Hello There, Guest! - Silahkan Daftar atau Login Cepat via Facebook
Post Terbaru Sejak Login Terakhir   Post Terbaru 24 Jam Terakhir



 
  • 81 Vote(s) - 2.93 Average
Tools    New reply


20 Feb 2008 01:33
Gun FBI
Letkol
Posts 2.595
Reputation: 21
Awards:
Pembayar PajakFBI Fans

Gotong Sisingaan

[Image: singahq6.jpg]

Seni Gotong Sisingaan merupakan salah satu kesenian daerah yang sampai sekarang masih berkembang dengan baik di daerah Subang, bahkan kesenian ini sudah terkenal sampai ke manca Negara. Kesenian Sisingaan telah lama dimainkan oleh rakyat Subang pada saat melawan penjajahan dulu sebagai simbol pelecehan terhadap penjajah, yang pada waktu itu adalah Negara Inggris. Yang berlambang singa atau Negara yang ditakuti yang dinaiki oleh seorang anak kecil di atas punggungnya yang melambangkan bahwa Rakyat Subang tidak takut melawan penjajahan pada saat itu.

Sekarang ini kesenian sisingaan dipertontonkan secara helaran untuk acara-acara khusus seperti penerimaan tamu kehormatan, acara khitanan anak dan sebagainya. Setiap tahunnya diadakan Festival sisingaan yang di ikuti oleh seluruh Kecamatan yang ada di Kabupaten Subang untuk memeriahkan acara peringatan hari jadi Kabupaten Subang pada Tanggal 5 April.


Alat Musik Tradisional Toleat

[Image: toleatqy5.jpg]

Toleat merupakan salah satu jenis musik tiup (Aerophone) khas daerah Subang, toleat biasa di mainkan oleh penggembala di daerah pantura sambil menunggu gembalaannya. Awalnya toleat dibuat dari bahan jerami karena perkembangan jaman dan keawetan bahannya maka sekarang toleat di buat menggunakan bahan bambu tamiang, toleat mempunyai nada dasar salendro dan mempunyai delapan lubang nada serta mempunyai suara yang unik menyerupai saxsophone, bentuknya mirip dengan suling (seruling).


Seni Tradisional Gembyung

[Image: gembyunggw6.jpg]

Gembyung merupakan jenis kesenian tradisional khas daerah Subang yang sampai sekarang masih terus dimainkan, gemyung biasa dimainkan untuk hiburan rakyat dan juga digunakan untuk upacara-upacara adat seperti halnya Ruatan bumi.

20 Feb 2008 01:38
sampela
Mayjen
Posts 5.944
Reputation: 26
Awards:
FBI Fans

TopTopTopTopTop
nice post
keep posting ya






signature
biasakan login FBI setiap hari, dijamin ilmu bertambah Smile

20 Feb 2008 02:10
solobug
anemer bangkong
Posts 4.004
Reputation: 154
Awards:
CSR DonaturPahlawanSpam Killer

biasanya didaerah saya memang buat acara khitanan Top Top






signature
Nu ngariung jiga lutung
Nu ngarendeng jiga monyet
Nya aing mandaha !
Maung pundung datang turu
Badak galak datang depa
Galudra di tengah imah
Kakeureut kasieup ku pohaci awaking.

20 Feb 2008 02:10
Gun FBI
Letkol
Posts 2.595
Reputation: 21
Awards:
Pembayar PajakFBI Fans

Sisingaan

Sisingaan atau Gotong Singa (sebutan lainnya Odong-odong) merupakan salah satu jenis seni pertunjukan rakyat Jawa Barat, khas Subang (di samping seni lainnya seperti Bajidoran dan Genjring Bonyok) berupa keterampilan memainkan tandu berisi boneka singa (Sunda: sisingaan, singa tiruan) berpenunggang.

Sejarah & perkembangan

Sisingaan adalah Kesenian tradisional khas dari kabupaten Subang yang memiliki nama sifat, histories dan filosofis yang erat kaitannya dengan gambaran masa lalu masyarakat Subang.
Kesenian ini lahir pada jaman Kolonial Belanda, yaitu sekitar tahun 1840-1911. Pada masa itu masyarakat Subang dalam keadaan tertindas, tekanan kian hari semakin bertambah berat.
Keadaan ini membangkitkan gejolak dan tekad masyarakat Subang untuk mmbebaskan diri dari belenggu tirani penjajah, namun demikian gejolak dan tekad tersebut tidak dicetuskan secara frontal terbuka melainkan dimanifestasikan ke dalam bentuk karya seni yaitu Kesenian Sisingan.
Kesenian Sisingaan ini sarat dengan simbol, pesan dan harapan generasi berikutnya untuk mencapai cita-cita merdeka.

di antaranya bahwa Sisingaan memiliki hubungan dengan bentuk perlawanan rakyat terhadap penjajah lewat binatang Singa kembar (Singa kembar lambang penjajah Belanda), yang pada waktu itu hanya punya sisa waktu luang dua hari dalam seminggu. Keterangan lain dikaitkan dengan semangat menampilkan jenis kesenian di Anjungan Jawa Barat sekitar tahun 70-an, ketika Bupati Subang dipegang oleh Pak Acu. Pada waktu itu RAF (Rachmatulah Ading Affandi) yang juga tengah berdinas di Subang, karena ia dikenal sebagai seniman dan budayawan dimintakan kitanya. Dalam prosesnya itu, akhirnya ditampilkanlah Gotong Singa atau Sisingaan yang dalam bentuknya masih sederhana, termasuk musik pengiringnya dan kostum penari pengusung Sisingaan. Ternyata sambutannya sangat luar biasa, sejak itu Sisingaan menjadi dikenal masyarakat.

Dalam perkembangan bentuknya Sisingaan, dari bentuk Singa Kembar yang sederhana, semakin lama disempurnakan, baik bahan maupun rupanya, semakin gagah dan menarik. Demikian juga para pengusung Sisingaan, kostumnya semakin dibuat glamour dengan warna-warna kontras dan menyolok.. Demikian pula dengan penataan gerak tarinya dari hari ke hari semakin ditata dan disempurnakan. Juga musik pengiringnya, sudah ditambahkan dengan berbagai perkusi lain, seperti bedug, genjring dll. Begitu juga dengan lagu-lagunya, lagu-lagu dangdut popular sekarang menjadi dominan. Dalam beberapa festival Helaran Sisingaan selalu menjadi unggulan, masyarakat semakin menyukainya, karena itu perkembangannya sangat pesat.

Dewasa ini, di Subang saja diperkirakan ada 200 grup Sisingaan yang tersebar di setiap desa, oleh karena itu Festival Sisingaan Kabupaten Subang yang diselenggarakan setiap tahunnya, merupakan jawaban konkrit dari antusiasme masyarakat Subang. Karena bagi pemenang, diberi peluang mengisi acara di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Penyebaran Sisingaan sangat cepat, dibeberapa daerah di luar Subang, seperti Sumedang, Kabupaten Bandung, Purwakarta, dll, Sisingaan menjadi salah satu jenis pertunjukan rakyat yang disukai, terutama dalam acara-acara khitanan dan perkawinan. Sebagai seni helaran yang unggul, Sisingaan dikemas sedemikian rupa dengan penambahan pelbagai atraksi, misalnya yang paling menonjol adalah Jajangkungan dengan tampilan manusia-manusia yang tinggi menjangkau langit, sekitar 3-4 meter, serta ditambahkan dengan bunyibunyian petasan yang dipasang dalam bentuk sebuah senapan.

Pertunjukan

Pertunjukan Sisingaan pada dasarnya dimulai dengan tetabuhan musik yang dinamis. Lalu diikuti oleh permainan Sisingaan oleh penari pengusung sisingaan, lewat gerak antara lain: Pasang/Kuda-kuda, Bangkaret, Masang/Ancang-ancang, Gugulingan, Sepakan dua, Langkah mundur, Kael, Mincid, Ewag, Jeblag, Putar taktak, Gendong Singa, Nanggeuy Singa, Angkat jungjung, Ngolecer,Lambang, Pasagi Tilu, Melak cau, Nincak rancatan, dan Kakapalan. Sebagai seni Helaran, Sisingaan bergerak terus mengelilingi kampung, desa, atau jalanan kota. Sampai akhirnya kembali ke tempat semula. Di dalam perkembangannya, musik pengiring lebih dinamis, dan melahirkan musik Genjring Bonyok dan juga Tardug.

Penyajian

Pola penyajian Sisingaan meliputi:

1. Tatalu (tetabuhan, arang-arang bubuka) atau keringan
2. Kidung atau kembang gadung
3. Sajian Ibingan di antaranya solor, gondang, ewang (kangsreng), catrik, kosong-kosong dan lain-lain
4. Atraksi atau demo, biasanya disebut atraksi kamonesan dalam pertunjukan Sisingaan yang awalnya terinspirasi oleh atraksi Adem Ayem (genjring akrobat) dan Liong (barongsay)
5. Penutup dengan musik keringan.

Musik pengiring

Musik pengiring Sisingaan pada awalnya cukup sederhana, antara lain: Kendang Indung (2 buah), Kulanter, Bonang (ketuk), Tarompet, Goong, Kempul, Kecrek. Karena Helaran, memainkannya sambil berdiri, digotong dan diikatkan ke tubuh. Dalam perkembangannya sekarang memakai juru kawih dengan lagu-lagu (baik vokal maupun intrumental), antara lain: Lagu Keringan, Lagu Kidung, Lagu Titipatipa, Lagu Gondang,Lagu Kasreng, Lagu Selingan (Siyur, Tepang Sono, Awet rajet, Serat Salira, Madu dan Racun, Pria Idaman, Goyang Dombret, Warudoyong dll), Lagu Gurudugan, Lagu Mapay Roko atau Mars-an (sebagai lagu penutup). Lagu lagu dalam Sisingaan tersebut diambil dari lagu-lagu kesenian Ketuk Tilu, Doger dan Kliningan.

Pemaknaan

Ada beberapa makna yang terkandung dalam seni pertunjukan Sisingaan, diantaranya:

* Makna sosial, masyarakat Subang percaya bahwa jiwa kesenian rakyat sangat berperan dalam diri mereka, seperti egalitarian, spontanitas, dan rasa memiliki dari setiap jenis seni rakyat yang muncul.
* Makna teatrikal, dilihat dari penampilannya Sisingaan dewasa ini tak diragukan lagi sangat teatrikal, apalagi setelah ditmabhakn berbagai variasi, seperti jajangkungan dan lain-lain.
* Makna komersial, karena Sisingaan mampu meningkatkan kesejahteraan mereka, maka antusiasme munculnya sejumlah puluhan bahkan ratusan kelompok Sisingaan dari berbagai desa untuk ikut festival, menunjukan peluang ini, karena si pemenang akan mendapatkan peluang bisnis yang menggiurkan, sama halnya seperti seni bajidoran.
* Makna universal, dalam setiap etnik dan bangsa seringkali dipunyai pemujaan terhadap binatang Singa (terutama Eropa dan Afrika), meskipun di Jawa Barat tidak terdapat habitat binatang Singa, namun dengan konsep kerkayatan, dapat saja Singa muncul bukan dihabitatnya, dan diterima sebagai miliknya, terbukti pada Sisingaan.
* Makna Spiritual, dipercaya oleh masyarakat lingkungannya untuk keselamatan/ (salametan) atau syukuran.

20 Feb 2008 03:07
ayax_ivanra
Lettu
Posts 800
Reputation: 1
Awards:

lestarikan budaya indonesia, makmurkan pelakunya.

20 Feb 2008 22:14
Gun FBI
Letkol
Posts 2.595
Reputation: 21
Awards:
Pembayar PajakFBI Fans

(This post was last modified: 20 Feb 2008 23:25 by ayatsalju.)
[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=W-baNmaRXAU[/youtube]

15 Apr 2008 11:14
Martian
Financial Advisor
Posts 2.761
Reputation: 34
Awards:
Facebook NetworkPembayar PajakGood Citizen

Top Top






signature
[b]IJO...IJO...IJO.....[/b]

1 Jun 2008 03:08
Gun FBI
Letkol
Posts 2.595
Reputation: 21
Awards:
Pembayar PajakFBI Fans

apabisa Wrote:Seni Tradisional Gembyung

http://img442.imageshack.us/img442/7523/gembyunggw6.jpg

Gembyung merupakan jenis kesenian tradisional khas daerah Subang yang sampai sekarang masih terus dimainkan, gemyung biasa dimainkan untuk hiburan rakyat dan juga digunakan untuk upacara-upacara adat seperti halnya Ruatan bumi.
Kesenian Gembyung

Gembyung merupakan jenis kesenian tradisional khas daerah Subang yang sampai sekarang masih terus dimainkan, gemyung biasa dimainkan untuk hiburan rakyat dan juga digunakan untuk upacara-upacara adat seperti halnya Ruatan bumi.

Salah satu peninggalan budaya Islam di Cirebon adalah Seni Gembyung. Seni ini merupakan pengembangan dari kesenian Terbang yang hidup di lingkungan pesantren. Konon kesenian terbang itu salahsatu jenis kesenian yang dipakai sebagai media penyebaran Agama Islam di daerah Cirebon dan sekitarnya. Kesenian Gembyung ini biasa dipertunjukkan pada upacara-upacara kegiatan Agama Islam seperti peringatan Maulid Nabi, Rajaban dan Kegiatan 1 Syuro yang digelar di sekitar tempat ibadah. Entah siapa yang punya ide untuk mengembangkan seni terbang ini dan kapan. Yang jelas kesenian Gembyung muncul di daerah Cirebon setelah kesenian terbang hidup cukup lama di daerah tersebut.

Gembyung adalah ensambel musik yang terdiri dari beberapa waditra terbang dengan tarompet yang merupakan jenis kesenian bernafaskan Islam. Meskipun demikian, di lapangan ditemukan beberapa kesenian Gembyung yang tidak menggunakan waditra tarompet.

Setelah berkembang menjadi Gembyung, tidak hanya dipertunjukkan di lingkungan pesantren atau tempat-tempat ibadah agama Islam, tetapi dipertunjukkan juga di lingkungan masyarakat luas. Bahkan frekuensi pertunjukannya cenderung lebih banyak di lingkungan masyarakat. Demikian juga tidak hanya dipertunjukan dalam acara-acara keagamaan (Islam), tetapi juga dalam acara kelahiran bayi, khitanan, perkawinan dan upacara siklus alam seperti ngaruat bumi, minta hujan, mapag Dewi Sri, dsb. Pada perkembangan lebih lanjut, Gembyung tidak hanya sebagai seni auditif, tapi sudah menjadi seni pertunjukan yang melibatkan unsur seni lain seperti seni tari.

Di beberapa daerah wilayah Cirebon, kesenian Gembyung telah dipengaruhi oleh seni tarling dan jaipongan. Hal ini tampak dari lagu-lagu Tarling dan Jaipongan yang sering dibawakan pada pertunjukan Gembyung. Kecuali Gembyung yang ada di daerah Argasunya, menurut catatan Abun Abu Haer, seorang pemerhati Gembyung Cirebon sampai saat ini masih dalam konteks seni yang kental dengan unsure keislamannya. Ini menunjukkan masih ada kesenian Gembyung yang berada di daerah Cirebon yang tidak terpengaruh oleh perkembangan masyarakat pendukungnya. Kesenian Gembyung seperti ini dapat ditemukan di daearah Cibogo, Kopiluhur, dan Kampung Benda, Cirebon. Orang-orang yang berjasa dalam mempertahankannya adalah Musa, Rasyim, dan Karya.

Alat musik kesenian Gembyung Cirebon ini adalah 4 buah kempling (kempling siji, kempling loro, kempling telu dan kempling papat), Bangker dan Kendang. Lagu-lagu yang disajikan pada pertunjukan Gembyung tersebut antara lain Assalamualaikum, Basmalah, Salawat Nabi dan Salawat Badar. Busana yang dipergunakan oleh para pemain kesenian ini adalah busana yang biasa dipakai untuk ibadah shalat seperti memakai kopeah (peci), Baju Kampret atau kemeja putih, dan kain sarung.

19 Mar 2009 17:30
rzrvld23
Prajurit
Posts 1
Reputation: 0
Awards:

naun sababna kesenian sisingaan nu aya ti subang eleh eksis jeung sisingaan nu aya di daerah lain, anu cuman ngembangkeun hungkul eta kasenian teh! padahal seni sisingaan lahirna ti subang!

translet ke indonesia
kenapa yah kesenian sisingaan yang ada di subang kalah eksis dengan sisingaan yang ada di daerah lain, yang cuman mengembangkan saja kesenian tersebut! padahal seni sisingaan lahirnya dari subang!

24 Mar 2009 20:45
reza kurnia
Kopda
Posts 73
Reputation: 3
Awards:

(19 Mar 2009 17:30)rzrvld23 Wrote:
 
naun sababna kesenian sisingaan nu aya ti subang eleh eksis jeung sisingaan nu aya di daerah lain, anu cuman ngembangkeun hungkul eta kasenian teh! padahal seni sisingaan lahirna ti subang!

translet ke indonesia
kenapa yah kesenian sisingaan yang ada di subang kalah eksis dengan sisingaan yang ada di daerah lain, yang cuman mengembangkan saja kesenian tersebut! padahal seni sisingaan lahirnya dari subang!

karena pembinaan yang kurang dari pemerintah daerahnya sendiri... juga kecintaan masyarakat dalam membuat grup kesenian sisingaan sudah tidak ada.....


   New reply




User(s) browsing this thread:
1 Guest(s)

Forum Bebas Indonesia
Demokrasi & Kebebasan temukan jalannya!
Respecting others will make you happy here
© 2004-2013 by Adimin | Fan Page | Group Discussion | Twitter | Google+ | Instagram