Try: m.forumbebas.com for faster access! Upgrade your Group for Premium Access!
Internet Anda Lambat? Akseslah Forum Bebas Indonesia dari sini


Post Reply 
 
Thread Rating:
  • 65 Votes - 2.98 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
mbae

Kopka

Reputation: 4


Offline
21 Jul 2011 14:08  (This post was last modified: 21 Jul 2011 14:20 by mbae.)    #1

Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah.Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang ”salah kamar”.

Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja.

Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S-2. Jadi birokrat atau jenderal pun sekarang banyak yang ingin punya gelar S- 3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini.

Sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya. Mengapa hanya soal memindahkan anak ke sekolah negeri lain saja lantaran pindah rumah biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.

Lengkap sudah masalah kita. Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa di negeri yang serbasulit ini?

Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Seperti kurikulum program S-1 20 tahun lalu yang sejajar dengan program S-1 yang digabung hingga S-3 di Amerika.

Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor menyelesaikan di atas 100 SKS, sehingga hampir tak ada yang lulus. Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun. Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian, tapi tak ada masalah kok!

Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah mengubah banyak hal, anakanak kita dikepung informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, tapi datang dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, melainkan dari segala resources.

Ilmu belajar menjadi lebih penting dari apa yang dipelajari itu sendiri,sehingga diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, lifelong learning.

Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan, ”Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak 10 tahun lalu. Maka itu, sekolah sekarang harus memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah,metode diperbarui,fasilitas baru dibangun,” ujar seorang guru.

Masih banyak yang ingin saya diskusikan,tapi sampai di sini ada baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah dan untuk apa kita bersekolah? Mudahmudahan kita bisa mendiskusikan lebih dalam minggu depan dan semoga anak-anak kita mendapatkan masa depan yang lebih baik. RHENALD KASALI Ketua Program MM UI

sumber
http://tarbiyatulabna.wordpress.com/2011/07/14/sekolah-untuk-apa/




Kojek

Tukang Sapu

Reputation: 240

Pembayar Pajak
Charity
FBI Mania
Adult Member
Facebook Network

Offline
21 Jul 2011 14:52    #2

lanjut pak...
saya ingin tahu detail solusi apa yang bisa diutarakan ...
Smile


eniqma

Letkol

Reputation: 117

Sigi

Offline
21 Jul 2011 15:02    #3

hmm, menarik.... Think


mbae

Kopka

Reputation: 4


Offline
21 Jul 2011 15:25    #4

Cuma share opininya Pak Rhenald Kasali
Profilnya ada di http://id.wikipedia.org/wiki/Rhenald_Kasali dan facebooknya http://www.facebook.com/rhenaldkasali



andy_ukt

.

Reputation: 372

Pembayar Pajak
Facebook Network
Adult Member
Anti Child Porn
FBI Mania
Charity

Offline
22 Jul 2011 00:15    #5

mmmm...menarik Think


Memang diakui seiring dengan berkembangnya zaman dengan segala problematika yang ada, khususnya di dunia pendidikan saat ini yang salah kaprah dalam menilai dan melaksanakannya.

Masyarakat menginginkan biaya pendidikan yang murah tapi berkualitas tanpa memikirkan bagaimana upaya untuk membuat pendidikan yang berkualitas jika tanpa butuh dana yang besar untuk sarana prasarana utama dan fasilitas penunjangnya??

Pemerintah Pusat membuat kebijakan pendidikan dengan mematok nilai batas minimal dari hasil evaluasi akhir pendidikan yang harus sama seluruh Indonesia sementara kondisi akademis tiap daerah berbeda??

Pemerintah Daerah di beberapa daerah tertentu di Indonesia ada yang membebaskan biaya pendidikan mulai dari tingkat pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi serta memberikan beasiswa per tahunnya kepada seluruh mahasiswa yang berkuliah didaerah tersebut tanpa terkecuali...sehingga para mahasiswa serasa enggan untuk lulus tepat waktu karena dengan status sebagai mahasiswa saja mereka sudah "di gaji"

Pihak Pengusaha terlebih dahulu melakukan seleksi berkas lamaran berdasarkan nilai akhir akademis para pelamar (bagi yang fresh graduate) yang akan bekerja diperusahaannya tanpa melihat terlebih dahulu skill/kemampuan pelamar apakah mampu atau tidak secara teknis untuk bekerja di perusahaannya.

Para pendidik yang saat ini sedang gencar-gencarnya berupaya untuk tersertifikasi...jika seleksi sertifikasi gagal maka dengan mudahnya dapat diganti dengan pelatihan atau penataran lalu setelah mengikuti kegiatan tersebut maka akan diproses sertifikasinya...setelah tersertifikasi dan akan mendapatkan tunjangan sertifikasi yang sangat besar maka mulai "malas2an" dalam melakukan proses belajar mengajar dikelas

Fakta-fakta tersebut hanya sebagian kecil dari realita yang ada dikehidupan sehari-hari terutama di dunia pendidikan...

Pendidikan sebagai sarana keilmuan yang tidak hanya teks book saja tetapi juga harus aplikatif dengan prinsif learning by doing

Pendidikan tidak hanya mengajarkan keilmuan tapi juga mendidik akhlak, keimanan dan ketakwaan para penerus bangsa

Pendidikan tidak hanya dengan menilai hasil akhir dengan berbentuk huruf dan nilai saja tetapi menilai secara keseluruhan dari segala aspek dan sudut pandang apa yang dibutuhkan dan diharapkan untu output yang berkualitas.


1 hal yang harus ditanamkan dalam benak kita semua...PENDIDIKAN ITU UNTUK "MENDIDIK" BUKAN UNTUK "MEMBIDIK"


Hi_Bro

Lettu

Reputation: 42

Pembayar Pajak
Adult Member
Blood Donation
Good Citizen

Offline
22 Jul 2011 17:04  (This post was last modified: 22 Jul 2011 17:06 by Hi_Bro.)    #6

nice info ndan, menarik untuk di diskusikan di forum ini..

Saya setuju dengan tulisan Rhenaldi Kasali yang diposting ndan mbae di atas dan juga pendapat ndan andy_ukt.

Tanggapan untuk ndan mbae : Sekarang ini banyak lulusan SMA yang enggan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, karena hampir setiap tahun sejak mereka menuntut ilmu di kelas 1 SMA melihat berita di koran dan mendengar serta menonton di tv, berapa banyak lulusan SMA atau kakak-kakak kelas mereka yang tidak lulus di perguruan tinggi favorit mereka, secara psikologis mereka yang tidak lulus di PTN merasa malu, bayang-bayang masa depan kelabu menari-nari dibenak mereka. Timbul perasaan malas mencoba lagi ke perguruan tinggi yang lain karena sudah terlanjur kecewa. Sangat jauh berbeda pemandangan yang dilihat saat mereka baru lulus SMA, semua terlihat sumringah bahagia, tertawa penuh canda bersama teman-teman yang lulus. Jika mereka mendapati kenyataan kalau mereka ternyata tidak diterima atau tidak lulus di PTN yang mereka impi-impikan sejak masih di bangku SMA. Semua harapan itu sirna, semua cita-cita itu terputus. Jadilah sekarang mereka hanya punya keinginan satu, bagaimana bisa bekerja dan menghasilkan uang sendiri sehingga tidak membebani orang tua yang sudah susah payah membiayai sekolah sejak dari TK sampai di bangku SMA. Kebanyakan mereka yang lulusan SMA ini beranggapan nanti setelah dapat kerjaan bisa sambil kuliah sehingga tidak menambah beban keuangan orang tua. Itulah niat pertama mereka, tapi apa yang terjadi setelah mereka diterima bekerja walaupun hanya berijazah SMA dan bisa membiayai hidup sendiri. Sangat jarang yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi lagi, ya alasannya klasik, karena tidak ada waktu lagi, kecapean setelah bekerja seharian, atau mereka merasa puas dengan pendapatan dari kerja mereka sekarang. Apalagi jika setelah bekerja ada keinginan untuk menikah, setelah menikah, sang isteri hamil, kemudian melahirkan selanjutnya membesarkan anak-anak mereka. Semua itu sudah pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit. Keperluan biaya itu sudah bertambah besar sejak menikah sampai membesarkan anak, belum lagi jika anak mereka sudah saatnya masuk sekolah.
Mungkin dibenak mereka tidak perna ada lagi kata kuliah atau melanjutkan pendidikan sambil bekerja, disamping alasan-alasan di atas, biaya untuk masuk dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sudah digunakan buat keperluan rumah tangga dan biaya anak-anak mereka.

Itulah sekilas gambaran atau potret kehidupan adik-adik kita yang baru lulus SMA, walaupun tidak semuanya mengalami hal seperti di atas, karena keadaan ini tidak berlaku buat anak-anak yang orang tuanya punya kehidupan yang mapan dan memiliki segalanya.Mau sekolah dimana saja tidak masalah, karena jaminan pendidikan yang lebih tinggi sudah tidak menjadi masalah karena kemampuan finasial orang tua mereka di atas puncak.

Hanya sebagian kecil dari mereka yang lulus SMA ini mempunyai keinginan yang kuat dengan cita-citanya untuk terus menuntut ilmu, inipun karena kepintaran atau kecerdasan mereka yang harus dibantu dengan adanya beasiswa atau mereka harus mengajukan bantuan beasiswa karena alasan tidak mampu. Jumlah mereka yang mendapatkan beasiswa juga terbatas dengan anggaran yang disediakan. Dan itupun kadang harus mengajukan permohonan dulu ke lembaga atau instansi yang menyediakan bantuan.

Tanggapan untuk ndan andy_ukt : Saya setuju dengan kalimat "Para pendidik yang saat ini sedang gencar-gencarnya berupaya untuk tersertifikasi...jika seleksi sertifikasi gagal maka dengan mudahnya dapat diganti dengan pelatihan atau penataran lalu setelah mengikuti kegiatan tersebut maka akan diproses sertifikasinya...setelah tersertifikasi dan akan mendapatkan tunjangan sertifikasi yang sangat besar maka mulai "malas2an" dalam melakukan proses belajar mengajar dikelas"..

Saat ini pendapatan seorang pendidik yang bersertifikasi sudah lebih dari cukup. Kalau dulu saat sebelum ada kebijakan bahwa anggaran yang bersumber dari APBD dan APBN minimal 20% untuk membiayai pendidikan di tanah air ini, geliat pendidikan terasa berjalan sama dari tahun ke tahun, tidak begitu terasa kemajuan yang terlihat baik dari segi kuantitas proses belajar mengajar maupun dari segi kualitas pendidikan baik itu ilmu yang diserap oleh anak didik maupun kualitas pendidik dalam mengajar atau memberikan ilmunya. Seiring dengan berubahnya susunan kabinet dan menteri yang menangani, maka berubah juga kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan.

Saya mungkin juga orang tua murid-murid yang lain, saat ini sangat mendambakan, alangkah baiknya jika dana pendidikan yang sangat besar sekarang ini, selain untuk biaya sarana dan prasarana pendidikan, juga untuk biaya buku-buku sekolah anak-anak didik. Jadi buku-buku paket benar-benar gratis, dan pendidikan dari bangku TK sampai SMA benar-benar gratis, sehingga kita orang tua murid bisa memikirkan buat membeli baju, celana, sepatu, tas dan buku tulis untuk anak-anak kita. Karena saat sekrang, keperluan biaya perlengkapan sekolah mereka relatif tidak sedikit setiap tahunnya, ditambah lagi dengan pembelian buku-buku paket mereka. Itu baru yang memiliki anak satu, bagaimana dengan yang memiliki anak dua, tiga atau empat orang.

Berapa besar biaya yang mereka keluarkan setiap tahun untuk biaya pendidikan anak-anak mereka, disamping harus membiayai hidup makan minum keluarga mereka agar terus bisa tetap hidup dalam menjalani kehidupan ini...

Mohon dapat dipikirkan dalam mengambil kebijakan-kebijakan yang katanya berpihak pada rakyat... Top


solobug

anemer bangkong

Reputation: 152

CSR Donatur
Pahlawan
Spam Killer

Offline
22 Jul 2011 19:25  (This post was last modified: 22 Jul 2011 19:27 by solobug.)    #7

Sekolah menurut saya adalah sebuah kompromi. Kita tidak perlu sekolah tinggi kalo kita bunya bakat dan kecerdasan.

Saya punya sepupu yang waktu SMAnya keluar dan sekarang sukses jadi pengusaha. Pak haji yang sering saya ajak ngobrol waktu di padang yang jadi pengusaha sukses tanpa selembar ijazahpun ditangan. John Major PM Inggris yang hanya lulusan SMP. Adam Malik hanya lulusan SMP. Profesor Soeroso Notohadiprawiro, profesor UGM yang lulusan STM. Bill Gates mahasiswa abadi Harvard.

Memang bagi yang punya kemampuan biasa-biasa saja seperti saya ini tetap harus sekolah atau setidaknya private school untuk mengasah kemampuan dengan dibimbing siapa saja dan kita bisa mengikuti ujian persamaan kalau memang perlu, kalo niatnya wiraswasta saya pikir gak perlu mengikuti ujian.


adicvara

Catam Tukang Intip

Reputation: 0


Offline
19 Sep 2011 19:27    #8

homeschooling adalah solusinya dengan catatan ada harga yang harus dibayar yaitu kita orang tua benar2 ingin anaknya pintar/smart sehingga harus ada waktu khusus untuk anak. Manajemen waktu dan perhatian antara istri+suami harus ditujukan utk anak.


ekaperwira

Kopda

Reputation: 3


Offline
7 Oct 2011 11:20    #9

setuju dengan pak renald
memang harus di ubah sistem yang sekarang
jangan di buat sulit
sehingga pendidikan dapat merata di semua kalangan


eniqma

Letkol

Reputation: 117

Sigi

Offline
7 Oct 2011 15:30    #10

sejujurnya ane kuliah untuk dapat gelar, karena ibu ane,
belajar diluar kampus jauh lebih cepat dan praktis.


Think



Hi_Bro

Lettu

Reputation: 42

Pembayar Pajak
Adult Member
Blood Donation
Good Citizen

Offline
16 Nov 2011 09:01    #11

Think Pendidikan Akademik lebih bagus dibarengi dengan pendidikan agama / ahlak.. Top



swidiharso

Catam Tukang Intip

Reputation: 0


Offline
28 Nov 2011 12:40    #12

DEWAN HARUS PERHATIAN JUGA BIKIN KEBIJAKANNYA


s4nj4y

Inspektur

Reputation: 151

Facebook Network
Pembayar Pajak
Adult Member

Offline
28 Nov 2011 13:34    #13

Sistem pendidikan kita sekarang ini salah, semua berorientasi pada hasil akhir bukan kepada proses yang telah berjalan.

Sebagai contoh, sekolah di SMA 3 tahun hanya ditentukan dalam waktu 3 hari.
Kuliah 5 tahuna hanya ditentukan dalam 2 jam sidang.


babigendut

Prada

Reputation: 0


Offline
27 Jan 2012 22:37    #14

I like it... Agree




Kirim iklan anda disini, Gratis! Hanya member yang aktif diskusi. Info selengkapnya.
Today's 3 Business Update, Lihat Toko dan Bisnis Member Aktif lainnya Hanya 50rb/bulan, thread jualan anda juga bisa tampil disini. Segera hubungi kami
©2010 Smart Personal Business Update [SPBU] by FBI. Anda belum punya situs bisnis, pribadi atau blog? Buat disini