Hello There, Guest! - Silahkan Daftar atau Login Cepat via Facebook
Post Terbaru Sejak Login Terakhir   Post Terbaru 24 Jam Terakhir


 
  • 64 Vote(s) - 2.97 Average
Tools    New reply


4 Oct 2010 08:56
justmine
Mayjen
Posts 6.114
Reputation: 298
Awards:
Facebook NetworkPembayar PajakNews GatorFBI Care

Petambak Eks Dipasena Terjerat Utang Ratusan Juta
Senin, 04 Oktober 2010
Bandar Lampung - Sekitar 7.900 petambak plasma PT Aruna Wijaya Sakti, dulu Dipasena Citra Darmaja, terjerat utang ratusan juta rupiah. Mereka saat ini harus menanggung beban utang berkisar Rp 150 juta hingga Rp 200 juta. Sebagian utang itu merupakan warisan peninggalan Syamsul Nursalim, bos Gajah Tunggal yang melarikan diri ke Singapura.

Para petambak plasma setidakya harus menanggung utang yang terdiri dari Rp 20 juta dari peninggalan Syamsul Nursalim, Rp 125 juta utang modal ke Bank BNI dan utang yang terus bertambah setiap bulan kepada perusahaan inti sebesar Rp 900 ribu per bulan sejak program revitalisasi digulirkan pertengahan tahun 2007 lalu.

“Utang itu akan terus menggunung jika perusahaan tidak segera menyelesaikan program revitalisasi,” kata Thowilun, Wakil Ketua Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW), Senin (04/10).

Menurut Thowilun, nasib ribuan petambak plasma eks Dipasena memang seolah ditakdirkan bergelut dengan utang. Pada saat era Syamsul Nursalim tumbang dan kemudian melarikan diri ke Singapura, para petambak diklaim memiliki utang hingga Rp 500 juta. “Itu setara Rp 5 miliar pada waktu itu. Padahal kami tak pernah melihat apalagi memegang uang sebegitu banyak,” katanya.

Melalui perjuangan panjang dari Lampung hingga Jakarta, utang tidak masuk akal itu kemudian dapat pemutihan. Perusahaan Pengelola Aset yang menangani aset para pengemplang BLBI kemudian akhirnya mematok utang para petambak Rp 20 juta.

“Hitung-hitungannya memang aneh dan menggelikan. Kami terima saja cara berpikir orang-orang Jakarta,” ujar petambak yang dinyatakan punya hutang Rp 450 juta saat itu.

Kini, setelah kepemilikan perusahaan tambak terbesar di dunia itu berganti ke CP Prima, perusahaan induk PT AWS, kewajiban merevitalisasi tambak pun tidak sesuai dengan janji mereka. CP Prima sebagai pemenang tender atas aset yang ditaksir Rp 21 triliun tapi hanya dibeli dengan Rp 2,3 triliun saja. Itu pun mereka hanya mambayar Rp 688 miliar dan sisanya masuk dalam rekening penampungan yang akan digunakan untuk program revitalsasi tambak.

Konsorsium pemenang tender, Neptune dan CP Prima, saat pengambilalihan mempunyai kewajiban memperbaiki tambak, sarana perusahaan, saluran air dan menjamin petambak bisa kembali produksi. Semua pekerjaan itu harus selesai selama 18 bulan sejak penandatanganan kontrak akhir 2007 lalu. “Tapi sekarang baru enam dari 16 blok yang ada. Itu pun dilakukan secara asal-asalan,” katanya.

Petambak yang putus asa kemudian mengamuk dan merusak kantor perusahaan. Buntut dari kejadian itu, tujuh petambak ditangkap polisi dengan tuduhan sebagai dalang dan provokator. “Padahal saat kejadian mereka berusaha keras meredam aksi para petambak yang marah. Ada upaya perusahaan ingin membungkam suara petambak,” kata Sukri Bintoro, Sekretaris P3UW.

Menurut Sukri Bintoro, perlakuan perusahaan inti bahkan lebih buruk dibanding para era Syamsul Nursalim. Dia khawatir kesabaran para petambak hilang dan berulang kerusuhan 1 Maret 2000 silam. “Mereka menjanjikan revitalisasi, tapi utang kami dapat. Petambak yang putus asa bisa mengamuk kapan saja,” ujarnya di depan aggota komisi I DPRD Lampung.






signature
[b][i]bijak dalam bertindak, berperilaku dan berbicara.....[/i][/b]

4 Oct 2010 08:57
justmine
Mayjen
Posts 6.114
Reputation: 298
Awards:
Facebook NetworkPembayar PajakNews GatorFBI Care

Sekitar 1.500 Petambak Plasma eks Dipasena Kembali Eksodus
Senin, 04 Oktober 2010 |

Bandar Lampung - Sekitar 1.500 petambak plasma PT Aruna Wijaya Sakti (dulu Dipasena) keluar dari lokasi tambak di Rawajitu, Tulangbawang, Senin (04/10). Mereka bergabung dengan 2.000 petambak yang terlebih dulu eksodus.

“Kami akan bergabung dengan rekan kami yang sudah berhari-hari menginap di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Lampung,” kata Abdul Syukur, salah seorang petambak, Senin (04/10).

Para petambak itu mengendarai sepeda motor menempuh perjalanan 340 kilometer. Mereka menuntut pembebasan tujuh aktivis petambak yang saat ini ditahan polisi serta menuntu percepatan proses revitalisasi tambak.

“Akibat kegagalan revitalisasi tambak yang dilakukan CP Prima, hidup kami tambah sengsara. Kami kembali terbelit hutang seperti era Syamsul Nursalim saat berkuasa di Dipasena,” katanya.

Dia mengatakan diperkirakan seluruh petambak yang berjumlah 7.900 orang berencana keluar dari lokasi tambak untuk mengadukan nasib mereka ke DPRD Lampung. Mereka sengaja datang secara bergelombang agar tidak mengganggu arus lalu lintas di Jalan Lintas Sumaera yang mereka lalui. “Aksi akan terus berlangsung jika dua tuntutan kami tidak terpenuhi,” katanya.

Sejak awal pekan lalu, ribuan petambak menginap di kantor DPRD Lampung untuk memprotes dan menuntut pembebasan tujuh rekan mereka yang ditangkapi polisi. Penangkapan itu diduga atas permintaan perusahaan inti. Petambak menilai banyak kejanggalan dalam proses penangkapan karena tanpa surat perintah penahanan. Surat tugas yang dibawa polisi untuk menahan petambak berupa surat pengamanan di Pelabuhan Bakauheni dan surat penangkapan tersangka penangkapan pencurian kendaraan bermotor.

Langkah polisi itu sebelumnya mendapat kecaman Komite untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Menurut mereka penangkapan tujuh aktivis petambak itu dilakukan seperti menangkap teroris. Perlakuannya kasar sekali, padahal mereka hendak memenuhi panggilan pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan,” kata Mukri dari Walhi Nasional.

Sementara itu DPRD Lampung telah menandatangani surat permhonan penangguhan penahanan terhadap tujuh aktivis petambak itu. Permintaan itu untuk memperlancar tim khusus dari DPRD Lampung yang akan meneliti pelaksanaan revitalisasi tambak yang dulunya dimiliki Syamsul Nursalim.

“Keterangan mereka sangat kami butuhkan. Para aktvis itu banyak mengetahui seluk-beluk perjanjian kerja sama antara plasma dan inti,” kata Farouk Denial, anggota DPRD Lampung.






signature
[b][i]bijak dalam bertindak, berperilaku dan berbicara.....[/i][/b]

4 Oct 2010 15:04
dayakman
Mayor
Posts 1.917
Reputation: 41
Awards:

nasib orang kecil di tangan orang besar yang tidak punya hati nurani Sad


   New reply




User(s) browsing this thread:
1 Guest(s)

Forum Bebas Indonesia
Demokrasi & Kebebasan temukan jalannya!
Respecting others will make you happy here
© 2004-2013 by Adimin | Fan Page | Group Discussion | Twitter | Google+ | Instagram