Hello There, Guest! - Silahkan Daftar atau Login Cepat via Facebook
Post Terbaru Sejak Login Terakhir   Post Terbaru 24 Jam Terakhir


 
  • 54 Vote(s) - 3.15 Average
Tools    New reply


24 May 2011 17:30
samuel99
Brigjen
Posts 4.871
Reputation: 184
Awards:
Facebook NetworkAnti Child Po rnGood Citizen

Sejarah Konflik Etnis di Rwanda

Ketika mendengar Rwanda dan konflik etnis yang terjadi hingga berujung pada Genosida di tahun 1994 hal pertama yang terbesit dalam benak kita adalah dua buah film yang cukup fenomenal “Sometimes in April” dan “Hotel Rwanda”, kedua film itu cukup menggambarkan situasi yang terjadi di Rwanda di tahun 1994. Akan tetapi, sebenarnya, kenyataan yang terjadi di lapangan lebih tragis dan kompleks dari apa yang kita bayangkan. Genosida[1] yang terjadi di Rwanda merupakan sebuah cerminan gagalnya negara menjamin keamanan internal dan perlindungan bagi warga negaranya. Rwanda menjadi sebuah failed state yang menjadi ancaman bagi warganegaranya sendiri, konflik Rwanda juga memiliki dampak sistemik terhadap stabilitas kawasan Afrika dan menyita perhatian dunia internasional terkait dengan isu Hak Asasi Manusia (HAM) dan genosida.

Konflik di Rwanda, awalnya dapat dikategorikan sebagai konflik internal, menyusul perebutan kekuasaan antara etnis Tutsi dan Hutu yang mengakibatkan perang sipil di tahun 1959. Akan tetapi konteks konflik internal dan konflik etnis di Rwanda menjadi hirauan internasional karena adanya upaya pemusnahan etnis secara besar-besaran.

Rwanda merupakan salah satu negara di belahan Benua Afrika yang terdiri dari 3 kelompok etnis: Hutu (88%), Tutsi (11%), dan Twa pygmies (1%). Setidaknya ada beberapa faktor yang melatarbelakangi munculnya kebencian terhadap suku Tutsi dan akhirnya berujung pada Genosida. Pertama, fanatisme dari etnis Hutu muncul tidak lepas dari “sakit hati dan reprisals methods” suku Hutu yang mengalami marginalisasi dan stigmatisasi dimasa pendudukan Belgia atas Rwanda dan perang sipil di tahun 1959. Di tahun 1961, partai gerakan emansipasi Hutu Parmehutu menang dalam referendum PBB. Pemerintahan Parmehutu, yang dibentuk sebagai hasil dari pemilihan umum tahun 1961 diberi jaminan otonomi oleh Belgia tanggal 1 Januari 1962. Juni 1962 resolusi Majelis Umum PBB mengakhiri pemerintahan Belgia dan memberikan kemerdekaan penuh atas Rwanda (dan Burundi) yang mulai berlaku sejak 1 Juli 1962.

Kedua, setelah terjadi Perang Sipil di Rwanda tahun 1959, kebanyakan suku Tutsi terbang ke negara tetangga sebagai pengungsi, tekanan dan perang gerilya di negara mereka mengakibatkan mereka tidak dapat kembali ke Rwanda. Pengungsi yang tersebar di beberapa negara tetangga di Afrika ini kemudian membuat sebuah gerakan yang berpusat di Uganda dengan nama Rwandan Patriotic Front (RPF). RPF secara vocal menyerukan agar pemerintah Rwanda memperhatikan nasib jutaan pengungsi yang menjadi diaspora pasca perang sipil di tahun 1959. Gerakan pemberontak, terdiri dari etnis Tutsi yang menyalahkan pemerintah atas kegagalan demokrasi dan menyelesaikan permasalahan dari 500.000 pengungsi Tutsi yang hidup sebagai diaspora di penjuru dunia. Perang pertama muncul setelah gencatan senjata Arusha tanggal 12 juli 1992. Tanzania, melakukan upaya perundingan sebagai jalan mengakhiri pertikaian, memimpin kedamaian dan membagi kekuasaan, dan mengakuai adanya militer yang netral dalam organisasi Persatuan Afrika. Gencatan senjata efektif sejak 31 Juli 1992 dan pembicaraan politik dimulai tanggal 10 Agustus tahun 1992. Presiden Rwanda mulai melakukan perundingan Tripartite yang diadakan antara dua menteri luar negeri Rwanda dan Uganda dan perwakilan UNHCR di Kigali.

Ketiga, media memainkan peranan yang signifikan dalam genosida di Rwanda, media lokal seperti surat kabar dan radio Radio Rwanda dan Radio Television Libre des Mille Collines (RTLM) dipercaya memulai pidato dan dialog-dialog yang berisi kebencian terhadap suku Tutsi, propaganda ini kemudian menjadi sangat sistematis dan berubah menjadi sebuah norma. Surat kabar yang dikuasai oleh negara Kangura memiliki peran pusat, memulai gerakan anti-Tutsi dan anti-RPF, surat kabar itu memuat artikel berisi tindakan yang harus dilakukan untuk melengkapi revolusi sosial di tahun 1959, di tahun 1990, ada artikel yang berisi The Hutu’s Commandments yang secara ekstrim menyatakan kebencian atas Tutsi.

Keempat, operasi peacekeeping yang dilakukan oleh Dewan Keamanan PBB, United Nations Assistance Missions for Rwanda (UNAMIR), yang berusaha menjaga perdamaian pasca perundingan di tahun 1992 serta pengkondisian dan pemeliharaan wilayah Rwanda menyusul akan dipulangkannya 1 juta pengungsi Tutsi di tahun 1994 gagal, setelah Presiden Rwanda, Juvenal Habyarimana meninggal dalam kecelakaan pesawat di Bandara Kigali 6 April 1994. Rwanda menjadi sebuah failed state yang memiliki vacuum of power di negara itu, kendali kemudian diambil alih oleh kaum pemberontak yang akhirnya berujung pada genosida.

Pembunuhan menyebar di Kigali dan seluruh pelosok negeri, genosida meluas kearah pembantaian 1 juta suku Tutsi dan Hutu moderat. Pihak yang bertanggung jawab dalam hal ini adalah militan Interahamwe “those who attack together” dan Impuzamugambi “those with a single purpose”. Militan genosida yang melakukan pembantaian atas Tutsi dan Hutu di tahun 1994 melanjutkan kampanye pemusnahan etnis dan mencoba memperluas operasi mereka melewati barat laut. Pemberontak bertanggung jawab atas sejumlah pelanggaran Hak Asasi Manusia, termasuk dalam membunuh siapa saja yang dianggap kontra genosida dan suku Hutu yang secara resmi menentang agenda mereka, sama halnya dengan pendeta dan para pekerja kemanusiaan. Militan, terdiri dari sejumlah anggota bersenjata, pendiri Rwanda Armed Forces (ex-FAR) dan kelompok genosida Interahamwe, yang sering melakukan serangan terhadap kantor-kantor pemerintahan, institusi publik, seperti penjara, klinik, dan sekolah. Aksi ini meningkatkan friksi antara kekuatan keamanan dan populasi Hutu dan menimbulkan insecurity di jalanan. Bahkan masyarakat biasa dipaksa membunuh tetangga mereka oleh pemerintahan lokal yang disponsori oleh radio.









signature
[b]
biarlah aku di panggil gagak burung pembawa sial, itu lebih baik dari pada burung yg lupa akan caranya terbang.
[/b]

24 May 2011 17:31
samuel99
Brigjen
Posts 4.871
Reputation: 184
Awards:
Facebook NetworkAnti Child Po rnGood Citizen

Dalam kurun waktu 100 hari dari 6 April hingga 16 Juli 1994, diperkirakan 800.000 hingga 1 juta suku Tutsi dan Hutu moderat meninggal. Lebih dari 6 pria, wanita dan anak-anak dibunuh setiap menit setiap jam dalam setiap hari. Antara 250.000 dan 500.000 wanita mengalami kekerasan seksual. Sebanyak 20.000 anak-anak lahir dari tindakan itu. Lebih dari 67% wanita yang diperkosa terinfeksi HIV/AIDS. 75.000 yang selamat menjadi yatim piatu dan 40.000 lainnya tidak memiliki tempat tinggal. Rwanda tidak bisa melindungi masyarakatnya bahkan menjadi ancaman bagi warganegaranya sendiri.

Genosida berakhir ketika RPF menguasai Kigali tanggal 4 Juli 1994 dan perang berakhir tanggal 16 Juli 1994. Sebanyak dua juta pengungsi terbang ke Kongo, Uganda, Tanzania, dan Burundi. Hal ini kemudian menimbulkan masalah baru bagi negara-negara perbatasan sehingga muncul krisis Danau besar dan munculnya Perang Kongo I dan II. Konflik perbatasan dan masalah pengungsi kemudian mlanda kawasan Danau Besar.

Genosida yang terjadi di Rwanda merupakan tingkatan Genosida pertama dalam kategori “mutual genocide” karena baik Tutsi dan Hutu saling membunuh satu sama lain karena perbedaan etnis dan partai serta konflik kepentingan bebrapa pihak di negara itu. Korban yang sesungguhnya dalam kasus Genosida di Rwanda merupakan suku Tutsi, hampir 800.000 penduduk Rwanda yang terbunuh adalah suku Tutsi, mayat suku Tutsi dibuang ke sungai dan pembunuh mengatakan jika mereka akan dikirim kembali ke Ethiopia, tempat asal mereka.
Negara lain juga turut andil dalam genosida yang melanda Rwanda, Perancis, disinyalir ingin mempertahankan pengaruh di Afrika, mulai menyediakan senjada dan mendukung pemerintah Rwanda, dan tentara meningkat dari 5000 menjadi 40.000 di bulan Oktober 1992. Mereka turut membantu Habyarimana untuk melakukan aksi penahanan terhadap 1000 lawan politik dan pembunuhan atas 350 Tutsi di perbatasan, bahkan melindungi pemberontak yang melakukan aksi genosida. Media internasional tidak melakukan tindakan apa-apa atas propaganda radio dan surat kabar, padahal media internasional “Amerika Serikat” lah yang memulai kebebasan pers dan media untuk menyebarkan nilai-nilai demokrasi di wilayah ini, akan tetapi tanggung jawab internasional akan masalah ini nampaknya berlawanan dengan prinsip demokrasi di satu sisi dan Hak Asasi Manusia di sisi lain.

Genosida yang terjadi di Rwanda setidaknya menjadi agenda keamanan internasional karena genosida pada dasarnya merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai fundamental manusia yang tercantum dalam piagam PBB. Genosida ini juga menjadi kejahatan kemanusiaan paling besar sepanjang abad-20 setelah Holocaust yang terjadi di Jerman. Konflik internal yang awalnya merupakan fanatisme antar suku berubah menjadi pembantaian manusia yang mengakibatkan eskalasi politik dan keamanan di kawasan juga meningkat bahkan menjadi concern dunia internasional menyusul diadilinya para penjahat kemanusiaan di Rwanda di Pengadilan Kriminal Internasional dan perdebatan panjang akan term mutual-genocide dalam komunitas internasional.

Konflik Rwanda sekaligus memberi pelajaran bagi komunitas internasional untuk mengutamakan sendi-sendi kemanusiaan dan mewaspadai mutual genocide dalam era modern. Genosida di Rwanda menjadi sebuah bukti jika moralitas, hukum internasional bahkan komunitas internasional sendiri gagal dalam melakukan upaya-upaya pencegahan terkait dengan keamanan internal suatu negara yang harusnya menjadi concern dunia internasional karena menyangkut Hak Asasi Manusia.

pada tahun 1994, fotografer majalah time, james nachtwey menjadi salah satu saksi betapa kejamnya genosida di rwanda. Untuk memperingati 17 tahun tragedi tersebut,sang fotografer kembali memamerkan hasil foto-foto kekejaman genosida di rwanda.






signature
[b]
biarlah aku di panggil gagak burung pembawa sial, itu lebih baik dari pada burung yg lupa akan caranya terbang.
[/b]

24 May 2011 17:32
samuel99
Brigjen
Posts 4.871
Reputation: 184
Awards:
Facebook NetworkAnti Child Po rnGood Citizen

seorang pria hutu yang tidak mendukung genosida telah dipenjarakan di kamp konsentrasi, kelaparan dan diserang dengan parang. Dia berhasil bertahan hidup setelah ia dibebaskan dan ditempatkan dalam perawatan palang merah
[Image: 10214135d49aef319feb7fb1b526a3edebe7326f.jpg]


pembantaian di nyarabuye berlangsung di lapangan dari gereja katolik dan sekolah. Ratusan tutsi, termasuk anak-anak banyak, dibantai dari jarak dekat
[Image: 1021450752d4488a24362ee0865400f10ac05d9f.jpg]


sebagaian etnis hutu yang kalah melarikan diri ke tanzania, mereka harus meninggalkan senjata mereka di perbatasan agar bisa masuk ke tanzania
[Image: 10214630e1fa3f2d93ea078a8fcf05c2e720c8f3.jpg]


di klinik palang merah di nyanza, tutsi yang telah dibebaskan dari kamp,dirawat karena luka-luka mereka
[Image: 10214669bdce0fe8f1915cc5c8fc2a2ebb41ffba.jpg][spoiler]

[spoiler= selamat dari kamp kematian dekat nyanza berada dalam kondisi sangat miskin ketika mereka dibebaskan oleh pasukan pemberontak tutsi][Image: 10214729a1225b88da2cf350efdfab2d4161f7c8.jpg]


pembantaian di nyarabuye berlangsung di lapangan sebuah gereja katolik dan sekolah. Ratusan tutsi, termasuk anak-anak banyak, dibantai dari jarak dekat
[Image: 10214783d10b7ad6611b5d1beb553c9d3e5682c4.jpg]


di klinik palang merah di nyanza. Tutsi yang telah dibebaskan dari kamp kematian dirawat karena luka mereka
[Image: 102148739faccd0a1308ffff61f3f44ca46c757e.jpg]


selamat dari kamp kematian nyanza baru dalam kondisi sangat buruk ketika mereka dibebaskan oleh pasukan pemberontak tutsi
http://img0.uploadhouse.com/fileuploads/10214/10214930bab3494e2b91902fa530b44a9a579b90.jpg


embantaian di nyarabuye berlangsung di lapangan dari gereja katolik dan sekolah. Ratusan tutsi, termasuk anak-anak banyak, dibantai dari jarak dekat di rwanda, 1994 (kiri). Ribuan terkubur anonim massa, kuburan komunal di zaire
http://img8.uploadhouse.com/fileuploads/10214/10214978e5f8bda55b3f10a4fb69334034aa3172.jpg


hutu yang melarikan diri ke zaire mendirikan kemah-kemah besar di dataran di bawah gunung berapi di luar kota goma pada tahun 1994.
[Image: 10215038a13004208a91a3743d70b0a26f553645.jpg]







signature
[b]
biarlah aku di panggil gagak burung pembawa sial, itu lebih baik dari pada burung yg lupa akan caranya terbang.
[/b]

24 May 2011 17:33
samuel99
Brigjen
Posts 4.871
Reputation: 184
Awards:
Facebook NetworkAnti Child Po rnGood Citizen

untuk membantu menghentikan penularan penyakit mematikan, tentara perancis menggunakan alat berat menguburkan orang mati secara massal, zaire, 1994.
[Image: 10215149c8e2e2df1dcaba059b8641cc80476a4a.jpg]


seorang ayah menggendong anakanya yang sakit untuk dibawa ke klinik terdekat
[Image: 102152121e56d606ce9de1915fed711f1ebf9446.jpg]


pengungsi berbaris untuk menerima bantuan medis di zaire. Beberapa mati ketika sedang menunggu
[Image: 102152573fa9c3f54f934483934ed11318dfee29.jpg]


ribuan terkubur tanpa nama, kuburan komunal di zaire
[Image: 10215341571029e4963c4ab23b89e93a022eaa71.jpg]


pengungsi yang baru saja terkena kolera dibawa ke salah satu stasiun darurat medis di zaire
[Image: 102154102ec2c5fc1e73778cfddb90f7e264a71e.jpg]


rehidrasi intravena sangat penting untuk menghidupkan kembali korban kolera
[Image: 102154883b7effc5b4f85412ba0e0e5c625c52b0.jpg]


anak-anak rentan terhadap penyakit
[Image: 102155188e9cbeebe31e662875f84abc9705de38.jpg]


anak-anak rentan terhadap penyakit
[Image: 1021555159519c0313889eabeb964234fbf7d8e4.jpg]



sebuah unit perawatan intensif di zaire didirikan di panti asuhan untuk membantu menyelamatkan anak-anak yang sudah terinfeksi kolera
[Image: 102155758cf53956735410d3db65256169666aaf.jpg]


anak-anak rentan terhadap penyakit
[Image: 10215641a8846e64e004981c58c6ec0b9bb17b10.jpg]


setelah beberapa hari, jumlah kematian meningkat pesat. Tewas ditumpuk di pinggir jalan di zaire daripada dikubur, menambah momentum lebih lanjut untuk epidemi
[Image: 102157104ce8afd7f17ed5e9965bddc0c3472393.jpg]







signature
[b]
biarlah aku di panggil gagak burung pembawa sial, itu lebih baik dari pada burung yg lupa akan caranya terbang.
[/b]

24 May 2011 17:44
cumimaster
Mayor
Posts 2.051
Reputation: 114
Awards:
Member Telah Dewasa

Innalillahi. Kapan dunia ini damai? kalau semua bertikai atas nama perdamaian.
Kalau semuanya merasa dirinya benar?

25 May 2011 19:14
samuel99
Brigjen
Posts 4.871
Reputation: 184
Awards:
Facebook NetworkAnti Child Po rnGood Citizen

(24 May 2011 17:44)cumimaster Wrote:
 
Innalillahi. Kapan dunia ini damai? kalau semua bertikai atas nama perdamaian.
Kalau semuanya merasa dirinya benar?

selama "ego' masih berkuasa tidak akan ada kedamaian ;p






signature
[b]
biarlah aku di panggil gagak burung pembawa sial, itu lebih baik dari pada burung yg lupa akan caranya terbang.
[/b]

26 May 2011 20:21
Kojek
Tukang Sapu
Posts 10.335
Reputation: 238
Awards:
Pembayar PajakCharityFBI ManiaMember Telah DewasaFacebook Network

Subhanallah .....

lebih keji dari binatang






signature
[b]Sabar, Ikhlas, Legowo dan Bersyukur adalah kunci hidup penuh rahmah.......[/b]

27 May 2011 07:15
samuel99
Brigjen
Posts 4.871
Reputation: 184
Awards:
Facebook NetworkAnti Child Po rnGood Citizen

(26 May 2011 20:21)Kojek Wrote:
 
Subhanallah .....

lebih keji dari binatang

CryCryCryCryCry






signature
[b]
biarlah aku di panggil gagak burung pembawa sial, itu lebih baik dari pada burung yg lupa akan caranya terbang.
[/b]

27 May 2011 22:44
ucingala
Kapten
Posts 1.086
Reputation: 53
Awards:
Facebook Network

Cry Cry

sungguh terlalu..






signature
http://ucingala.blogspot.com

30 May 2011 10:39
samuel99
Brigjen
Posts 4.871
Reputation: 184
Awards:
Facebook NetworkAnti Child Po rnGood Citizen

(27 May 2011 22:44)ucingala Wrote:
 
Cry Cry

sungguh terlalu..

sangat kejam






signature
[b]
biarlah aku di panggil gagak burung pembawa sial, itu lebih baik dari pada burung yg lupa akan caranya terbang.
[/b]


   New reply




User(s) browsing this thread:
2 Guest(s)

Forum Bebas Indonesia
Demokrasi & Kebebasan temukan jalannya!
Respecting others will make you happy here
© 2004-2013 by Adimin | Fan Page | Group Discussion | Twitter | Google+ | Instagram