Contact Us
News
Follow TELEGRAM Channel ForumBebas.com di alamat T.ME/FORUMBEBAS atau Facebook Fan Page dan Twitter Forumbebas .

Forum Bebas Indonesia

PERAYAAN KARTINI

[size=small]
Sepanjang perjalanan kurang lebih 30 menit belum ada satupun pendengar yang menelpon bahwa dia tahu ada sekolah yang merayakan hari kartini dengan mengenakan pakaian daerah. Merasa penasaran aku sepanjang jalan juga mengamati kalau-kalau ada anak sekolah yang pada hari ini mengenakan pakaian adat daerah seperti halnya pada tahun 1980-an dulu. Ternyata memang tidak aku temui.

Lantas apakah bangsa kita sudah tidak peduli lagi dengan pahlawan Emansipasi wanita Indonesia itu, ataukah memang paradigma masyarakat kita sudah berubah. Dari pengamatan saya sependapat dengan pandangan yang ke-2, yaitu memang paradigma masyarakat kita sudah berubah. Namun yang menjadi pertanyaan dibenak saya adalah perubahan paradigma tersebut berubah ke arah mana? Tidak mudah menjawab itu, namun dari berbagai perbincangan dapat saya perkirakan bahwa paradigma masyarakat melihat Kartini masa kini tersebut ada beberapa kemungkinan perubahan arah, yaitu sebagai berikut:


Masyarakat memandang bahwa memperingati hari Kartini dengan mengenakan pakaian adat daerah merupakan pekerjaan yang sia-sia. Apakah dengan mengenakan pakaian daerah bangsa kita lantas bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain? Bukankah memperingati hari kartini dengan berpakaian daerah hanya sebuah ritual saja? Atau dengan mengenakan pakaian daerah ada makna tentang pelestarian kebudayaan Nasional yang sangat kaya? Yang jelas kini model peringatan hari Kartini dengan mengenakan pakaian adat daerah sudah mulai dtinggalkan.
Perubahan paradigma yang lain masyarakat memandang memperingati hari Kartini yang lebih penting adalah bagaimana wanita Indonesia mampu berbuat secara riil untuk kemajuan negerinya. Kalau di seorang Ibu Rumah tangga, barangkali bagaimana wanita Indonesia mampu mendayung bahtera rumah tangga menuju kearah yang lebih bahagia. Bagaimana dia mampu mendidik putra putrinya menjadi generasi yang tangguh dan beriman sehingga menjadi modal bagi negeri ini untuk membangun negara yang lebih mandiri. Bagitu juga kalau dia seorang guru, mungkin merayakan kartini yang lebih tepat adalah dengan mengabdikan diri sepenuh hati untuk anak didiknya, sehingga ke depan anak didik mereka menjadi generasi yang cerdas dan mandiri sehingga mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain.Guru Kartini barangkali tidak akan hanya sekedar mengejar sertifikasi, tapi lupa akan mengabdi kepeda negeri ini.

Paradigma lain yang mungkin terjadi perubahan arah adalah, saat-saat ini sudah tidak ada waktu lagi untuk berfikir kepada hal-hal yang seremonial begitu. Para wanita indonesia sedang sibuk dengan proses pemilu. Ada yang langsung menjadi caleg, atau paling tidak ikut sibuk mempersiapkan suaminya yang ikut menjadi caleg. Namun bagi wanita Indonesia yang tidak terlibat langsung menjadi caleg masih juga disibukkan dengan menjadi KPPS, PPK, ataupun panwaslu. Luar biasa. sebuah partisipasi politik yang sangat tinggi bagi wanita Indonesia saat ini. Mudah-mudah wanita Indonesia lebih banyak yang kuat mental walaupun cita-cita meniti karir di bidang politik banyak yang mendapati kegagalan.

Perubahan paradigma yang terakhir ini yang sebenarnya tidak kita harapkan. Mengapa wanita indonesia tidak peduli lagi dengan Hari kartini? Barangkali disebabkan karena kondisi mereka yang memang tidak memungkinkan untuk bisa berfikir sampai kepada hari kartini. Mereka sudah bisa makan setiap hari saja sudah prestasi, apalagi harus mememikirkan hari Kartini. Banyak diantara mereka yang masih menggeluti dihari-harinya akan kekerasan suami, harus hidup menanggung seorang diri tanpa kompetensi apapun yang ia miliki kecuali mengandalkan belas kasihan orang lain.

[/size]

Komentar

  • Saya kurang paham dasar analisis Bro Pujang, tapi menurut hemat saya, tidak ada kaitan antara Perayaan Hari Kartini dengan Semangat Kartini. Barangkali akan lebih punya nilai jika kita mengkaji lebih dalam tentang Cita2 Kartini terhadap kaum Perempuan secara Universal (pemikiran Kartini tidak sebatas lingkungan Kadipaten Jepara, sebagaimana surat2 beliau kepada sahabat2nya di Negeri Belanda pada waktu itu). :think:

    Memaknai hari Kartini pada era Orde Baru sama halnya dengan Lomba Memasak dan Menggunakan Pakaian Adat mulai dari murid TK sampai Sekolah Menengah Atas, Kartini memang bukan Laksamana Cut Malahayati yg memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (wanita yang ditinggal mati suami dalam perang dan kemudian meneruskan perjuangan suaminya) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda, Kartini adalah pejuang Kesetaraan Gender tanpa harus meninggalkan kodratnya sebagai Wanita (walaupun masih menjadi pertentangan diantara para pejuang Gender hari ini). :peace:

    Memang agak sedikit lepas dari konteks, apa yg Bro Pujang sampaikan, sehingga terasa Semangat Kartini telah dikalahkan oleh himpitan persoalan ekonomi atau bahkan dikalahkan oleh adanya peningkatan kesadaran tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Apa yg dilakukan RA Kartini semasa hidupnya adalah Semangat Perjuangan Kesetaraan Gender yg digunakan sebagai Motivator kedalam Semangat Kesetaraan Gender Perempuan Indonesia pada era Soekarno, yg kemudian diamini secara bersamaan oleh Perempuan Indonesia. :)
  • jadi inget dulu masih SD ama SMP....... hari kartini rame-rame pake kebaya.....tetu saja para pelajar dan guru wanitanya.....
  • Sebutulnya perjuangan KARTINI tidak seberat perjuangan DEWI SARTIKA, berhubung Ibu kita KArtini berasal dari darah ningrat, jadi lebih terekspos saja.. :)
  • ianozoid menulis:
    Sebutulnya perjuangan KARTINI tidak seberat perjuangan DEWI SARTIKA, berhubung Ibu kita KArtini berasal dari darah ningrat, jadi lebih terekspos saja.. :)


    [size=medium]
    bagaimana dengan cut nyak dien dan cut meutia.............:top:

    [/size]
  • ianozoid menulis:
    Sebutulnya perjuangan KARTINI tidak seberat perjuangan DEWI SARTIKA, berhubung Ibu kita KArtini berasal dari darah ningrat, jadi lebih terekspos saja.. :)

    sama2 pahlawan wanita...
    [size=medium]
    bagaimana dengan cut nyak dien dan cut meutia.............:top:

    [/size]
  • Sulit membanding-bandingkan kepahlawan mereka..
    Apalagi kita tidak hidup dijaman Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien apa lagi Cut Mutia..
    Kita kini hidup dijaman Cut Memei, Cut Keke dan Cut Tari..

    Bravo para wanita.. kami laki-laki, mahluk yg sangat mencintai kalian.. melebihi siapapun.
  • THE ROCK menulis:
    Sulit membanding-bandingkan kepahlawan mereka..
    Apalagi kita tidak hidup dijaman Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien apa lagi Cut Mutia..
    Kita kini hidup dijaman Cut Memei, Cut Keke dan Cut Tari..

    Bravo para wanita.. kami laki-laki, mahluk yg sangat mencintai kalian.. melebihi siapapun.



    [size=medium]
    kecuali ceceb.............................:p

    [/size]
  • Emansipasi
    Sering ada kontradiksi pada kata ini
    Kalau ada pekerjaan yang mengandalkan otot, bilangnya pekerjaan laki-laki
    Pas berdiri di bis terus ditawari duduk, mau juga
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori