Current time: 17 Apr 2014, 13:57 Hello There, Guest! LoginRegister
ForumBebas.com / News / Berita Hangat / Bukan Berita Mesum / ''Gadis Bermotor'', Modus Baru PSK Semarang



REPLY 
 
Thread Rating:
  • 115 Votes - 2.58 Average


  
bosgendon
24 Feb 2010 13:06    #1

Brigjen

''Gadis Bermotor'', Modus Baru PSK Semarang
Lebih Bebas dan Terlihat Cukup Berkelas

[Image: memo-cewek-kawasaki.jpg]

BUNYI decit dipan sesekali terdengar disertai suara desahan dari kamar-kamar lain memecah keheningan malam itu.

Perbincangan dengan seorang ’’gadis bermotor’’, sebut saja Nani, masih berlangsung intim di sebuah kamar di hotel di daerah Semarang Utara. Kami terpaksa berbohong dengan mengatakan tiba-tiba kehilangan mood lantaran suasana kamar tidak mendukung.

Nani mengisahkan, ia memilih bergabung dengan PSK bermotor yang biasa mangkal di Jalan Pandanaran dengan alasan keselamatan. Dengan sepeda motor, perempuan berparas manis itu bisa menghindari kejaran aparat. Selain itu, ia juga leluasa berkeliling untuk menjaring lelaki hidung belang.

“Coba kalau jalan kaki, kalau ada operasi gampang digaruk. Dengan mengendarai motor, saya bisa mengelabui petugas,” ujar Nani, sambil menarik selimut untuk menutup bagian sensitif dari tubuhnya.

Ada keuntungan lain yang diperoleh Nani yang menggunakan sepeda motor saat beroperasi. Apakah itu? Tarif yang tinggi. Ya, dengan kata lain, sepeda motor jenis matic relatif baru yang ia kendarai dapat menaikkan harga pasaran.

“Penampilan saya jadi tambah keren, kayak anak-anak gaul zaman sekarang. Saya nggak ragu menggaet orang bermobil. Sebaliknya, konsumen pun tak merasa rugi membayar tinggi. Saya biasa buka dasaran dengan tarif Rp 200 ribu sampai Rp Rp 250 ribu,” tuturnya.

Ia menceritakan, sebelumnya pernah ’’bekerja’’ di komplek Resosialisasi Argorejo atau lebih populer dengan sebutan Lokalisasi Sunan Kuning (SK). Ia juga pernah beroperasi di kompleks JBL (Gambilangu—Red), Kaliwungu, Kendal.

Bekerja di kompleks lokalisasi, menurut Nani, banyak aturannya dan harus nurut dengan mami alias sang mucikari.

’’Kalau di sana (lokalisasi—Red) ada peraturan saya datang dan pulang jam berapa. Tapi kalau di jalan dengan naik sepeda motor, saya bisa datang jam dan hari apa pun, terserah saya,’’ ucapnya lugas, seraya memunguti pakaiannya yang tergeletak di lantai.

Kami pun tak bisa menahan Nani lebih lama lagi. Ia beralasan harus kembali mengitari jalan untuk menjaring pelanggan lain.

Tanpa basi-basi, perempuan asal Kaliwungu, Kendal, itu pun keluar dari kamar dan membiarkan kami terbengong-bengong di atas kasur.

Untuk menelisik lebih jauh bagaimana lika-liku gadis bermotor ini, kami lantas ’’menggaet’’ salah seorang di antara mereka dari Jl Imam Bonjol.

Sebelumnya di sana memang sudah menjadi lokasi prosititusi liar, namun akhir-akhir ini mulai banyak bermunculan gadis bermotor. Meski demikian, tarif gadis bermotor di Jl Imam Bonjol lebih murah jika dibandingkan dengan Jl Pandanaran.

Sebut saja namanya Gendhis, seorang ’’gadis bermotor’’ yang beroperasi di sepanjang Jl Imam Bonjol.

Ibu berusia 32 tahun yang mempunyai seorang anak ini ’’mengajak’’ kami masuk ke sebuah hotel lain, juga di daerah Semarang Utara.
Beroperasi dengan naik sepeda motor, bagi Gendhis, terlihat lebih keren ketimbang teman-temannya yang hanya nongkrong di sepanjang Jl Imam Bonjol.

’’Saya pakai sepeda motor setahun belakangan. Selain aman dari razia, juga gampang mendapatkan pelanggan karena lebih terlihat berkelas dibandingkan mereka (PSK lain-Red) yang berdiri di tepi jalan,’’ ucapnya.

Lindungi Diri

Kordinator Lapangan Nonlokalisasi Griya ASA, Afif Iriawan mengatakan, para PSK yang menggunakan motor tersebut sebagai upaya untuk melindungi dirinya dari razia, diperkirakan terdapat 90 orang.

’’Tiap kali razia dilakukan, para PSK tersebut menggunakan motor untuk melarikan diri dan panik. Satpol PP lebih memilih tidak mengejarnya karena untuk menghindari kecelakaan yang seringkali terjadi,’’ ujarnya.

Modus itu dianggap berhasil dan menjadi tren menggunakan motor kian marak. ’’Modus ini muncul pada 2006 dan justru diawali memakai kendaraan pria yang bisa berlari kencang. Namun karena dirasa kurang trendi, maka mereka mulai memakai sepeda motor jenis matic,’’ katanya.

Keberadaan para gadis bermotor ini, menurut sejumlah sumber, mulai muncul sejak warung-warung teh poci di sekitar Lapangan Simpanglima digusur.
Kedai teh poci ini sejatinya adalah hanya kedok semata. Tempat tersebut digunakan para PSK untuk mencari rejeki ’’menemani’’ lelaki. Perempuan-perempuan yang nongkrong di situ acap disebut ciblek, atau kepanjangan dari ’’cilik-cilik betah melek’’.

Nah, sejak keberadaan kedai poci itu digusur para ciblek ini seperti kehilangan lahan. Mereka pun kembali turun ke jalan di sekitar Kawasan Simpanglima.
Namun lantaran beberapa kali terjaring razia, mereka lantas mulai beroperasi dengan mengendarai sepeda motor.

Kepala Satpol PP Kota Semarang, Tri Supriyanto, melalui Kabid Operasi, Sumarjo mengatakan, pihaknya telah memantau dan merazia para ’’gadis bermotor’’ ini. Sebelum menggelar razia, petugas berpakaian preman diterjunkan untuk melakukan identifikasi terlebih dahulu.

’’Petugas bahkan menggunakan mobil plat hitam dan sepeda motor untuk menangkap PSK bermotor. Mereka biasa nongkrong di atas pukul 00.00 dan kami telah mengantongi ciri-ciri khusus untuk mengidentifikasi PSK bermotor,’’ kata Sumarjo. (Adi Prianggoro, Garna Raditya-


sumber
banner
genggong
24 Feb 2010 13:26    #2

Prajurit

ckckckc...kiamat dah tambah deket aja ne....hehehehehe
banner
aftha_q
24 Feb 2010 14:24    #3

Kolonel

hebat nih,makin kreatif ja psk, kayanya di bandung lum ada
banner
whitegold
24 Feb 2010 14:52    #4

Mayor

yg wawancarain apa gak kepingin? kok bisa2 nya jelasin si cewe menutupi bagian sensitif dan memunguti pakaiannya........
banner
z-moxs
24 Feb 2010 14:59    #5

Jendral

[Image: AddEmoticons04246.gif]
kalo udah lewat jam 2 pagi,harga bisa turun mpe 100 ribu...
signature
thekku yo thekku,thekmu yo thekmu...
yok thekmu thokno thekku
banner
dce
24 Feb 2010 16:47    #6

Mayor

gih...... kreatif pa bukan ya?.......
banner
bosgendon
24 Feb 2010 18:01    #7

Brigjen

kalo gak kreatif ntar gak pada makan.
banner
Sasuke kun
24 Feb 2010 18:05    #8

Pasien Ganteng

Wow

PSK takut di razia Grin
signature
Malas Pake Sigi.... Sad
banner
Pistol_aer
24 Feb 2010 20:50    #9

K A P O L S E X X X

wah.... pasti adikku Kapok naik Motor kesayangannya kalau Main ke Semarang Big Grin

[Image: 2n81u34.jpg]
[Image: 2edqo3a.jpg]
[Image: jzcx2t.jpg]
signature
[size=medium][i]mempunyai Kemauan jangan samakan dengan mempunyai Kemaluan karena yg namanya Kemauan Tidak semulus dengan Kemaluan dan sekitarnya [/i][/size]
banner
bLankz
24 Feb 2010 21:09    #10

Member Paling Ganteng

Modus nya Keren....... Blah







Tol.... Itu Adik sampean yang mana lagi..?!?? Think Think
signature
[align=center][color=Navy][size=x-large][b]
"MEMBER PALING TERGANTENG"[/b][/size][/color]
[color=red][blink]Expired is not Possible[/blink][/color] [/align]
banner
hei_bejo
24 Feb 2010 22:27    #11

Mayor

jadi psk buat bayar kredit motor ya?

Confused

@TS: poto ilustrasinya dijogja tuh Grin
signature
[color=#8B4513][size=medium]404 Sigi Not Found[/size][/color]
The signature you are looking for might have been removed, had been changed or temporarily unavailable.
banner
laczo
24 Feb 2010 22:36    #12

Brigjen

adek nya pestol boleh juga..Love
banner
liquor
24 Feb 2010 23:00    #13

.            .

ahhh.., itu modus dah lama cuma baru diexpose aja alias baru mewabah Blah
signature
Lost of FBI Nono
banner
Pistol_aer
24 Feb 2010 23:23    #14

K A P O L S E X X X

(24 Feb 2010 21:09)Blankz Wrote:
 
Tol.... Itu Adik sampean yang mana lagi..?!?? Think Think

(24 Feb 2010 22:36)laczo Wrote:
 
adek nya pestol boleh juga..Love


Think Malu MAHO bertanya sesat di jalan Big Grin

itu sibungsu
signature
[size=medium][i]mempunyai Kemauan jangan samakan dengan mempunyai Kemaluan karena yg namanya Kemauan Tidak semulus dengan Kemaluan dan sekitarnya [/i][/size]
banner
laczo
24 Feb 2010 23:32    #15

Brigjen

besok kalo balikke tegal ane mampir ah..Love
banner
REPLY 


Home | Go Top | Text Mode | RSS
Powered By MyBB, © 2002-2014