10 Jun 2010 13:16
#4
(9 Jun 2010 20:40)ketua Wrote:
@noved
Komennya bagus..
( rep+ untuk penghargaan )
.... itu lah FBI 
Terima kasih atas rep+ Komandan
Ketua
Saya sebenarnya sudah agak lama "nggraito" (bhs. Ind. ???) : Kenapa sih orang kok jadi ill-feel sama Pancasila?
Takut sama fundamentalis? Mereka khan anti "azaz tunggal" bukan anti Pancasila. Dalam pemahaman yg lebih luas, mereka bener kok. Tidak men"dua"kan Tuhan, Nabi dan aqidah adalah sikap yg seharusnya dijunjung tinggi dan konsekuen diamalkan. Sama sekali tidak ada pertentangan dengan Pancasila sebagai dasar negara.
Minder sama sektarian, sukuisme, dan riuhnya perebutan kekuasaan ??
ATAU
KITA CUMA HILANG NYALI UNTUK MENGATAKAN :
"Korupsi adalah korupsi."
Bukan cuma masalah SKPK, penangguhan penahanan, BAP dll. Masalah substansialnya adalah " Iku dudu duite' mBahmu" seringkali malah nggak sempat disentuh, cuma ramai di level teknis.
"lapindo adalah lapindo"
Ndak perduli ngebornya lha-pisan, lha-pindo, lha-telu dst yg penting rumah, tanah, pabrik dll yg rusak dan hilang cepat diganti. Tidak bisa pakai alasan "peta bencana" sbg tameng, lha wong lumpurnya nggak bisa baca peta. Belum lagi hilangnya jalan tol, PO bus turun omzet shg sopir di phk kemudian krn bisnya banyak nganggur utangnya macet akhirnya PO bangkrut, naiknya freight-cost in-out Tanjung Perak ke kws industri di Malang-Pasuruan, anak2 yg tidak bisa berziarah ke makan leluhurnya, org yg gendeng/stress krn usahanya hancur tp yg diganti cuma tanah dan bangunannya dll.
Apakah collateral-damage ini masuk "peta bencana" ???
"Century adalah century"
Duit nasabah jgn diembat dan tangkap malingnya adalah kata kunci. Lha kok melebar sampai Sri Mulyani, Wapres, Susno, whistle-blower, direktur bank dunia setelah itu wuuusss menguap tanpa bekas.
Mau jadi apa negara ini ???


Maap Pak Ketua kalau

Saya curhat di trit panjenengan, uneg-unegnya sdh njendel saking lamanya.