9 Feb 2010 10:45
Sebagai elemen keempat demokrasi, eksistensi pers begitu sangat dibutuhkan. Karena itu pers, khususnya di Indonesia, dalam menjalankan peran bisnisnya, agar jangan sampai 'menggadaikan' idealisme.
"Pers bisnis itu sudah terjadi dimana-mana saat ini. Yang penting, pers jangan sampai tergadai," imbuh cendekiawan Muslim Sumatra Barat, Shofwan Karim Elha di Padang, Selasa (9/2).
Dalam menjalankan peran idealnya, Rektor Universitas Muhammadiyah Sumbar ini mengharapkan, insan pers harus senantiasa melakukan koreksi diri. Salah satu caranya adalah dengan terus meningkatkan sumber daya manusia.
Shofwan melihat, UU No 40/ 1999 tentang Pers sebenarnya sudah membawa perkembangan yang baik bagi pers Indonesia. Pers kini tumbuh menjadi lokomotif demokrasi yang luar biasa. "Ketika ada orang menganggap pers sudah kebablasan, barangkali orang melihatnya dari perspektif tertentu dan pada media tertentu," kata mantan ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sumbar itu.
Pers Indonesia, menurut dia, saat ini tidak bisa digeneralisir karena memiliki genre berbeda. Ada pers pembangunan, pers keagamaan, pers yang menjalankan citizen journalism, dan media online.
Jurnalis dalam melaksanakan tugas-tugasnya, kata Shofwan, amat tergantung dari orang-orang yang mengendalikannya. Ini juga tidak terlepas dari label pers independen dan pers partisan.
Ia mencontohkan ada media yang secara terang-terangan memosisikan diri sebagai antikekuasaan. Di lain pihak, ada pers yang membela pemerintah. Namun, ada pers yang terlihat independen. Misalnya, Harian Kompas, Republika
sumber