Hello There, Guest! - Silahkan Daftar atau Login Cepat via Facebook
Post Terbaru Sejak Login Terakhir   Post Terbaru 24 Jam Terakhir


 
  • 48 Vote(s) - 2.98 Average
Tools    New reply


18 Mar 2013 13:38
DoD
I am back..
Posts 12.078
Reputation: 421
Awards:
Pembayar PajakPahlawanSpam Killer

VIVAnews - Ketua Tim Pemantauan dan Penyelidikan Penanganan Tindak Pidana Terorisme Komnas HAM, Siane Indriani, menyatakan bahwa video kekerasan Detasemen Khusus 88 Polri yang beredar di situs Youtube adalah asli. Siane memastikan hal tersebut setelah melakukan penyelidikan dan verifikasi langsung ke Palu dan Poso dari 7-11 Maret 2013.

[Image: 196729_video-densus-88_663_382.jpg]
Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Siane Indriani (kiri) mendampingi dua korban kekerasan yang diduga dilakukan oknum Densus 88 Tugiran (kanan) dan Wiwin (kedua dari kanan).

"Video itu benar, dan kejadian itu benar-benar terjadi tanggal 22 Januari 2007 yaitu peristiwa Tanah Runtuh yang saat itu memang mendapat ekspose besar-besaran," kata Siane dalam konferensi pers di kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta, Senin 18 Maret 2013.

Siane membantah anggapan dari banyak pihak bahwa video tersebut adalah hasil rekayasa. Dia memastikan bahwa tidak ada rekayasa dalam video itu. "Dari awal sampai akhir, pixel-nya sama. Jadi kualitas gambarnya sama," ujarnya.

Siane mengakui terdapat penggalan dalam video yang juga menjadi bahan laporan Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin ke Polri. Namun demikian, penggalan itu tidak berarti menunjukkan lokasi yang berbeda.

"Ada penggalan-penggalan ketika eksekusi dilakukan. Mungkin sedikit pause, saya tidak tahu. Tapi yang jelas bahwa tidak ada penggalan yang mencerminkan dari lokasi lain seperti yang dikatakan oleh beberapa pihak. Jadi dari sisi ini, kami mengamati dan mendapatkan hasil bahwa video itu benar," urainya.

Atas temuan ini, Siane meminta Mabes Polri untuk mengusut tuntas dan menyeret secara hukum pelaku-pelaku yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Dia menilai kejadian itu tidak bisa dibenarkan dari sisi hak asasi manusia. "Ini sangat serius," ucapnya.

Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol. Boy Rafli Amar mengaku belum bisa memastikan jika pelaku kekerasan dan penganiayaan terduga teroris itu adalah anggota Densus 88. Boy pun meragukan pelaku kekerasan yang terlihat dalam rekaman video yang dilaporkan oleh sejumlah ormas Islam, seperti MUI, Muhammadiyah, dan NU itu adalah personel Densus.

"Kami nyatakan setelah mencermati tayangan berdurasi 13 menit itu, belum bisa kami pastikan itu adalah anggota Densus," kata Boy dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin 4 Maret 2013.

Boy mengatakan pihaknya sudah mempelajari rekaman dilaporkan tersebut. Dia mengakui bahwa di dalamnya memang memperlihatkan proses penangkapan seorang terduga atau tersangka teroris di Poso pada Januari 2007 silam. (umi)

http://nasional.news.viva.co.id/news/rea...us-88-asli






signature
[b]Asolole!!![/b] Grin
[s]Jangan ada rahasia di antara kita[/s] - Anda tak perlu tahu semuanya!
[url=http://www.forumbebas.com/user-309.html]Follow Me, for News Update[/url]

18 Mar 2013 13:43
DoD
I am back..
Posts 12.078
Reputation: 421
Awards:
Pembayar PajakPahlawanSpam Killer

ini video yg diduga ada kekerasan oleh Densus 88 (atau memang seharusnya keras?) Grin









signature
[b]Asolole!!![/b] Grin
[s]Jangan ada rahasia di antara kita[/s] - Anda tak perlu tahu semuanya!
[url=http://www.forumbebas.com/user-309.html]Follow Me, for News Update[/url]

18 Mar 2013 13:46
DoD
I am back..
Posts 12.078
Reputation: 421
Awards:
Pembayar PajakPahlawanSpam Killer

Jum'at, 08 Maret 2013 | 13:53 WIB
Alasan Tokoh Agama Laporkan Video Densus ke Polri


TEMPO.CO, Jakarta - Para tokoh agama menemui Kepala Kepolisian RI Jenderal Timur Pradopo dan jajarannya pada Kamis, 27 Februari 2013 lalu. Satu dari para tokoh yang hadir adalah Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin. Mereka menyerahkan video kasus kekerasan yang dianggap sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat, yang dilakukan personel polisi kepada terduga teroris.

[Image: ?id=170006&width=620]

"Secara khusus kami datang untuk melaporkan ada bukti berupa video yang mengandung gambar tentang pemberantasan teroris," kata Din Syamsuddin di Markas Besar Polri seusai bertemu Kapolri. "Kami tidak tahu di mana dan kapan, tetapi sangat jelas mengindikasikan pelanggaran HAM berat."

Video tersebut menggambarkaan penyiksaan yang dilakukan oleh polisi, diduga personel Brigade Mobil dan Densus 88, terhadap tersangka teroris. Din mengaku memperoleh video itu dari seseorang. Video yang sama juga sudah sampai ke Dewan Perwakilan Rakyat dan Komisi Nasional HAM.

"Penyiksaan terhadap tersangka teroris luar biasa. Diikat kaki dan tangan, ditembak, diinjak-injak, dan ada yang bernada nuansa keagamaan, (mengatakan) Anda kan mau mati, istigfar-lah," kata Din. Din menganggap penanganan teroris oleh Densus selama ini justru melanggar HAM. "Itu ajaran agama mana, mengajar orang ditalkinkan, tapi tidak diselamatkan, justru dibunuh?" kata dia.

Selain Din, tokoh yang menemui Kapolri kala itu antara lain Ketua Majelis Ulama Indonesia Amidan, pengurus Al-Irsyad Al-Islamiyah Hisyam Thalib, dan Majelis Pustaka PP Muhammadiyah Mustofa Nahrawardaya. Din mengaku memutar video di hadapan Kaporli. "Yang paling penting, Bapak Kapolri menyampaikan respons positif. Ini yang sangat kami hargai," kata Din.






signature
[b]Asolole!!![/b] Grin
[s]Jangan ada rahasia di antara kita[/s] - Anda tak perlu tahu semuanya!
[url=http://www.forumbebas.com/user-309.html]Follow Me, for News Update[/url]

18 Mar 2013 13:47
DoD
I am back..
Posts 12.078
Reputation: 421
Awards:
Pembayar PajakPahlawanSpam Killer

Jum'at, 08 Maret 2013 | 16:29 WIB
Pengakuan Wiwin, 'Korban' di Video Densus 88

[Image: 171381_475.jpg]


TEMPO.CO, Jakarta -- Wiwin Kalahe alias Tomo, warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Petobo Palu, Sulawesi Tengah, mengaku menjadi korban kekerasan oleh polisi. Dia mengaku sosok di video yang beredar luas di YouTube adalah dirinya. Ia mengaku video itu sudah pernah dilihatnya pada 2008 lalu.

Kepada Tempo, Wiwin mengatakan tak tahu dari mana video tersebut bisa beredar. Ketika ditanyakan apa yang terjadi dalam video, Wiwin menghela nafas panjang. "Ini risiko, mau diapakan lagi," katanya. (Lihat: VIDEO Kekerasan Densus 88 Beredar di Youtube)

Wiwin ditangkap pada Januari 2007. Ia dituduh melakukan mutilasi terhadap tiga siswi Poso 2005. Wiwin divonis 19 tahun penjara.

Kasus video ini menuai banyak sorotan. Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) mulai menyelidiki kebenaran video. Mereka mendatangi Wiwin, Tugiran, dan Iin yang terekam dalam video tersebut.

Komisioner Siane Indriani di Lapas Palu mengatakan para warga binaan Lapas yang terjerat kasus Poso itu adalah korban kekerasan yang ada di dalam video tersebut. Bahkan, Wiwin dan Tugiran mengaku mereka pernah melihat video tersebut tahun 2008 silam.

"Makanya mereka bertanya, kenapa baru dibuka sekarang di saat para saksi sudah kemana-mana dan sulit dikumpulkan kembali," kata Siane Indriani.

Menurut dia, dari pengakuan Wiwin, terungkap bahwa saat itu terjadi kontak senjata antara warga di Tanah Runtuh dengan aparat keamanan (Densus 88 Anti Teror dan Brimob). Ketika ada salah seorang tertembak, Wiwin kemudian menemui korban tembak itu. Wiwin membuka baju kemudian tangannya diangkat sebagai isyarat menyerah, tapi dia tetap ditembak.

"Dengan adanya video ini, mau tidak mau kita akan buka kembali kasus tahun 2007 itu sebagai bagian dari beberapa data yang kita kumpulkan. Mereka ini korban konflik, maka kita harus lebih hati-hati dan dan proporsional," kata Siane

http://www.tempo.co/read/news/2013/03/08...-Densus-88






signature
[b]Asolole!!![/b] Grin
[s]Jangan ada rahasia di antara kita[/s] - Anda tak perlu tahu semuanya!
[url=http://www.forumbebas.com/user-309.html]Follow Me, for News Update[/url]

18 Mar 2013 13:49
DoD
I am back..
Posts 12.078
Reputation: 421
Awards:
Pembayar PajakPahlawanSpam Killer

Jum'at, 08 Maret 2013 | 11:53 WIB
Begini Tingkah Polah Korban Densus di Poso


TEMPO.CO, Jakarta - Video kekerasan oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror menyebar via YouTube. Densus 88 langsung menjadi sorotan. Pasalnya, video itu merekam kekerasan terhadap sejumlah orang. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar, mengatakan, peristiwa dalam video itu terjadi di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada 2007 lalu.

Boy mengatakan, tersangka bernama Wiwin yang kini menjalani hukuman, ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Palu dan M. Basri. (Lihat: Video Kekerasan Densus 88 Beredar di YouTube dan Video Kekerasan Densus 88, Ini Tanggapan Kapolri). Nama lengkap orang itu adalah Wiwin Kalahe
alias Tomo dan M. Basri alias Bagong. Keduanya adalah teroris di Poso.

Komisioner Komnas HAM, Siane Indriani, mengatakan kekerasan itu mengindikasikan adanya pelanggaran HAM berat oleh polisi. Komnas pun sedang menginvestigasi kasus tersebut dan sudah mengantongi bukti video kekerasan tersebut.

Bagaimana sepak terjang Wiwin dan Basri ini? Wiwin Kalahe pernah menjadi satu dari 29 buron dalam kasus teror Poso. Kepada penyidik, Wiwin alias Tomo pernah mengaku membawa potongan kepala korban mutilasi ke Tanah Runtuh dan teribat tiga aksi kekerasan di sana.

Wiwin Kalahe alias Tomo tertangkap pada 22 Januari 2007. Dia memutilasi tiga siswi SMA Kristen Poso di Lorong Bukit Bambu Poso. Dalam aksinya, Wiwin melakukannya bersama Basri, Haris, Iwan Irano, Nanto Bojel, Agus Jenggot, dan Papa Yusran.

Wiwin juga telibat kasus pembunuhan Nelmi Tombiling di Kawua Poso. Aksi kejahatan itu dilakukannya bersama Upik Lawanga. Dia menjadi pengendara motor yang ditumpangi sang eksekutor, Upik Lawanga.

Bahkan Wiwin menjadi eksekutor penembakan terhadap seorang warga di kebun cokelat, Kawua Poso. Aksi ini dilakukan bersama Maryono. Dia menembak menggunakan senjata api jenis revolver. Wiwin, dengan sejata sejenis, juga menembak dua siswi, Ivon dan Siti, di Desa Kasintuwu, Poso. Wiwin dan Basri saat ini menjalani hukuman atas aksi terornya.

http://www.tempo.co/read/news/2013/03/08...us-di-Poso






signature
[b]Asolole!!![/b] Grin
[s]Jangan ada rahasia di antara kita[/s] - Anda tak perlu tahu semuanya!
[url=http://www.forumbebas.com/user-309.html]Follow Me, for News Update[/url]

18 Mar 2013 13:50
DoD
I am back..
Posts 12.078
Reputation: 421
Awards:
Pembayar PajakPahlawanSpam Killer

Sabtu, 09 Maret 2013 | 06:29 WIB
Sejak Bom Bali I, Densus 88 Tangkap 840 Teroris

[Image: ?id=144803&width=620]

TEMPO.CO, Jakarta - Ratusan teroris yang menyebar di sejumlah daerah di Indonesia telah ditangkap Detasemen Khusus Anti-Teror (Densus 88) sejak terjadinya Bom Bali I pada 2002 lalu. Jumlahnya mencapai 840-an orang. "Dari 840 orang itu hanya sekitar 60-an teroris yang tertembak mati," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai kepada Tempo, Kamis, 7 Maret 2013.

Artinya, kata Ansyaad, sekitar 700-an teroris masih hidup dipenjara atau sudah bebas. Ini juga menunjukkan jika cara yang dilakukan Densus 88 dalam menangani teroris tidak berlebihan atau melanggar HAM seperti yang dituduhkan pihak-pihak tertentu. "Kita juga tetap sediakan pengacara. Di penjara mereka juga tetap dapat remisi," ujarnya.

Dia melanjutkan, dalam operasi penangkapan teroris, Densus melakukan investigasi, penyamaran, dan pengamatan secara jelas dan terukur selama bertahun-tahun. Hal ini dilakukan agar warga sipil yang tidak terlibat tak ikut terkena dampaknya. Upaya ini juga untuk menghindari terjadinya pelanggaran HAM yang lebih besar. "Bukan ujug-ujug terorisnya langsung ditembak, tapi mereka itu sudah bertahun-tahun dikejar. Rekam jejaknya sudah diikuti betul sehingga tidak salah orang," ujarnya.

Karena itulah, Ansyaad menilai jika pihak-pihak yang mengusulkan pembubaran Densus 88 karena tuduhan pelanggaran HAM berarti tidak mengerti sulit dan bahayanya menghadapi teroris. Apalagi saat ini jaringannya tersebar di seluruh Indonesia. "Musuh itu ya teroris, bukannya Densus. Mereka yang jelas-jelas melanggar HAM berat dan musuh negara," kata Ansyaad. "Kalau Densus dibubarkan, lalu siapa yang tangkap terorisnya?," tambah mantan kepala Polda Sumatera Utara ini balik bertanya.

http://edsus.tempo.co/konten-berita/poli...40-Teroris
http://edsus.tempo.co/Kontroversi-densus






signature
[b]Asolole!!![/b] Grin
[s]Jangan ada rahasia di antara kita[/s] - Anda tak perlu tahu semuanya!
[url=http://www.forumbebas.com/user-309.html]Follow Me, for News Update[/url]

18 Mar 2013 14:35
solobug
anemer bangkong
Posts 4.004
Reputation: 154
Awards:
CSR DonaturPahlawanSpam Killer

seorang buronan yang sudah tertangkap tentu tidak boleh dipukul seperti itu, untuk yang ditembak saya tidak tahu pasti apa memang dia sudah menyerah kemudian ditembak atau dalam keadaan bertempur seperti yang di katakan petugas tadi. Yang pasti harus diadakan penyelidikan tentang kebenarannya.

Kalo memang sudah menyalahi maka anggota densus tersebut harus diproses hukum. Dan yang pasti anggota densus juga jangan ragu untuk bertindak, jangan sampai kejadian nurdin m top sama azhari yang bisa lolos di bandung karena banyak pertimbangan yang kemudian mereka berhasil melakukan teror baru.

Terus benahi densus 88 dan perkuat mereka, semoga negara kita bisa lebih aman






signature
Nu ngariung jiga lutung
Nu ngarendeng jiga monyet
Nya aing mandaha !
Maung pundung datang turu
Badak galak datang depa
Galudra di tengah imah
Kakeureut kasieup ku pohaci awaking.

19 Mar 2013 09:51
cahsontoloyo
Kopka
Posts 121
Reputation: 0
Awards:

kalo densus 88 jadi bajingan sma yang jaga negara kita ini... ???

19 Mar 2013 09:53
Assasin
Mayor
Posts 2.031
Reputation: 130
Awards:
Facebook NetworkMember Telah Dewasa

densus 88 dibangun karena ada kepentingan dari negara barat. makanya mereka selalu over acting agar dikira hebat...






signature
[color=#0000CD][size=small][b]BLA...BLA..BLA... .[/b].[/size][/color]

19 Mar 2013 11:09
masdimas
Pedagang Nasi Bungkus
Posts 3.540
Reputation: 401
Awards:
Facebook NetworkMember Telah DewasaPembayar PajakFBI ManiaBlood DonationCharityCSR DonaturFBI CareSpam Killer

(19 Mar 2013 09:53)Assasin Wrote:
 
densus 88 dibangun karena ada kepentingan dari negara barat. makanya mereka selalu over acting agar dikira hebat...

berarti gak perlu Densus ya ndan.. Blah trus ada solusi..??






signature
Sedia Nasi Bungkus Tanpa Bahan Pengawet.. Blah

19 Mar 2013 13:41
okoka
Praka
Posts 41
Reputation: 0
Awards:

gak bener itu densus 88 parah dah

Peta Indonesia Karya Anak NegeriWow

19 Mar 2013 14:22
Assasin
Mayor
Posts 2.031
Reputation: 130
Awards:
Facebook NetworkMember Telah Dewasa

(19 Mar 2013 11:09)masdimas Wrote:
 
berarti gak perlu Densus ya ndan.. Blah trus ada solusi..??

Selama ini kan udah ada kopassus, denjaka, dan kesatuan elit lain. termasuk Brimob. mereka kan punya pasukan anti teror juga ndan. kenapa nggak dimanfaatin aja?






signature
[color=#0000CD][size=small][b]BLA...BLA..BLA... .[/b].[/size][/color]

19 Mar 2013 16:41
solobug
anemer bangkong
Posts 4.004
Reputation: 154
Awards:
CSR DonaturPahlawanSpam Killer

(19 Mar 2013 14:22)Assasin Wrote:
 
Selama ini kan udah ada kopassus, denjaka, dan kesatuan elit lain. termasuk Brimob. mereka kan punya pasukan anti teror juga ndan. kenapa nggak dimanfaatin aja?

coba baca ini ndan

Peran Anti Terorisme TNI VS Peran Anti Terorisme Polri


Peran AT TNI vs AT POLRI Peran anti teroris diemban oleh kedua badan ini. Terlepas dari kontroversialnya, Indonesia menganut prinsip pembedaan antara Keamanan Nasional dan Pertahanan Nasional, sesuai dengan amanat UU no 2 dan 3 tahun 2002. Dimana tanggung jawab itu diberikan pada Tni untuk masalah Pertahanan Nasional dan POLRI untuk Keamanan Nasional.

Hirarki peran

Jika dikembalikan pada logika mendasar, akan ditemukan hirarki peran itu lebih tinggi dari fungsi. Fungsi adalah kemampuan yang dimiliki oleh sesuatu untuk m emainkan suatu peran. Dari fungsi itu didapatkan kemampuan dan tiap kemampuan pasti mempunyai struktur. Sehingga didapatkan Peran – Fungsi – Kemampuan – struktur.

Peran AT pada POLRI dan TNI harus didasarkan pada berfungsinya masing masing unsur.

Cara untuk mengukur fungsi adalah kemampuan kemampuan yang ada di tiap fungsi tersebut. Dalam TNI misalnya, diperintahkan oleh Strategi Nasional 2009 untuk bisa menjalankan 3 fungsi dasar yaitu fungsi penangkalan (detterent), fungsi operasi militer dan fungsi operasi militer selain perang. Tiap fungsi mempunyai kemampuan, dalam fungsi penangkalan misalnya yang harus dimiliki adalah postur yang cukup dan manuver manuver, sementara fungsi operasi militer biasanya kemampuan yang harus dimiliki adalah sistem senjata, sistem telekomunikasi, sistem transportasi, sistem logistik, sistem medik.

Dalam fungsi operasi selain perang, kemampuan yang harus dimiliki sama dengan fungsi operasi militer, namun kecuali sistem senjata menjadi opsional, tergantung kebutuhan. Dengan berbekal Pasal 7 Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 peran AT TNI misalnya adalah masuk dalam fungsi operasi militer selain perang, dengan kemampuan 5 sistem yang sudah disebut diatas dan dimainkan oleh TNI.

Demikian juga AT POLRI dengan berbekal Undang-Undang No. 15 Tahun 2003masuk dalam fungsinya menegakkan hukum, dengan kemampuan 5 sistem yang mirip dan dimainkan oleh unit Densus 88 POLRI.

Fenomena

Fenomenanya adalah TNI sampai saat ini belum dapat berpartisipasi dalam peran anti terorisme.

Yang menjadi pertanyaan bagaimana seharusnya peran anti terorisme bisa dilaksanakan oleh militer dan polisi? Apakah benar POLRI sudah dapat menangani masalah terorisme?

Sebenarnya sudah dilakukan beberapa usaha untuk menggabungkan kedua potensi bangsa ini untuk menangani masalah anti terorisme. Misalnya Latihan Kesiapsiagaan dan Ketanggapsegeraan TNI - POLRI dalam Penanggulangan Aksi terror 2010 dengan sandi ‘’ Waspada Nusa II ‘’ Kamis (11/3), namun semua melakukan performa penanggulangan dengan tipe perang kota dengan menampilkan keterampilan perang jarak dekat yang sama.

Disini sebenarnya sudah terjadi keganjilan dimana wakil Ketua Komisi I DPR Yusron Ihza Mahendra juga sudah mendesak pemerintah segera mengeluarkan peraturan pemerintah (PP) untuk mengatur koordinasi antara TNI dengan Polri dalam penanggulangan teroris.

Pengalaman empirik negara lain

Pengalaman Amerika, dimana mereka menyerahkan fungsi anti teroris mereka sebelum 9/11 pada FBI. Namun ketika berada diluar jurisdiksi FBI, maka militer otomatis mengambil alih, dimana mereka tidak segan segan mengerahkan segala kemampuan militernya untuk dapat menetralkan Al Qaeda di Afganisthan dan Iraq dalam operasi Enduring Freedom dan Iraqi Freedom dalam kurun waktu 2001 sampai dengan sekarang.

Demikian juga dengan pengalaman negara seperti Jerman, yang sejak tahun 1970 menyerahkan masalah anti terorisme pada GSG 9 Bundespolizei.Mereka juga mengirimkan pasukan elit yang baru dibentuk tahun 1996 KSK untuk berlaga di Afghanistan.

Gagasan format AT TNI -POLRI

Sebenarnya bukan gagasan baru, namun kali ini ingin memperdalam dan memperjelas apa yang Sebaiknya dilakukan dalam peran AT TNI-POLRI.

Dimana ada dua dimensi yang harus dipertimbangkan. Dimensi Yurisdiksi dan dimensi Tingkatan Ancaman. Kemudian juga ada filsafat spesifik yang harus dipahami dalam pelaksanaan peran AT kombinasi ini.

Yang dimaksud Yurisdiksi disini adalah wilayah hukum terutama untuk POLRI dapat menegakkan hukum RI pada pelanggaran hukum diwilayah hukumnya.

Sementara TNI harus menjaga berada diluar wilayah jurisdiksi POLRI untuk tidak membingungkan operasi.

Dimensi Yurisdiksi yang utama bagi AT POLRI adalah bertanggung jawab pada daerah URBAN dan sub URBAN dimana terjadi konsentrasi kepadatan penduduk dan latihan perang URBAN memang menjadi ciri khas spesialis AT POLRI.

Mulai wilayah wilayah RURAL peran AT TNI lebih sesuai dilakukan. Bukan hanya saja sudah tidak beroperasi pada wilayah yang bersentuhan dengan penduduk yang padat, namun juga latihan latihan TNI tidak asing dengan perang hutan atau pantai bahkan tengah lautan.

Dengan menggunakan peralatan yang pasti tidak dimiliki oleh POLRI seperti heli gunship, atau kapal fregat. Demikian juga ketika sudah diluar wilayah teritorial RI, AT TNI akan jauh lebih berperan dalam melakukan perannya. Misalnya dia harus menyergap dan menculik buronan di Mindanao secara rahasia, itu adalah sangat cocok dilakukan oleh Kopassus atau Denjaka, kemudian dilarikan dengan kapal selam.

dilanjut halaman berikutnya






signature
Nu ngariung jiga lutung
Nu ngarendeng jiga monyet
Nya aing mandaha !
Maung pundung datang turu
Badak galak datang depa
Galudra di tengah imah
Kakeureut kasieup ku pohaci awaking.

19 Mar 2013 16:43
solobug
anemer bangkong
Posts 4.004
Reputation: 154
Awards:
CSR DonaturPahlawanSpam Killer

lanjutan....

Sehingga wilayah permainan TNI bisa diarahkan benar benar untuk menghadang ancaman dari luar, kembali ke fungsi sejati militer, tidak lagi “jagoan kandang” istilahnya seperti peran KAMDAGRI ABRI era lampau.

Kemudian dimensi berikutnya adalah level ancaman. Ini artinya jika terjadi peristiwa bom, atau penyanderaan biasa di wilayah yurisdiksi POLRI, ini masih bisa ditangani oleh AT POLRI dengan mengerahkan Densus 88 nya.

Namun jika sudah pada tingkatan perang nubika misalnya, maka AT TNI akan otomatis turun tangan karena sudah terlatih untuk itu.

Demikian juga misalnya pada tingkatan ancaman perang elektronika atau serangan simultan sehingga melumpuhkan birokrasi sipil.

Maka dalam kondisi negara disfungsi tersebut, AT TNI dapat berperan, bahkan bisa juga TNI dalam artian luas berperan, misalnya mengambil alih peran transportasi, evakuasi, mendirikan telekomunikasi darurat dan sebagainya.

Intinya militer adalah satu satunya institusi yang didesain untuk kondisi negara yang abnormal,

baik karena perang maupun bencana.

Kemudian filsafat AT Polisi pada intinya mengharuskan membawa pihak pihak yang terlibat ke meja hijau.Baik korban, pelaku maupun saksi. Sehingga tidak boleh jatuh korban jiwa, termasuk pada polisi itu sendiri. Jika terjadi korban jiwa, maka operasi AT Polisi itupun dinyatakan sebagai sebuah kegagalan operasi.

Sementara filsfat AT Militer pada intinya mengharuskan untuk menghancurkan atau membunuh ancaman teroris (kecuali ada perintah lain) dan menyelamatkan korban tanpa memperdulikan korban dari pihak militer.

Karena secara filsafat dasarnya militer memang adalah berfungsi menghancurkan lawan. Kedua perbedaan filsafat ini harus dapat dimanifestasikan pada training, peralatan, protap pada masing masing AT TNI dan POLRI.

Sehingga didapat kejelasan operasional yang lebih baik dari bentuk BKO TNI pada POLRI, yang mempunyai sejumlah kelemahan karena terletak perbedaan filsafat antara Polisi dan Militer.

Untuk dimensi tingkatan ancaman, dibutuhkan deklarasi Darurat Militer untuk penggunaan TNI yang lebih masif dari Kepala Negara, sementara untuk dimensi yurisdiksi bisa dibutuhkan bisa juga tidak untuk deklarasi Darurat Militer, karena bisa dimasukkan dalam fungsi operasi militer nir perang karena bersifat perang intensitas rendah.

berikut adalah gambar dimana ada dua dimensi (ancaman dan yurisdiksi) akan membentuk sebuah wilayah peran AT TNI-POLRI bisa mungkin dilakukan sesuai dengan kemampuan alamiah masing masing.

Gambar skema

Pada dimensi ancaman di ilustrasikan dibagi 3 level ancaman (namun bisa disesuaikan sesuai kebutuhan), dimana level satu itu jika dalam konteks terjadi di wilayah jurisdiksi urban-sub urban akan otomatis ditangani oleh AT POLRI, namun jika terjadi diluar itu, maka otomatis diambil alih oleh peran AT TNI.

Pada level I ini termasuk pemboman, penculikan, pembajakan dsb. Pada level II, jika terjadi dalam wilayah jurisdiksi urban-suburban, maka akan ditangani oleh AT POLRI, namun jika terjadi diluar wilayah jurisdiksi AT POLRI akan otomatis ditangani oleh peran AT TNI. Pada level II ini termasuk penggandaan ancaman level II, misalnya pemboman simultan (tapi tidak sampai melumpuhkan kota misalnya), atau penculikan simultan atau pembajakan fasilitas yang lebih besar dsb.

Sementara itu level III , adalah level yang paling parah dan harus dikeluarkan deklarasi Darurat Militer untuk mengerahkan seluruh kemampuan TNI untuk menghentikan kegiatan Terorisme baik yang berada di domestik maupun internasional.

Termasuk ancaman level III ini adalah, pembajakan pesawat udara untuk ditabrakkan ke istana negara, perang nubika, sabotase strategis dsb.

Demikian dimensi dimensi ini dapat memberikan sekelumit pemikiran untuk mendorong harmonisasi peran Anti Terorisme oleh TNI dan POLRI dinegara kita yang tercinta ini.

By Ir. Ade muhammad, M, Han.

Pengamat Pertahanan dan Keamanan

Defense Analiysis






signature
Nu ngariung jiga lutung
Nu ngarendeng jiga monyet
Nya aing mandaha !
Maung pundung datang turu
Badak galak datang depa
Galudra di tengah imah
Kakeureut kasieup ku pohaci awaking.

21 Mar 2013 12:18
antomoel
Prajurit
Posts 6
Reputation: 0
Awards:

wow... antara isu keamanan dan ham... mana yang diduluin? Grin


   New reply




User(s) browsing this thread:
1 Guest(s)

Forum Bebas Indonesia
Demokrasi & Kebebasan temukan jalannya!
Respecting others will make you happy here
© 2004-2013 by Adimin | Fan Page | Group Discussion | Twitter | Google+ | Instagram