Contact Us
News
Follow TELEGRAM Channel ForumBebas.com di alamat T.ME/FORUMBEBAS atau Facebook Fan Page dan Twitter Forumbebas .

Forum Bebas Indonesia

Kartini Bukan “Pahlawan Jender”

Kartini Bukan “Pahlawan Jender”
Wednesday, 21 April 2010 15:42

Sejarah Kartini telah disalahgunakan sesuai dengan kepentingan mereka. Kaum muslim telah dijauhkan dari Islam dengan dalih kebebasan, keadilan, dan kesetaraan jender

TANGGAL 21 April bagi wanita Indonesia adalah hari yang khusus untuk memperingati perjuangan RA Kartini. Tapi sayangnya, peringatan tersebut sarat dengan simbol-simbol yang berlawanan dengan nilai yang diperjuangkan Kartini. Misalnya, penampilan perempuan berkebaya atau bersanggul, lomba masak, dan sebagainya yang merupakan simbol domestikisasi perempuan yang selalu digugat aktivis liberal-jender.

Suara emansipasi pun terasa lebih kuat pada bulan April karena Kartini dianggap sebagai pahlawan emansipasi wanita. Terlepas dari keterlibatan RA. Kartini sebagai pejuang dalam pemberdayaan perempuan di Indonesia, emansipasi sebenarnya diilhami dari gerakan feminisme di Barat.

Pada abad ke-19, muncul benih-benih yang dikenal dengan feminisme yang kemudian terhimpun dalam wadah Women’s Liberation (Gerakan Pembebasan Wanita).

Gerakan yang berpusat di Amerika Serikat ini berupaya memperoleh kesamaan hak serta menghendaki adanya kemandirian dan kebebasan bagi perempuan. Pada tahun 1960, isu feminisme berkembang di AS. Tujuannya adalah menyadarkan kaum wanita bahwa pekerjaan yang dilakukan di sektor domestik (rumah tangga) merupakan hal yang tidak produktif.

Kemunculan isu ini karena diilhami oleh buku karya Betty Freidan berjudul The Feminine Mystiquue (1963). Freidan mengatakan bahwa peran tradisional wanita sebagai ibu rumah tangga adalah faktor utama penyebab wanita tidak berkembang kepribadiannya. Ide virus peradaban ini kemudian terus menginfeksi tubuh masyarakat dan ‘getol’ diperjuangkan oleh orang-orang feminis.

Gencarnya kampanye feminisme tidak hanya berpengaruh bagi masyarakat AS pada saat itu, tetapi juga di seluruh dunia. Munculnya tokoh-tokoh feminisme di negeri-negeri Islam seperti Fatima Mernissi (Maroko), Nafis Sadik (Pakistan), Taslima Nasreen (Bangladesh), Amina Wadud (Malaysia), Mazharul Haq Khan, serta beberapa tokoh dari Indonesia seperti Wardah Hafidz dan Myra Diarsi, kemudian beberapa gerakan perempuan penganjur feminisme, seperti Yayasan Kalyanamitra, Forum Indonesia untuk Perempuan dan Islam (FIPI), Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK), Yayasan Solidaritas Perempuan, dan sebagainya, setidaknya menjadi bukti bahwa gerakan ini pun cukup laku di dunia Islam.

Bahkan tak hanya dari kalangan wanita, dari kalangan pria juga mendukung gerakan ini seperti Asghar Ali Engineer, Didin Syafruddin, dan lain-lain.

Dalam perjuangannya, orang-orang feminis seringkali menuduh Islam sebagai penghambat tercapainya kesetaraan dan kemajuan kaum perempuan. Hal ini dilakukan secara terang-terangan maupun ‘malu-malu’.

Yang menarik, tuduhan-tuduhan ‘miring’ itu tiba-tiba memasuki ranah hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan rumah tangga, seperti ketaatan istri terhadap suami, poligami dianggap sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan menimbulkan potensi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Sementara itu peran domestik perempuan yang menempatkan perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, dianggap sebagai peran rendahan. Busana muslimah yang seharusnya digunakan untuk menutup aurat dengan memakai jilbab (Q.S Al-Ahzab:59) dan kerudung (Q.S An-Nur:31) dianggap mengungkung kebebasan berekspresi kaum perempuan. Lalu benarkah R.A Kartini dalam sejarahnya merupakan pahlawan emansipasi, sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis?

Sumber : www.hidayatullah.com
Selengkapnya : http://hidayatullah.com/opini/opini/11471-kartini-bukan-pahlawan-jender

Komentar

  • yaa orang barat kan taunya sepenggal-sepenggal, coba kalau mau belajar secara keseluruhan akan lain critanya, nice info ndan
  • RA Kartini sebenarnya baru bercita-cita, dan itu ditulis dlm suratnya. oleh orang belanda dibukukan dan dipublikasikan seakan-akan itulah perjuangan RA Kartini, yang harus diteruskan oleh para wanita Indonesia.
  • suatu kebebasan yang punya aturan
  • emangya salah adanya persamaan hak antara pria dan wanita...?

    tapi lagi-lagi disangkutpautkan dengan agama
  • kesetaraan jender sah sah saja, tapi penerapannya harus dilihat kondisinya. bagaimanapun secara fisik maupun mental, pria berbeda dengan wanita.

    bicara mengenai agama, setiap agama berhak untuk mengatur bagaiman mereka memberlakukan aturan mengenai pria maupun wanita. masing2 agama pasti punya alasan mengenai perberlakuan aturan yang berbeda. contohnya dalam islam, pria maupun wanita diperlakukan berbeda. mengenai hukum nikah, pembagian warisan, maupun imam sholat.
    agama lain mungkin mengatur berbeda, dan itu semua sah sah saja dan tidak bertentangan dengan kesetaraan jender.

    kesetaraan jender, bisa dimulai dari diri kita sendiri dengan tidak pernah lagi menanyakan, besok berkeluarga, pengin dapat anak cowo atau cewe, kan sama aja....:peace:
Masuk atau Mendaftar untuk berkomentar.

Halo, Komandan!

Sepertinya anda baru di sini. Ingin ber-interaksi? Klik satu tombol ini!

Kategori