Current time: 19 Apr 2014, 08:58 Hello There, Guest! LoginRegister
ForumBebas.com / ACI / Kawasan Wajib Tahu / PSPB / Tokoh dalam sejarah Indonesia ( will be updated )



REPLY 
 
Thread Rating:
  • 164 Votes - 2.81 Average


  
Kojek
24 Dec 2007 23:52    #1

Tukang Sapu

Raden Saleh

Sosok Raden Saleh sudah menjadi legenda. Drama hidupnya tampak tak jauh beda gemuruhnya dengan drama-drama lukisannya. Ada yang ditikam, ada yang menikam. Ada yang mengejar dan tampak yang dikejar-kejar. Terus dikejar dan diburu, itulah nasib lukisannya. Raden Saleh, sang pangeran ajaib. Paling tidak itu gelarnya dalam buku yang disusun Lev Dyomin, Zagadocny Princ, Raden Saleh I Ego Wremya (Pangeran Ajaib, Raden Saleh dan Zamannya) yang dicetak oleh penerbit Rusia.

Kala itu, pertengahan abad XIX, dunia seni lukis atau seni gambar para bumiputera masih mengacu pada gaya tradisional yang berkembang di daerah-daerah, dan sebagian terbesar menyimpan potensi dekoratif. Misalnya lukisan Bali, Jawa, ornamen di Toraja atau Kalimantan. Raden Saleh berkibar sendiri dengan gaya lukis fotografis, gaya seni lukis Barat. Ia memang belajar di Barat, di antaranya membuat easelpainting atau lukisan dalam bentuk pigura.

Raden Saleh mampu menampilkan tema berbeda dari seni lukis Indonesia, yang oleh masyarakat Barat dinilai berunsur "religius-kontemplatif-abstrak", bersifat keagamaan, bersamadi, lepas dari kebendaan. Ia memang pelukis objek alam dan kehidupan hewan, khususnya kuda dan binatang buas. Ia juga dianggap mumpuni dalam mencoretkan garis wajah dalam lukisan potret.

Kesukaannya hanya menggambar

Raden Saleh Sjarif Bestaman lahir tahun 1807, tanpa diketahui tanggal dan bulannya, dari wanita Mas Adjeng Zarip Hoesen. Sejak usia 10 tahun, anak dari Terbaya (dekat Semarang) ini diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda atasannya di Batavia. Anak sopan itu menonjol dengan kesukaannya menggambar. Sewaktu di sekolah rakyat (Volks-School) saat guru mengajar, ia malah menggambar. Gurunya tak marah, karena ia kagum melihat karya muridnya.

Keluwesannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga elite Hindia-Belanda. Seorang kenalannya, Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di departemennya.
Kebetulan di instansi itu ada pelukis keturunan Belgia, A.A.J. Payen yang didatangkan dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Tertarik pada bakat Raden Saleh, Payen berinisiatif memberikan bimbingan.

Payen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup membantu Raden Saleh menyelami seni lukis Barat dan belajar teknik pembuatannya, misalnya melukis dengan cat minyak. Payen juga mengajak pemuda Saleh dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari model pemandangan untuk lukisan. Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi.

Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, Payen mengusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Konon usul ini didukung oleh Gubernur Jenderal Van Der Capellen yang memerintah waktu itu (1819 - 1826), setelah ia melihat karya "ajaib" Raden Saleh.

Tahun 1829, nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal de Kock, Capellen membiayai Saleh belajar ke Belanda. Namun, keberangkatannya itu menyandang misi lain. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa, bahasa Jawa, dan bahasa Melayu. Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh.

Terkapar bersimbah darah

Semasa belajar di Belanda keterampilannya berkembang pesat. Wajar ia dianggap saingan berat sesama pelukis muda Belanda yang sedang belajar. Mereka pun berniat "memberi pelajaran".

Para pelukis muda itu mulai melukis bunga. Lukisan bunga yang sangat mirip aslinya itu pun diperlihatkan ke Raden Saleh. Terbukti, beberapa kumbang serta kupu-kupu terkecoh untuk hinggap di atasnya. Seketika keluar berbagai kalimat ejekan dan cemooh. Merasa panas dan terhina, diam-diam Raden saleh menyingkir.

Ketakmunculannya selama berhari-hari membuat teman-temannya cemas. Muncul praduga, pelukis Indonesia itu berbuat nekad karena putus asa. Segera mereka ke rumahnya. Benar, pintu rumahnya terkunci dari dalam. Prasangka mereka makin buruk. Pintu pun dibuka paksa dengan didobrak. Tiba-tiba mereka saling jerit. "Mayat Raden Saleh" terkapar di lantai berlumuran darah!

Dalam suasana panik Raden Saleh muncul dari balik pintu lain. "Lukisan kalian hanya mengelabui kumbang dan kupu-kupu, tetapi gambar saya bisa menipu manusia," ujarnya tersenyum. Para pelukis muda Belanda itu pun ngeloyor pergi, menanggung malu.

Itulah salah satu pengalaman menarik Raden Saleh sebagai cermin kemampuannya. Dua tahun pertama ia pakai untuk memperdalam bahasa Belanda dan belajar teknik mencetak menggunakan batu. Sedangkan soal melukis, selama lima tahun pertama, ia belajar melukis potret dari Cornelius Krussemen dan tema pemandangan dari Andreas Schelfhout karena karya mereka memenuhi selera dan mutu rasa seni orang Belanda saat itu. Krusseman adalah pelukis istana yang kerap menerima pesanan pemerintah Belanda dan keluarga kerajaan.

Raden Saleh makin mantap memilih seni lukis sebagai jalur hidup. Ia mulai dikenal, malah berkesempatan berpameran di Den Haag dan Amsterdam. Melihat lukisan Raden Saleh, masyarakat Belanda terperangah. Prasangka mereka, "Lain Barat, Lain Timur" gugur seketika. Mana sangka pelukis muda dari Indie itu dapat menguasai teknik dan menangkap watak seni lukis Barat.

Saat masa belajar di Belanda usai, Raden Saleh mengajukan permohonan agar boleh tinggal lebih lama untuk belajar "wis-, land-, meet- en werktuigkunde (ilmu pasti, ukur tanah, dan pesawat), selain melukis. Dalam perundingan antara Minister van Kolonieen, Raja Willem I (1772 - 1843), dan pemerintah Hindia Belanda, ia boleh menangguhkan kepulangan ke Indonesia. Tapi sokongan uang dari kolonial kas Nederland dihentikan.

Saat pemerintahan Raja Willem II (1792 - 1849) ia mendapat dukungan serupa. Beberapa tahun kemudian ia dikirim ke luar negeri untuk menambah ilmu, misalnya Dresden, Jerman. Di sini ia tinggal selama lima tahun dengan status tamu kehormatan Kerajaan Jerman, dan diteruskan ke Weimar, Jerman (1843). Ia kembali ke Belanda tahun 1844. Selanjutnya ia menjadi pelukis istana kerajaan Belanda.

Di Eropa tetap berblangkon

Tapi, jiwa seninya belum terpuaskan. Seni lukis Belanda, baginya, tidak menempuh jalan sendiri, tetapi selalu mengekor aliran di Prancis. Wawasan seninya pun makin berkembang seiring dengan terbitnya kekaguman pada karya tokoh romantisme Eugene Delacroix (1798 - 1863), pelukis Prancis legendaris. Ia pun intens terjun ke dunia pelukisan hewan yang dipertemukan dengan sifat agresif manusia. Mulailah pengembaraannya ke banyak tempat, untuk menghayati unsur-unsur dramatika yang ia cari.

Saat di Eropa, ia menjadi saksi mata revolusi Februari 1848 di Paris, yang mau tak mau mempengaruhi dirinya. Dari Perancis ia bersama pelukis Prancis kenamaan, Horace Vernet, ke Aljazair untuk tinggal selama beberapa bulan di tahun 1846. Di kawasan inilah lahir ilham untuk melukis kehidupan satwa di padang pasir. Pengamatannya itu membuahkan sejumlah lukisan perkelahian satwa buas dalam bentuk pigura-pigura besar. Negeri lain yang ia kunjungi: Austria dan Italia. Pengembaraan di Eropa berakhir tahun 1851 ketika ia pulang ke tanah air bersama istrinya, wanita Belanda yang kaya raya.

Tak banyak catatan sepulangnya di tanah air. Ia dipercaya menjadi konservator pada Lembaga Kumpulan Koleksi Benda-benda Seni. Beberapa lukisan potret keluarga keraton dan pemandangan menunjukkan ia tetap berkarya. Yang lain, ia bercerai dengan istri terdahulu lalu menikahi gadis keluarga ningrat keturunan Keraton Solo.

Di Batavia ia tinggal di vila di sekitar Cikini. Gedungnya dibangun sendiri menurut teknik sesuai dengan tugasnya sebagai seorang pelukis. Sebagai tanda cinta terhadap alam dan isinya, ia menyerahkan sebagian dari halamannya yang sangat luas pada pengurus kebun binatang. Kini kebun binatang itu menjadi Taman Ismail Marzuki. Sementara rumahnya menjadi RS Cikini, Jakarta.

Tahun 1875 ia berangkat lagi ke Eropa bersama istrinya dan baru kembali ke Jawa tahun 1878. Selanjutnya, ia menetap di Bogor sampai wafatnya pada 23 April 1880 siang hari, konon karena diracuni pembantu yang dituduh mencuri lukisannya. Namun dokter membuktikan, ia meninggal karena trombosis atau pembekuan darah.

Tahun 1883, untuk memperingati tiga tahun wafatnya diadakan pameran-pameran lukisannya di Amsterdam, di antaranya yang berjudul Hutan Terbakar, Berburu Kerbau di Jawa, dan Penangkapan Pangeran Diponegoro. Lukisan-lukisan itu dikirimkan antara lain oleh Radja Willem III dan Pangeran Van Saksen Coburg-Gotha.

Memang banyak orang kaya dan pejabat Belanda, Belgia, serta Jerman yang mengagumi pelukis yang semasa di mancanegara tampil "aneh" dengan berpakaian adat ningrat Jawa lengkap dengan blangkon. Di antara mereka adalah bangsawan Saksen Coburg-Gotha, keluarga Ratu Victoria, dan sejumlah gubernur jenderal seperti van den Bosch, Baud, dan Daendels.

Tak sedikit pula yang menganugerahinya tanda penghargaan, yang kemudian selalu ia sematkan di dada. Di antaranya, bintang Ridder der Orde van de Eikenkoon (R.E.K.), Commandeur met de ster der Frans Joseph Orde (C.F.J.), Ridder der Kroonorde van Pruisen (R.K.P.), Ridder van de Witte Valk (R.W.V.), dll.

Sedangkan penghargaan dari pemerintah Indonesia diberikan tahun 1969 lewat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, secara anumerta berupa Piagam Anugerah Seni sebagai Perintis Seni Lukis di Indonesia. Ujud perhatian lain adalah, pembangunan ulang makamnya di Bogor yang dilakukan oleh Ir. Silaban atas perintah Presiden Soekarno, sejumlah lukisannya dipakai untuk ilustrasi benda berharga negara, misalnya akhir tahun 1967 PTT mengeluarkan prangko seri Raden Saleh dengan reproduksi dua lukisannya bergambar binatang buas yang sedang berkelahi.

Penganut romantisme

Mungkin Raden Saleh memang ditakdirkan untuk selalu "dekat" dengan orang Belanda. Mulai dari bekerja melukis, belajar melukis secara modern, melanglang Eropa, plus pesanan melukis, semua karena bantuan orang-orang Belanda.

Apa karena itu sampai akhir hayat ia memilih predikat sebagai pelukis Kerajaan Belanda? Seperti tertulis pada prasasti makamnya di Bondongan, Bogor, "Raden Saleh Djoeroegambar dari Sri Padoeka Kandjeng Radja Wolanda." Kalimat di nisan itulah yang sering melahirkan banyak tafsir yang memancing perdebatan berkepanjangan tentang visi kebangsaan Raden Saleh. Namun, soal nasionalis atau tidak seorang pelukis macam Raden Saleh, tidaklah terlalu penting, kecuali sebagai bagian kehidupan yang mempengaruhi setiap karyanya.

Seperti halnya kekagumannya pada Delacroix. Tokoh romantisme ini dinilai mempengaruhi karya-karya berikut Raden Saleh yang jelas menampilkan keyakinan romantismenya. Itu tak aneh, karena saat romantisme berkembang di Eropa di awal abad XIX, Raden Saleh tinggal dan berkarya di Prancis (1844 - 1851).

Ciri romantisme muncul dalam lukisan-lukisan Raden Saleh yang mengandung paradoks. Gambaran keagungan sekaligus kekejaman, cerminan harapan (religiositas) sekaligus ketidakpastian takdir (dalam realitas). Ekspresi yang dirintis pelukis Prancis Gerricault (1791 - 1824) dan Delacroix ini diungkapkan dalam suasana dramatis yang mencekam, lukisan kecoklatan yang membuang warna abu-abu, dan ketegangan kritis antara hidup dan mati.

Lukisan-lukisannya yang dengan jelas menampilkan ekspresi ini adalah bukti Raden Saleh seorang romantisis. Konon, melalui karyanya ia menyindir nafsu manusia yang terus mengusik makhluk lain. Misalnya dengan berburu singa, rusa, banteng, dll.

Akhirnya, Raden Saleh terkesan tak hanya menyerap pendidikan Barat tetapi juga mencernanya untuk menyikapi realitas di hadapannya. Kesan kuat lainnya adalah Raden Saleh percaya pada idealisme kebebasan dan kemerdekaan, maka ia menentang penindasan.

Wajar bila muncul pendapat, meski menjadi pelukis kerajaan Belanda, ia tak sungkan mengkritik politik represif pemerintah Hindia Belanda. Ini diwujudkannya dalam lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro.
Meski serupa dengan karya J.W. Pieneman, ia memberi interpretasi yang berbeda.

Lukisan Pieneman menekankan peristiwa menyerahnya Pangeran Diponegoro yang berdiri dengan wajah letih dan dua tangan terbentang. Hamparan senjata berupa sekumpulan tombak adalah tanda kalah perang. Di latar belakang Jenderal De Kock berdiri berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan seolah memerintahkan penahanan Diponegoro.

Rupanya, Raden Saleh ingin mengoreksi. Di lukisan yang selesai dibuat tahun 1857 itu pengikutnya tak membawa senjata. Keris di pinggang, ciri khas Diponegoro, pun tak ada. Ini menunjukkan, peristiwa itu terjadi di bulan Ramadhan. Maknanya, Pangeran dan pengikutnya datang dengan niat baik. Namun, perundingan gagal. Diponegoro ditangkap dengan mudah, karena jenderal De Kock tahu musuhnya tak siap berperang di bulan Ramadhan.

Di lukisan itu Pangeran Diponegoro tetap digambarkan berdiri dalam pose siaga yang tegang. Wajahnya yang bergaris keras tampak menahan marah, tangan kirinya yang mengepal menggenggam tasbih.

Akhirnya, reputasi karya yang ditunjukkan oleh prestasi artistiknya, membuat Raden Saleh dikenang dengan rasa bangga. Drama-drama yang dicoretkan di kanvasnya dengan gegap gempita, menghapus gelombang drama yang mengombang-ambingkan namanya semasa hidup.

Dari beberapa yang masih ada, salah satunya lukisan kepala seekor singa, kini tersimpan dengan baik di Istana Mangkunegaran, Solo. Lukisan ini dulu dibeli seharga 1.500 gulden. Berapa nilainya sekarang mungkin susah-susah gampang menghitungnya. Sekadar perbandingan, salah satu lukisannya yang berukuran besar, Berburu Rusa, tahun 1996 terjual di Balai Lelang Christie's Singapura seharga Rp 5,5 miliar!

Berkat Raden Saleh, Indonesia boleh berbangga melihat karya anak bangsa menerobos museum akbar seperti Rijkmuseum, Amsterdam, Belanda, dan dipamerkan di museum bergengsi Louvre, Paris, Prancis.
signature
[b]Sabar, Ikhlas, Legowo dan Bersyukur adalah kunci hidup penuh rahmah.......[/b]
banner
Kojek
24 Dec 2007 23:54    #2

Tukang Sapu

Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Pertama, menjadi jelas memang figur Sultan Yogya masih sangat kharismatis di mata orang Jawa, kedua Megawati dan capres lainnya akan punya lawan kuat dan ketiga memperlihatkan Yogya merupakan sebuah daerah inti pembentukan Republik Indonesia. Lalu ketika kita mengingat Yogya dan perjuangannya maka pandangan kita tak bisa dilepaskan pada Sultan Yogya ke sembilan. Raja terbesar Yogyakarta sepanjang sejarah kesultanan Yogyakarta sejak Perjanjian Giyanti 1755.

Sepanjang sejarahnya Yogyakarta lebih dikenal sebagai wilayah yang melahirkan pembangkang terhadap kekuasaan kolonial Hindia Belanda ketimbang pusat budaya. Berbeda dengan Mangkunegaran yang dimulai dari kebesaran Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyowo dimana kemudian Mangkunegaran berubah menjadi wilayah tersendiri yang kaya raya dan banyak menghasilkan karya-karya sastra dan budaya. Puncak karya Mangkunegaran adalah pada masa Mangkunegoro IV dan Mangkunegoro VI dengan karyanya Wulangreh, Serat Kalathida dan banyak karya lainnya begitu juga dengan tari-tarian yang adiluhung. Sementara Kasunanan Solo mengalami puncak kejayaannya pada masa Pakubuwono X (sepuluh). Beliau merupakan Raja Jawa yang sering dibilang sebagai Ratu Wicaksono dan sangat kaya raya sekali karena menguasai jaringan perdagangan gula. Dibanding Kasunanan dan Mangkunegaran, wilayah Voorstenlanden Yogya seperti: Kasultanan dan Pakualaman tidak memiliki apa-apa. Sultan Yogya ke delapan malah terkenal sebagai Sultan yang senang pesta mewah. Gambar-gambar perjamuan makan Sultan Yogya VIII menunjukkan selera tinggi Sultan yang gemar menghambur-hamburkan uang. Tapi Sultan Yogya VIII ini punya putera yang luar biasa, dia bernama: Dorodjatun. Dorodjatun ini bukan putera dari Garwo Padmi (Permaisuri) tapi putera dari Garwo Ampilan (selir). Di usianya yang begitu muda Dorodjatun melihat ibunya separuh terusir dari Istana, dan tinggal di luar lingkungan Istana. Hal ini membekas dihatinya.

Dorodjatun di titipkan oleh Bapaknya ke keluarga Mulder, dididik dengan cara-cara Belanda, dengan begitu Dorodjatun tahu adat istiadat orang Belanda, dengan cara berpikir barat kelak dia mampu mempermainkan Belanda pada masa-masa perang Revolusi. Setelah dewasa Dorodjatun disekolahkan di Belanda disini dia mempunyai sahabat Puteri Juliana yang kelak menjadi Ratu Belanda. Puteri ini senang sekali dengan Dorodjatun karena sikapnya yang pendiam, sederhana namun pandai melucu. Kedua anak bangsawan ini-pun bersahabat, tapi ada rumor yang bilang kalau sang Puteri jatuh cinta dengan Dorodjatun. Di Belanda Dorodjatun juga sekelas dengan Hamid Algadrie, Nah Hamid ini kelak menjadi Sultan Hamid II, Raja Pontianak tokoh penting di balik BFO (Bijeenkomst voor Federale Overleeg) sebagai hasil kompromi terhadap Konferensi Meja Bundar. Bila dibaca dari buku `Tahta Untuk Rakyat' terlihat sekali kedua Sultan ini merupakan rivaal. Bahkan Dorodjatun dengan sedikit sinis menceritakan bahwa Hamid Algadrie kecil pernah nangis ketika berkelahi dengan seorang perempuan. Hubungan kedua Sultan ini kelak dijaman Revolusi kurang begitu baik tapi mereka sering berhubungan karena desakan politik.

Sekitar akhir tahun 1930-an Sultan HB VIII memanggil anaknya Dorodjatun untuk pulang, mereka bertemu di Batavia tepatnya di Hotel Des Indes (Hotel ini kelak menjadi Pertokoan Duta Merlin). Di Hotel itulah Sultan menyerahkan tahtanya dan mangkat. Jadilah Dorodjatun menjadi Sultan HB IX. Tidak seperti Bangsawan-Bangsawan lain, Sultan HB IX dikenal sebagai seorang Sultan yang rendah hati, dia benar-benar bergabung dan membela rakyatnya ini menjadi cerita-cerita rakyat Yogya yang legendaris.

Sebelum dinobatkan menjadi Sultan sudah kebiasaan pemerintahan Hindia Belanda lewat Residennya selalu berunding dulu dengan calon Raja. Biasanya perundingan ini untuk menodong konsesi-konsesi politik pada calon Raja baru, sebagai wilayah yang merdeka kekuasaan Sultan Yogya sangat terbatas dan selalu diawasi oleh Residen. Biasanya pada Sultan-Sultan terdahulu, perundingan berlangsung singkat, karena pendahulu Dorodjatun biasanya tak mau ambil pusing, apalagi setelah insiden Ontowiryo yang berbuah perang Diponegoro. Namun Dorodjatun tidak mau mengalah pada perundingan ini. Tapi pada suatu malam Dorodjatun mendengar suara "Sudah kamu tanda tangani saja, sedikit lagi Belanda pergi dari sini" Dorodjatun yakin bahwa itu suara nenek moyangnya. Dan paginya dengan hati ringan ia menandatangani pengajuan konsesi, Toh Belanda sedikit lagi mau pergi. Hal itu membuat Residen Belanda tercengang karena tanpa angin tanpa hujan Sang Pangeran Mahkota mau menandatangani pengajuan konsesi setelah selama berbulan-bulan menolak habis-habisan pengajuan dari Belanda. Lalu dinobatkanlah sang Sultan menjadi Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono, Senopati Ing Ngalogo, Abdurrahman Sayidin Panoto Gomo, Kalifatullah Ingkang Kaping Songo" , disaat penobatan itu pula-lah Sri Sultan HB IX mengucapkan kata terkenalnya: " Saya memang berpendidikan barat tapi pertama-tama saya tetap orang Jawa".

Di pertengahan tahun 1945 orang-orang pergerakan di Jakarta sudah berhasil memasuki masa puncak kerjanya yaitu: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dimana Bung Karno dan Bung Hatta menyatakan kemerdekaannya. Namun tuntutan kemerdekaan politik itu oleh pihak Republikein secara de jure hanya daerah kekuasaan Belanda. Diluar kekuasaan Belanda kaum Republikein tidak berhak, sementara wilayah kekuasaan Solo-Yogya disebut Voorstenlanden adalah daerah yang dipertuan oleh Sunan Solo, Mangkunegoro, Sultan Yogya dan Paku Alam dan bukan kekuasaan Hindia Belanda. Di puncak sejarah inilah nasib kedua wilayah menjadi sangat berbeda juga nasib kehidupan kraton-kratonnya kelak. Sunan Solo dan Mangkunegoro bimbang, bahkan separuh menolak bergabung dengan Republik Indonesia. Mereka takut bila bergabung dengan Republik kerajaan-kerajaan akan dilikuidir dan pemerintahan yang dikabarkan Sosialis itu menolak adanya bentuk feodalisme. Sementara Sultan Yogya dan Paku Alam dengan keyakinan bulat mendukung Republik Indonesia dan bergabung dengan Republik Indonesia. Penggabungan Sultan Yogya ini merupakan simbol bahwa Raja Jawa (Jawa adalah simbol dari pusatnya Nusantara) berdiri dibelakang Sukarno-Hatta ini berarti dari sisi budaya kemerdekaan RI mendapatkan legitimasinya. Sunan Solo dan Mangkunegoro masih menolak dan ini berakibat fatal karena rakyat Solo keburu marah pada dua raja ini dan meledaklah Gerakan Swapraja dimana mereka menuntut Raja Solo dan Mangkunegaran menyerahkan hak istimewanya ke Republik Indonesia sejak saat itulah Kasunanan Solo kehilangan wibawanya. Mangkunegaran masih agak terselamatkan karena kelak Suharto yang menjadi Presiden RI kedua menikahi kerabat jauh Mangkunegaran dan Keraton Mangkunegaran masih sedikit memiliki pamor.

Sultan Yogya meminta agar Sukarno-Hatta dan seluruh pemimpin Republik pindah ke Yogyakarta, dengan pertimbangan Belanda lewat NICA sudah membonceng Sekutu dan akan menjadikan Jakarta sebagai pusat pertempuran. Dan memang betul perkiraan Sultan Garis Jakarta-Bandung merupakan pusat kekuatan militer NICA apalagi di Jakarta ada Batalyon X yang terkenal kejam. Di Yogya para penggede RI yang sesungguhnya miskin harta itu dibantu keuangannya oleh Sultan. Ibu Fatmawati dan Ibu Rahmi Hatta sering mendapat santunan dari Sultan Yogya, bahkan ada cerita bahwa Sultan itu kalau ngambil untuk bantuan kepada perjuangan Republik Indonesia tidak pernah ada hitungannya, ia raup semua (dengan menggunakan kedua tangan) keping-keping emas milik kas kesultanan tanpa perlu menghitung kembali dan setelah kondisi RI mapan Sultan sama sekali tidak menyinggung-nyinggung hal ini, dia selalu diam. Ini tidak seperti pemimpin-pemimpin lain yang gembar-gembor perjuangannya termasuk berbohong untuk melambungkan peran perjuangannya, seperti apa yang dilakukan oleh Suharto.

Berbicara tentang Sultan HB IX tak lengkap rasanya bila tidak menyinggung kejadian `Janur Kuning'. Kejadian Janur Kuning bermula dari serangan besar-besaran militer Belanda tanggal 18 Desember 1948. Belanda berhasil menerjunkan ribuan orang ke Maguwo Yogya tanpa perlawanan berarti kecuali dari taruna-taruna AURI dibawah komando Kasmiran. Penyerbuan ke Yogya pada waktu sangat mendadak pasukan penerjun payung kebanyakan KNIL orang Ambon dan Kupang dalam pertempuran di Maguwon itu 40 orang anak buah Kasmiran tewas ditempat. Saat itu sedang berlangsung perundingan antara pihak RI dengan Belanda di daerah Kaliurang. AH Nasution juga sedang berada di Yogya dan terlibat perundingan namun tiba-tiba Belanda melakukan sebuah keputusan nekat menyerang Yogyakarta. Prakarsa ini melawan kehendak Van Mook dan diputuskan oleh Dr.Beel Perdana Menteri Belanda dari garis keras, Van Mook sendiri lebih menginginkan langkah kooptasi dengan membentuk pemerintahan-pemerintahan boneka yang mengepung Jawa, tapi karena Belanda baru saja dapat bantuan dari proyek Marshall Plan uangnya digunakan untuk membiayai perang. Serangan Belanda ke Maguwo mengikuti metode pasukan Jerman saat menduduki Nederland tanggal 10 Mei 1941. Menggunakan taktik penerjunan payung. Dengan langsung terjun payung, maka pasukan Belanda bisa langsung berada di garis belakang musuh tanpa melewati barikade-barikade militer yang ada di sekeliling Yogya terutama jalur Semarang-Yogya atau Purwekerto-Yogya. Pimpinan serangan umum Belanda ada ditangan Jenderal Spoor, yang dulu merupakan anak buah dan didikan Letjen Oerip Soemohardjo semasa di KNIL. Untuk pasukan dalam kota diserahkan kepada Kolonel Van Langen Komandan Brigade T. Serangan berjalan lancar pertahanan dari pihak republik sama sekali tidak ada. Bahkan beberapa penduduk saat melihat pesawat-pesawat tempur jenis cureng di udara dan tank sherman mulai masuk kota, rakyat malah takjub dikiranya TNI sedang latihan perang-perangan. Beberapa diantaranya berteriak kegirangan karena bangga melihat pesawat-pesawat canggih terbang di atas kota dan mereka kira itu pesawat milik TNI AU. Memang sebelum serangan dimulai AH Nasution dan Bambang Sugeng Komandan Divisi Djawa Tengah sudah mengabarkan bahwa TNI akan melakukan latihan perang-perangan untuk mengantisipasi serangan Belanda. Namun belum latihan ternyata TNI sudah kedahuluan anak buah Jenderal Spoor.

Jenderal Sudirman yang tahu kota Yogya sudah terkepung buru-buru menghadap Bung Karno dan penggede-penggede Republik yang sedang rapat di Gedung Agung (Istana Negara) membahas serbuan Belanda. Jenderal Sudirman disuruh mengunggu di luar, sebentar Bung Karno menemui Sudirman dan mengatakan "Saya akan menyerahkan diri" Sudirman kecewa akan keputusan Bung Karno, dia balik bertanya "Bung tak mau bergerilya dengan saya di hutan-hutan?" Bung Karno diam sejenak lalu tangannya memegang hidungnya, sejenak matanya berkedip-kedip "Dirman, kau tahu saya akan merasa terhina bila saya nanti tertangkap Belanda di kampung-kampung tengah hutan sebagai pelarian. Apalagi bila saya terbunuh, lebih baik saya ditangkap dengan cara terhormat dengan ini berarti dunia Internasional masih memperhatikan saya,... sekarang kamu pulanglah dulu.. kamu sedang sakit, lebih baik beristirahatlah" Sudirman kecewa bukan main terhadap jawaban Bung Karno sebelumnya ia juga sudah kecewa dengan sikap pemerintah yang didominasi kelompok Sjahrir yang masih suka berunding dengan Belanda. Sudirman lebih bersimpati pada kekuatan militer yang terpengaruh Tan Malaka ketimbang TNI pro Hatta atau Sjahrir. Tapi dia sungkan dengan Bung Karno. Akhirnya Sudirman pulang dengan hati mangkel.

Sudirman berjalan bersama ajudannya ke rumahnya. Sudah dua bulan dia terbaring sakit, dan baru kali ini dia bisa bangun dan keluar rumah setelah mendengar beberapa kali bunyi bom. Di rumah Sudirman lalu tidur di kamarnya. Paru-parunya tinggal satu, yang satunya lagi juga sudah menghitam terpengaruh penyakit. Badannya kurus kering. Saat ia terbaring beberapa perwira TNI mengunjunginya termasuk Kolonel Bambang Sugeng.
"Saya tidak mau menyerah dengan Belanda" kata Jenderal Sudirman.
`Ya, Pak kita juga tidak akan menyerah, tapi Belanda sudah mengepung Yogya" kata Kapten Tjokropranolo ajudan Jenderal Sudirman.
"Tjokro ambilkan aku jas dan blangkon di laci, minta pada Ibu..."
"Lho, Bapak mau kemana?"
"Saya akan menyingkir ke hutan-hutan saya tidak mau ditangkap Belanda"
"Tapi Bapak masih sakit"
"Anak-anakku masih banyak bergerilya di dalam hutan, masak aku mau nyerah begitu saja"
"Baiklah Pak nanti Bapak ditandu saja dengan kursi kayu di depan"
"Baiklah".
Sidang darurat di tengah agresi militer Belanda berlangsung cepat. Diputuskan pemerintahan akan di over ke Bukittinggi kebetulan disana ada Menteri Kemakmuran Sjarifudin Prawiranegara dan beberapa pemimpin Republik lapis tengah sedang bertugas di Bukittinggi. Termasuk beberapa perwira yang ada di Sumatera seperti Kolonel Hidayat yang menjabat Panglima Komandan Sumatera (ajudan Kol. Hidayat ini Kapten Islam Salim- anak Agus Salim-), Kolonel Nazir diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Laut PDRI juga Kolonel Hubertus Soejono menjadi KSAU (kelak di tubuh AURI terjadi perpecahan karena belum terselesaikannya masalah penyerahan KSAU PDRI ke KSAU RI karena Suryadarma masih menganggap dia sabagai KSAU resmi, Suryadarma juga ikut ditangkap pada penyerbuan Belanda 28 Desember 1948 dan dibuang ke Bangka). Bung Hatta juga memerintahkan agar dibangun sebanyak mungkin zender (jaringan pengirim) radio untuk dijadikan kekuatan penekan bagi Palar di PBB. Setelah selesai Bung Karno keluar ruangan dan mendengar suara bom terus berjatuhan, sementara Sri Sultan HB IX berjalan di belakangnya. Bung Karno menoleh kepada Sultan. "Bung Sultan bagaimana dengan Bung, apa Bung yakin aman disini?" Dengan tersenyum Sri Sultan berkata "Bung Karno tidak usah mengkhawatirken saya, Belanda tidak akan berani masuk Keraton, nanti biar para perwira-perwira TNI bersembunyi di dalam Keraton menyamar jadi abdi dalem" "kalau begitu saya akan tunggu itu Van Langen tangkap saya... sementara Bung Sultan tetap di Yogya"
"Ya saya kira begitu" Sri Sultan tersenyum. Sultan tahu Van Langen tidak akan berani menangkap dirinya, karena Sri Ratu Belanda sudah berpesan pada tentara Belanda jangan mengutak-atik kawannya Sri Sultan HB IX.
Sementara bom terus berjatuhan dari pesawat Mitchell dan deru pesawat tempur terus menerus terdengar. Beberapa kali ledakan bom terdengar di belakang Istana. Setelah Bung Karno selesai berbincang-bincang dengan Sri Sultan ia melihat Sjahrir berjalan santai ke arah kamarnya. "Sjahrir kamu mau kemana" Sjahrir kaget menoleh ke arah Bung Karno. "Saya lapar Bung... mau makan dari siang belum makan ini" Bung Karno tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.

Di tengah bom yang terus berjatuhan Sjahrir tetap dengan tenang makan nasi dan lauk pauknya. Saat ditanya salah seorang asisten kenapa dia tidak khawatir dengan bom yang terus berjatuhan, dengan enteng Sjahrir menjawab dalam bahasa Belanda "Soal mati nantilah, yang penting aku makan dulu..."
Menjelang sore hari tanggal 19 Desember 1948 Istana Agung ditembaki oleh pasukan khusus Belanda, beberapa bom berjatuhan. Menyadari serbuan Belanda sudah tidak bisa ditahan oleh pasukan pengawal Istana. Bung Karno meminta pada Sjahrir untuk menyuruh orang membawa bendera putih pertanda bahwa orang-orang Istana menyerah. Sri Sultan HB IX berada di Siti Hinggil dia tidak mau terlihat bersama dengan penggede Republik agar jangan ditangkap dan secara tersirat berpesan pada Belanda urusan Keraton dengan Republik sama sekali dia tidak tahu menahu. Ini memang strategi Sultan agar dia tidak bentrok dengan Belanda di awal penyerbuan. Sri Sultan paham pesan Bung Karno untuk tetap di Yogya, karena sesungguhnya kunci kemenangan itu diletakkan pada Sri Sultan bukan pemerintahan Darurat PDRI di Bukittinggi. Biarpun pemimpin Republik semua pergi, tapi masih ada pemimpin Republik yang punya kekuasaan di Yogyakarta, yaitu: Sri Sultan HB IX, dimana dimata Belanda sikap Sultan masih bisa dirubah dengan bujuk rayu dan Sultan hanyalah Republikein terselubung, hal ini tidak disadari Belanda bahwa sejak bulan September 1945 Yogyakarta sudah menyatakan bergabung dengan RI ini berarti kedudukan Sri Sultan HB IX dibawah Presiden RI bukan lagi netral seperti perkiraan Belanda.

Seorang Kapten Belanda masuk ke dalam gedong agung dan menghadap Bung Karno.
"Tuan akan segera kami tangkap"
Bung Karno tersenyum dan berkata singkat "Ya, kami sudah tahu..." mata Bung Karno melihat ke arah Perdana Menteri Hatta, Sjahrir, KSAU Surjadarma dan beberapa menteri lainnya. Lalu dia berkata pada kabinet Hatta itu
"Ayo kita berangkat" Lalu Bung Karno dengan menenteng jas dan kopernya dibawa seorang serdadu Belanda menumpang sebuah jeep dibawa ke Maguwo untuk bertemu dengan Kolonel Van Langen, Komandan Brigade T.
"Saya harus diperlakukan sebagai Presiden Republik Indonesia, apa yang anda lakukan sudah menyalahi hukum perang.." kata Bung Karno dengan suara tegas pada Kolonel Van Langen. Kolonel Van Langen yang dari tadi duduk kemudian berdiri dan berjalan ke mejanya, ia mengambil sebuah surat dari atasannya. "Ini bacalah, Tuan".
Bung Karno mengambil kertas itu lalu membaca singkat. "Saya bukan bagian dari negara Tuan, negeri kami sudah merdeka... dan saya adalah Presiden Republik Indonesia, saya tidak mau kalian tangkap seperti penjahat" Kolonel Van Langen agak gusar dengan jawaban Bung Karno tapi dia juga tidak tahu status Bung Karno dalam penangkapan ini apa. Dia berjalan keluar ruangan kerjanya dan menyuruh anak buahnya menghubungi Jenderal Spoor. "Ya, ada apa Kolonel?"
"Jenderal, Tuan Sukarno minta kejelasan status"
"Ya, dia tawanan perang" Jawab Spoor singkat.
"Status tawanan apa?" tanya Van Langen.
"Presiden Republik Indonesia... biar saja, toh nanti akan segera kita likuidir Republik itu"
"Ya kalau begitu baiklah...." Kolonel Van Langen melangkah ke dalam dan menemui Bung Karno. "Tuan anda kami tawan sebagai Presiden Republik Indonesia"
Bung Karno tersenyum lebar. "Baiklah tapi ingat Kolonel kalian punya pemerintahan sudah bikin kesalahan fatal" wajah Van Langen meringis lalu berkata pelan "Saya tidak tahu politik Tuan, saya hanya tahu perang".
Bung Karno tertawa. "Lalu kemana kami akan kalian bawa"
"Tuan akan kami putuskan setelah Tuan berada dalam pesawat, saya juga tidak tahu dimana Tuan akan kami bawa"
Wajah Bung Karno tiba-tiba muram ia takut Belanda main curang dengan mentorpedo pesawatnya, tapi ia menenangkan diri Belanda lebih sportif daripada Jepang. "Tuan Sukarno besok Pagi Jenderal Mayoor Meijer akan datang menemui Tuan"
Bung Karno membenarkan letak duduknya "Jaantje Meijer sudah jadi Jenderal?"
"Ya Tuan... Jenderal Mayoor" Jawab Van Langen singkat.
Bung Karno tahu Jaantje masih berpangkat Kolonel saat penyerbuan pasukan Belanda ke arah selatan Jawa dan sekitar Gunung Slamet.
Paginya Jenderal Mayoor Meijer datang ke ruang tahanan Bung Karno. Dengan berpakaian rapi dia menyapa sopan Bung Karno.
"Goeden Morgen, Tuan Sukarno apa kabar?" Bung Karno berdiri menyambut Meijer.
"Baik Tuan Meijer, saya masih Presiden Republik Indonesia"
Meijer tertawa dan mengajak Bung Karno bicara. " Dengan serangan ini berarti pemerintahan Republik Indonesia sudah tidak ada lagi"
Bung Karno bungkem dia menaham marah mendengar kata-kata Meijer.
"Tuan Sukarno saya harap pasukan-pasukan liar ekstremis menghentikan perlawanannya" Bung Karno semakin kesal mendengar ucapan Meijer. Akhirnya Bung Karno bicara setelah mendengar Meijer bicara panjang lebar tentang kemungkinan-kemungkinan masa depan. "Dengar Tuan Meijer saya tidak akan tunduk dengan siapapun, Pasukanmu mungkin berhasil menguasai Yogyakarta tapi pasukan-pasukan liar yang Tuan sebut tadi, akan merebutnya kembali... Kami bukan orang yang gampang menyerah"
"Terserah Tuan tapi Tuan kami akan segera tawan di luar Jawa"
"Saya tidak takut"

Meijer menyalami Bung Karno dan pamit keluar. Dua hari kemudian Bung Karno dan rombongan di bawa ke Brastagi. Lalu mereka di pindahkan ke tepi danau Toba. Di danau Toba segerombolan pemuda Republik nekat mau membebaskan Bung Karno cs namun keburu ketahuan Belanda, mereka kemudian diberondong peluru dan tewas semua. Di Prapat ini juga Bung Karno mendengar bahwa dia mau di eksekusi mati. Hati Bung Karno gelisah bukan main saat mendengar desas desus dia mau dieksekusi dari salah seorang pelayan yang nangis-nangis karena mendengar kabar dari seorang serdadu Belanda Bung Karno mau dieksekusi. Bung Karno berjalan ke kamarnya dan membuka Al Qur'an dengan sembarang lalu menemukan sebuah ayat yang berbunyi: Mati Hidup manusia di tangan Allah SWT. Setelah itu hati Bung Karno tenang. Tak lama kemudian Bung Karno dipindahkan ke Bangka.

Sementara di Yogyakarta Sri Sultan HB IX terus menerus mendapat tekanan dari pihak Belanda. Beberapa intel Belanda melaporkan Sri Sultan HB IX terbukti menjalin kerjasama dengan beberapa perwira TNI juga menyembunyikan mereka di dalam Kraton. Sri Sultan menolak tuduhan Belanda dan meminta agar Belanda memeriksa sendiri saja ke dalam Keraton. Tapi bila pasukan Belanda berani masuk ke Keraton dia akan protes kepada kawan kecilnya yang sudah jadi Ratu Belanda, Juliana.

Kemudian datanglah Pro-Kontra itu yang menjadi perang sejarah sampai saat ini belum selesai. Yaitu Serangan Umum 1 Maret 1949. Untuk itu mari kita baca dulu dari versi Sri Sultan HB IX. Setelah penangkapan Belanda terhadap pemimpin-pemimpin Republik Indonesia, PBB mengalami kegemparan. Nehru, Perdana Menteri India menuding Belanda sudah melakukan perbuatan biadab tak tahu malu. Kemarahan Nehru ini didukung oleh anggota-anggota PBB lainnya. Yang paling galak adalah Australia, Australia meminta Belanda mematuhi etika hukum Internasional karena sudah berulang kali Belanda berunding dengan pihak Indonesia baik melalui pihak ketiga atau Komisi Tiga Negara dan Komite Jasa Baik dengan begitu Belanda mengakui eksistensi negara RI, sementara penyerbuan kemarin itu dinyatakan Belanda sebagai aksi Polisionil dengan menyamakan agresi militer dengan aksi polisionil berarti Belanda secara tidak langsung sudah menyatakan Republik Indonesia sudah tidak ada lagi.

Amerika Serikat sendiri lewat delegasinya mendesak Belanda mengadakan perundingan dengan pihak Indonesia seraya mengancam bila kelakukan Belanda tidak berubah maka dompet bantuan Amerika terhadap Belanda tidak akan terbuka lagi. "Belanda harus mematuhi peraturan-peraturan Internasional dan mengikuti cara-cara penyelesaian konflik yang terhormat".
Belanda yang merasa terpojok dengan desakan negara-negara anggota PBB berteriak lantang "Republik Indonesia tidak ada lagi, buktinya sama sekali tidak ada perlawanan dari pihak kaum RI ketika pemimpin-pemimpinnya kami tangkap".

Sri Sultan mendengarkan perdebatan-perdebatan PBB ini baik-baik dari siaran BBC, ia mengambil kesimpulan bahwa harus diadakan serangan militer besar-besaran yang dapat membuktikan anggapan Belanda itu salah. Ia duduk terdiam dan berpikir apa bisa militer melakukan serangan terkonsolidasi. Sri Sultan HB IX meminta pendapat kakaknya Pangeran Prabuningrat apakah bisa militer dikonsolidasikan untuk melakukan serangan yang sedang ia pikirkan. Pangeran Prabuningrat mengusulkan agar Sultan memanggil salah seorang perwira TNI yang masih ada di sekitar Yogya.
Siapa, Latief Hendraningrat sedang di luar kota"
"Itu Komandan Wehrkreiss III, yang orangnya pendiam masih di sekitar Yogyakarta?"
"Yang mana?" tanya balik Prabuningrat.
"Itu lho yang berhasil rebut tangsi senjata Jepang di Kotabaru"
"Oh, Overste Suharto"
"Ya, Suharto... suruh orang Keraton hubungi dia untuk datang kesini, menyamar jadi Abdi Dalem Keraton saja"
"Baiklah" kata Prabuningrat.
Suharto datang diam-diam ke Keraton Yogya dengan menyamar menjadi Abdi Dalem (kisah Suharto menyamar menjadi Abdi Dalem ini sempat di film-kan oleh Usmar Ismail di tahun 1950 dan masih versi Orisinil jauh dari kesan menjilat). Suharto dibawa Marsoedi sebagai perwira penghubung antara Suharto dengan Sri Sultan ke ruang khusus Sri Sultan untuk membicarakan kemungkinan serangan besar-besaran di Yogyakarta.

Kejadian itu berlangsung tanggal 14 Februari 1949.

"Mas Harto duduklah" Jawab Sultan dengan bahasa Jawa halus.
"Baik Kanjeng Sinuwun" Jawab Letkol Suharto dengan menggunakan bahasa Jawa Tinggi yang biasa dibahasakan seorang hamba pada Paduka Rajanya.
"Mas Harto akhir-akhir ini keamanan kota Yogya tidak stabil bagaimana kamu bisa membereskannya supaya tidak ada lagi penjarahan-penjarahan di toko-toko dan perampokan-perampokan yang kabarnya juga menggunakan senjata, Belanda sendiri kewalahan terhadap aksi liar para perampok itu"
"Bisa Kanjeng Sinuwun, saya usahaken agar perampokan itu tidak ada lagi.."
Sri Sultan melihat ke arah radio dan kemudian matanya menerawang dalam-dalam. Ia tahu sedang diamat-amati intel Belanda namun penilaian Belanda sama sekali salah, ia diperkirakan akan memperjuangkan Yogya sebagai daerah otonom dibawah Belanda atau diam-diam ingin menjadi Presiden Republik Indonesia. Padahal apa yang dilakukan Sultan adalah bentuk pengabdian Raja Jawa terhadap kehendak sejarah. Dan Belanda kurang paham terhadap bentuk pengabdian ini. Sri Sultan betul-betul ingin mengabdi pada Republik Indonesia bukan mengejar ambisinya. Tangan kanan Sri Sultan memegang dagunya yang agak lancip itu lalu dia berkata pelan pada Letkol Suharto.

"Mas Harto apa bisa dilakukan serangan besar-besaran ke Yogyakarta?"
"Maksud Sinuwun?" Suharto balik bertanya.
"Serangan pendadakan agar Belanda tahu Republik masih ada"
"Hmmm... saya usahaken"
"Berapa pasukan yang kamu punya?"
"Kalau dihitung-hitung yang bisa saya kerahkan dari SubWehrkreis saya sekitar dua ribu orang"
"Hmmm... dua ribu cukup"
"Memang Sinuwun mau merencanakan apa?"
"Saya menginginkan agar TNI bisa masuk ke dalam kota dan merebut semua tempat yang dikuasai Belanda terutama gudang senjata yang ada di Pabrik Waston itu, juga beberapa titik penting seperti Stasiun Kereta Api, Jalan Malioboro dan Benteng Vredenburg"
Suharto terdiam sejenak dia berpikir dalam-dalam. Suharto adalah ahli strategi dia tidak akan mengambil keputusan bila keputusan itu tidak akan ia menangkan. Ia bukan tipe pengambil spekulasi yang untung-untungan ia harus paham situasi. Namun yang dihadapinya adalah Sri Sultan, Rajanya. Ia juga berpikir bahwa inti kekuatan pasukan Belanda adalah KNIL pribumi kebanyakan dari Ambon, yang juga agak tak yakin dengan Belanda, bagaimanapun orang-orang pribumi itu dalam hatinya memihak Republik. Yang ditakutkan Suharto justru pasukan Marinir Belanda yang sudah dididik di Virginia Amerika.

"Berapa jam yang dibutuhkan pasukan bantuan Belanda dari luar Yogya terutama yang di Semarang itu bisa tiba ke Yogya?"
"empat jam mungkin mereka akan sampai ke Yogya dan langsung membantu pertempuran"
"Kamu bisa kuasai Yogya selama enam Jam, Mas Harto?"
"Bisa Sinuwun"
"Kamu sanggup?"
"Sanggup sinuwun"
"Sekarang laksanakan" Sri Sultan adalah Menteri Pertahanan pada kabinet Hatta dia mengerti problem-problem kekuatan angkatan perang kita. Dan dengan strategi perebutan kota Yogyakarta diharapkan LN Palar wakil Indonesia di luar negeri punya dukungan fakta bahwa
Indonesia masih ada.

Suharto mengkonsolidasi pasukannya. Harto merasa senang karena pasukan-pasukannya masih utuh. Apalagi ada pasukan Pesindo eks pelarian peristiwa Madiun dibawah pimpinan Kapten Latief yang terkenal berani (Kapten Latief ini kelak tersangkut perkara G 30 S saat peristiwa terjadi dia berpangkat Kolonel dan menjabat Komandan Brigade Infanteri Kodam V Jaya). Disamping itu ada pasukan dari Pramoedji yang ada di Godean, Marsoedi dan Amir Moertono. Pemuda-pemuda Pakuningratan no.60 juga siap membantu mereka ini tergabung dalam Pesindo dan dididik oleh jago Sosialis Djohan Sjahroezah, Letkol Suharto jaman awal kemerdekaan sering juga ke Pathuk disitu juga ada Sjam Kamaruzaman, seorang polisi yang juga kemudian menjadi intel dan banyak tahu perkembangan politik (pada peristiwa G 30 S, Sjam mengambil peranan penting dan dianggap missing link dari rangkaian kejadian di Lubang Buaya pada pagi dini hari 1 Oktober 1965). Di Pathuk-lah nama Suharto mulai mengorbit dia diperintahkan oleh pemerintah Republik untuk melakukan serangan militer ke gudang senjata di Kotabaru, tanggal 7 Oktober 1945. Kapten Suharto yang juga jebolan sekolah KNIL di Bogor- memimpin serangan ke Kotabaru dan sukses besar. Inilah yang kemudian mendukung kelancaran karir Suharto sampai ia diangkat menjadi komandan pasukan pengamanan kota Yogyakarta, dimana dia banyak berjumpa dengan penggede-penggede Republik yang baru saja hijrah dari Jakarta ke Yogya. Pada penangkapan Jenderal Sudharsono yang menentang pemerintahan kabinet Sjahrir dan bersimpati pada Tan Malaka, Suharto yang mengatur dan ini membuat Presiden Sukarno menyenangi perwira yang sering disebutnya `Koppeg' ini.

Sejak usainya geger Madiun 1948 yang dilanjutkan dengan langkah-langkah reorganisasi di tubuh tentara termasuk Divisi Diponegoro. Suharto sendiri memimpin Brigade III yang terkenal sebagai `Brigade Suharto'. Salah satu tugas penting Brigade III ini adalah mengamankan kota Yogyakarta, Suharto sebagai komandan Brigade menugaskan dua dari empat Batalionnya sebagai pasukan kota Yogyakarta. Unsur-unsur Batalion pengaman Yogyakarta terdiri dari taruna-taruna Akmil, unusur-unsur Angkatan Darat dan Angkatan Laut, Polisi Militer dan sejumlah sisa laskar Brigade Martono yang sudah di demobilisasi. Sementara pasukan dibawah Sudarmo dan Sruhardoyo ditempatkan di Bagelen, pasukan ini berperan penting nantinya pada serangan umum 1 Maret 1949. Namun sesaat sesudah agresi militer Belanda akhir tahun Desember 1948 Divisi III Diponegoro dirombak lagi oleh Panglimanya Kolonel Bambang Sugeng, Letkol Suharto sendiri kebagian tanggung jawab menjadi Komandan Wehrkreis (WK) III yang membawahi enam SWK (Subwehrkreis): Satu bertanggung jawab untuk wilayah sekitar kota, dua untuk wilayah sekitar Bantul, dua untuk wilayah Sleman dan satu lagi bertanggung jawab atas daerah Wonosari dan Maguwo. Suharto sendiri mendirikan markasnya berpindah-pindah namun dia sering terlihat di sekitar pegunungan Menoreh Bantul. Kolonel TB Simatupang pernah mengunjungi markasnya di Gamping dekat perbatasan barat kota.

Lemahnya pertahanan kota Yogyakarta bukan tidak menimbulkan protes. Rakyat banyak kecewa karena lemahnya pertahanan kota Yogya oleh pasukan TNI dan tudingan ini diarahkan pada komandan kota Yogya, Suharto. Letkol Abdul Latief Hendraningrat komandan pasukan pengawal Kepresidenan (seorang pengerek bendera merah putih pada proklamasi 17 Agustus 1945) sendiri terbengong-bengong melihat sama sekali tidak adanya pasukan yang membangun barikade di sekitar Malioboro pada saat penyerbuan pasukan Belanda. Letkol Latief dengan mengendarai jeepnya ke rumah Jenderal Sudirman dan ikut Jenderal Sudirman mengungsi keluar kota setelah tahu keputusan Presiden Sukarno untuk menyerahkan diri pada pasukan Belanda. Kepada perwira-perwira di dalam rumah Jenderal Sudirman Latief menanyakan "Dimana pasukan-pasukan Yogya, mana Suharto?".

AH Nasution pun jengkel atas kelambanan pasukan dalam kota Yogya. Di kemudian hari pada tahun 1990 dalam wawancaranya dengan wartawan asing ia mengkritik Suharto terlalu lamban dan tidak bisa cepat melakukan antisipasi terhadap serangan mendadak Belanda atas kota Yogya. AH Nasution membangun markasnya di sekitar Prambanan, namun ia tidak bisa melakukan koordinasi terhadap pasukan-pasukan di sekitar Jawa Tengah, inisiatif tempur diserahkan pada komandan unit masing-masing. Dan memang sepanjang awal tahun 1949 serangan-serangan ke dalam kota Yogyakarta terus dilancarkan namun serangan ini banyak dari pasukan KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) dimana Kahar Muzakar komandan Brigade XVI yang terkenal nekat sering melakukan gempuran-gempuran ke dalam kota Yogya. Tercatat sepanjang bulan Januari-Februari Pasukan Brigade T Belanda tewas 157 orang dan 194 terluka parah.

Disamping menerima Suharto, Sri Sultan terus mengatur gerakan bawah tanah, termasuk membongkar penutup-penutup besi gorong-gorong kota yang sudah di las Belanda kobang-lobang gorong kota digunakan untuk jalur penyusupan dadakan pada saat perang besar yang sudah direncanakan. Sri Sultan juga mengatur pengiriman senjata kepada pasukan-pasukan Republik, beberapa senjata selundupan berhasil masuk ke dalam kota. Sesungguhnya sejak pengungsian Jenderal Sudirman ke pedalaman Jawa Tengah, masih banyak tentara republik yang berkeliaran di dalam kota, mereka menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Dan perintah penyerangan itu berasal dari Sri Sultan.

Disinilah makna ucapan Bung Karno `Bung Sultan tetap tinggal di Yogya':
1. Sultan adalah Pemimpin Republik Indonesia, anggota Kabinet Hatta sebagai Menteri Pertahanan. Ini artinya Sri Sultan HB IX adalah wakil sesungguhnya Republik di ibukota Yogyakarta. Dan berarti pemerintahan Negara RI di Ibukota Yogyakarta masih ada.
2. Sebagai bentuk pengalihan perhatian agar perhatian Belanda terkecoh bahwa kekuatan RI sesungguhnya ada di Keraton Yogyakarta, maka dibentuklah Pemerintahan Darurat RI yang juga merupakan pemerintahan sah. Namun efektivitas PDRI tidak berjalan baik karena berada di luar Jawa disamping beberapa pasukan PDRI masih sibuk bertempur melawan kekuatan Mollinger.
3. Bung Karno tahu bahwa Sri Sultan HB IX jagonya gerakan bawah tanah dan dia punya senjata pamungkas yaitu: Pertemanannya dengan Sri Ratu Juliana, dimana Bung Karno sendiripun tidak bisa mendekat pada Sri Ratu karena cap kolaborator di Jaman Jepang.
4. Dengan mempertahankan Sri Sultan di dalam kota ini berarti komando pemerintah masih di tangan Sultan. Sudirman yang orang Jawa pasti akan memandang Sri Sultan dan tidak akan melakukan serangan yang kurang terpadu. Semua serangan di koordinasikan pada satu titik yaitu: Merebut kota Yogyakarta.

Keempat faktor inilah yang merupakan peranan paling penting dalam memahami perjuangan Sri Sultan HB IX dimana pada saat yang genting dia menyelamatkan eksistensi Republik Indonesia. Untuk menghargai peran Sri Sultan HB IX ini, pemerintah RI menugaskan Sri Sultan HB IX menerima surat dan menandatangani pengakuan kedaulatan RI pada tanggal 29 Desember 1949 di Istana Merdeka. Beliau pula yang menjemput Bung Karno dari Kemayoran untuk bersama-sama menuju Istana Kemenangan bangsa Indonesia, Istana Merdeka. Kedatangan dua orang ini disambut jutaan penduduk Jakarta dan luar Jakarta yang kemudian menyemut mengerumuni mobil yang ditumpangi Bung Karno dan Sri Sultan. Klimaksnya dengan mengenakan pakaian putih-putih dan sepatu putih Bung Karno berteriak lantang: Alhamdullilah... sekarang kita MERDEKA!!!!!!

Serangan Umum Versi Suharto dan Versi lainnya
Namun benarlah kata banyak orang, sejarah tergantung siapa yang berkuasa. Ketika Suharto berhasil menjadi Presiden Republik Indonesia. Ia beranggapan bahwa Serangan Umum 1 Maret 1949 itu murni merupakan idee dari Suharto dan bukan dari siapa-siapa ini berarti menafikan peran atasannya sendiri di luar Sudirman: Sri Sultan HB IX, AH Nasution, dan Bambang Sugeng. Tiga orang ini merupakan atasan Suharto dan tentunya tahu apa yang terjadi sesungguhnya pada peristiwa 1 Maret 1949. Sri Sultan HB IX adalah Menteri Pertahanan pada kabinet Hatta, orang yang berperan penting dalam reorganisasi TNI, AH Nasution adalah Panglima Komando Djawa, seluruh pasukan di Djawa dibawah komando Nasution, sementara Bambang Sugeng adalah Panglima Divisi Djawa Tengah, berarti Bambang Sugeng merupakan atasan langsung Suharto. Tidak tertutup kemungkinan di luar sepengetahuan Suharto, Sri Sultan juga menjalin kontak dengan Kolonel Nasution, Bambang Sugeng dan tentunya Sudirman. Sri Sultan HB IX juga paham kekuatan tentara-tentara RI yang menyusup dan tinggal di dalam kota. Sementara Suharto hanya satu diantara beberapa elemen strategi Sultan. Tapi ketika Suharto berhasil menjabat menjadi Presiden dengan santai Suharto berkata "Tidak percaya toh, bahwa yang melakukan inisiatif serangan adalah seorang komandan Brigade".

Suharto mengakui bahwa ia menemui Sri Sultan, tapi pertemuan itu berlangsung sesudah serangan selesai bukan menjelang serangan. Dan apa yang berlangsung dari jam 6.00 Pagi sampai 12.00 siang adalah ide dia untuk menguasai Yogyakarta agar menjadi bahan perdebatan oleh LN Palar di PBB. Pernyataan ini menimbulkan kehebohan luar biasa bahkan berlangsung sampai saat ini dimana pertanyaannya berpusar pada: Siapa pencetus ide serangan umum 11 Maret 1949.

Tahun 1985 ketika Film Janur Kuning (Produksi thn. 1979) sedang asyik ditonton orang Indonesia ada kehebohan di muka publik siapa pemeran sesungguhnya dalam peristiwa Serangan umum 1 Maret 1949: Suharto, Sri Sultan HB IX, Bambang Sugeng atau Nasution. Kejadian ini dimulai ketika eks Walikota Yogyakarta Soedarisma Poerwokoesomo yang menjabat dari tahun 1947-1966 dalam wawancaranya dengan Harian Suara Merdeka terbitan Semarang tanggal 15 Oktober 1985 mempertanyakan peran Suharto?. Kehebohan itu ditanggapi dingin oleh Suharto dengan menantang "Tanyakan saja kepada yang masih hidup, apakah mereka memberikan komando Serangan Umum 1949 atau tidak?"
Namun Sri Sultan HB IX dengan bahasa halus membantah serangan umum itu berasal dari Suharto ia sendiri berkata pada Oei Tjoe Tat salah seorang Menteri Negara era Demokrasi Terpimpin yang kemudian ditulis dalam buku `Memoar Oei Tjoe Tat, Pembantu Presiden Sukarno'.

kutipannya begini :
"Gimana Toh, Apa mungkin seorang dalam hutan, lagi pula sedang bergerilya, punya kesempatan mengikuti dengan cermat siaran-siaran radio BBC, apalagi dalam bahasa asing? Apa waktu itu orang sudah mahir berbahasa asing? Sayalah yang semula membicarakan gagasan itu dengan Jenderal Sudirman yaitu mendapatkan ijinnya untuk kontak langsung dengan Suharto, ketika itu Suharto berpangkat Mayor. Gagasan ini kelak berwujud Operasi enam Jam di Yogya"

Ingatan Sri Sultan bahwa Suharto waktu itu berpangkat Mayor bukan Letkol karena memang jabatan Letkol yang diberikan tahun 1946 belum dipastikan legalitasnya. Jabatan Suharto menjadi Letnan Kolonel legal baru diputuskan pada awal tahun 1950.

Namun diluar arus Suharto-Sri Sultan sebagai penggagas Serangan Umum, ada versi lain yaitu dari TB Simatupang bahwa serangan umum adalah gagasan dari hasil diskusi antara TB Simatupang dengan Kolonel Bambang Sugeng Panglima Divisi III Jawa Tengah.

Serangan Umum 1949
Terlepas dari `perang sejarah' siapa penggagas serangan umum Yogyakarta, serangan ini memiliki dimensi tempur yang dahsyat untuk perang dalam kota. Baik Belanda maupun pihak Indonesia belum sepenuhnya berpengalaman dalam perang head to head ini. Sebelum perang kota 1 Maret 1949, sekelompok pasukan dibawah pimpinan seorang Sersan (dalam film Janur Kuning diperankan dengan baik oleh Amak Baldjun) menyerang ke dalam kota. Sersan itu lupa bahwa tahun 1949 adalah tahun kabisat jadi bulan februari habis sampai tanggal 29 bukan tanggal 28. Penyerbuan ini membuat tiga orang tewas di pihak TNI namun Belanda belum sadar akan ada serangan besar-besaran pada pagi hari 1 Maret 1949.

Sri Sultan sendiri sejak dua minggu sebelum hari H mulai membuka pintu Keraton, banyak tentara TNI yang menyusup ke dalam kota berlindung di balik tembok-tembok keraton yang tebal itu dan menyiapkan senjatanya. Kompleks keraton diam-diam dijadikan pusat serangan dimana perwira-perwira banyak berlindung ke dalam keraton, sementara di sekitar Malioboro dan pusat kota lainnya mulai berdatangan tentara-tentara yang sudah menyamar. Disekitar Lempuyangan, Kadipiro, Kotabaru dan Kali Code banyak penyusup sudah mempersiapkan diri. Penyusupan sendiri sudah berlangsung selama dua minggu sebelum hari H. Suharto memutuskan untuk membuka markasnya di sektor barat Yogya, di daerah Godean disitu ada Mayor KRIS HN Ventje Sumual yang memegang sektor barat kota. Di sektor utara dipegang Mayor Kusno sementara di timur dipegang oleh Batalyon Sujono. Amir Murtono dan Marsudi ditugaskan mengkonsolidasi pasukan yang bercerai berai di dalam kota.

Tanda serangan dimulai pada saat sirene jam malam mulai berbunyi. Titik-titik kekuatan pasukan Brigade T (Brigade T adalah pasukan pimpinan Van Langen yang menguasai garis pertempuran Yogyakarta-Magelang-Temanggung). Tembakan pertama dimulai di sekitar stasiun Tugu. Di sana Pos-Pos Belanda banyak bertebaran dan ada konsentrasi kekuatan besar di sekitar Stasiun Tugu. Belanda yang dikejutkan serangan dadakan ini membalas dengan tembakan asal-asalan. Beberapa pasukan keluar dengan menggunakan panser dan berjalan masuk ke arah Tugu Malioboro namun belum sampai tugu pasukan belanda yang hanya berkekuatan setengah kompi itu diserang sengit kekuatan dari arah toko-toko dan perumahan penduduk. Perwira Belanda yang bergerak dengan jeepnya ke arah utara kota terperangah karena dimana-mana sudah berkibar bendera merah putih sementara beberapa pasukan Belanda di pos-pos kecil terjebak pertempuran sengit. Jalan-jalan dipasangi kayu, kursi, tempat tidur dan pohon-pohon yang ditebangi untuk menghambat lajunya pasukan Belanda. Di atas pohon, di dalam parit, di halaman-halaman rumah penduduk dan di balik sumur tiba-tiba banyak tentara TNI bermunculan, pertempuran sampai masuk ke lorong-lorong sempit di dalam kota.

Kejar-kejaran terjadi bahkan sampai ada perkelahian fisik antara tentara Belanda dengan prajurit TNI yang masing-masing menggunakan sangkur.
Menjelang jam 7.00 pagi pertempuran sengit terjadi di sekitar Pabrik Waston tempat amunisi Belanda banyak tersimpan tidak sampai satu jam pasukan Belanda bisa dipukul mundur. Benteng Vredenburg pun berhasil direbut tentara RI. Sri Sultan duduk hatinya tegang bersama dengan kakaknya Pangeran Prabuningrat di Siti Hinggil ia berkali-kali disambangi perwira-perwira TNI melaporkan jalannya pertempuran. Belanda mengarahkan serangannya ke Keraton karena banyak laporan yang datang ke meja perwira Belanda bahwa pasukan TNI banyak bersembunyi disekitar Buiten Keraton. Di sekitar alun-alun utara Keraton Yogya banyak konsentrasi pasukan TNI.

Perang besar juga terjadi di wilayah barat, bahkan wilayah ini sangat sulit ditundukkan dalam beberapa jam pasukan Belanda mundur dari sektor barat dan berlari ke tengah kota namun sekitar seratus tentara TNI berhasil mengejar mereka dan tembak-menembak terjadi di sekitar tengah kota sampai dekat Grand Hotel. Di Grand Hotel itulah Kahin tinggal, Profesor ilmu politik Indonesia dari Amerika Serikat paling legendaris yang mencatat semua kejadian pada pagi hari tanggal 1 Maret 1949.

Suharto dalam otobiografinya mengklaim bahwa dia memimpin serangan langsung, bahkan dengan gagah dia berada di depan front pertempuran dengan senapan otomatis Owen kebanggaannya. Anak buahnya mengira Pak Harto kebal peluru karena berani bertempur di garis depan. Tapi apa benar Pak Harto bertempur di garis depan, menurut Kolonel Abdul Latief dalam pledoinya yang dibacakan pada Mahkamah Militer pada tanggal 1 Agustus 1978 dia berkata dalam pembelaannya:

"....Tepat pada tanggal 1 Maret pasukan saya mendapat perintah dari komandan Wehrkreis Letkol Suharto, untuk menyerang dan menduduki sepanjang jalan Malioboro, dari mulai Stasiun Tugu sampai dengan Pasar Besar dekat Istana Yogyakarta. Setelah dapat menduduki seperti yang telah diperintahkan gedung-gedung besar serta toko-toko sedianya akan saya bakar sesuai dengan politik bumi hangus. Akan tetapi mengingat keadaan sekeliling adalah rumah-rumah rakyat yang terdiri dari bambu yang mudah terbakar, maka tersebut saya batalkan. Pertempuran terus berlangsung dan tentara Belanda mengadakan serangan balas, pertempuran terjadi antar rumah ke rumah, dan akhirnya pasukan saya mundur keluar kota, dan sebagian masih di dalam kota. Korban 12 orang, 5 orang gugur dan 50 orang pasukan pemuda-pemuda gerilya kota gugur ditembak tentara Belanda.

Setelah dapat keluar kota di desa Sudagaran atau Kuncen kira-kira antara pukul 12.00 siang bertemulah saya dengan komandan Wehrkreise III Letkol Suharto yang sedang menikmati makan soto babat. Setelah melaporkan hasil pelaksanaan serangan umum itu, maka komandan memerintahkan lagi, agar tentara Belanda yang berada di Makam Kuncen itu dihalau/diserang sekalipun saya belum sempat konsolidasi, dan pasukan saya hanya tersisa 10 orang, perintah saya laksanakan. Dan kemudian komandan sektor Letkol Suharto kembali ke pangkalan......."

Apa yang diucapkan oleh Latief dalam pledoi ini menyiratkan Suharto tidak berada di garis depan pada waktu itu. Yang berjibaku ya anak buah Suharto seperti Latief, Pramuji, Sujono, Marsudi dan Ventje. Namun bagaimanapun harus diakui serangan umum 1 Maret 1949 merupakan strategi yang sangat cerdas, walaupun korban gugurnya 192 sampai 375 orang dari pihak TNI sementara di pihak Belanda 6 orang tewas. Perang dalam kota berakhir ketika pasukan khusus Gajah Merah pimpinan Kolonel Van Zanten yang datang dari Semarang memasuki dalam kota Yogya, semua pasukan TNI ditarik mundur namun sampai malam hari masih ada saja tembakan-tembakan gelap membahana dari rumah-rumah penduduk. Tujuan politik perang itu tercapai Belanda harus mengakui di depan forum PBB bahwa Republik masih ada.

Setelah perang itu berlangsung beberapa perundingan dan diam-diam Amerika Serikat menekan Belanda untuk segera keluar dari Yogyakarta. Belanda akhirnya menyerah dan keluar dari Yogya sekitar bulan Juni, tanggal 8 Juni 1949 Sri Sultan atas perintah PDRI menghentikan semua pertempuran bersenjata dengan RI. Atas nama PDRI Sri Sultan mengadakan pengumuman gencatan bersenjata. Dan pada tanggal 30 Juni 1949 Sri Sultan menandatangani penarikan pasukan Belanda dari kota Yogya. Dalam cerita penarikan pasukan ini ada legenda yang banyak diyakini orang Yogya. Bahwa Sri Sultan bisa menjadi enam orang di tempat yang bersamaan, ini karena dalam tempo yang sama persis Sri Sultan ada di enam sektor yang lokasinya berjauhan.

Suharto yang memimpin serangan umum mendapat surat selamat dari perwira-perwira lainnya dan serangan umum atas Yogya menjadi inspirasi pada perwira-perwira lainnya untuk melakukan serangan-serangan ke markas Belanda. Sudirman sendiri menulis surat kepada AH Nasution bahwa: "Suharto merupakan bunga pertempuran".

Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Hatta serta rombongan lain yang ditangkap akhirnya dilepaskan Belanda dan kembali ke Yogyakarta pada tanggal 6 Juli 1949 disambut langsung dengan Sri Sultan. Di kota Yogya semuanya dibawah kendali penuh 2.000 orang pasukan di bawah komando Suharto. Pada awalnya Sri Sultan meminta agar Yogyakarta dibawah pengawasan Kepolisian yang berkekuatan 600 orang, namun Suharto menolak karena dianggap keadaan belum sepenuhnya aman. Penolakan Suharto ini merupakan kemenangan politis Suharto terhadap Sri Sultan dan Jenderal Djatikusumo untuk menguasai kota Yogya setidak-tidaknya sampai Jenderal Sudirman turun gunung. Jenderal Sudirman yang enggan turun gunung karena kecewa dengan sikap Sukarno yang mau menyerah pada Belanda, dikirim surat berkali-kali oleh penggede Republik agar mau turun gunung tapi Sudirman masih ngambek. Barulah ketika Sri Sultan mengirim surat melalui Suharto agar Sudirman turun gunung dan bertemu dengan Presiden, Sudirman menuruti kemauan Sultan atas dasar hormatnya pada Raja Jawa. Di Istana Yogyakarta, Sri Sultan menyambut Sudirman dan mengantarkannya pada Bung Karno. Kedua tokoh ini-pun berpelukan sambil menangis.

Kemudian Sudirman diajak melihat parade pasukan Suharto di alun-alun Yogyakarta bersama Pemimpin PDRI yang telah menyerahkan mandat kekuasaannya pada Bung Karno Sjafrudin Prawiranegara. Suharto terlihat menahan air mata ketika pasukan kehormatan berjalan menghormat pada Sudirman.

Apapun yang terjadi perang 1 Maret 1949 merupakan sebuah episode penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Peran Sri Sultan HB IX tidak bisa dilupakan sebagai tokoh yang sederhana Sri Sultan dipuja dimana-mana, bahkan di Minangkabau kehadiran Sri Sultan disambut penuh haru, ribuan rakyat Minang mengelu-elukan Sri Sultan yang berkunjung ke Padang, disana Sri Sultan dibopong dan teriakan "Merdeka... Merdeka... Merdeka" berkumandang dimana-mana. Sri Sultan bukan saja tokoh lokal Jawa, tapi kepemimpinannya diakui secara nasional.

Kepribadian dan Karir Politik Sri Sultan
Ada cerita-cerita rakyat mengenai Sri Sultan tentang kesederhanaannya yang banyak beredar di kalangan rakyat Yogya. Sri Sultan ini kegemarannya naik mobil baik jenis besar maupun kecil. Dulu yang namanya angkutan kota tidak ada seragamnya, semua bentuknya sama. Ketika Sri Sultan sedang berjalan-jalan dengan mobilnya ia dihentikan oleh seorang perempuan separuh umur. Ibu-ibu itu mengira Sri Sultan adalah sopir angkutan sayur.
Mobil berhenti, Sri Sultan bertanya "Ada apa Bu...?"
"Ini Pak Sopir tolong naikkan karung-karung sayur saya mau antar barang ini ke Pasar Beringhardjo" Sri Sultan yang mengenakan kaca mata hitam tersenyum dan turun ia pun mengangkut karung-karung sayur itu. Setelah karung-karung sayur dinaikkan Ibu itu juga naik ke dalam mobil dan duduk di belakang. Setelah sampai depan pasar Beringhardjo Sri Sultan turun dan mengangkut karung-karung itu sampai ke dalam pasar, si Ibu itu berjalan di depannya. Seorang mantri polisi memperhatikan dengan cermat kejadian itu. Setelah karung-karung sayur ditaruh ditempatnya, Ibu itu bertanya
"Berapa ongkosnya, Pak Sopir?"
"Wah... ndak usah Bu"
"Walaah... Pak Sopir... Pak Sopir kayak ndak butuh uang saja?"
"Sudah tidak bu terima kasih"
"Lho, kurang tho... biasanya saya ngasihnya juga segini?" kata Ibu itu yang mengira sopir itu menolak uangnya karena kecewa pemberiannya kurang.
"Ndak... apa-apa Bu, saya cuma membantu"
"Sudah merasa kaya, tho.. Pak Sopir?, ndak mau terima uang" kata si Ibu sinis.
Sri Sultan tersenyum dan kemudian pamit keluar pasar. Saat Sri Sultan pergi si Ibu masih saja ngedumel "Dasar Sopir gemblung dikasih duit ndak mau" ujar Ibu itu sambil memberesi karung-karung sayurannya. Mantri Polisi yang sedari tadi mengamati peristiwa itu mendekati Ibu pedagang sayur itu.
"Bu... tadi Ibu tahu bicara dengan siapa?"
"Dengan... siapa... ya dengan Pak Sopir.. piye tho sampeyan iki (gimana sih kamu)"
"Ibu tahu, tadi ibu bicara kaliyan sing nduwe ringin kembar kuwi.. (tadi ibu bicara dengan yang punya beringin kembar itu)" Mantri Polisi itu menunjuk ke arah beringin kembar di depan keraton Yogya.
Blaar..... kepala si Ibu bagai disambar petir.... ia kaget langsung pingsan dan kabarnya dia meninggal di tempat.

Sri Sultan juga sering mengendarai mobil sendiri dari Yogya-Jakarta kadang-kadang ke Bandung. Di tengah jalan dia dihentikan seorang polisi untuk pemeriksaan surat-surat. Sang Polisi sinis karena mengemudi kok ndak sopan. Sri Sultan cuman pake celana kolor dan kaos singlet saja. Saat melihat Rebuwesnya sang Polisi kaget setengah mati dan langsung berdiri hormat langsung mempersilahkan jalan, Sri Sultan tertawa dan mengangguk pada Pak Polisi.

Nama Sri Sultan sempat mencuat lagi karena ternyata dia menjadi sasaran utama pembunuhan dari pemberontakan eks KNIL yang dipimpin Westerling. Rencananya setelah melakukan gerakan di Bandung Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) akan masuk ke Jakarta dan membubarkan sidang kabinet serta membunuh Menteri Pertahanan Sri Sultan HB IX. Namun gerakan Westerling berhasil digagalkan pasukan Siliwangi dan hanya bergerak di sekitar Lengkong serta Bandung kota.

Sepanjang masa-masa kabinet Parlementer dan Demokrasi terpimpin Sri Sultan tidak begitu aktif lagi di politik. Kegiatannya yang sering diliput media adalah menjadi Ketua Pramuka. Anak-anak Pramuka era 60an, termasuk Bondan Winarno (Jago makan di Wisata Kuliner itu) memanggil Sri Sultan dengan sebutan "Kak Sultan". Nama Sri Sultan muncul lagi setelah G 30 S dan kekuasaan pelan-pelan dipreteli Pak Harto.

Rupanya Pak Harto kurang pede dengan dirinya untuk berhadapan sendirian dengan Bung Karno. Untuk itu di bidang politik luar negeri ia menggandeng Adam Malik dan di dalam negeri sebagai kharisma ia meminjam Sri Sultan, jadilah Triumvirat Orde Baru yang terkenal itu: Suharto-Sri Sultan HB IX dan Adam Malik. Waktu itu sepertinya Sri Sultan tidak begitu paham dengan apa yang terjadi sesungguhnya dengan Indonesia dan hal ini bukan Sri Sultan saja yang mengalami banyak tokoh masih dalam suasana kalut. Yang jelas saat itu adalah dimulainya pergeseran antara kekuasaan Sukarno ke Suharto. Dan tampaknya Sri Sultan memihak pada Suharto dengan Orde Barunya. Bahkan Sri Sultan tidak sabar dengan tindakan hati-hati Suharto terhadap Bung Karno yang dinilai kurang tegas dan lamban.

Dalam otobiografinya Jenderal Kemal Idris menuturkan:
"Saya masih ingat, pada tahun 1966, ipar saya Widjatmiko datang ke Kostrad mengabarkan bahwa saya dipanggil Sri Sultan Hamengkubuwono IX di rumah Mashuri di Jalan Agus Salim, Jakarta. Disana sudah menunggu Sri Sultan, Adam Malik dan Mashuri.
"Kemal kamu take over, ambil alih kekuasaan dari tangan Suharto" ujar Sri Sultan.

(Kemal Idris, Bertarung dalam Revolusi hal.252)

Rupanya Sri Sultan tidak sabar dengan permainan Jenderal Suharto menghadapi Bung Karno. Jauh-jauh hari kemudian ia keadaan menjadi jelas kenapa Suharto begitu hati-hati menghadapi Bung Karno dan terlalu lama maen petak umpet untuk mempreteli kekuasaan Sukarno yang baru berhasil dimenangkannya tahun 1967. Ternyata Suharto mendeteksi siapa lawan, siapa kawan. Karena bagi Suharto jelas Sukarno sudah kalah, PKI habis maka musuh selanjutnya bukan dari pihak lawan tapi yang dibelakangnya namun berpotensi tidak loyal termasuk kelompok Jenderal elang yang dikemudian hari nasibnya kurang baik dibawah kekuasaan Orde Baru terutama Jenderal HR Dharsono, pendukung fanatik Orde Baru. Yang masa tuanya mengenaskan dan sempat dituduh oleh Kopkamtib terlibat pengeboman Borobudur juga disangkutkan pada kasus Priok.

Jika Andi F. Noya mengira-ngira apa maksud Sultan sesungguhnya menolak menjadi Wapres di hari-hari penentuan 1978 yang kemudian digantikan oleh Adam Malik adalah masalah peristiwa Malari 1974 atau masalah korupsi dimana keluarga Presiden mulai banyak terlibat sesungguhnya kurang begitu tepat. Ada keyakinan di kalangan politisi-politisi senior dan orang yang ngerti politik bahwa Sri Sultan menolak menjadi Wapres di tahun 1978 karena menolak ia ikut rezim Suharto yang berlumuran darah.

Apa yang dimaksud berlumuran darah. Mengingat kejadiannya tahun 1978 berarti kemungkinan yang dimaksud Sri Sultan adalah masa pasca G 30 S dimana banyak pembantaian terjadi dan alur cerita G 30 S yang sebenarnya sudah mulai terkuak terutama dari saksi-saksi sejarah. Apalagi pada tahun 1978 banyak tawanan dari Pulau Buru dibebaskan. Sejak tahun 1978 Sri Sultan menolak aktif berpolitik kecuali sebagai Ketua KONI.

Beliau meninggal awal September 1988 di Amerika Serikat dan prosesi pemakamannya di tangisi jutaan orang Indonesia, mengingatkan pada prosesi pemakaman Bung Karno dan Bung Hatta yang juga ditangisi jutaan orang Indonesia. Saat mangkatnya Raja Agung Binatara itu sepertinya hubungan Suharto dan Sri Sultan HB IX kurang begitu baik. Suharto sendiri sambil lalu saja memperhatikan mangkat Rajanya itu. Kemudian Sri Sultan HB IX digantikan Herdjuno Darpito yang wajahnya di tahun 1988 mirip dengan Deddy Mizwar bintang fim muda yang sedang naik daun karena film `Nagabonar' dan `Kejarlah Aku Kau Kutangkap'.

Satu-satunya foto putera Sri Sultan HB IX adalah Herdjuno Darpito ini mengingatkan pada otobiografi Bung Karno yang ditulis Cindy Adams dimana hanya Megawati yang di potret berdua bersama Bung Karno. Akankah Mas Djun atau Sri Sultan Hamengkubuwono X maju lagi ke kancah politik nasional, waktulah yang akan menjawab.
signature
[b]Sabar, Ikhlas, Legowo dan Bersyukur adalah kunci hidup penuh rahmah.......[/b]
banner
t3nn4n9
25 Dec 2007 13:06    #3

Kolonel

Gua save dolo ntar baru dibaca lanjutannya..
baru sampe raden saleh...
wah ndan hobi kita sama di sejarah yah..
Lendir gua udah rada bosen isinya cuman dada dan semangka hitam duank...
tapi kalo pengetahuan terus berjalan dan mengisi otak..
banner
sampela
25 Dec 2007 21:09    #4

Mayjen

gini baru namanya post ilmu yang berguna... seeep om

Top Top Top
Top
Top Top Top
Top
Top

Top Top Top
Top Top
Top Top Top
Top Top
Top Top Top

Top
Top
Top
Top
Top
signature
biasakan login FBI setiap hari, dijamin ilmu bertambah Smile
banner
andre44
25 Dec 2007 23:02    #5

Letkol

atas mantep banget tuh L)
signature
[font=Tahoma][b]Semakin di Depan[/b][/font]
banner
yanskuza
25 Dec 2007 23:06    #6

Prajurit

Top Top Top Rolleyes Rolleyes
menambah pengetahuan...
banner
Kojek
26 Dec 2007 04:10    #7

Tukang Sapu

t3nn4n9 Wrote:Gua save dolo ntar baru dibaca lanjutannya..
baru sampe raden saleh...
wah ndan hobi kita sama di sejarah yah..
Lendir gua udah rada bosen isinya cuman dada dan semangka hitam duank...
tapi kalo pengetahuan terus berjalan dan mengisi otak..
Big Grin Big Grin
Bisa aja....
signature
[b]Sabar, Ikhlas, Legowo dan Bersyukur adalah kunci hidup penuh rahmah.......[/b]
banner
Kojek
26 Dec 2007 23:12    #8

Tukang Sapu

Bung Hatta

Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Dari ibunya, Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya.

Sejak duduk di MULO di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Hatta masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond.

Sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, ia menyadari pentingnya arti keuangan bagi hidupnya perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab dan disiplin selanjutnya menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad Hatta.

Masa Studi di Negeri Belanda

Pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging. Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antaranggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki jurusan itu terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik.

Perpanjangan rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi Ketua PI pada tanggal 17 Januari 1926. Pada kesempatan itu, ia mengucapkan pidato inaugurasi yang berjudul "Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen"--Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan kekuasaan. Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif.

Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Hatta dipilih menjadi Ketua PI. Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya politik rakyat di Indonesia. Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan dari pergerakan nasional yang berada di Eropa.

PI melakukan propaganda aktif di luar negeri Belanda. Hampir setiap kongres intemasional di Eropa dimasukinya, dan menerima perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin delegasi.
Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama "Indonesia", Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Tanpa banyak oposisi, "Indonesia" secara resmi diakui oleh kongres. Nama "Indonesia" untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal kalangan organisasi-organisasi internasional.

Hatta dan pergerakan nasional Indonesia mendapat pengalaman penting di Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial, suatu kongres internasional yang diadakan di Brussels tanggal 10-15 Pebruari 1927. Di kongres ini Hatta berkenalan dengan pemimpin-pemimpin pergerakan buruh seperti G. Ledebour dan Edo Fimmen, serta tokoh-tokoh yang kemudian menjadi negarawan-negarawan di Asia dan Afrika seperti Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Afrika). Persahabatan pribadinya dengan Nehru mulai dirintis sejak saat itu.

Pada tahun 1927 itu pula, Hatta dan Nehru diundang untuk memberikan ceramah bagi "Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan" di Gland, Swiss. Judul ceramah Hatta L 'Indonesie et son Probleme de I' Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan).
Bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, Hatta dipenjara selama lima setengah bulan. Pada tanggal 22 Maret 1928, mahkamah pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari segala tuduhan. Dalam sidang yang bersejarah itu, Hatta mengemukakan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama "Indonesia Vrij", dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul Indonesia Merdeka.

Antara tahun 1930-1931, Hatta memusatkan diri kepada studinya serta penulisan karangan untuk majalah Daulat Ra‘jat dan kadang-kadang De Socialist. Ia merencanakan untuk mengakhiri studinya pada pertengahan tahun 1932.

Kembali ke Tanah Air

Pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda dan sebulan kemudian ia tiba di Jakarta. Antara akhir tahun 1932 dan 1933, kesibukan utama Hatta adalah menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat dan melakukan berbagai kegiatan politik, terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Prinsip non-kooperasi selalu ditekankan kepada kader-kadernya.

Reaksi Hatta yang keras terhadap sikap Soekarno sehubungan dengan penahannya oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang berakhir dengan pembuangan Soekarno ke Ende, Flores, terlihat pada tulisan-tulisannya di Daulat Ra’jat, yang berjudul "Soekarno Ditahan" (10 Agustus 1933), "Tragedi Soekarno" (30 Nopember 1933), dan "Sikap Pemimpin" (10 Desember 1933).

Pada bulan Pebruari 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya kepada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Para pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia ditahan dan kemudian dibuang ke Boven Digoel. Seluruhnya berjumlah tujuh orang. Dari kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Bondan. Dari kantor Bandung: Maskun Sumadiredja, Burhanuddin, Soeka, dan Murwoto. Sebelum ke Digoel, mereka dipenjara selama hampir setahun di penjara Glodok dan Cipinang, Jakarta. Di penjara Glodok, Hatta menulis buku berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”.

Masa Pembuangan
Pada bulan Januari 1935, Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Kepala pemerintahan di sana, Kapten van Langen, menawarkan dua pilihan: bekerja untuk pemerintahan kolonial dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan makanan in natura, dengan tiada harapan akan dipulangkan ke daerah asal. Hatta menjawab, bila dia mau bekerja untuk pemerintah kolonial waktu dia masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji besar pula. Maka tak perlulah dia ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari.

Dalam pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah Merah dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti. Dengan demikian, Hatta mempunyai cukup banyak bahan untuk memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya di pembuangan mengenai ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Kumpulan bahan-bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan dengan judul-judul antara lain, "Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan" dan "Alam Pikiran Yunani." (empat jilid

Pada bulan Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti van Langen, memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindah ke Bandaneira. Pada Januari 1936 keduanya berangkat ke Bandaneira. Mereka bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain.

Kembali Ke Jawa: Masa Pendudukan Jepang

Pada tanggal 3 Pebruari 1942, Hatta dan Sjahrir dibawa ke Sukabumi. Pada tanggal 9 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, dan pada tanggal 22 Maret 1942 Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta.

Pada masa pendudukan Jepang, Hatta diminta untuk bekerja sama sebagai penasehat. Hatta mengatakan tentang cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka, dan dia bertanya, apakah Jepang akan menjajah Indonesia? Kepala pemerintahan harian sementara, Mayor Jenderal Harada. menjawab bahwa Jepang tidak akan menjajah. Namun Hatta mengetahui, bahwa Kemerdekaan Indonesia dalam pemahaman Jepang berbeda dengan pengertiannya sendiri. Pengakuan Indonesia Merdeka oleh Jepang perlu bagi Hatta sebagai senjata terhadap Sekutu kelak. Bila Jepang yang fasis itu mau mengakui, apakah sekutu yang demokratis tidak akan mau? Karena itulah maka Jepang selalu didesaknya untuk memberi pengakuan tersebut, yang baru diperoleh pada bulan September 1944.

Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara. Namun pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali."

Proklamasi

Pada awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia, sembilan dari Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menyarankan agar Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Setelah pekerjaan itu selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat para anggota lainnya menanti.

Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi tersebut ditandatangi oleh dua orang saja, Soekarno dan Mohammad Hatta. Semua yang hadir menyambut dengan bertepuk tangan riuh.

Tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta.

Tanggal 18 Agustus 1945, Ir Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Mohammad Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Soekardjo Wijopranoto mengemukakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden harus merupakan satu dwitunggal.

Periode Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya dari usaha Pemerintah Belanda yang ingin menjajah kembali. Pemerintah Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Reville, tetapi selalu berakhir dengan kegagalan akibat kecurangan pihak Belanda.

Untuk mencari dukungan luar negeri, pada Juli I947, Bung Hatta pergi ke India menemui Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi. dengan menyamar sebagai kopilot bernama Abdullah (Pilot pesawat adalah Biju Patnaik yang kemudian menjadi Menteri Baja India di masa Pemerintah Perdana Menteri Morarji Desai). Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan protes dan resolusi kepada PBB agar Belanda dihukum.

Kesukaran dan ancaman yang dihadapi silih berganti. September 1948 PKI melakukan pemberontakan. 19 Desember 1948, Belanda kembali melancarkan agresi kedua. Presiden dan Wapres ditawan dan diasingkan ke Bangka. Namun perjuangan Rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan terus berkobar di mana-mana. Panglima Besar Soediman melanjutkan memimpin perjuangan bersenjata.

Pada tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag, Bung Hatta yang mengetuai Delegasi Indonesia dalam Konperensi Meja Bundar untuk menerima pengakuan kedaulatan Indonesia dari Ratu Juliana.

Bung Hatta juga menjadi Perdana Menteri waktu Negara Republik Indonesia Serikat berdiri. Selanjutnya setelah RIS menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden

Periode Tahun 1950-1956

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Dia juga tetap menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi. Dia juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato radio untuk menyambut Hari Koperasi di Indonesia. Karena besamya aktivitas Bung Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Pikiran-pikiran Bung Hatta mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971).

Pada tahun 1955, Bung Hatta mengumumkan bahwa apabila parlemen dan konsituante pilihan rakyat sudah terbentuk, ia akan mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Niatnya untuk mengundurkan diri itu diberitahukannya melalui sepucuk surat kepada ketua Perlemen, Mr. Sartono. Tembusan surat dikirimkan kepada Presiden Soekarno. Setelah Konstituante dibuka secara resmi oleh Presiden, Wakil Presiden Hatta mengemukakan kepada Ketua Parlemen bahwa pada tanggal l Desember 1956 ia akan meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI. Presiden Soekarno berusaha mencegahnya, tetapi Bung Hatta tetap pada pendiriannya.

Pada tangal 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta. Pada kesempatan itu, Bung Hatta mengucapkan pidato pengukuhan yang berjudul “Lampau dan Datang”.

Sesudah Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI, beberapa gelar akademis juga diperolehnya dari berbagai perguruan tinggi. Universitas Padjadjaran di Bandung mengukuhkan Bung Hatta sebagai guru besar dalam ilmu politik perekonomian. Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ekonomi. Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. Pidato pengukuhan Bung Hatta berjudul “Menuju Negara Hukum”.

Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis "Demokrasi Kita" dalam majalah Pandji Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu.

Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih merupakan negarawan sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus.
Hatta menikah dengan Rahmi Rachim pada tanggal l8 Nopember 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Mereka mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi'ah, dan Halida Nuriah. Dua orang putrinya yang tertua telah menikah. Yang pertama dengan Dr. Sri-Edi Swasono dan yang kedua dengan Drs. Mohammad Chalil Baridjambek. Hatta sempat menyaksikan kelahiran dua cucunya, yaitu Sri Juwita Hanum Swasono dan Mohamad Athar Baridjambek.

Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan kepada Bung Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi "Bintang Republik Indonesia Kelas I" pada suatu upacara kenegaraan di Istana Negara.

Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada tanggal 15 Maret 1980.

Kisah Bung Hatta dan sepatu Bally

PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

"Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri," kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.
signature
[b]Sabar, Ikhlas, Legowo dan Bersyukur adalah kunci hidup penuh rahmah.......[/b]
banner
roeTOEK
21 Jan 2008 07:12    #9

Letkol

Top Top Top Top Top
banner
jungle
24 Jan 2008 16:42    #10

Kolonel

Top Top
Top Top
Top Top
Top
Top Top
Top Top
Top Top
signature
[b][color=#0000CD]Cool, Calm and Confident[/color][/b]
banner
Kojek
31 Jan 2008 11:16    #11

Tukang Sapu

Syaikhona Khalil Bangkalan

Ada tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam proses pendirian Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) yaitu Kiai Wahab Chasbullah (Surabaya asal Jombang), Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang) dan Kiai Cholil (Bangkalan). Mujammil Qomar, penulis buku "NU Liberal: Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam", melukiskan peran ketiganya sebagai berikut Kiai Wahab sebagai pencetus ide, Kiai Hasyim sebagai pemegang kunci, dan Kiai Cholil sebagai penentu berdirinya.

Tentu selain dari ketiga tokoh ulama tersebut , masih ada beberapa tokoh lainnya yang turut memainkan peran penting. Sebut saja KH. Nawawie Noerhasan dari Pondok Pesantren Sidogiri. Setelah meminta restu kepada Kiai Hasyim seputar rencana pendirian Jamiyyah. Kiai Wahab oleh Kiai Hasyim diminta untuk menemui Kiai Nawawie. Atas petunjuk dari Kiai Hasyim pula, Kiai Ridhwan-yang diberi tugas oleh Kiai Hasyim untuk membuat lambang NU- juga menemui Kiai Nawawie. Tulisan ini mencoba mendiskripsikan peran Kiai Wahab, Kiai Hasyim, Kiai Cholil dan tokoh-tokoh ulama lainnya dalam proses berdirinya NU.

Keresahan Kiai Hasyim
Bermula dari keresahan batin yang melanda Kiai Hasyim. Keresahan itu muncul setelah Kiai Wahab meminta saran dan nasehatnya sehubungan dengan ide untuk mendirikan jamiyyah / organisasi bagi para ulama ahlussunnah wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat luas, untuk urusan yang nantinya akan melibatkan para kiai dari berbagai pondok pesantren ini, Kiai Hasyim tak mungkin untuk mengambil keputusan sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih perlu untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh lainnya.

Pada awalnya, ide pembentukan jamiyyah itu muncul dari forum diskusi Tashwirul Afkar yang didirikan oleh Kiai Wahab pada tahun 1924 di Surabaya. Forum diskusi Tashwirul Afkar yang berarti “potret pemikiran” ini dibentuk sebagai wujud kepedulian Kiai Wahab dan para kiai lainnya terhadap gejolak dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam terkait dalam bidang praktik keagamaan, pendidikan dan politik. Setelah peserta forum diskusi Tashwirul Afkar sepakat untuk membentuk jamiyyah, maka Kiai Wahab merasa perlu meminta restu kepada Kiai Hasyim yang ketika itu merupakan tokoh ulama pesantren yag sangat berpengaruh di Jawa Timur.

Setelah pertemuan dengan Kiai Wahab itulah, hati Kiai Hasyim resah. Gelagat inilah yang nampaknya "dibaca" oleh Kiai Cholil Bangkalan yang terkenal sebagai seorang ulama yang waskita (mukasyafah). Dari jauh ia mengamati dinamika dan suasana yang melanda batin Kiai Hasyim. Sebagai seorang guru, ia tidak ingin muridnya itu larut dalam keresahan hati yang berkepanjangan. Karena itulah, Kiai Cholil kemudian memanggil salah seorang santrinya, As’ad Syamsul Arifin (kemudian hari terkenal sebagai KH. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo) yang masih terhitung cucunya sendiri.

Tongkat “Musa”

“Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” titah Kiai Cholil kepada As’ad. “Baik, Kiai,” jawab As’ad sambil menerima tongkat itu.

“Setelah membeerikan tongkat, bacakanlah ayat-ayat berikut kepada Kiai Hasyim,” kata Kiai Cholil kepada As’ad seraya membacakan surat Thaha ayat 17-23.

Allah berfirman: ”Apakah itu yang di tangan kananmu, hai musa? Berkatalah Musa : ‘ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya’.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat”, Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.”

Sebagai bekal perjalanan ke Jombang, Kiai Cholil memberikan dua keeping uang logam kepada As’ad yang cukup untuk ongkos ke Jombang. Setelah berpamitan, As’ad segera berangkat ke Jombang untuk menemui Kiai Hasyim. Tongkat dari Kiai Cholil untuk Kiai Hasyim dipegangnya erat-erat.

Meski sudah dibekali uang, namun As’ad memilih berjalan kaki ke Jombang. Dua keeping uang logam pemberian Kiai Cholil itu ia simpan di sakunya sebagai kenagn-kenangan. Baginya, uang pemberian Kiai Cholil itu teramat berharga untuk dibelanjakan.

Sesampainya di Jombang, As’ad segera ke kediaman Kiai Hasyim. Kedatangan As’ad disambut ramah oleh Kiai Hasyim. Terlebih, As’ad merupakan utusan khusus gurunya, Kiai Cholil. Setelah bertemu dengan Kiai Hasyim, As’ad segera menyampaikan maksud kedatangannya, “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini,” kata As’ad seraya menyerahkan tongkat.

Kiai Hasyim menerima tongkat itu dengan penuh perasaan. Terbayang wajah gurunya yang arif, bijak dan penuh wibawa. Kesan-kesan indah selama menjadi santri juga terbayang dipelupuk matanya. “Apa masih ada pesan lainnya dari Kiai Cholil?” Tanya Kiai Hasyim. “ada, Kiai!” jawab As’ad. Kemudian As’ad membacakan surat Thaha ayat 17-23.

Setelah mendengar ayat tersebut dibacakan dan merenungkan kandungannya, Kiai Hasyim menangkap isyarat bahwa Kiai Cholil tak keberatan apabila ia dan Kiai Wahab beserta para kiai lainnya untuk mendirikan Jamiyyah. Sejak saat itu proses untuk mendirikan jamiyyah terus dimatangkan. Meski merasa sudah mendapat lampu hijau dari Kiai Cholil, Kiai Hasyim tak serta merta mewujudkan niatnya untuk mendirikan jamiyyah. Ia masih perlu bermusyawarah dengan para kiai lainnya, terutama dengan Kiai Nawawi Noerhasan yang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Terlebih lagi, gurunya (Kiai Cholil Bangkalan) dahulunya pernah mengaji kitab-kitab besar kepada Kiai Noerhasan bin Noerchotim, ayahanda Kiai Nawawi Noerhasan.

Untuk itu, Kiai Hasyim meminta Kiai Wahab untuk menemui Kiai Nawawie. Setelah mendapat tugas itu, Kiai Wahab segera berangkat ke Sidogiri untuk menemui Kiai Nawawie. Setibanya di sana, Kiai Wahab segeraa menuju kediaman Kiai Nawawie. Ketika bertemu dengan Kiai Nawawie, Kiai Wahab langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah mendengarkan dengan seksama penuturan Kiai Wahab yang menyampaikan rencana pendirian jamiyyah, Kiai Nawawie tidak serta merta pula langsung mendukungnya, melainkan memberikan pesan untuk berhati-hati. Kiai Nawawie berpesan agar jamiyyah yang akan berdiri itu supaya berhati-hati dalam masalah uang. “Saya setuju, asalkan tidak pakai uang. Kalau butuh uang, para anggotanya harus urunan.” Pesan Kiai Nawawi.

Proses dari sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat sampai dengan perkembangan terakhir pembentukan jamiyyah rupanya berjalan cukup lama. Tak terasa sudah setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat kepada Kiai Hasyim. Namun, jamiyyah yang diidam-idamkan tak kunjung lahir juga. Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, maskih tetap dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna bagi ummat Islam.

Sampai pada suatu hari, As’ad muncul lagi di kediaman Kiai Hasyim dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata As’ad sambil menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Entahlah, apa maksud di balik pemberian tasbih dan khasiat dari bacaan dua Asma Allah itu. Mungkin saja, tasbih yang diberikan oleh Kiai Cholil itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah. Sedangkan bacaan Asma Allah, bisa jadi sebagai doa agar niat mendirikan jamiyyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya.

Ya Qahhar dan Ya Jabbar adalah dua Asma Allah yang memiliki arti hampir sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti terjadi, tidak bisa dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, tetapi adapula yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma Allah ini biasanya dijadikan amalan untuk menjatuhkan wibawa, keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang. Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski demikian, sampai Kiai Cholil meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M),jamiyyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H, “jabang bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU).

Setelah para ulama sepakat mendirikan jamiyyah yang diberi nama NU, Kiai Hasyim meminta Kiai Ridhwan Nashir untuk membuat lambangnya. Melalui proses istikharah, Kiai Ridhwan mendapat isyarat gambar bumi dan bintang sembilan. Setelah dibuat lambangnya, Kiai Ridhwan menghadap Kiai Hasyim seraya menyerahkan lambang NU yang telah dibuatnya. “Gambar ini sudah bagus. Namun saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawi di Sidogiri untuk meminta petunjuk lebih lanjut,” pesan Kiai Hasyim. Dengan membawa sketsa gambar lambang NU, Kiai Ridhwan menemui Kiai Nawawi di Sidogiri. “Saya oleh Kiai Hasyim diminta membuat gambar lambang NU. Setelah saya buat gambarnya, Kiai Hasyim meminta saya untuk sowan ke Kiai supaya mendapat petunjuk lebih lanjut,” papar Kiai Ridhwan seraya menyerahkan gambarnya.

Setelah memandang gambar lambang NU secara seksama, Kiai Nawawie memberikan saran konstruktif: “Saya setuju dengan gambar bumi dan sembilan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya.” Selain itu, Kiai Nawawie jug a meminta supaya tali yang mengikat gambar bumi ikatannya dibuat longgar. “selagi tali yang mengikat bumi itu masih kuat, sampai kiamat pun NU tidak akan sirna,” papar Kiai Nawawie.

Bapak Spiritual
Selain memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendirian NU yaitu sebgai penentu berdirinya, sebenarnya masih ada satu peran lagi, peran penting lain yang telah dimainkan oleh Kiai Cholil Bangkalan. Yaitu peran sebagai bapak spiritual bagi warga NU. Dalam tinjauan Mujammil Qomar, Kiai Cholil layak disebut sebagai bapak spiritual NU karena ulama asal Bangkalan ini sangat besar sekali andilnya dalam menumbuhkan tradisi tarekat, konsep kewalian dan haul (peringatan tahunan hari kematian wali atau ulama).

Dalam ketiga masalah itu, kalangan NU berkiblat kepada Kiai Cholil Bangkalan karena ia dianggap berhasil dalam menggabungkan kecenderungan fikih dan tarekat dlam dirinya dalam sebuah keseimbangan yang tidak meremehkan kedudukan fikih. Penggabungan dua aspek fikih dan tarekat itu pula yang secara cemerlang berhasil ia padukan dalam mendidik santri-santrinya. Selain membekali para santrinya dengan ilmu-ilmu lahir (eksoterik) yang sangat ketat –santrinya tak boleh boyong sebelum hafal 1000 bait nadzam Alfiah Ibn Malik, ia juga menggembleng para santrinya dengan ilmu-ilmu batin.
signature
[b]Sabar, Ikhlas, Legowo dan Bersyukur adalah kunci hidup penuh rahmah.......[/b]
banner
Kojek
21 Mar 2008 13:40    #12

Tukang Sapu

Hidayat Nurwahid

Ia memulai hari dengan bersujud. Bersarung cokelat kotak-kotak, baju koko putih, dan peci hitam, Hidayat Nur Wahid, 48 tahun, ditemani putra bungsunya, Hubaib Shidiq, 9 tahun, keluar dari kamar tidur menuju musala di samping kanan rumah dinasnya. Di musala berukuran 3 x 6 meter itu telah menunggu dua staf pribadi Hidayat yang juga akan salat subuh bersama, pukul 04.45 WIB Rabu lalu.

Pukul 05.10, seusai salat subuh, Hidayat dan Hubaib beranjak ke lantai 2 rumahnya. Di bangunan utama rumah dinas Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat itu terdapat satu kamar tidur utama dan dua kamar tidur anak. Di depan ketiga kamar itu ada ruang berukuran 3 x 4 meter untuk ruang keluarga. Selama 15 menit Hidayat dan Hubaib melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran di situ.

Sejak Kastian Indriawati, 45 tahun, istrinya, meninggal pada 22 Januari lalu, Hidayat menjadi orang tua tunggal bagi Inayah Dzil Izzati (kelas V Pesantren Gontor), Ruzaina (kelas III SMP Pesantren Anyer, Banten), Allaâ 'Khoiri (kelas I Pesantren Gontor), dan Hubaib Shidiq (kelas IV sekolah dasar di Pondok Gede, Bekasi). Di tengah kesibukannya sebagai Ketua MPR, guru, dan anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera, Hidayat berusaha menyempatkan diri menyiapkan keperluan sekolah Hubaib, satu-satunya anak yang tinggal bersamanya.

Pukul 05.55, Hidayat melepas Hubaib ke sekolah, diantar sopir keluarga mengendarai mobil pribadi Innova warna hitam. Sejak istrinya tiada, Hidayat ingin selalu melepas, nguntapke, Hubaib berangkat sekolah.

Pukul 06.00, berkaus putih, celana olahraga panjang hitam, dan sepatu putih, Hidayat menuju lapangan bulu tangkis yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah dinasnya menggunakan mobil pribadi Toyota Kijang LGX warna biru. Bersama staf pribadinya dan beberapa staf pribadi menteri di kompleks Widya Candra, pagi itu Hidayat main empat set langsung dengan dua kali istirahat masing-masing lima menit.

Hidayat selalu bermain cantik di tiap set. Smash dan permainan net menunjukkan kepiawaiannya bermain tepok bulu. Walhasil, pria kelahiran Klaten ini selalu memenangi pertandingan.

Bulu tangkis adalah hobinya selain sepak bola. Minimal tiap Selasa dan Rabu dia selalu menyempatkan diri memukul shuttlecock. Dia suka badminton sejak remaja. Di samping rumah orang tuanya di Kadipaten Lor RT 03 RW 08, Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten, ada lapangan badminton yang biasa dipakai keluarga dan warga sekitarnya.

Kebiasaan itu diteruskan Hidayat saat 13 tahun belajar di Madinah, Arab Saudi. Bersama teman-teman pelajar dari Indonesia dia membuat lapangan bulu tangkis di samping kontrakan.

Pukul 07.50, Hidayat menyudahi badminton. Menenteng tas raket, ia berjalan kaki menuju rumah dinasnya. Sesampai di rumah, Hidayat meminta izin kepada Tempo membersihkan diri dan bersiap-siap berangkat ke kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Dua puluh lima menit kemudian Hidayat ke lantai 2 menuju meja makan yang letaknya di bawah kamar tidur utama. Ruang makan menyatu dengan ruang keluarga, bersebelahan dengan ruang tamu dan ruang rapat.

Seperti di ruangan lainnya, di ruangan seukuran lapangan bulu tangkis ini tidak ada aksesori yang tergolong mewah. Hanya ada televisi 21 inci dan akuarium berukuran 1 x 0,5 meter yang dihuni seekor ikan arwana. Di dinding tergantung satu lukisan bunga, foto Hidayat bersama para pemimpin MPR, serta foto-foto mendiang istrinya.

Menu sarapan kali itu nasi uduk, kering tempe, ayam dan telur goreng, sambal, dan kerupuk. Buahnya jeruk dan lengkeng, minumannya jus jambu dan air mineral. Tapi Hidayat hanya mengambil kering tempe, ayam goreng, sambal, dan kerupuk sebagai teman nasi uduk.

Hidayat agaknya penggemar kerupuk. Sekali makan, lebih dari tiga kali ia merogoh kaleng krupuk dari plastik itu. Ia mengaku tidak punya pantangan jenis makanan tertentu. Tapi masakan tradisional Jawa, seperti pecel, botok, sambal goreng, sayur lodeh, dan tentu saja kerupuk, paling ia gemari.

Untuk bekerja hari itu Hidayat memilih kemeja batik lengan panjang biru dengan motif kawung putih dan celana hitam. Hidayat jarang mengenakan jas. Dia lebih sering mengenakan batik, kecuali untuk acara kenegaraan yang mewajibkan jas.

Hidayat mengaku tak punya merek pakaian favorit. Istrinyalah yang biasanya menyediakan pakaiannya. Batik yang ia kenakan hari itu, misalnya, bahannya dibelikan Kastian dan dijahit di Pondok Gede, dekat rumah pribadinya.

Mendiang Kastian pula yang membelikan jam tangan Tissot yang dikenakan Hidayat, juga telepon seluler Nokia--bukan Communicator. Kastian membelikannya saat berhaji, beberapa hari sebelum meninggal. "Ini kenang-kenangan terakhir almarhumah (istri saya)."

Pukul 09.10, Hidayat bersiap ke kantor PKS.

Tanpa istrinya, kini Hidayat menyiapkan sendiri semua keperluannya. Memilih baju dan celana sampai menyemir sepatu. Sepatu yang dikenakannya hari itu sepatu Bata hitam yang terletak di samping tangga menuju lantai 2. Sepatu itu sudah tak mengkilap sehingga Hidayat perlu menyemirnya dulu. Ia tidak banyak memiliki koleksi sepatu atau sandal.

Setelah bersepatu, Hidayat memeriksa semua lampu ruangan. Lampu yang tidak dipakai dimatikannya.

Pukul 09.25, Hidayat masuk ke mobil Toyota Kijang LGX warna biru menuju kantor DPP PKS. Rencananya, pukul 10.00 akan ada deklarasi pencalonan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Karena untuk kepentingan partai, Hidayat tak menggunakan Camry, mobil dinas Ketua MPR. Hidayat duduk di kursi belakang. Di depan ada sopir dan ajudannya.

Meski pejabat negara, Hidayat jarang dikawal dan kerap bepergian tanpa voorrijder. Ia merasa aman dan nyaman tanpa mereka karena merasa tak punya musuh, sehingga tidak khawatir keamanannya terancam.

Tapi, tanpa voorrijder, ditambah lalu lintas yang kerap macet, perjalanannya jadi lebih lama. Dari Widya Candra menuju Mampang Prapatan pagi itu perlu 30 menit. Di perjalanan, Hidayat sempat menunjukkan tukang potong rambut langganannya. Letaknya di deretan warung Padang dan warung Tegal di pinggir Jalan Mampang Prapatan Raya. Sebulan sekali dia potong rambut di situ. "Ongkosnya Rp 9.000 sekali cukur."

Pukul 10.00, Hidayat tiba di kantor PKS. Deklarasi ditunda karena Presiden PKS Tifatul Sembiring dipastikan datang pukul 10.30. Di situ Hidayat bertemu dengan Ketua Majelis Syura Hilmi Aminuddin, Ketua Dewan Syariah Surahman, serta pengurus PKS Jawa Barat.

Hidayat belum pernah belajar politik secara formal. Tapi ia lahir dari keluarga aktivis. Kakeknya tokoh Muhammadiyah dan Masyumi di Prambanan, Jawa Tengah. Ibunya aktivis Aisyiyah--organisas i perempuan Muhammadiyah. Dan ayahnya, meski berlatar belakang Nahdlatul Ulama, menjadi pengurus Muhammadiyah. Kastian juga penggiat Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Hidayat menimba ilmu berorganisasi di Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) cabang Madinah. PPI Madinah adalah salah satu organisasi yang menolak penerapan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi organisasi di masa Orde Baru. Beberapa kali petugas kedutaan dan menteri kabinet Soeharto membujuk agar PPI Madinah mengakui Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi, tapi tak mempan.

Hidayat kembali ke Indonesia pada 1993 dan mengajar di Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang. Ketika reformasi bergulir, bersama-sama aktivis muslim ia mendirikan Partai Keadilan. Kini, setelah berganti menjadi Partai Keadilan Sejahtera, partai yang semula hanya menerima anggota dari kalangan Islam itu mulai membuka diri untuk nonmuslim.

Tapi rekrutmen partainya, kata Hidayat, tetap taat pada jenjang pengkaderan. Untuk menentukan calon di parlemen, PKS akan melihat siapa yang akan diwakili calon itu. Jika penduduk yang akan diwakili mayoritas selain Islam, wakilnya bisa saja dari nonmuslim juga. Hidayat hanya 20 menit berada di kantor PKS. Ia buru-buru menuju gedung MPR/DPR untuk menerima delegasi dari PPI.

Pukul 11.00, Hidayat tiba di gedung MPR/DPR. Tapi tamu yang ditunggunya dari PPI batal datang. Hidayat meneruskan pekerjaan dengan memeriksa beberapa dokumen dan menekennya.

Pukul 13.00, Hidayat menerima delegasi dari Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association Turki. Mereka mencari cara mempererat hubungan Indonesia dengan Turki.

Pukul 14.00, Hidayat menerima kunjungan rombongan Presiden National Endowment for Democracy Carl Gersham. Carl meminta Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi menularkan pengalamannya ke negara-negara di Timur Tengah. Hidayat menolak. Alasannya, "Rusaknya demokrasi di Timur Tengah karena sikap politik Amerika Serikat yang berstandar ganda."

Ia mencontohkan pemilu di Palestina. Khalayak, kata Hidayat, tahu pemilu Palestina sangat demokratis. Tapi karena rayuan Israel, negara-negara Barat termasuk Amerika tidak mengakui hasil pemilu itu. Menurut dia, Timur Tengah akan demokratis jika Amerika demokratis. "Jadi jangan Indonesia diminta mengajarkan demokrasi ke Timur Tengah. Mereka (Timur Tengah) melihat perilaku Amerika sendiri."

Meski banyak menerima tamu, Hidayat selalu tepat waktu untuk salat. Begitu azan berkumandang, dia bergegas berwudu. Pukul 15.25, Hidayat salat asar. Di ruangannya tersedia perlengkapan salat, termasuk peci yang bagian atasnya sedikit robek.

Pukul 15.40, Hidayat bersiap-siap kembali ke rumah dinasnya karena pukul 16.30 ia akan menerima Hanung Bramantyo, sutradara film Ayat-ayat Cinta yang lagi populer.

Pukul 15.45, Hidayat memasuki Camry, mobil dinasnya. Kali ini memang untuk kepentingan tugasnya sebagai Ketua MPR. Tapi tetap tanpa voorrijder. Hidayat jarang dikawal voorrijder kecuali kalau ada acara yang mendesak segera didatangi, tak boleh telat, dan lalu lintas macet.

Untuk acara yang bisa diatur jadwalnya dan tidak mendadak, dia pergi tanpa voorrijder. "Semua tergantung bagaimana kita mengatur waktu saja." Mobil Camry dengan pelat bernomor RI-5 itu pun mengarungi samudra kemacetan bersama mobil-mobil lainnya di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Pukul 16.25, Hidayat sampai di rumah dinasnya. Sepuluh menit berselang, tamu yang ditunggu, Hanung, datang. Hidayat menyambut Hanung di ruang tamu, mengenakan baju putih bermotif kotak-kotak pendek dan celana hitam. Hanung meminta pendapat Hidayat tentang film Ayat-ayat Cinta sekaligus saran untuk film Ahmad Dahlan--pendiri Muhammadiyah- -yang akan dibikinnya.

Meski hanya tiga kali menonton film seumur hidupnya, Hidayat mengkritik beberapa lafal bahasa Arab dalam adegan Ayat-ayat Cinta yang grammar-nya tidak benar. Lokasi shooting yang tidak sesuai dengan kondisi Mesir dikritik. Hidayat juga mempertanyakan mengapa Hanung menonjolkan sisi poligami dalam film itu, padahal dalam novelnya tidak.

Soal rencana membuat film Ahmad Dahlan, Hidayat menyarankan agar dalam film itu juga disinggung soal K.H. Hasyim Ashari, pendiri Nahdlatul Ulama. Menurut Hidayat, keduanya teman yang akrab dan satu guru saat menempuh pendidikan di Madinah.

Kiai Hasyim dan Ahmad Dahlan, kata Hidayat, satu kapal dalam perjalanan dari Pulau Jawa ke Arab Saudi. Meski berbeda pandangan tentang beberapa hal soal khilafiah, mereka berdua saling menghargai. Hidayat menerima Hanung selama dua jam, hingga pukul 18.35.

Pukul 18.45, Hidayat berangkat ke Warung Buncit untuk memenuhi undangan peringatan Maulid Nabi di Pesantren Assalafi Daarul Islah, Jalan Buncit Raya. Kali ini dia mengenakan baju koko putih dan celana hitam. Untuk keperluan ini dia menggunakan mobil pribadi Toyota Kijang LGX biru, tanpa pengawal dan voorrijder.

Akibatnya, dia terjebak kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Mampang, dan Buncit Raya. Sejam lebih bertarung dengan kemacetan, Hidayat tiba di lokasi pukul 20.05. Di acara itu Hidayat sempat berceramah selama 30 menit.

Pukul 21.35, Hidayat kembali ke rumah dinasnya. Perjalanan lancar karena sudah malam. Dua puluh menit kemudian Hidayat sampai di rumah dinasnya. Sebelum tidur pada 23.00, Hidayat membaca semua surat yang masuk dan menutup hari dengan membaca Al-Quran. (Koran Tempo)

http://www.korantempo. com/korantempo/ 2008/03/16/wawancar a/krn,20080316, 26.id.ht
signature
[b]Sabar, Ikhlas, Legowo dan Bersyukur adalah kunci hidup penuh rahmah.......[/b]
banner
Mamba
21 Mar 2008 15:47    #13

Letjen

Bagus banget pak Top Top Top
Boleh deh di kasih foto2 nya Grin
banner
Gun FBI
22 Mar 2008 04:49    #14

Letkol

di FBI ada yang masuk tokoh gak? Top Tongue Wink
banner
Gun FBI
22 Mar 2008 19:23    #15

Letkol

kalo di FBI tokohnya sang Admin sendiri dan para Komandan Top Top
banner
REPLY 


Home | Go Top | Text Mode | RSS
Powered By MyBB, © 2002-2014