14 Feb 2008, 09:58
"Kepercayaan agama, bukanlah pernyataan
akan Realitas, tetapi sebuah petunjuk, yang mengarahkan pada
sesuatu yang tetap merupakan suatu misteri. Misteri itu
melampaui pemahaman akal budi manusia. Pendeknya,
kepercayaan agama hanyalah sebuah jari yang menunjuk pada
bulan.
Beberapa orang beragama tidak pernah beranjak lebih jauh
dari mengamati jari belaka.
Yang lain malah asyik mengisapnya.
Yang lain lagi menggunakan jari untuk mengucek mata. Inilah
orang-orang fanatik yang telah dibutakan oleh agama.
Sangat jarang penganut agama yang cukup mengambil jarak dari
jari mereka untuk dapat melihat apa yang ditunjuk. Mereka
inilah yang, karena melampaui kepercayaan mereka, justru
dianggap sebagai penghujat."
LABEL
Sang Guru berkata bahwa tidak ada artinya menyatakan diri
sebagai orang India, Cina, Afrika, Amerika, Hindu, Kristen,
atau Muslim karena semuanya ini hanyalah label.
Kepada seorang murid yang mengklaim dirinya seorang Yahudi
tulen, Sang Guru berkata dengan ramah, "Kamu dikondisikan
sebagai orang Yahudi, tapi itu bukan identitas dirimu. "
"Lalu, apa identitasku?"
"Tak sesuatu pun," kata Sang Guru.
"Maksud Guru, aku adalah kekosongan dan kehampaan belaka?"
kata murid yang tidak percaya itu.
"Tak ada sesuatu pun yang dapat diberi label," kata Sang
Guru.
akan Realitas, tetapi sebuah petunjuk, yang mengarahkan pada
sesuatu yang tetap merupakan suatu misteri. Misteri itu
melampaui pemahaman akal budi manusia. Pendeknya,
kepercayaan agama hanyalah sebuah jari yang menunjuk pada
bulan.
Beberapa orang beragama tidak pernah beranjak lebih jauh
dari mengamati jari belaka.
Yang lain malah asyik mengisapnya.
Yang lain lagi menggunakan jari untuk mengucek mata. Inilah
orang-orang fanatik yang telah dibutakan oleh agama.
Sangat jarang penganut agama yang cukup mengambil jarak dari
jari mereka untuk dapat melihat apa yang ditunjuk. Mereka
inilah yang, karena melampaui kepercayaan mereka, justru
dianggap sebagai penghujat."
LABEL
Sang Guru berkata bahwa tidak ada artinya menyatakan diri
sebagai orang India, Cina, Afrika, Amerika, Hindu, Kristen,
atau Muslim karena semuanya ini hanyalah label.
Kepada seorang murid yang mengklaim dirinya seorang Yahudi
tulen, Sang Guru berkata dengan ramah, "Kamu dikondisikan
sebagai orang Yahudi, tapi itu bukan identitas dirimu. "
"Lalu, apa identitasku?"
"Tak sesuatu pun," kata Sang Guru.
"Maksud Guru, aku adalah kekosongan dan kehampaan belaka?"
kata murid yang tidak percaya itu.
"Tak ada sesuatu pun yang dapat diberi label," kata Sang
Guru.