22 Jul 2011 17:04
(This post was last modified: 22 Jul 2011 17:06 by Hi_Bro.)
#6
nice info ndan, menarik untuk di diskusikan di forum ini..
Saya setuju dengan tulisan Rhenaldi Kasali yang diposting ndan mbae di atas dan juga pendapat ndan andy_ukt.
Tanggapan untuk ndan mbae : Sekarang ini banyak lulusan SMA yang enggan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, karena hampir setiap tahun sejak mereka menuntut ilmu di kelas 1 SMA melihat berita di koran dan mendengar serta menonton di tv, berapa banyak lulusan SMA atau kakak-kakak kelas mereka yang tidak lulus di perguruan tinggi favorit mereka, secara psikologis mereka yang tidak lulus di PTN merasa malu, bayang-bayang masa depan kelabu menari-nari dibenak mereka. Timbul perasaan malas mencoba lagi ke perguruan tinggi yang lain karena sudah terlanjur kecewa. Sangat jauh berbeda pemandangan yang dilihat saat mereka baru lulus SMA, semua terlihat sumringah bahagia, tertawa penuh canda bersama teman-teman yang lulus. Jika mereka mendapati kenyataan kalau mereka ternyata tidak diterima atau tidak lulus di PTN yang mereka impi-impikan sejak masih di bangku SMA. Semua harapan itu sirna, semua cita-cita itu terputus. Jadilah sekarang mereka hanya punya keinginan satu, bagaimana bisa bekerja dan menghasilkan uang sendiri sehingga tidak membebani orang tua yang sudah susah payah membiayai sekolah sejak dari TK sampai di bangku SMA. Kebanyakan mereka yang lulusan SMA ini beranggapan nanti setelah dapat kerjaan bisa sambil kuliah sehingga tidak menambah beban keuangan orang tua. Itulah niat pertama mereka, tapi apa yang terjadi setelah mereka diterima bekerja walaupun hanya berijazah SMA dan bisa membiayai hidup sendiri. Sangat jarang yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi lagi, ya alasannya klasik, karena tidak ada waktu lagi, kecapean setelah bekerja seharian, atau mereka merasa puas dengan pendapatan dari kerja mereka sekarang. Apalagi jika setelah bekerja ada keinginan untuk menikah, setelah menikah, sang isteri hamil, kemudian melahirkan selanjutnya membesarkan anak-anak mereka. Semua itu sudah pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit. Keperluan biaya itu sudah bertambah besar sejak menikah sampai membesarkan anak, belum lagi jika anak mereka sudah saatnya masuk sekolah.
Mungkin dibenak mereka tidak perna ada lagi kata kuliah atau melanjutkan pendidikan sambil bekerja, disamping alasan-alasan di atas, biaya untuk masuk dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sudah digunakan buat keperluan rumah tangga dan biaya anak-anak mereka.
Itulah sekilas gambaran atau potret kehidupan adik-adik kita yang baru lulus SMA, walaupun tidak semuanya mengalami hal seperti di atas, karena keadaan ini tidak berlaku buat anak-anak yang orang tuanya punya kehidupan yang mapan dan memiliki segalanya.Mau sekolah dimana saja tidak masalah, karena jaminan pendidikan yang lebih tinggi sudah tidak menjadi masalah karena kemampuan finasial orang tua mereka di atas puncak.
Hanya sebagian kecil dari mereka yang lulus SMA ini mempunyai keinginan yang kuat dengan cita-citanya untuk terus menuntut ilmu, inipun karena kepintaran atau kecerdasan mereka yang harus dibantu dengan adanya beasiswa atau mereka harus mengajukan bantuan beasiswa karena alasan tidak mampu. Jumlah mereka yang mendapatkan beasiswa juga terbatas dengan anggaran yang disediakan. Dan itupun kadang harus mengajukan permohonan dulu ke lembaga atau instansi yang menyediakan bantuan.
Tanggapan untuk ndan andy_ukt : Saya setuju dengan kalimat "Para pendidik yang saat ini sedang gencar-gencarnya berupaya untuk tersertifikasi...jika seleksi sertifikasi gagal maka dengan mudahnya dapat diganti dengan pelatihan atau penataran lalu setelah mengikuti kegiatan tersebut maka akan diproses sertifikasinya...setelah tersertifikasi dan akan mendapatkan tunjangan sertifikasi yang sangat besar maka mulai "malas2an" dalam melakukan proses belajar mengajar dikelas"..
Saat ini pendapatan seorang pendidik yang bersertifikasi sudah lebih dari cukup. Kalau dulu saat sebelum ada kebijakan bahwa anggaran yang bersumber dari APBD dan APBN minimal 20% untuk membiayai pendidikan di tanah air ini, geliat pendidikan terasa berjalan sama dari tahun ke tahun, tidak begitu terasa kemajuan yang terlihat baik dari segi kuantitas proses belajar mengajar maupun dari segi kualitas pendidikan baik itu ilmu yang diserap oleh anak didik maupun kualitas pendidik dalam mengajar atau memberikan ilmunya. Seiring dengan berubahnya susunan kabinet dan menteri yang menangani, maka berubah juga kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan.
Saya mungkin juga orang tua murid-murid yang lain, saat ini sangat mendambakan, alangkah baiknya jika dana pendidikan yang sangat besar sekarang ini, selain untuk biaya sarana dan prasarana pendidikan, juga untuk biaya buku-buku sekolah anak-anak didik. Jadi buku-buku paket benar-benar gratis, dan pendidikan dari bangku TK sampai SMA benar-benar gratis, sehingga kita orang tua murid bisa memikirkan buat membeli baju, celana, sepatu, tas dan buku tulis untuk anak-anak kita. Karena saat sekrang, keperluan biaya perlengkapan sekolah mereka relatif tidak sedikit setiap tahunnya, ditambah lagi dengan pembelian buku-buku paket mereka. Itu baru yang memiliki anak satu, bagaimana dengan yang memiliki anak dua, tiga atau empat orang.
Berapa besar biaya yang mereka keluarkan setiap tahun untuk biaya pendidikan anak-anak mereka, disamping harus membiayai hidup makan minum keluarga mereka agar terus bisa tetap hidup dalam menjalani kehidupan ini...
Mohon dapat dipikirkan dalam mengambil kebijakan-kebijakan yang katanya berpihak pada rakyat...