Current time: 18 Apr 2014, 01:48 Hello There, Guest! LoginRegister
ForumBebas.com / News / Artikel Bebas Kita / Mitos Jagoan di Balik Kerusuhan Tarakan (1)



REPLY 
 
Thread Rating:
  • 60 Votes - 2.93 Average


  
Mrgareb
7 Oct 2010 11:19    #1

Kolonel

Mitos Jagoan di Balik Kerusuhan Tarakan (1)
RABU, 06 OKTOBER 2010 | 01:26 WITA

Panglima Kumbang Kebalkan Massa, Panglima Burung Terbangkan Pedang


[Image: 1286299652fboks2.jpg]
DISEGANI. Udin Balok (bertato) yang digelari sebagai Panglima Kumbang oleh warga Tarakan dan Nunukan, pada prosesi perdamaian di Tarakan, pekan lalu. (FOTO ARNOLD/RADAR TARAKAN)

forumbebas.com - SEPERTI film mitologi saja. Kerusuhan di Tarakan menyisakan kisah-kisah menarik di kalangan masyarakat.

Di balik trauma yang masih menghantui sebagian warga Tarakan, terdapat kisah-kisah menarik yang menjadi buah bibir. Kisah-kisah itu berbau mitos sehingga ada yang bercerita sambil senyum-senyum. Namun, ada pula yang agak serius, bahkan lebih serius lagi.

Kisah-kisah bernuansa mitos itu adalah kehadiran dua panglima perang yang akan membantu suku Tidung dalam konflik di Tarakan. Panglima pertama bergelar Panglima Kumbang dan yang kedua bergelar Panglima Burung.

Keduanya berasal dari Suku Dayak, Kalimantan Tengah. Namun, kesaktiannya berbeda. Panglima Kumbang bisa membuat kebal secara massal melalui proses ritual tertentu sehingga semua suku Tidung berani di lapangan.

Adapun Panglima Burung akan datang setelah melakukan semedi secara sempurna. Kesaktiannya, mampu memasukkan roh kepada semua anggota pasukan di lapangan sehingga mereka mengamuk hingga tak sadarkan diri menghabisi lawan-lawannya. Mereka seperti kerasukan.

Selain itu, Panglima Burung dapat menggerakkan pedang hingga melayang di udara. Pedang-pedang itu bergerak sendiri mencincang leher lawan yang telah ditentukan asalnya.

Menurut cerita warga, kesaktian Panglima Burung inilah yang bekerja pada kerusuhan di Sampit beberapa tahun lalu. Akibatnya, korban bergelimpangan secara sadis. Banyak korban dengan leher terputus. Warga pun memitoskan bahwa kepala korban itulah yang menjadi bukti dan tumbal ritual Panglima Burung.

Rencana kedatangan Panglima Kumbang, saya dapatkan ketika masih di Makassar. Sehari sebelum berangkat ke Tarakan, saya menghubungi nomor HP beberapa warga di Tarakan. Salah seorang di antaranya mengaku segera mengungsi karena akan datang Panglima Burung. Katanya, ia akan menyusul Panglima Kumbang yang sudah terlebih dahulu di Tarakan.

Setengah jam kemudian, saya terima SMS yang bunyinya, "Sebaiknya tunda dulu ke Tarakan. Panglima Kumbang sudah di sini."

Sempat juga was-was. Namun, justru SMS terakhir itulah yang memompa naluri jurnalistik saya untuk segera ke Tarakan, kendati sempat tertunda satu hari karena pembatasan pendaratan di Tarakan. Hal itu dilakukan pihak pengamanan untuk menghindari pengerahan kelompok tertentu yang bakal memperkeruh suasana di Tarakan.

Saya tentunya tidak berdoa agar bisa melihat kebenaran mitos Panglima Kumbang dalam suasana perang suku. Suatu bentrok yang memorak-morandakan kedamaian Tarakan. Yang menarik untuk dipublikasikan adalah sejauh mana efek mitos itu memengaruhi masyarakat di Tarakan.

Hujan deras tiba-tiba mengguyur Tarakan ketika tiba di Bandara Juata, pukul 23.30 waktu setempat. Selain hujan, juga mati lampu. Lagi-lagi, mitos bermunculan. "Betul-betul malam ini sejuk. Alam berpihak ke kita.

Persis kesepakatan damai, juga hujan tiba-tiba menyejukkan kota Tarakan," kata salah seorang sopir taksi yang buru-buru melebarkan payungnya. Ia juga yakin bahwa Panglima Kumbang sudah ada di Tarakan. Namun, ketika ditanya tempatnya, sopir itu pun menggeleng.

Suasana kota Tarakan malam itu tidak perlu ditakutkan. Soalnya, besoknya akan datang Kapolri, Bambang Hendarso Danuri. Pengamanan pasti super ketat. Kenyamanan menikmati kota Tarakan pasti jadi prioritas.

Saya memilih untuk berbaur dengan warga yang mengungsi. Namun, ternyata tempat yang ingin dituju sudah kosong. Sejak sore, para pengungsi dalam kota sudah kembali ke rumah masing-masing. Untung ada keluarga pengungsi yang berbaik hati memanggil ke rumahnya di Kawasan Beringin.

Di kawasan yang berkisar satu kilometer dari konsentrasi massa saat kerusuhan itu, masih banyak warga menutup pintu. Kalau pintu diketuk, pemilik rumah tidak akan buka jika tidak mengetahui orang yang mengetuknya. Sang pengetuk pintu pun menyebutkan namanya. Jika karakter vokalnya akrab dengan tuan rumah, barulah pintu akan dibuka.

Saya ingin segera mengetahui seperti apa sosok Panglima Kumbang di mata warga yang membuat mereka takut ke luar rumah. Salah seorang memberitahu bahwa Panglima Kumbang sudah masuk kota. Ciri-cirinya, penuh dengan tato. Posturnya mungil. Lalu, bagaimana bisa beraksi dalam pengamanan kota yang begitu ketat pengamanan?

Pada Jumat pagi itu, saya buru-buru bergabung dengan rombongan Kapolri. Bukan mengamankan diri dari kedatangan Panglima Kumbang, melainkan hati kecil saya menerka-nerka, jangan-jangan ini bukan mitos.

Jangan-jangan ini adalah betul panglima perang kelompok tertentu yang sengaja didatangkan untuk mengambil peran dalam perdamaian di Tarakan itu. Toh, sejak rencana kedatangan Kapolri, telah dilakukan dua kali kesepakatan damai yang menghadirkan beberapa pimpinan komunitas.

Di tengah seremoni kesepakatan damai yang dihadiri Kapolri, antara malu-malu dan segera ingin tahu, serta sedikit percaya diri, saya tanya salah seorang wartawan, "Bos, di mana tadi itu Panglima Kumbang?" Pertanyaan saya sedikit sok tahu, padahal, saya belum pernah menyaksikannya. Namun, manjur juga. Yang ditanya langsung menunjuk, "Itu depan sana!"

Beberapa menit kemudian, lelaki mungil penuh tato di badan dan wajahnya itu berangkulan dengan Kapolri. Kapolri harus membungkuk lebih banyak karena tubuh Panglima Kumbang lebih pendek.

Bersambung....
signature
waktu muda mengorbankan kesehatan utk kekayaan, giliran sudah tua mengorbankan kekayaan utk kesehatan',. Gak ada artinya kan ?...
banner
Mrgareb
7 Oct 2010 11:21    #2

Kolonel

Hampir lima menit saya terpaku. Sambil menatap dalam-dalam sosok Panglima Kumbang dari jarak tiga meter, saya tidak bergerak. Saya pun memilih membatalkan niat untuk menemui dan berbincang dengan Sang Panglima. Apalagi ketika dapat informasi bahwa Sang Panglima "menginap" atau mungkin diinapkan di salah satu hotel mewah di Tarakan.

Saya lantas berpikir tentang sesuatu yang mengharuskan saya memilih. Apakah meneruskan menyambangi Panglima Kumbang atau memanfaatkan untuk hal yang lebih bermanfaat. Saya juga lebih berpikir efisiensi waktu dan soal segmentasi koran kami (Harian FAJAR) dengan berbagai perhitungan tentang untung ruginya mempublikasikan Panglima Kumbang.

"Batal!" Itu simpulan terakhir yang membuat saya tidak jadi mewawancarai Panglima Kumbang. Pastilah perhitungan saya tidak benar seratus persen. Apalagi Panglima Kumbang adalah sosok "pahlawan" di komunitasnya. Dia bukan preman di mata mereka. Yang jelas, dia salah seorang "tokoh" yang mungkin memang dirasa penting untuk dihadirkan demi mengamankan kesepakatan damai di Tarakan.

Setidaknya, dia telah mendapat perhatian dari jajaran pengamanan dan pihak-pihak lainnya. Sang Panglima telah "mendapatkan ruang" di hadapan Kapolri pada saat kunjungan damai tersebut.

Saya pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung warga yang lebih memilih berdiam di rumah. Di sana, sebagian warga sedang membuka pita kuning di pintu yang sudah beberapa hari dipasang demi keamanan keluarganya. Warga di kampung sebelah yang telah memasang pita putih juga begitu, mereka membukanya.

Ada warga yang bahkan buru-buru mengganti warna pita yang dipasangnya sebelum mengungsi. Ia memperoleh kabar bahwa pendukung warna pita tertentu segera datang. Pendukung warna pita itu akan dikoordinir Panglima Kumbang.

Namun, sampai saya meninggalkan Tarakan untuk melanjutkan perjalanan ke Nunukan, Minggu siang, 3 Oktober, apa yang dikhawatirkan warga dan apa yang dimitoskan, tidak terjadi. Alhamdulillah.

Tampaknya, Panglima Kumbang yang dimaksud mereka adalah sosok lelaki mungil yang bertato tersebut. Beberapa warga di Nunukan mengatakan, bahwa nama aslinya adalah Udin Balok. "Udin juga pernah datang di Nunukan. Dia sangat sederhana. Jarang ngomong," kata Azis, Selasa, 5 Oktober.

Azis juga menerangkan bahwa Panglima Kumbang itu bisa jadi sebuah terapi untuk suatu perdamaian. Sebaliknya akan menjadi sugesti bagi kelompok tertentu untuk lebih energik dalam sebuah konflik. "Tapi maaf, saya sama sekali tidak menyebut sosok itu sebagai preman," kata Warga Nunukan yang mengaku berdarah Tidung dan Bugis ini.

Siapa pun Panglima Kumbang tersebut, yang jelas dia telah disalami oleh Kapolri saat deklarasi kesepakatan damai di kota Tarakan. Sebagian mengatakan bahwa panglima Kumbang ini pula yang hadir di tengah-tengah kerusuhan Sampit beberapa tahun lalu. Jika kelompoknya brutal di Tarakan, maka dikhawatirkan daerah ini menjadi Sampit jilid dua.

Untung kehadirannya di tengah-tengah massa yang mendatangi markas polisi di Tarakan baru-baru ini, beralibi untuk menenangkan massa. Kalau begitu, siapakah sesungguhnya yang menggerakkan massa? Dan, kalau massa brutal, siapa yang bertanggung jawab? Apa hukumannya?

Apapun jawabannya, Panglima Kumbang sudah menjadi "tokoh". Kehadirannya di tengah-tengah seremoni kesepakatan damai di Tarakan yang dihadiri Kapolri, Jumat pekan lalu telah dimanfaatkan untuk kepentingan damai. Hasilnya, untuk sementara Tarakan damai, kendati Kapolda Kaltim masih harus berkantor di kota Tarakan.

Lantas bagaimana dengan Panglima Burung? Bagaimana pula reaksi warga Tidung di Nunukan? Apa tanggapan sejarawan di Nunukan menanggapi kenyataan bernuansa mitos itu? (*)
signature
waktu muda mengorbankan kesehatan utk kekayaan, giliran sudah tua mengorbankan kekayaan utk kesehatan',. Gak ada artinya kan ?...
banner
Mas Bagoes
7 Oct 2010 11:57    #3

Cah Ndeso

Ngeri juga kalo di setiap Kerusuhan yang bernuansa SARA
terselip kisah-kisah yang berbau mitos dan mistik...

Jadi inget Kerusuhan Sampit...Sad
signature
[size=medium][font=Trebuchet MS][b]GOOD JOB...I LIKE IT Top[/b][/font][/size]
banner
miskol
7 Oct 2010 11:58    #4

Letjen


wah asyik juga tuh kalau panglima kumbang dan panglima burung bisa direkrut menjadi tentara........

Bisa mengatasi masalah alutsista TNI yang minim..........
banner
c@stro
7 Oct 2010 12:07    #5

Jendral

Panglima burung yg mana orangnya yah Think
signature
banner
masdimas
7 Oct 2010 12:53    #6

Pedagang Nasi Bungkus

hm..

waktu kerusuhan sampit...

memang banyak kabar yang mengatakan bahwa etnis tertentu yang menjadi lawan tewas dengan kepala terpotong dan kalo gak salah sempat ada foto fotonya.. ada beberapa kondisi yang katanya kepala mereka terpenggal saat di dalam mobil..

yah apapun itu ... satu hal yang wajib kita waspadai adalah provokator yang ingin memecah belah..
karena masyarakat saat ni terlalu mudah untuk terpancing sebuah isu apalagi berbau SARA meskipun belum ada bukti yang mendukung isu tersebut..
signature
Sedia Nasi Bungkus Tanpa Bahan Pengawet.. Blah
banner
harakiri
7 Oct 2010 12:57    #7

Mayjen

Panglima Kumbang dan Panglima Burung Think
gelar yang keren
banner
DoD
7 Oct 2010 13:14    #8

I am back..

damai itu indah.
ketokohan memang masih jadi dongeng+sugesti.

bak membaca sebuah dongeng, seru juga mitos cerita ini. Next time kalau Malaysia berulah, kirim saja 2 panglima ini. apalagi kalau sang panglima bisa disewa POLRI untuk berantas ilegal logging? khan keren tuh. Sang panglima digaji milyaran, dan kita tidak sampai rugi trilyunan Grin
signature
[b]Asolole!!![/b] Grin
[s]Jangan ada rahasia di antara kita[/s] - Anda tak perlu tahu semuanya!
[url=http://www.forumbebas.com/user-309.html]Follow Me, for News Update[/url]
banner
Bo_JeSS
7 Oct 2010 13:48    #9

Penunggu Kamar Basah

Cocok untuk jadi orang terdepan kalo seumpama Indonesia perang dengan Malaysia, dijamin TNI gak perlu repot-repot bawa senjata. Tapi, apa ya semudah itu??? Big Grin
banner
dwyoga
7 Oct 2010 14:02    #10

dwyoga [aja]

damailah indonesiaku..
damailah negeriku..
banner
pleng_eh
8 Oct 2010 01:54    #11

Mayor

hiiiii.....jadi inged tragedi sampit...kepala orang e kek dibuad mainan aja...sereeemm


damaii aja laahh.. damai kan indah.... Grinv
banner
yahuda3
8 Oct 2010 06:20    #12

Jendral

Wah, disamping Panglima TNI ada panglima lainnya yach?
signature
Don't say: I need Indonesia, instead say it proudly:
[color=#FF0000][size=x-large]Indonesia needs me[/size][/color]
banner
dayakman
8 Oct 2010 06:32    #13

Mayor

seingat saya panglima burung nggak punya badan... cuma punya roh saja... jd siapa pun yang di rasuki bisa jd panglima burung...
banner
harakiri
8 Oct 2010 07:42    #14

Mayjen

(8 Oct 2010 06:32)dayakman Wrote:
 
seingat saya panglima burung nggak punya badan... cuma punya roh saja... jd siapa pun yang di rasuki bisa jd panglima burung...

jadi Panglima Burung itu roh "panglima burung" yang telah meninggal atau "mahluk halus"
banner
REPLY 


Home | Go Top | Text Mode | RSS
Powered By MyBB, © 2002-2014