Current time: 18 Apr 2014, 20:18 Hello There, Guest! LoginRegister
ForumBebas.com / ACI / Berita Bangga Indonesia / Belajar Bahasa Indonesia / Seni Unggulan Jawa Barat



REPLY 
 
Thread Rating:
  • 126 Votes - 2.97 Average


  
Gun FBI
22 Feb 2008 02:16    #1

Letkol

1. Kota Bandung
Benjang, Angklung, Jaipongan, Reak, Pantun Buhun, Sandiwara, Tembang Sunda Cianjuran, Calung, Calempungan, Degung, Debus, Gondang, Jenaka Sunda, Kliningan, Kuda Lumping, longser, Pencak Silat Tayub, Tari Keurseus, Wayang golek, Qasidah, Arumba, Reog, Forum Sastra Bandung, Studi Barli, Studio Jeihan, Nasyid, Pop Sunda, Gending Karesemen, Wayang Purwa

2. Kabupaten Bandung
Ujungan, Beluk, Wayang golek, Longser, Badawang, Angklung Buncis, Gamelan Renteng, Bangkong Reang, Bangkong Ciseke, Wawacan, Janaka sunda, Buncis, Calung, Lukisan Khas Jelekong, Celempungan, Tembang Sunda Cianjuran, Degung, Debus, Gondang, Jaipongan, Kliningan, Kuda Lumping, Kuda Renggong, Kacapi Suling, Pencak Silat, Pantun, Rudat, Reog, Sandiwara, Tayub, Kacapi Biola, Seni Rupa.

3. Kota Cimahi
Wayang Ibuk, Angklung, Seni Lukis.

4. Kabupaten Garut
Lais, Bangkolung, Badeng, Surak Ibra, Hadro, Tembang Cigawiran, Dodombaan, Gesrek, Pantun Beton, Bangreng, Rampak Kohkol, Gembyung, Karinding, Reog, Buncis, Rudat, Pencak Silat, Dug Kol, Calung, Wayang golek, Degung.

5. Kota Tasikmalaya
Degung, Orkes Melayu, Angklung, Bangkolung, Qasidah, Calung, Silat, Reog, Kuda Lumping.

6. Kabupaten Tasikmalaya
Upacara sepitan, Gusaran, Buncis, Sunatan Buhun di Pilemburan, Nyawen, Dug Kol Reog Aneka Jaya, Terebang Gesek, Terebang Gebes, Rudat, Rajah(Tumbal), Beluk, Calung Renteng, Karinding, Jajanen, Terebang Sejak, Pencak Silat, Qasidah, Kutiplak.

7. Kabupaten Ciamis
Ronggeng Gunung, Genjring Bonyok Tepak Lima, Badud, Janeng, Gondang Buhun, Tayub, Karinding, Beluk, Reog Dongkol, Celempungan, Tari Badaya, Ronggeng Amen, Drama, Wayang Golek, Calung, Degung, Kuda Lumping, Bangseter (Kacapi Siter), Sandiwara, Manorek, Seni Silat, Akrobat, Qasidah, Gemyung, Tanjidor, Ketoprak, Wayang Kulit, Sintren, Rudat, Rampak Bedug, Singa Depok, Langgeran (Prajurit tari), Angklung Buncis, Lebon, Pantun, Bongbong (Maca Wawacan), Bangklung (Terbang Calung), Tepak Lima, Jimrut/Caria, Egrang, Seni Lais, Ronggeng Kreasi, Debus, Janaka Sunda, Karesmen Adat, Angguk, Arumba, Kuda Kepang, Kacapi Sunda (Cianjuran), Rengkong, Tari Klasik, Tari Kreasi, Ronggeng Kreasi, Rudat, Duggig.

8. Kota Banjar
Calung, Wayang kulit, Sintren, Wayang Golek, Calung, Reog, Degung, Orkes Melayu, Silat, Akrobat, Gondang Buhun, Gonggo (Teater Tradisional), Hadrlroh (Tagonian Bahasa Jawa), Teater.

9. Kabupaten Sumedang
Bangreng, Kuda Renggong, Jentreng/ Tarawangsa, Goong Renteng, Rengkong, Sampyong, Beluk, Kuda lumping, Umbul, Rampak Sekar, Genjring, Reog, Reak/Buncis, Celempungan, Pantun Beton, Kacapi, Tembang/Cianjuran, Munduh Mantu, Lais, Mapag Panganten Arumba, Tayub, Lontang, Longser Parugpug.

10. Kabupaten Cianjur
Karinding, Bangkong Reang, Kuda Lumping, Bedor, Calung modern, Seni Dulak, Reak, Tutunggulan, Rampak Kohkol.

11. Kabupaten Sukabumi
Bedug lojor, Betok, Cador, Gekbreng, Gondang buhun, Jipeng, Pantun Buhun, Parebut Seeng, Kliningan, Degung, Kacapi Suling, Kacapi Lawak, Orkes Melayu, Band, Qasidah, Vokal Group, Mawalan, Angklung, Sandiwara, Wayang Golek, Topeng, Ketuk Tilu Buhun, Buncis, Kuda Lumping, lais, Cepet, Ubrug, Bangkolung, Debus, Ujungan Kuda Kepang, Reak, Uyeg, Reog, Calung, Lukis.

12. Kota Sukabumi
Uyeg Baru, Degung, Kliningan, Kacapi suling, Orkes Melayu, band, Qasidah, Calung, Reog, Pencak Silat, Gotong Sisig, Betok.

13. Kota Bogor
Tari Payung Padjadjaran, Tari Ular, Tunil Bogor, Cador, Janaka Sunda, Qasidah.

14. Kabupaten Bogor
Lenong, Ajeng, Blantek, Angklung Gubrag, Kendang Pencak Cimandean, Tanji, Pantun Buhun, Jipeng, Cibatokan.

15. Kabupaten Majalengka
Tari Topeng Beber, Seni reog, Seni Gemyung, Jenaka Sunda, Seni Longser, Sampyong, Organ Tunggal, Jaipong kombinasi, Qasidah Modern, Seni Kuda Renggong, Orkes Melayu, Wayang Purwa, Musikalisasi Puisi (Konser Kampung), Aneka Seni Teater Modern, Gaok.

16. Kabupaten Cirebon
Goong Renteng, Jaran Lumping, Genjring Atraksi, Pantun, Tari Baksa, Bray Terbang Gembyung, Tekes/ Sobrah, Topeng Lakon, Topeng Losari

17. Kota Cirebon
Topeng Tayub, Wayang Cirebon, Debus Cirebon, Sintren, Lais, Tarling Klasik, Rudat, Mastres, Topeng Beling.

18. Kabupaten Kuningan
Buroq, Cingcowong, Bray Terbang Gembyung, Goong Renteng, Panahan, Pesta Dadung, Rudat, Saptonan, Sintren, Tari Buyung, Tari Baksa, Kemprongan.

19. Kabupaten Indramayu
Tarling Dangdut, Sandiwara, Sintren, Organ Tunggal, Kuda Lumping, Singa Gotong, Singa Dangdut, Topeng, Silat Macapat, Qasidah, Genjring Rudat Akrobat, Terbang Randu Kentir.

20. Kabupaten Subang
Dongbret, Genjring bonyok, Sisingaan, Banjet, Doger, Bajidoran, Rengkong, Tayub, Goong Renteng, Lokat, Jajangkungan, Topeng Jati, Gembyung Buhun, Sintren, Adem ayem, Burok, Kikijingan, Beluk, Kuda Kepang, Kecapi Biola, Kliningan, Toleat.

21. Kabupaten Purwakarta
Buncis Purwakarta, Tung Brung, Ngaleungeuh Pare, Celempungan, Cador, Bajidoran, Pencak Silat, Degung, Jaipongan, Cianjuran, Rampak Sekar, Calung, Beluk, Seni Ulin Kobongan, Kuntulan, Sandiwara.

22. Kabupaten Karawang
Topeng Banjet, Ajeng, Ketuk Tilu, Jombret/Dongbret, Qasidah Tradisional, Kliningan, Tanji, Calung, Bajidoran, Gotong singa, Wayang Golek Purwa, Jaipongan, Pupuh, Degung, Paduan Suara, Kacapi Suling, Drum Band, Reog, Pesta Laut, Tarian Soja.

23. Kabupaten Bekasi
Tanjidor, Topeng, Calung, Wayang Golek, Wayang Kulit, Jaipongan, Kliningan, Degung, Qasidah, Tari, Teater, Teater Lenong, Vokal Grup.

24. Kota Bekasi
Topeng, Topeng Tambun, Wayang Kulit, Wayang Kulit Gaya Surakarta, Ujungan, Calung, Degung, Tanji, Jaipongan, Kliningan.

25. Kota Depok
Wayang Kulit Melayu, Seni Lenong, Topeng Cisalak, Ajeng, Degung, Orkes Melayu, Dangdut, Qasidah, Wayang Golek, Kliningan.`
banner
Gun FBI
22 Feb 2008 02:19    #2

Letkol

PEMBAGIAN KULTUR DI JAWA BARAT

KULTUR PRIANGAN

Kultur alam Priangan adalah daratan tinggi berbukit- bukit landai dan terkadang juga tajam dengan lembah yang curam. Udaranya sejuk segar, zaman dulu bangsa Belanda memanfaatkan keadaan alam Priangan menjadi suatu daerah perkebunan teh dan karet, hingga saat kini kita dapat menjumpai sisa-sisa perkebunan yang membalut sebagian perbukitan alam Priangan. Sebagai peninggalan kerajaan Padjadjaran yang pernah jaya, kreativitas seni budaya Priangan adalah tubuh sosok seni yang terkenal lemah gemulai, lengkingan suling serta dibalut oleh merdunya suara Priangan mendayu-dayu seperti semilirnya angin perbukitan.

Tinggalan lain berasal dari peninggalan Prabu Siliwangi yaitu seorang Pemangku Tahta Kerajaan Padjadjaran yang legendaris, kini mahkotanya tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun Kabupaten Sumedang, sedangkan tinggalan lainnya adalah Candi Cangkuang di Leles Garut dengan gaya arsitektur Hindu peninggalan abad ke 8. Upacara- upacara adat Priangan ada yang telah dimodifikasi agar lebih menarik dan menjadi seni pertunjukan untuk dipersembahkan kepada khalayak, misalnya upacara perkawinan dan bentuk prosesi lainnya.

Kreativitas lainnya adalah Angklung yang telah diangkat menjadi citra musik Indonesia. Angklung telah berhasil memikat perhatian bangsa lain di luar negeri. Para penggemar selalu mengharapkan agar setiap misi kesenian Indonesia yang akan digelar di luar negeri senantiasa menyertakan angklung pada bagian acara yang disajikan, kita patut bangga karena dimana angklung bergetar, disana terdapat ciri Indonesia. Demikian memasyarakatnya angklung di Jawa Barat, karena semula angklung adalah alat musik tradisional masyarakat Jawa Barat yang kemudian diangkat oleh Pak Daeng Sutigna dengan “Angklung Diatonis”. Kini hampir setiap sekolah dan Perguruan Tinggi mempunyai perkumpulan angklung yang siap disuguhkan. Untuk meningkatkan citra angklung di Indonesia khususnya Jawa Barat, ITB telah menyelenggarakan seminar tentang Panduan Angklung yang menghadirkan para pembicara “Pakar Kebudayaan Tingkat Nasional”. Untuk mengetahui cara pembuatan angklung, Saung Angklung Udjo Ngalagena di Padasuka Bandung siap setiap saat dan tak pernah sepi dari para pengunjung baik nusantara maupun asing. Beberapa jenis kesenian lainnya yang siap dikemas agar menarik para pelancong diantaranya Tari Keurseus, Tayuban, Jaipongan, Silat, Ketuk Tilu, Cianjuran, dan Longser. Dalam aspek seni rupa, Bandung adalah salah satu daerah yang menjadi potensi nasional disamping Bali, Yogyakarta, dan Jakarta. Di Bandung juga terdapat Galeri-galeri yang siap menyuguhkan pameran seni rupa dan desain. Demikian pula dalam seni arsitektur dan desain, Bandung adalah termasuk kota mode di Indonesia.

Untuk mengetahui cara pembuatan angklung, Saung Angklung Udjo Ngalagena di Padasuka Bandung siap setiap saat dan tak pernah sepi dari para pengunjung baik nusantara maupun asing. Beberapa jenis kesenian lainnya yang siap dikemas agar menarik para pelancong diantaranya Tari Keurseus, Tayuban, Jaipongan, Silat, Ketuk Tilu, Cianjuran, dan Longser. Dalam aspek seni rupa, Bandung adalah salah satu daerah yang menjadi potensi nasional disamping Bali, Yogyakarta, dan Jakarta. Di Bandung juga terdapat Galeri-galeri yang siap menyuguhkan pameran seni rupa dan desain. Demikian pula dalam seni arsitektur dan desain, Bandung adalah termasuk kota mode di Indonesia.


KULTUR KALERAN

Kultur Kaleran terletak memanjang di tepi Pantai Utara Pulau Jawa, mulai dari daerah Bekasi, Subang, dan Karawang. Kultur ini merupakan perpaduan dari kultur Cirebon, Kultur Priangan, dan pengaruh dari Betawi. Sifat dan temperamen masyarakat pantai yang terbuka melahirkan berbagai kreativitas seni budaya yang berkarakter erotik. Daerah Karawang terkenal dengan Banjet dan Tanji, Subang terkenal dengan Gotong Singa, Bekasi terkenal dengan Topeng Tambun, serta kesenian-kesenian lain yang melengkapi potensi budaya daerah Jawa Barat.

Kesenian dapat diartikan sebagai hasil karya manusia yang mengandung keindahan dan dapat diekspresikan melalui suara, gerak, ataupun ekspresi lainnya. Jawa Barat memiliki sejumlah asset seni budaya yang potensial, antara lain meliputi karawitan, teater, seni tari, seni rupa, dsb. Menurut jenisnya Jawa Barat memiliki 391 jenis seni pertunjukkan yang diolah oleh sekitar 49.023 seniman atau 3.424 organisasi seni dan tersebar di 25 kabupaten/kota.

Pelestarian, pengembangan, serta pemanfaatan asset seni budaya Jawa Barat secara resmi telah ditetapkan dalam Perda Propinsi Jawa Barat nomor 6 tahun 2003 tentang Pemeliharaan Kesenian, dan diundangkan dalam Lembaran Daerah Tahun 2003 nomor 6 Seri E. Dimana Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat merupakan Dinas yang bertanggung jawab di bidang pemeliharaan kesenian. Secara terus menerus Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berusaha untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pemeliharaan kese-nian tradisional, kontemporer, maupun modern sebagai salah satu sumber kekuatan peta budaya daerah Jawa Barat dan sekaligus dapat dijadikan daya tarik wisata. tentang Pemeliharaan Kesenian, dan diundangkan dalam Lembaran Daerah Tahun 2003 nomor 6 Seri E. Dimana Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat merupakan Dinas yang bertanggung jawab di bidang pemeliharaan kesenian. Secara terus menerus Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berusaha untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pemeliharaan kese-nian tradisional, kontemporer, maupun modern sebagai salah satu sumber kekuatan peta budaya daerah Jawa Barat dan sekaligus dapat dijadikan daya tarik wisata.


KULTUR CIREBON

Sebagai daerah yang terletak pada perbatasan antara Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah, proses akulturasi antara dua kultur masyarakat Sunda dan Jawa tidak dapat terhindar lagi. Kedua kultur tadi kemudian menjadi satu, dan kemudian melahirkan sub kultur mandiri, hal ini dapat terlihat jelas dari bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat Cirebon dan Indramayu. Perjalanan sejarah pada abad 14 dan 15 dimana daerah ini menjadi pusat pengembangan agama Islam, juga turut mewarnai kultur Cirebon. Pengaruh agama Islam mengakar pada relung-relung kalbu masyarakat.

Nilai- nilai tradisi dan warna kesenian tradisional Cirebon selalu berdasarkan falsafah agamis.

Beberapa peninggalan diantaranya rebana digunakan dalam susunan waditra pada sebagian besar kesenian tradisional. Kemudian situs peninggalan sejarah dan purbakala tersebar di seluruh wilayah Cirebon. Makam Sunan Gunung Jati yang dihiasi dengan berbagai bentuk keramik peninggalan masa pemerintahan Kaisar Ming dan Song dari daratan Tiongkok menunjukan adanya pengaruh Cina yang melekat di daerah Cirebon yang merupakan peninggalan Putri Ong Tin Nio yang dipersunting Sunan Gunung Jati. Sedangkan Gua Sunyaragi yang dirancang oleh arsitek Cina yang bernama Sam Cay Kong merupakan tempat peristirahatan pada masa lalu. Sebagai peninggalan kesultanan, Cirebon memiliki empat buah keraton, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Kaprabonan. Setiap setahun sekali keraton-keraton tersebut diramaikan dengan upacara-upacara tradisional “Muludan” yang berintikan “Turun Jimat”. Sedangkan di daerah tempat sepanjang pantai, para nelayan berlabuh setiap tahun menyelenggarakan “Nadran“(Pesta Laut), yaitu mempersembahkan sasajen kepada penguasa laut. Nilai-nilai lainnya, terlihat pada upacara ritual yang diselenggarakan masyarakat terutama di pedesaan yakni upacara adat “Daur kehidupan manusia” dan upacara yang berkaitan dengan nilai-nilai tradisional, serta unsur kesenian daerah serta adat
banner
240885
24 Feb 2008 09:15    #3

Kopka

test doank
Wow
banner
Gun FBI
4 Mar 2008 22:46    #4

Letkol

Angklung
http://forumbebas.com/viewtopic.php?id=30833

Benjang
Seni benjang merupakan seni khas Ujungberung. Berasal dari seni rudat yang berkembang menjadi seni genjring dan sei yang bernafaskan Islam yang disebut kedut. Seni gedut berkembang lagi menjadi seni terbangan yang erdiri atas seni hujungan, seredan, dan gesekan.

Seni benjang terdiri atas Benjang Helaran (seni arak-arakan), Topeng Benjang (seni pertunjukan), serta Benjang Gulat (seni beladiri). Benjang Helaran adalah bentuk seni arak-arakan untuk mengarak anak sunat yang akan dikhitan, seni ini bertopang pada budaya Islam dan mistis. Kedua budaya yang unik, mengejutkan, menakutkan, sekaligus menyenangkan. Topeng Benjang, adalah bentuk tari topeng yang digelar pada akhir pertunjukan benjang helaran. Tarian ini dimainkan oleh seorang penari yang memainkan beberapa peran sekaligus; peran raksasa, satria, putrid dan emban. Perubahan karakter tersebut ditandai dengan pergantian topeng yang dikenakan oleh sang penari. Benjang Gulat, adalah seni beladiri yang memiliki gerakan olahraga mirip gulat, karena itulah disebut benjang gulat. Sebagai bentuk olahraga kompetisi, gulat memiliki kaidah pertandingan yang berlandaskan nilai-nilai sportifitas yang tinggi. Seni beladiri ini bersifat komunikatif, konvergentif, sehingga menciptakan hubungan yang integral antara penonton and tontonannya.

[Image: benjangtx2.jpg]

Celempungan
Seni ini terdiri atas kecapi salendro, rebab, kendang, serta goong. Instrumen ini dibutuhkan untuk mengiringi seorang juru kawih; kadang-kadang dalam pertunjukannya cukup hanya sebuah pertunjukan instrumentalia saja.

Lagu-lagunya bisa lagu klasik salendro seumpama bayu-bayu, kulu-kulu bem, sanga, banjaran, gendu, bisa pula lagu-lagu hasil reka cipta baru.

Selama ini seni celempungan bisa dimasukkan ke dalam seni kamer, yakni seni yang membutuhkan apresiasi uang cukup terkonsentrasi seperti halnya seni Tembang Sunda Cianjuran. Bahkan seni celempungan ini kerap kalo mengawihkan lagu-lagu panambih Cianjuran yang berlaras salendro.

Degung
Seni Degung adalah suatu seni karawitan Sunda yang menggunakan perangkat gamelan berlaras degung (lebih umum berlaras pelog). Pada umumnya gamelan ini terdiri atas saron, panerus, bonang, jengglong, gong, kendang, goong, serta suling.

Pada awal kemunculannya, seni degung ini memiliki lagu-lagu ageing seperti Lambang, Pajajaranm Beber Layar, Bima Mobos, Kodehel, Jipang Prawa, Jipang Karaton, Mayaselas, dan lain lain.

Dalam perkembangannya lewat sentuhan kreasi para seniman, kerao terjadi kreasi komposisi lagu seperti catrik, sinyur, banjaran, lalayaran, dan sebagainya. Dari komposisi tersebut, maka muncullah lagu-lagu degung wanda anyar seperti lagu Kalangkang (catrik), Nimang (Sinyur), Asa Tos Tepang (Catrik), Anjeun (mandiri). Bahkan, masih atas kreasi seniman pula, gamelan degung sekarang kerap dibubuhi kacapi siter dan bisa mengiring lagu-lagu berlaras sorong seperti Potret Manehna, Dua Saati, Kapaut Imut, Kacipta Kapiati, Bantang Kuring, dan lain-lain

[Image: degungkacapiannj2.jpg]

Kecapian
Seni kacapian adalah seni kawih Sunda yang menggunakan alat musik kacapi siter, suling, kendang, dan goong. Kadang-kadang menggunakan waditra rebab jika diperlukan. Bahkan, seni ini sangat potensial ketika harus diiringi hanya dengan sebuah alat kecapi siter saja.

Kacapian menemui puncaknya pada zaman Koko Koswara atau populer dengan nama Mang Koko. Lewat kreasi Mang Koko, muncul kawih-kawih kacapian yang kemudian popular seperti Imut Malati, Reumis Beureum dina Eurih, Kembang Tanjung Panineungan, Girimis Kasorenakeun, Tina Jandela, Bulang Bandung, Panineungan, Di Langit Bandung Bulan Keur Mayung, Angkrek Japati, Kembang Impian, dan lain-lain.

Dalam perkembangannya, wanda kacapian ini mengalami pengembangan yang cukup pesat melalui kreasi para seniman seperti Nano S, Ubun Kubarsah, Yus Wiradireja, Iik Setiawan, Wahyu Roche, dan yang lainnya. Maka muncullah lagu-lagu baru karya Nano S. seperti: Citarum, Sariring Puspa, Bingbang, Tibelat, Praspris, Pengkolan, atau lagu-lagu karya Ubun dan Yus seperti: Dalingding Asih, Duh Ieung, Saha Eta, Bongan Saha, Yeuh Bade Ka Mana, Cimata Kuring, Jempling Peuting, dan lain-lain.

Hingga kini, degung, dan kacapian cukup popular di masyarakat. Selain lewat pergelaran-pergelaran dan kegiatan pasanggiri, ketiga seni tersebit cukup popular pula dipentaskan pada acara resepsi perkawinan.


Kuda Lumping
Kuda Lumping adalah seni yang menggunakan kuda-kudaan. Dulu, kuda-kudaan tersebut dibuat dari bilik (anyaman bambu). Menggunakan bahan bilik karena bahan tersebut mudah dikibas-kibaskan untuk memunculkan gerakan meliuk-liuk seperti halnya seekor kuda yang tengah menari.

Seni diiringi oleh musik gamelan dan terkadang oleh musik kendang pencak. Kuda-kudaan tersebut dikenakan oleh seorang pemain di mana prakteknya tak ubahnya dengan seseorang tengah menunggangi seekor kuda, Pemain tersebut menari dengan mngibas-ngibaskan kuda-kudaan dalam iringan musik.

Dipergelarkan di sebuah lapangan. Dalam pergelarannya, seni kuda lumping biasanya terdiri atas lebih dari dua orang pemain. Hal ini diupayakan agar tontonan bisa menarik perhatian, karena dengan diikuti lebih dari dua orang, keseragaman tarian terkadang menjadi salah satu daya tarik tampilan.

Dalam akhir pertunjukan, atau setelah para pemain merasa cukup menarikan kuda-kudaan tersebut, kerap diakhiri dengan pertunjukan atraktif yang mempertontonkan kekuatan. Terkadang, pertunjukan ini banyak menampilkan hal-hal magis, seperti pertunjukan mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Seni ini dipentaskan dalam perayaan khitanan.

[Image: kudalumping1ho2.jpg]


Tembang Sunda Cianjuran
Tembang Sunda Cianjuran adalah satu seni tembang Sunda yang terdapat di Jawa Barat di samping seni tembang Cigawiran, Ciawian, kakawihan barudak, nadoman, atau kawuh urang lembur.
Seni ini didukung oleh alat musik kecapi indung (kacapi parahu), kacapirincik, suling, rebab, dan dibawakan oleh juru tembang.

Disebut tembang Sunda Cianjuran karena seni ini lahir di daerah Kabupaten Cianjur yang menemui masa keemasan saat zaman Kangjeng Pancaniti menjadi bupati Cianjur. Materi tembang Sunda Cianjuran adalah dangding-dangding yang terbangun atas pupuh Kinanti, Asmarandana, Sinom, serta Dangdanggula. Wanda dedegungan menggunakan pupuh Durma dan Wirangrong.

Tembang Sunda Cianjuran memiliki empat laras yakni laras Pelog, Sorog, Mandalungan, dan Salendro. Keempat laras ini terakomodasikan pada enam wnda yakni Papantunan, Jejemplangan, Dedegungan, Rarancagan, Kakawen, serta Panambah. Untuk beberapa para ahli, kadang muncul pula wanda Mangu-mangu, seperti tambang Cianjuran R. Ace Hasan Su’eb yaitu lagu Mangu-mangu, Tejamantri, Salaka Domas, dan Goyong.

[Image: tembangsundacianjuranqe6.jpg]
banner
Gun FBI
4 Mar 2008 22:51    #5

Letkol

Sisingaan, Gembyung, Toleat
http://forumbebas.com/viewtopic.php?id=29558
banner
herufbi
5 Mar 2008 22:57    #6

Kolonel

Ari Mojang Geulis ti mana Kang Confused
banner
Gun FBI
6 Mar 2008 02:13    #7

Letkol

disebat mojang geulis teh anu rupana hegar kana panon jang Big Grin eta mah rek ti beulah kidul, kulon, wetan jeung kaler sami... Tongue
banner
Gun FBI
7 Mar 2008 23:42    #8

Letkol

TANJIDOR

(dari http://www.bamu.dikmentidki.go.id )

OrkesTanjidor sudah tumbuh sejak abad ke 19, berkembang di daerah pinggiran. Menurut beberapa keterangan, orkes itu berasal dari orkes yang semula dibina dalarn lingkungan tuan-tuan tanah, seperti tuan tanah Citeureup, dekat Cibinong.

Pada umumnya alat-alat musik pada orkes Tanjidor terdiri dari alat musik tiup seperti piston (cornet a piston), trombon, tenor, klarinet, bas, dilengkapi dengan alat musik pukul membran yang biasa disebut tambur atau genderang. Dengan peralatan tersebut cukup untuk mengiringi pawai atau mengarak pengantin.

Untuk pergelaran terutama yang ditempat dan tidak bergerak alat-alatnya sering kali ditambah dengan alat gesek seperti tehyan, dan beberapa membranfon seperti rebana, bedug dan gendang, ditambah pula dengan beberapa alat perkusi seperti kecrek, kempul dan gong.

Lagu-lagu yang biasa dibawakan orkes tanjidor, menurut istilah setempat adalah “Batalion”, “Kramton” “Bananas”, “Delsi”, “Was Tak-tak”, “Cakranegara”, dan “Welmes”. Pada perkembangan kemudian lebih banyak membawakan lagu-lagu rakyat Betawi seperti Surilang “Jali-jali dan sebagainya, serta lagu-lagu yang menurut istilah setempat dikenal dengan lagu-lagu Sunda gunung, seperti “Kangaji”, “Oncomlele” dan sebagainya.

Grup-grup Tanjidor yang berada di wilayah DKI Jakarta antara lain dari Cijantung pimpinan Nyaat, Kalisari pimpinan Nawin, Pondokranggon pimpinan Maun, Ceger pimpinan Gejen.

Daerah penyebaran Tanjidor, kecuali di daerah pinggiran kota Jakarta, adalah di sekitar Depok, Cibinong, Citeureup, Cileungsi, Jonggol, Parung dalam wilayah Kabupaten Bogor, di beberapa tempat di wilayah Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Tangerang.

Sebagai kesenian rakyat, pendukung orkes Tanjidor terutama para petani di daerah pinggiran. Pada umumnya seniman Tanjidor tidak dapat rnengandalkan nafkahnya dari hasil yang diperoleh dari bidang seninya. Kebanyakan dari mereka hidup dari bercocok tanam, atau berdagang kecil-kecilan.

Oleh masyarakat pendukungnya Tanjidor biasa digunakan untuk memeriahkan hajatan seperti pernikahan, khitanan dan sebagainya, atau pesta-pesta umum seperti untuk merayakan ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan. Sampai tahun lima puluhan rombongan-rombongan Tanjidor biasa mengadakan pertunjukan keliling, istilahnya “Ngamen”. Pertunjukan keliling demikian itu terutama dilakukan pada waktu pesta Tahun Baru, baik Masehi maupun Imlek.

Perlu dikemukakan, bahwa sesuai dengan perkembangan jaman dan selera masyarakat pendukungnya, Tanjidor dengan biasa pula membawakan lagu-lagu dangdut. Ada pula yang secara khusus membawakan lagu-lagu Sunda Pop yang dikenal dengan sebutan “Winingan tanji”.
banner
Gun FBI
7 Mar 2008 23:44    #9

Letkol

TEMBANG CIANJURAN

(dari http://cianjur.go.id/)

Saat ini, Tembang Cianjuran kerap menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah pertunjukkan kesenian pada acara-acara penyambutan tamu bagi masyarakat Sunda, seperti pernikahan ataupun khitanan. Alunan suara sekar (sinden) yang merdu diiringan instrumen kecapi dan suling membuat suasana lebih anggun, santun, khidmat dan penuh dengan ramah-tamah. Sehigga para tamu yang datang pasti akan hanyut terbawa suasana yang ada. Jika dikatakan Tembang Cianjuran adalah musik sunda yang memiliki warna musik begitu mempesona, anggun, lembut dan halus. Hal tersebut memang sangat erat hubungannya dengan cikal bakal dan perkembangan Tembang Cianjuran.

Seni Tembang Cianjuran lahir dari hasil cipta rasa dan karsa Bupati Cianjur IX, R. Aria Adipati Kusumaningrat (1834-1861), atau lebih sering dikenal dengan sebutan “Dalem Pancaniti”. Namun dalam penyempurnaannya hasil ciptaannya tersebut, dalem Pancaniti dibantu oleh seniman kabupaten yaitu: Rd. Natawiredja, Aem dan Maing Buleng. Ketiga orang inilah yang kemudian mendapat izin Dalem Pancaniti untuk menyebarkan lagu-lagu Cianjuran.

Pada zaman pemerintahan R.A.A Prawiradiredja II (1861-1910), seni Tembang Cianjuran disempurnakan lagi aturannya. Dengan ditambah iringan suara kecapi dan suling, maka lahirlah Tembang Cianjuran yang dikenal sampai saat ini.

Tembang Cianjuran pada awalnya merupakan musik yang penuh prestise para bangsawan. Oleh sebab itu, kehadiran Tembang Cianjuran pada awalnya diperuntukkan bagi para pejabat atau masyarakat kelas tinggi. Dan karena itu juga tempat pertunjukkannya selalu berada pada pendopo-pendopo kabupaten. Biasanya untuk acara-acara resmi penyambutan tamu bupati atau upacara-upacara resmi hari besar nasional.

Namun dalam pertumbuhan dan perkembangannya seiring dengan berbagai perubahan yang terjadi dalam masyarakat Tembang Cianjuran telah menjadi begitu akrab dimasyarakat. Tembang Cianjuran yang tadinya hanya dapat dinikmati oleh kaum bangsawan, berkembang menjadi musik yang berakar pada tradisi kerakyatan. Kini, Tembang Cianjuran sangat mudah ditemui dalam acara pesta-pesta perkawinan masyarakat cianjur (Sunda).

Penikmat Tembang Cianjuran memang tidak sebanyak jenis kesenian lain, seperti musik pop. Tetapi peminat dan penikmat Tembang Cianjuran cukup signifikan. Beberapa seniman seniman Tembang Cianjuran mengembangkan yang tidak terbatas lagi pada Kacapi Suling Tembang Cianjuran tetapi juga Kacapi Suling Pop Cianjuran.

Meski ditelan badai modernasi Tembang Cianjuran termasuk jenis kesenian yang masih mendapat respon positif dari masyarakat global, kehadirannya diterima baik oleh semua pihak. Baik masyarakat lokal maupun internasional ikut serta melestarikan warisan budaya sunda ini. Buktinya, sampai saat ini masih banyak dijumpai para mahasiswa asing yang serius mempelajari kesenian Tembang Cianjuran. Beberapa diantaranya adalah mahasiswa berasal Amerika Serikat, Norwegia , Eropa, Jepang, dan negara Asia lainnya.

Mempelajari Seni Sunda Tembang Cianjuran tidaklah terlalu sulit, walupun tidak semudah mempelajari Seni Sunda Angklung misalnya. Tingkat kesulitan mempelajari Tembang Cianjuran bergantung pada grade atau level saat mereka mencoba memainkan alat musik tersebut. Seorang pemula yang belum pernah sama sekali memainkan alat musik tembang kecapi suling cianjuran kira-kira akan memakan waktu 3-6 bulan untuk memainkan jenis musik yang diinginkan.

Rasanya kurang pas jika seseorang hanya mempelajari bagaimana memainkan instrumen-instrumen dan olah vokal Tembang Cianjuran saja. Sebab seni ini memiliki kekayaan budaya yang tersimpan. Salah satunya adalah kandungan arti yang tersimpan di balik syair-syairnya. Dalam setiap syair-syairnya sang penikmat dapat menemukan sebuah vocal wisdom (kearifan vokal) berupa alam yang harmoni, keseimbangan, rendah hati, kasih sayang, kebijakan dll. Peminat Tembang Cianjuran dituntut untuk mengungkap pesan-pesan yang tersimpan dalam isi syairnya. Tembang Cianjuran kini menjadi pembeda di tengah hingar-bingar budaya pop yang semakin mengglobal.

Tembang Cianjuran sangat kental dengan identitas kesundaannya. Akan sangat disayangkan bila para generasi muda mulai meninggalkan kesenian ini. Di tengah krisis kehilangan identitas bangsa ini, ada sebuah pertanyaan yang patut di kemukakan: Jika orang asing dengan serius mempelajari Tembang Sunda Cianjuran, masih adakah alasan bagi generasi muda untuk meninggalkannya?.

(Edri Wilastono, S.Sos., Pelaksana Seksi Pelayanan & Informasi Kantor Informasi dan Komunikasi Kabupaten Cianjur) **Dari berbagai sumber**

http://cianjur.go.id/content/isi_link_fi..._pdf&fid=7
banner
herufbi
8 Mar 2008 00:12    #10

Kolonel

Nuhun atuh kang, parantos ngartos ayeuna Top Top Top
banner
Gun FBI
8 Mar 2008 00:28    #11

Letkol

Filosofi Degung Klasik

Oleh Dedy S Ahmad Sholeh

Gambaran filosofis orang Sunda memiliki sifat sumuhun dawuh, mangga nyanggakeun, nyanggakeun sadaya-daya, teu langkung pangersa, dan sebagainya. Intinya, menandakan orang Sunda sangatlah jembar. Hal itu sesuai dengan makna filosofis gamelan degung klasik yang sampai saat ini eksistensinya tergerus oleh kemajuan zaman.

Untuk mengungkap nilai-nilai filosofis suatu jenis kesenian tradisional, termasuk dalam hal ini degung klasik, bukanlah suatu hal mudah. Sebab, memerlukan suatu riset atau observasi yang akurat, serta memerlukan data-data dari narasumber-narasumber yang kapabel dan memang mengetahui latar belakang diciptakannya gamelan degung klasik. Adapun yang mengetahui hal itu tentu mereka-mereka yang tempo dulu mencoba menciptakannya. Namun, untuk mengarah pada hal itu, kita dapat menggunakan pendekatan atau tinjauan budaya Sunda secara umum.

Bila kita berbicara tentang degung klasik, terdapat dua kata, yaitu degung dan klasik, yang keduanya memiliki segudang persoalan menarik untuk dibicarakan. Namun, berbicara tentang degung kiranya bukan persoalan rumit karena degung bukan lagi sesuatu yang baru.

Degung boleh dikatakan telah akrab dengan masyarakat Sunda-sekalipun masyarakat awam-yaitu sebagai suatu seni pertunjukan jenis hiburan yang sering dipertontonkan pada acara-acara hajatan dan opening ceremony lainnya.

Walaupun pemahaman masyarakat luas baru sekadar ke arah itu, paling tidak mereka mengakui dan mengetahui bahwa degung merupakan salah satu jenis seni pertunjukan kekayaan masyarakat Sunda. Instrumen degung klasik

Apabila kata degung telah dibubuhi dengan kata klasik-karena dengan mengatakan degung klasik-akan mengarah pada suatu wujud estetika yang memiliki ciri-ciri tertentu, yang berbeda dengan lainnya. Artinya, kata klasik dalam hal ini sangat berpengaruh besar sehingga dapat menunjukkan suatu wujud estetika.

Dengan demikian, tujuan yang terkandung ialah agar dapat diketahui oleh masyarakat luas bahwa kesenian degung terdiri dari beberapa ragam. Selain itu, masyarakat dapat mengetahui bahwa degung klasik merupakan cikal bakal perkembangan degung yang di dalamnya mengandung nilai-nilai filosofis budaya Sunda. Dengan tercapainya hal itu, diharapkan upaya pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional (khususnya seni degung klasik) berlangsung secara seimbang.

Gamelan degung, baik dilihat dari aspek instrumen maupun aspek laras (tangga nada), dapat dikatakan bahwa gamelan degung murni milik orang Sunda karena gamelan dan laras degung hanya ada di tanah Sunda. Dengan demikian, aspek-aspek istilah dan permainan bentuk musikalnya pun menandakan ciri Sunda.

Menurut perkembangannya, awal mula gamelan degung hanya menggunakaan satu instrumen, yaitu bonang, sehingga ada juga pendapat yang mengatakan bahwa gamelan degung merupakan perkembangan dari goong renteng yang memang instrumennya terdiri dari instrumen bonang. Pada perkembangan berikutnya masuklah instrumen-instrumen lain sehingga secara lengkap dapat dilihat bahwa gamelan degung terdiri dari instrumen bonang, cempres, peking, jenglong, goong, kendang, dan suling.

Jenis-jenis kesenian tradisional yang termasuk kategori klasik secara umum, oleh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Sunda, sering dipandang sebagai suatu kesenian yang ortodoks, kuno, dan ketinggalan zaman. Oleh karena Pandangan seperti itu, satu demi satu jenis-jenis kesenian Sunda mulai ditinggalkan dan akhirnya "mati" tanpa jelas waktu "kematian"-nya. Berdasarkan catatan yang termuat dalam Khazanah Kesenian Sunda, terdapat lebih kurang 250-300 macam kesenian Sunda. Namun, yang dapat kita saksikan sampai hari ini mungkin hanya tinggal beberapa persen. Perkembangan dan pelestarian

Pandangan seperti itu berbeda halnya dengan pandangan orang-orang Barat. Mereka memperlakukan kesenian-kesenian yang termasuk kategori klasik dengan sangat istimewa. Maka, diberlakukan tata cara dan ketentuan-ketentuan yang sangat istimewa pula. Misalnya, ketika pertunjukan orkestra klasik, simfoni atau opera pertunjukan klasik, semua penonton diwajibkan berpakaian rapi, memakai jas, berdasi kupu-kupu, duduk yang tertib, tidak boleh gaduh, dan harus membeli tiket yang lumayan mahal. Dengan demikian, siapa pun mereka, secara tidak langsung dididik untuk menghargainya sebagai sesuatu yang excellent.

Fakta di masyarakat Sunda sendiri, apa yang terjadi pada perkembangan kesenian degung? Degung klasik sendiri juga disebut degung lagu-lagu ageung, yang sering dipandang sebagai gaya yang pertama kali diciptakannya. Kehidupan dan perkembangannya kini mulai ditinggalkan. Perkembangan degung klasik mulai tersisih dengan merebaknya degung-degung gaya baru. Sangat sedikit sekali lembaga atau tempat-tempat komunitas seni degung klasik yang mempelajari eksistensi degung klasik. Sebab, mereka menilai dari segi fanatisnya saja.

Satu hal yang perlu kita sadari bahwa sekecil apa pun pengaruh degung klasik terhadap perkembangannya memiliki andil yang cukup besar, misalnya dari segi pemahaman teknis menabuh, pola-pola garap ataupun repertoar-repertoarnya, sehinga sangatlah wajar apabila dalam hal ini muncul kreasi-kreasi baru yang akan menambah kekayaan khazanah kesenian Sunda, bukan menghilangkan yang telah ada. Selain itu, kita akan mengembangkan kesenian degung sambil menguasai dan memahami degungnya itu sendiri.

Perlulah kiranya pemerintah, yang notabene mayoritas orang Sunda, melestarikan seni Sunda degung klasik ini. Salah satunya, menyelenggarakan lokakarya atau pasanggiri-pasanggiri (pertunjukan/festival) sejenisnya untuk membangkitkan kembali nilai-nilai filosofis degung klasik.

DEDY S AHMAD SHOLEH Aktivis Budaya Lokal Sunda dan Pegiat Tepas Institute
banner
Martian
15 Apr 2008 09:29    #12

Financial Advisor

Top Top Top Top
signature
[b]IJO...IJO...IJO.....[/b]
banner
Gun FBI
1 Jun 2008 02:10    #13

Letkol

Ubrug

Istilah ubrug diambil dari bahasa Sunda yaitu saubrug-ubrug yang artinya bercampur baur. Dalam pelaksanannya, kesenian ubrug ini kegiatannya memang bercampur yaitu antara pemain/pelaku dengan nayaga yang berada dalam satu tempat atau arena. Namun ada pendapat bahwa ubrug diambil dari kata sagebrug yang artinya apa yang ada atau seadanya dicampurkan, maksudnya yaitu antara nayaga dan pemain lainnya bercampur dalam satu lokasi atau tempat pertunjukan.

Kesenian ubrug terdapat di Kecamatan Cikande bagian utara, Kragilan, Carenang, Pontang, Tirtayasa, Kasemen, Ciruas, Walantaka, Taktakan, Waringin Kurung, Kramat Watu, Bojonegara, Merak, Cilegon, Anyar, Mancak, Cinangka, Ciomas, Pabuaran, Padarineang, dan Pamarayan sebelah utara. Di daerah ini bahasa yang digunakan yaitu bahasa Jawa Banten, sedangkan yang berbahasa Sunda terdapat di Kecamatan Cikande sebelah selatan, Kopo, Cikeusal, Baros, Pamarayan Timur dan Selatan serta Petir. Di sini istilah ubrug diganti dengan istilah topeng, walaupun dalam pertunjukannya sama dengan ubrug dan tidak memakai topeng. Mungkin hal ini disebabkan karena Kabupaten Serang bagian tenggara berdekatan dengan Kabupaten Bogor tempat topeng Cisalak berada.

Selain menyebar di daerah Serang, kesenian ubrug ini pun berkembang dan tersebar hingga ke daerah Tangerang, Lebak, Pandeglang bahkan sampai ke Lampung dan Sumatera Selatan.

Pertunjukkan ubrug hampir mirip dengan sandiwara lainnya di Tatar Sunda. Juru nandung (wanita) berperan sebagai pembuka permainan dengan menyanyi Nandung atau disebut ronggeng. Bodor atau pelawak pria bermain dan berpasangan dengan juru nandung dan mengadakan tarian sambil melawak seperti permainan ketuk tilu atau jaipongan. Jika mandor atau ketua RT yang menjadi tuan rumah, biasanya ia selalu ikut di dalam permainan sehingga dengan adanya ketua RT ini, permainan semakin komunikatif dan ramai.

Waditra yang digunakan dalam ubrug yaitu kendang besar, kendang kecil, goong kecil, goong angkeb (dulu disebut katung angkub atau betutut), bonang, rebab, kecrek dan ketuk. Alat-alat ini dibawa oleh satu orang yang disebut tukang kanco karena alat pemikulnya bernama kanco yaitu tempat menggantungkan alat-alat tersebut.

Busana yang dipakai yaitu: juru nandung mengenakan pakain tari lengkap dengan kipas untuk digunakan pada waktu nandung. Pelawak atau bodor pakaiannya disesuaikan dengan fungsinya sebagai pelawak yang harus membuat geli penonton. Bagi nayaga tidak ada ketentuan, hanya harus memakai pakaian yang rapi dan sopan dan pakaian pemain disesuaikan dengan peran yang dibawakannya.

Urutan pertunjukan ubrug yakni sebagai berikut : (1) Tatalu — gamelan ditabuh sedemikian rupa sehingga kedengaran semarak selama 10-15 menit yang dimulai pada pukul 21.00 WIB. (2) Lalaguan – Ini kemudian disambung tatalu singkat sekitar 2 menit dilanjutkan dengan Nandung. (3) Lawakan — lakon atau cerita yang akan disuguhkan. (4) Soder — yaitu beberapa ronggeng keluar dengan menampilkan goyang pinggulnya. Para pemain memakaikan kain, baju, topi atau yang lainnya ke tubuh ronggeng. Sambil dipakai, para ronggeng terus menari beberapa saat dan kemudian barang-barang tadi dikembalikan kepada pemiliknya dan si pemilik menerima dengan bayaran seadanya. Soder berlangsung + 20-30 menit.

Untuk penerangan digunakan lampu blancong, yaitu lampu minyak tanah yang bersumbu dua buah dan cukup besar yang diletakkan di tengah arena. Lampu blancong ini sama dengan oncor dalam ketuk tilu, sama dengan lampu gembrong atau lampu petromak.

Ubrug dipentaskan di halaman yang cukup luas dengan tenda seadanya cukup dengan daun kelapa atau rumbia. Pada saat menyaksikan ubrug, penonton mengelilingi arena.

Sekitar tahun 1955, ubrug mulai memakai panggung atau ruangan, baik yang tertutup ataupun terbuka di mana para penonton dapat menyaksikannya dari segala arah.
banner
anifeliza
1 Jun 2008 02:26    #14

Mayor

salut akang, bener2 T.O.P.B.G.T Top Top Top Top Top
banner
neglawarna
1 Jun 2008 02:29    #15

Kapten

Jadi hayang Cry inget ka kampung euy hayang baaalliiiiikkkkkk Cry Grin
banner
REPLY 


Home | Go Top | Text Mode | RSS
Powered By MyBB, © 2002-2014