Contact Us
News
Follow TELEGRAM Channel ForumBebas.com di alamat T.ME/FORUMBEBAS atau Facebook Fan Page dan Twitter Forumbebas .

Forum Bebas Indonesia

Komentar

  • [size=medium]R.A. Kartini tidak beragama Islam !!![/size]

    Kartini jelas adalah keturunan khas keluarga Jawa. Memang tak mungkin
    disangkal bahwa masyarakat Jawa mendapat pengaruh kuat campuran antara
    Hindu dan Islam, demikian juga dengan keluarga RA Kartini.

    Tetapi kalo mau diklaim bahwa RA Kartini ini beragama Islam sesuai
    ketentuan persyaratan agama Islam, tentu saja RA Kartini ini sama
    sekali bukan Islam, bahkan jauh dari ajaran agama Islam itu sendiri.

    Dizaman kelahiran dan kehidupan RA Kartini, Islam di Indonesia
    belumlah seperti Islam sekarang ini, karena ajaran Islam yang dipeluk
    oleh umumnya masyarakat Jawa adalah Islam yang menggunakan buku
    primbon yang justru dikutuk dalam ajaran Islam itu sendiri. Banyak
    yang menyebut Islam Jawa itu sebagai "Islam Sunan Kalijogo" yang
    sekarang lebih disebut sebagai aliran kepercayaan sewaktu Suharto
    berkuasa.

    Namun terlepas dari segala macam ajaran2 agama yang ada, yang membuat
    Kartini ini menjadi perhatian khusus justru, Kartini sendiri mempunyai
    ajaran2nya sendiri yang terlepas dari semua ajaran2 agama yang dianut
    masyarakat Jawa pada saat itu. Kalau semua ajaran2 agama membatasi
    ruang gerak maupun pendidikan wanita, maka Kartini justru
    menentangnya, Kartini tidak pernah memakai jilbab, tidak pernah
    sembahyang lima waktu, tidak pernah berpuasa, namun mungkin saja
    Kartini ikut merayakan lebaran bersama keluarganya yang Islam.

    Mengapa hal ini menjadi penting untuk diketahui kita semua? Tentu
    sangat penting, karena profil Kartini adalah profil pemersatu
    nasional, pejuang hak2 wanita, dia tidak bisa disamakan dengan Cuk Nya
    Dhien yang adalah pejuang kemerdekaan Aceh. Kartini bukan pejuang
    kemerdekaan manapun melainkan dia adalah pelopor kebebasan wanita
    Indonesia sehingga hanya dialah satu2nya yang bisa mewakili wanita
    Indonesia untuk dinobatkan sebagai IBU YANG MEWAKILI TELADAN WANITA
    INDONESIA SEKARANG INI.

    Kartini tidak membawa profile agama apapun juga, namun semua tindak
    tanduknya sama sekali bertentangan dengan kewajiban2 wanita Islam
    berdasarkan agama Islam yang seharusnya. Selain dia tidak pakai
    jilbab, juga kebebasan dia berpendapat berbeda dari wanita2 Islam.
    Semua teman2nya di Belanda waktu dia sekolah di Belanda umumnya
    beragama Katolik, padahal masyarakat Jawa sendiri pada saat itu tidak
    banyak yang beragama Katolik, masih lebih banyak yang beragama
    Kristen. Tentu tidak ada yang tahu secara pasti apakah Kartini
    percaya Yesus dengan Katoliknya atau tidak, tapi yang bisa dipastikan
    adalah dia tidak pernah mempercayai maupun menjalankan ajaran2
    Muhammad dan AlQurannya.

    Hingga detik ini semua keturunan bekas teman2nya di Belanda yang sudah
    tersebar keseluruh dunia semuanya terkenang pada dia. Dia memang
    mempunya kepribadian yang luar biasa yang mampu menanamkan kesan yang
    sangat mendalam dihati siapapun yang pernah mengenal dirinya. Kawan2
    dekatnya yang beragama Katolik dimanapun diseluruh dunia ini, tetap
    menganang dirinya, bahkan menyokong semua kegiatan yayasan ibu Kartini
    di Indonesia yang bergerak dalam pemeliharaan kesehatan Ibu dan Anak2
    tanpa memikirkan bayarannya. Yayasan2 ini hampir semuanya dikelola
    oleh Yayasan2 Katolik diseluruh dunia, tetapi juga ada yang dikelola
    oleh pribadi2 teman2 Kartini sendiri. Salah satu Yayasan Kartini ini
    ada di Oregon yang didirikan oleh Kartini dan teman2nya dulu dan baru2
    ini direnovasi lagi dengan support yayasan2 baru lainnya.

    http://www.kartinifoundation.com/index.asp

    Website diatas ini adalah salah satu yayasan Kartini yang ada diluar
    Indonesia (Oregon).

    Atas kenyataan sebenarnya Kartini inilah, beberapa partai Islam yang
    selalu memaksakan hukum2 Islam diberlakukan di Indonesia, berusaha
    menanggalkan gelar "pahlawan wanita Indonesia" dari ibu Kartini ini,
    namun usahanya sia2.

    Juga usaha2 sementara umat yang teracuni iman ke Islaman yang ingin
    menggantikan figur Kartini dengan figur Cuk Nyak Dhien. Ternyata
    tidak bisa berhasil, karena jelas, baik Kartini dan juga Cuk Nyak
    Dhien, keduanya sama2 sudah diakui sebagai pahlawan Nasional, sehingga
    tak mungkin gelar Kartini di tanggalkan untuk digantikan Cuk Nyak
    Dhien. Karena Cuk Nyak Dhien sudah resmi diakui sebagai pejuang dan
    pahlawan Nasional yang membawa kemerdekaan RI, sebaliknya R.A.Kartini
    diakui sebagai pahlawan wanita Indonesia yang secara nasional membawa
    perbaikan perlakuan bangsa ini kepada kaum wanitanya. Keduanya sama2
    sudah punya gelar kepahlawanan masing2 yang tak mungkin satu sama
    lainnya saling menanggalkan gelar itu.
  • Bila memang ingin menanggalkan gelar Pahlawan RA Kartini..
    Seharusnya ada alasan lain, bukan hanya karena dia tidak beragama Islam.

    Coba cermati ini:

    Jean d’Arc yang dipuja-puja sebagai Pahlawan Nasional Perancis pengusir Inggris, sebenarnya bukan orang Perancis.
    Sebab perempuan perkasa ini dilahirkan di Domremy, yang pada tahun 1412 masih belum masuk wilayah Perancis.

    Santo Patric memang santo pelindung negara Irlandia, tapi dia bukan warga primbumi Irlandia. karena dilahirkan di daratan Inggris.

    Tokoh Revolusi Perancis Jean Paul Marat yang termasyur itu, sebenarnya bukan warga Perancis tapi Swiss.

    Napoleon Bonaparte juga bukan orang Perancis, tapi dari Korsika.. mirip seperti Timor Timurnya Indonesia dulu..

    Cleopatra, dikenal sebagai Ratu Mesir yg sensual dan hebat..
    Dan jumlah “mereka” sebenarnya ada 7 (Cleopatra I s/d VII) untuk diketahui bahwa Cleopatra bukan orang Mesir !
    Cleopatra termasuk Dinasty Ptolemius berasal dari Makedonia, yg menguasai Mesir selama 250 tahun.
    Tak heran bila di Mesir banyak bangunan megah bernuansa Yunani.

    Bahkan di Indonesia, kita mengenal para pengharum nama bangsa..
    Tan Yoe Hok, Rudi Hartono, Liem Swie King, Alan Budi Kusuma, Susi Susanti dll..
    Ketika membela Indonesia dimata Dunia, sebenarnya bukan orang Indonesia..
    Seharusnya kita juga "menolak" kepahlawanan mereka..
    Karena ketika itu mereka belum jadi warga negara Indonesia.

    Begitulah.. Indonesia milik kita bersama, milik segala suku segala agama..
    Karena nenek moyang kita, agama kita adalah pendatang di Nusantara ini..
  • Gimana dengan Laksamana Malahayati ? Jauh lebih dulu dari RA Kartini, Jauh lebih hebat dengan perjuangan nyata di medan Perang, Apakah tidak menunjukan bahwa emansipasi sangat dihargai sampai seorang wanita bisa menjadi Laksamana (setingkat jenderal pd AD) ? saat sekarang saja belum ada rasanya jenderal bintang 4 seorang wanita. Jauh lebih hebatkan perjuangannya ? mengapa tidak Laksamana malahayati saja dijadikan pahlawan kaum wanita ? kalau kita baca, ternyata yang membesarkan nama RA Kartini justru penjajah belanda, tentu pula dengan maksud-maksudnya.

    Buat the_rock, apakah alasan diatas lebih kepada agamanya atau kemampuan/kontribusi sang pahlawan tersebut pada bangsanya ? memang cara berfikir seperti anda itulah yang diharapkan snouck hurgronje untuk melemahkan bangsa ini.:peace:
  • My Way menulis:
    Gimana dengan Laksamana Malahayati ? Jauh lebih dulu dari RA Kartini, Jauh lebih hebat dengan perjuangan nyata di medan Perang, Apakah tidak menunjukan bahwa emansipasi sangat dihargai sampai seorang wanita bisa menjadi Laksamana (setingkat jenderal pd AD) ? saat sekarang saja belum ada rasanya jenderal bintang 4 seorang wanita. Jauh lebih hebatkan perjuangannya ? mengapa tidak Laksamana malahayati saja dijadikan pahlawan kaum wanita ? kalau kita baca, ternyata yang membesarkan nama RA Kartini justru penjajah belanda, tentu pula dengan maksud-maksudnya.

    Buat the_rock, apakah alasan diatas lebih kepada agamanya atau kemampuan/kontribusi sang pahlawan tersebut pada bangsanya ? memang cara berfikir seperti anda itulah yang diharapkan snouck hurgronje untuk melemahkan bangsa ini.:peace:

    [size=medium]Cara berfikir seperti anda justru membuat bangsa ini berkutat dipersoalan yg tidak perlu !
    Akhirnya waktu kita habis cuma untuk mengungkit-ungkit sejarah..
    Sejarah adalah bagian dari masa lalu.. ada yg jauh lebih penting: Masa Depan !!!

    Apakah dimasa depan tidak bakalan ada lagi Wanita Islam yg pantas jadi Pahlawan ?
    Sehingga kita harus mengorek-ngorek "celah" masa lalu ?
    [/size]
  • THE ROCK menulis:
    [size=medium]Cara berfikir seperti anda justru membuat bangsa ini berkutat dipersoalan yg tidak perlu !
    Akhirnya waktu kita habis cuma untuk mengungkit-ungkit sejarah..
    Sejarah adalah bagian dari masa lalu.. ada yg jauh lebih penting: Masa Depan !!!

    Apakah dimasa depan tidak bakalan ada lagi Wanita Islam yg pantas jadi Pahlawan ?
    Sehingga kita harus mengorek-ngorek "celah" masa lalu ?
    [/size]

    Tiada masa sekarang kalau tidak ada masa lalu, tiada masa datang kalau tidak ada masa sekarang. Artinya, jika masa lalu sudah salah maka salah pulalah ke depannya. Alangkah baiknya jika setiap orang berfikir kesalahan adalah untuk diperbaiki, bukan untuk dibiarkan. termasuk kesalahan yang masih bisa kita perbaiki dari sejarah.

    seandainya kita bertanya pada diri sendiri, sudah benarkah kartini lebih baik dalam kontribusinya bagi persamaan hak dan emansipasi di bandingkan Laksamana Malahayati ? Sudah lebih besarkah jasa dan usaha kartini bagi kaum wanita di Indonesia ini dibandingkan pejuang wanita lainnya ? mana yang lebih kongkrit bentuk perjuangan mereka ? semoga ini bisa mengguggah kita.

    the_rock, jika anda seorang Islam tentu anda akan melihat banyak perintah dalam Qur'an untuk belajar dari masa lalu/peristiwa masa lalu jadi masa lalu bukan hanya sekedar masa lalu tapi akan jadi pelajaran dan motivasi bagi generasi muda, jika tauladannya saja sudah dimanipulasi bagaimana dengan yang meneladaninya ? tentu dalam pemikiran mereka juga muncul pola perjuangan apa yang telah dilakukan sang pahlawan, cukuplah berjuang dengan surat-suratan dan curhat saja dengan teman-teman mereka, itulah yang ada dalam otak mereka tentang cara sebuah perjuangan.

    btw, mungkin itu pendapat anda dan ini pulalah pendapat saya, begitu pula pembaca punya pendapat sendiri-sendiri. :blah:
  • setuju jeung myway.....!!!!
    kalau bahasa spiritual saya adalah rekonsialisasi dengan masa lalu.
    bukan hanya sejarah yang harus di rekonsialisasikan,tapi juga kehidupan pribadi kita,

    inilah makna de ja vu / karma....well tidak perlu percaya dengan apa yg saya katakan.
    silahkan menikmati aja...

    apabila hidup kedepan ingin lebih baik dan mudah menurut saya yah harus rekonsialisasi.
    jangan sampai setitik noda pun tertinggal dibelakang sehingga langkah kedepan akan memberatkan.

    Tidak percaya?silahkan buktikan di diri masing2.....semua orang akan mengalaminya sampai ajal menjemput...inilah proses hidup agar kehidupan menjadi lebih baik.
  • ada permaslahan lain kenapa harus wali songo, yang semuanya dari jawa? tidakkah ada wali2 di wilayah indonesia yang lain?
    kenapa hanya satu kerajaan di indonesia yang di akui? DIY
  • Masalah Kartini bukan dikarenakan oleh keyakinannya, tetapi pada tindakannya. Sebagaimana diketahui bangsa kita secara sadar atau tidak masih suka mencari figur2 untuk dipuja-puji. Dalam prakteknya sejarah sering ditafsirkan menurut kelompok yang berkuasa. Dalam hal ini beberapa dasawarsa indonesia sangat dominan dipengaruhi oleh atmosfer kerajaan Jawa (dipraktekkan oleh Sukarno dan Suharto).
    Sehingga untuk memunculkan sisi heroisme dimunculkanlah beberapa figur yang membangkitkan ke Indonesia-an, walau tidak dipungkiri mayoritas dari Jawa. Sedangkan yang lain di "usahakan" mewakili daerah2 walau faktanya masih terkesan asal2an (pokoke asal ngelawan belanda bisa dapat titel pahlawan).
    Kartini bisa dikatakan sebagai proyek pembodohan melalui rekayasa sejarah, menurut literatur yang gw baca, Kartini itu adalah istri muda bupati yang doyan koresponden. Memang mempunyai sedikit kegiatan yang melibatkan wanita tapi lingkupnya sangat kecil. Yang menyimpulkan pemikirannya adalah wanita eropa sahabat pena-nya.
    Jadi klaim pemikirannya kemungkinan adalah hasil interprestasi sahabatnya itu saja. Kalau kita mau jujur masih banyak wanita yang benar2 berbuat dan cakupannya luas, namun sayang kurang diketengahkan karena berbagai alasan, sebut saja: HR Rasuna Said, Dewi Sartika, Maria Walandaw dll. Sehingga akan sangat menarik bila ada usaha pelurusan sejarah guna menakar kelayakan Kartini yang sangat diagung-agungkan saat ini dengan apa yang diperbuat dan lingkupnya. Coba, apa tidak kasihan wanita2 Indonesia hanya menerima sosok Kartini tanpa tahu kenapa ia mesti dihormati.
    Hal ini perlu juga untuk review Pahlawan2 lain, seperti Diponegoro (yang ngelawan Belanda hanya karena tanahnya dicaplok). Hal ini agar kita tidak memuja orang2 yang justru zalim.
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori