan memegang sepasang pusaka Pengayom Nusantara hasil karya beliau Dang Hyang Nirartha.”
“Kesimpulan akhirnya adalah : Putra Betara Indra = Budak Angon = Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu seperti yang telah dikatakan oleh para leluhur Nusantara di atas adalah sosok yang diharap-harapkan rakyat nusantara selama ini, yaitu beliau yang dinamakan “SATRIO PININGIT”. Jadi, Satrio Piningit (SP) = adalah seorang Satrio Pinandhito (SP) = yaitulah Sabdo Palon (SP) = sebagai Sang Pamomong (SP) = dikenal juga dengan nama Semar Ponokawan (SP) = pemegang pusaka Sabdo Palon (SP) = berada di “SP” (?) = tepatnya di daerah “SP” (?) = dimana terdapat “SP” (?) = dengan nama “SP” dan “SP” (?) . Satrio Piningit tidak akan sekedar mengaku-aku bahwa dirinya adalah seorang Satrio Piningit. Namun beliau akan “membuktikan” banyak hal yang sangat fenomenal untuk kemaslahatan rakyat negeri ini. Kapan waktunya ? Hanya Allah SWT yang tahu. Subhanallah… Masya Allah la quwata illa billah…”
Dari apa yang telah saya ungkapkan sejauh ini mudah-mudahan membawa banyak manfaat bagi kita semua, terutama hikmah yang tersirat dari wasiat-wasiat nenek moyang kita, para leluhur Nusantara. Menjadi harapan kita bersama di tengah carut-marut keadaan negeri ini akan datang cahaya terang di depan kita. Semoga Allah ridho.

2 Nov 2010 05:15
jirep@sem
PENGELANA
Posts 3.924
Reputation: 431
Awards:
Pembayar PajakFacebook NetworkAnti Child Po rnMember ChoiceFBI Mania

Kumpas lebih tuntas lagi mbah dari kaca mata supranatural nya si mbah Blah

2 Nov 2010 14:41
brainwashed
Jendral
Posts 9.726
Reputation: 101
Awards:

SP orang mengatakan Semarang Pinggiran.

Semarang = semar / samar samar.
Pinggiran = tidak jadi pusat perhatian / tersisih.

jadi sabdo palon tersebut ada disebuah tempat yang samar dan tersisih.
ibaratnya ngumpet di tempat yang terang.

kalo ngumpet di tempat yang gelap itu maling..........Ngakak

7 Nov 2010 08:40
gentala_agni
Kapten
Posts 1.234
Reputation: 52
Awards:
Facebook NetworkGood CitizenCharity

orang jawa yang hilang kejawaannya Think Think






signature
susah adalah bagian dari cambuk kehidupan, tatalah laku spiritual dgn mau bersusah payah,jangan hanya mau yg mudah2 saja.


   New reply




User(s) browsing this thread:
1 Guest(s)

Forum Bebas Indonesia
Demokrasi & Kebebasan temukan jalannya!
Respecting others will make you happy here
© 2004-2013 by Adimin | Fan Page | Group Discussion | Twitter | Google+ | Instagram